
"Kepulan asap apa ini?!"
Takai berjalan ke arah asap itu, dan ia melihat Seeji menghilang di depan rumah yang sudah hancur dengan raut wajah yang berbeda. Seeji terlihat menangis dengan mata yang kosong.
"SEEJI!"
DEEGG!
“!!”
Takai terbangun, dia terkejut melihat Seeji tidak ada setelah terbangun dari mimpinya.
“Seeji!”
Dia mencari Seeji ke arah hutan sambil berlari,
"Uwaa!!"
Karena berlari terlalu cepat, tanpa sadar Seeji ada didepannya. Mereka bertubrukan dan saling berhadapan dengan jarak yang terlalu dekat.
“Takai! Ap-apa yang kau lakukan?!”
Seeji lalu mendorong Takai dengan kasar.
“Seeji, kau tidak kemana - mana kan?”
“Aku hanya latihan sebentar, kau pikir aku akan meninggalkanmu? Seperti anak hilang saja.”
“Apa?!”
“Sudahlah, ayo kita pergi.”
“Seeji, apa kau ingin menemui adikmu?”
Seeji terhenti.
“Aku berpikir mengenai tawaranmu kemarin. Rasanya jika aku kembali aku melenceng dari tujuan asalku."
"Tapi, tidak masalah kan? Kau tetap bisa melalukannya. Kau bilang ultah-nya sebentar lagi 'kan? Setidaknya ucapkan selamat ulang tahun padanya....."
"Rasanya itu memalukan. Lagipula dia diangkat ayah orang kaya. Pasti lebih banyak hal yang membuatnya senang sekarang..."
"Ayolah, bukankah itu normal...? Kau merasa itu membuatnya senang?"
'Aku tahu dia satu - satunya keluargamu, Seeji... dan kau telah lama tidak bertemu dengannya. Setelah mendengar ceritamu pasti sulit untuk meninggalkannya...'
Seeji berpikir sejenak.
“Ini bukanlah perjalanan yang singkat, Takai.”
“Aku tidak masalah dengan itu... Ada dimana? Rumahmu?”
“Jika kita berada di barat, rumahku di sebelah timur.”
“Heeh? Sejauh itu?”
“Rumahku ada di dekat pegunungan, tersembunyi di antara bukit dan pohon.”
“Pegunungan?”
“Rumahnya dan rumahku berbeda beberapa meter. Kita akan berjalan kesana sambil mencari permata hitam lainnya. Mungkin sekitar 3 hari atau seminggu.”
“Baiklah…!”
"Tapi, Takai... kau sudah mencuci wajahmu? Rasanya aku melihat sesuatu."
"Seeji! Jangan katakan hal memalukan begitu!!"
Takai lalu berlari menuju laut.
"Sekalian ambil barang - barang kita di dekat api tadi!"
"Dasar tukang nyuruh!"
'Mimpi yang menyeramkan...'
Takai teringat dengan mimpinya itu.
Dan kemudian sesosok bayangan tersenyum jauh dari mereka.
“Bagaimana jika kumulai saja?”
---------------
Hari semakin siang, ditengah musim panas dan matahari semakin terik.
“Seeji, kau tidak merasa kepanasan? Musim panas sudah mencapai puncaknya…”
“Kau benar, kupikir kita tidak bisa berjalan dengan kondisi seperti ini.” Seeji mencari botol minum di dalam tasnya.
“Oh, habis.”
“Maksudmu, tak ada air untuk perjalanan kali ini?”
“Ehm, kupikir begitu...”
“Aku akan dehidrasi kalau begini…”
“Aku melihat toko di seberang sana, sepertinya…”
“Bagus! Aku sudah tak tahan lagi!” Takai memotong dan berlari ke arah toko.
“Dasar....”
Mereka beristirahat sebentar di toko, lalu membeli perbekalan dan air.
“Takai, ayo per...”
“Hehe...” Takai membeli 2 batang es krim.
“Bukannya membeli perbekalan, kau malah jajan...”
“Tidak masalah bukan..”
“Seperti anak kecil saja. Kau terlihat kekanak - kanakan setelah masuk musim ini.”
"Yah... sebenarnya musim ini selalu ku tunggu... Ambillah.” Takai memberikan sebatang es krim cokelat untuk Seeji.
“Tidak.”
“Terima saja!”
Seeji menerimanya karena Takai memaksa. Dia lalu menjilatnya perlahan.
“?”
“Bagaimana?”
HAP!
“Eh?”
Seeji lalu memakannya.
“Ehm..enak...” Seeji menyukainya. Dia tersenyum.
“!!”
--‘Seeji, aku tidak tahu dia malah lebih imut dari anak kecil ketika tersenyum begitu...’
“Takai, es krimmu akan mencair.”
“E...eh!”
“Sudah kubilang kan. Dasar, masa kecil kurang bahagia.”
"Eeeh!! Kau menyindirku?!"
"Berisik ah, cepat selesaikan...!"
--‘Seeji, apa dia tidak pernah merasakan musim panas seperti ini...’ Takai kembali berpikir di batinnya.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan di tengah terik musim panas.
Hari menjelang sore. Seeji memperhatikan Takai, dia terlihat pucat.
“Takai, kau baik - baik saja?”
“Hm? Memang kenapa?”
“Wajahmu... agak merah.”
“Ap...apa!?”
“Kau tidak terkena demam musim panas kan?”
“Tidak! Aku baik - baik saja! Aku bukan tipe orang yang mudah sakit tau!”
“Hari semakin gelap. Mungkin kali ini kita akan tidur di dalam. Sepertinya udara malam ini akan sangat menusuk."
Seeji lalu memutuskan untuk istirahat dan menginap di sebuah penginapan.
“Hh...”
“Oh, kali ini kau berjalan berdua ya?”
“Siapa?!”
SRAAATS!
Takai langsung menendang ke belakang, Kuroseki menyerang secara mendadak.
“Kuroseki!”
SRIIING!
Seeji cekatan membuat dimensi.
“Battle waiter, kali ini kau memiliki partner ya? Dan apa ini.....? Permata merah dan biru saling berdampingan?”
“Seeji... dia tahu kekuatanku?”
“Sepertinya dia punya kemampuan merasakan kekuatan meskipun dia menutup matanya...”
“Haha... Rindu ya... aku jadi... ingin melihat kalian lebih jelas...”
SRET
Kuroseki membuka sebelah penutup mata kanannya. Corak mata yang aneh, terlihat di bola matanya.
DEGG
--‘Apa ini... setelah melihat matanya...rasanya kekuatanku tidak bisa keluar....’
“Ini pertama kalinya kau melihat mataku ya.... Aku tidak memperlihatkan mataku pada sembarang orang, sebaiknya kau senang....”
“T..Takai... orang itu, orang yang melukaiku di hutan... Sebaiknya, kau hati - hati dengannya..”
SYUUUTS
“!!”
Kuroseki tiba - tiba berada di depan Seeji. Mata mereka saling beradu.
“Sudah lama sekali... ya?”
Kuroseki menghempaskan kekuatannya ke arah Seeji secara langsung. Seeji terhempas jauh.
“S...Seeji!”
“Hoseki merah, kau mengikuti perjalanan gadis itu?”
“Kau!”
Takai menyerang kuroseki dengan pukulannya. Kuroseki menghindar dengan tenang.
--‘Sial... kepalaku pusing tak karuan....”
“Hoseki merah, sebaiknya kau tidak perlu mengikutinya...”
“Apa maksudmu?!”
“Battle waiter hanya mencoba memanfaatkan kekuatanmu. Setelah kau tidak berguna lagi, kau akan dibuangnya, dia tidak akan mempedulikanmu apapun yang kau lakukan.”
“Tidak, Seeji bukan orang yang seperti itu!”
--‘Cih...kepalaku berdenyut...’
“Apa kau tidak berpikir? Apa yang Seeji utsuki lakukan pada pemilik hoseki hitam yang telah dia segel? Dia tidak mengkhawatirkan keadaannya... Apa yang kau lihat diluar, berbeda dengan yang ada di dalam...”
“Berisik! Berhentilah berbicara! Apapun yang kau katakan.... Aku percaya padanya!”
Takai menyerang kuroseki, namun dia meleset.
“Untuk apa kau mengikutinya sedangkan kau tidak mengenalnya?”
“!!”
“Hm... kalau begitu, akan kucoba padamu saja...”
Kuroseki menendang Takai ke atas lalu menyerang Takai dengan telapak tangannya yang mengarah ke kepala, dan menghempasnya cukup jauh.
BRRAAK!
Takai mendarat pada sebuah pohon.
DHOOOR DHOOR!
“!!?”
“Masih ada aku! Kuroseki!”
Seeji menembaki kuroseki dengan pelurunya.
SRIIIING!
“Titik segel...”
“Kau pikir saat kau mendekatiku aku tidak melakukan apa - apa? Pisauku menyayat tanganmu”
“Segel saja aku...”
Kuroseki meremehkan Seeji. Wajahnya sama sekali tidak khawatir.
“!!”
Tidak ada Seal yang keluar dari titik segelnya.
“Apa?!”
“Kita akhiri sementara disini, hoseki biru....”
Kuroseki menghilang sebelum Seeji menyegelnya.
--‘Aneh, tak ada seal yang keluar seperti waktu itu... Apa karena dia bilang dia adalah wadah?’
“Takai!”
Seeji lalu menghampiri Takai yang kesakitan karena terhempas ke sebuah pohon besar.
“Hei, bertahanlah!”
Seeji membawa Takai sampai ke penginapan.
“Takai, kau mendengarku?”
“S...Seeji...”
Seeji lalu membantu Takai untuk merebahkan dirinya di kasur.
“Kepalaku sakit....”
"Kuroseki menyerangmu tepat di kepala, apa kau baik - baik saja?"
__ADS_1
"Aku baik.. Biarkan aku berbaring sebentar.."
Seeji lalu mendekati Takai dan menyentuh dahinya
"Apa yang.. Kau..!?"
“Hanya memastikan."
"Hari ini benar benar melelahkan..." Takai mengganti baju atasannya dan melepas ikat kepalanya tanpa menghiraukan Seeji.
"Takai! Apa yang..."
"Apa?" Takai menjawabnya dengan nada datar. Wajahnya terlihat pucat. Selain itu rambut depannya yang panjang menutupi sebagian wajahnya.
Seeji tiba - tiba merasa terkejut melihat Takai.
"A....aku...keluar sebentar..."
BLAM
Pintu tertutup. Takai lalu beranjak tidur.
--'Apa itu..tadi?'
Pagi pun tiba, Takai terbangun dan Seeji berada di depannya, dia sedang mencoba memeriksa suhu tubuh Takai.
“Apa dia baik - baik saja?”
Seeji mendekatkan tamgannya, hendak menyentuh dahi Takai.
"Kaa..- san.." Takai mengigau, dia tanpa sadar memeluk Seeji. Seeji lantas terkejut.
PLAAAK!
“Ach....”
“Apa yang kau lakukan?!”
“Seeji... kau menampar orang yang sedang sakit, jahat..."
"Kau sendiri apa yang kau lakukan!" Seeji tampak kesal "Sudah kuduga kau memang sedang tidak sehat, badanmu panas, sepertinya kau demam."
"Baiklah, aku mengaku... aku sudah tidak kuat lagi."
"Untung aku menyadarinya lebih awal dan langsung mencari penginapan. Orang sakit memang begitu."
"Heeh.... gitu...... Selain itu kenapa kau hanya memesan satu kamar dengan satu kasur?”
“Eh?”
“Kau ingin sekamar denganku?”
“B...bukan begitu! Kondisimu sedang tidak baik, Apalagi kamar lain sudah penuh jadi aku ambil yang ada saja.”
“Begitu kah...?”
"Saat sakit kau tetap menyebalkan.... minumlah, aku akan membawakanmu sesuatu" Seeji memberikan segelas air putih.
“Dasar perempuan kasar...”
Celetuk takai sambil meneguk air putihnya. Seeji lalu datang membawa semangkuk bubur.
"Sekarang, buka mulutmu."
"Apa? Kau mau menyuapiku?”
"Oh? Tidak mau ya? Ya sudah."
"Tu..tunggu!" Takai menahan tangan Seeji. Seeji langsung menyuapi Takai.
"Bagaimana?" Seeji bertanya dengan tatapan mengerikannya.
"Ini...enak kok."
"Kau tidak bohong 'kan?" Seeji tiba tiba terlihat imut dengan pertanyaan itu.
"Eh?! Tidak...aku, tidak bohong."
"Kalau begitu, baguslah." Seeji tiba - tiba tersenyum manis. Takai merasa heran.
"Se...Seeji...kenapa, kau tiba - tiba jadi murah senyum begitu?"
"Eh? Aku? Ehm... Aku pernah dengar kalau orang sakit akan merasa baikan jika dia merasa senang, jadi aku mencoba..."
"Kau mencoba membuatku senang kan?? Dengan cara seperti tadi..." Takai menggoda Seeji.
"Kau mau kupukul lagi ya?"
"Eh! Enggak kok..."
"Yah...ehm..mungkin.."
"Teori yang aneh, darimana kau dapat teori itu?"
“Adikku... yang bilang begitu..."
“Ah? Kau mempercayai anak kecil?”
"Salah ya?" Seeji tiba tiba terlihat imut lagi. Takai terkejut.
"Ti..tidak kok.."
"Untunglah" Dia tersenyum lagi seperti tadi. Takai memalingkan wajahnya.
“Aduuh... Aku ingin mencubit pipinya, tapi dia pasti menamparku lagi”
"Sudahlah, biarkan aku makan sendiri... rasanya tidak nyaman"
"Baiklah.... Aku berniat menyuapimu karena orang sakit biasanya tidak mau makan."
"Gak juga ah.... kau tidak pernah merawat orang sakit sebelumnya ya?"
"Sebenarnya.. belum pernah, Hanya memperhatikan saja."
"Maksudnya?"
Seeji menceritakan masa lalunya pada takai. saat itu dia belum menguasai teleportasi.
“One...Sama...”
“Reeji? Ada apa denganmu?”
“Semangat latihannya ya, Onee..sama...”
BRRUUK !
Reeji terjatuh di depan ruangan Seeji.
“REEJI!”
Seeji tiba - tiba berpindah tempat dan ada di dekat Reeji.
‘Ini...teleportasi..?’
---------
"Kemudian aku membawanya ke rumahnya dan membaringkannya di sofa. Untunglah saat itu tidak ada siapapun disana.
“Aku sangat senang ketika aku mengetahui kemampuan teleportasiku... Aku merasa lebih bebas..”
“Lalu, kalau kau mampu mengetahui kemampuan teleportmu, kenapa kau tidak kabur dari ruanganmu sejak awal?”
Seeji terdiam sejenak mendengar pertanyaan takai.
“Pikiranmu terlalu pendek.”
“Apa? Pendek?”
“Hah... Aku yakin kau pasti bertanya seperti itu....”
“Eh?”
“Aku mencoba mencari waktu yang tepat. Selain itu aku masih takut untuk kabur...”
“Hei.”
“Dan apa yang membuatmu takut itu?”
“Kau ingin aku menceritakannya?”
“Yah, kalau kau keberatan tidak perlu....”
“Kurasa kau harus mendengarkannya, kau menyianyiakan waktumu berada di dalam rumah dengan mengurung diri. Tapi berbeda denganku, aku tak dapat kemanapun.”
“Seeji...”
"Aku sempat dipenjara karena kabur dari ruanganku."
Takai terhenyak setelah mendengar cerita Seeji.
"Penjara....? Kau dipenjara di umur sekecil itu?"
"Ruanganku itu tidak lebih sebagai penjara bagiku. Dan saat aku berusaha kabur, aku malah dimasukkan ke penjara yang lebih sempit dan dingin. Tanpa makanan sedikitpun."
"Bagaimana kau bisa bertahan...?"
"Tentu saja karena Hoseki."
"Seeji..."
"Di penjara itulah aku menemukan cara untuk membuat senjata, dan cara bertarung lainnya."
"Kau..."
"Dan makanan yang kumakan di rumahmu adalah makanan paling lezat semenjak aku keluar dari ruanganku...."
Seeji tersenyum hening, Takai kembali terdiam.
"Waktu itu ada seseorang membawaku ke tempat tidur saat aku terjatuh dan setengah pingsan di lantai. Aku tidak bisa bangkit saat itu, tanganku hampir patah. Aku tidak melihat wajah orang yang menolongku itu, tapi kurasa dia bukan pengawal.”
"Tadi kau bilang yang memenjarakanmu itu..."
"Entah siapa dia, tapi dia mengaku sebagai ayahku."
"Tidak mungkin... aku tidak percaya jika seorang ayah bisa seperti itu!"
"Jika memang, dia pasti bukan ayah kandungku."
Seeji terdiam. Tidak ada sedikitpun ingatannya yang tersisa tentang orangtuanya.
“Jika saja... aku menyadari kekuatanku sebelumnya... aku...”
"Eh? Habis ya?"
Seeji merebut mangkuk yang Takai pegang itu.
“Tidak perlu terlalu dipikirkan. Semua sudah berlalu.”
Takai lagi - lagi terdiam melihat Seeji yang mencoba mengalihkan pembicaraan itu.
"Seeji, kau seharusnya tidak mengungkit masa lalu jika begitu, kau tidak bisa melihat ke dua arah secara bersamaan" Takai berpendapat sambil menerima air minum dari Seeji.
"Benar juga..." Seeji tersenyum dan Takai membalas senyumnya.
"Oh ya, apa maksudmu, memanggilku 'kaa - san' tadi?"
"Eeh!! Itu...itu..karena..." Takai memalingkan wajahnya sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Mencari alasan.
"Aku tidak tau ternyata kau anak yang manja...."
"Bukan begitu! Aku kira kau memang ibuku, jadi...."
"Kau merindukannya ya?"
"Aku hanya bermimpi melihatnya memelukku kok...." Takai sepertinya malu mengungkit kembali kejadian tadi.
"Tidak apa, merindukan seseorang itu wajar kok. Itu sebabnya kita berjalan menuju timur sekarang."
Takai ingat kalau tujuan mereka menuju timur untuk menemui Reeji.
"Terakhir kali, aku sakit seperti ini saat aku baru saja kehilangan ayahku. Ibuku selalu di sisiku saat itu meskipun berbagai persoalan menghalangnya. Dia memang yang terbaik.”
"Waktu itu kau bilang kau bukan tipe orang yang mudah sakit...”
“Yah... Tapi sekali sakit...beginilah aku...haha...”
"Dengan poni yang panjang dan tidak rata seperti itu kau bisa sangat bahagia"
Seeji mengomentari gaya rambut Takai yang tidak rata sambil menyentuh rambut depannya yang panjang, itu sebabnya dia selalu memakai ikat kepala.
“Gak ada hubungannya tau!”
Dia lalu mengambil sapu tangannya dan membasahinya, lalu menaruhnya di dahi Takai.
"Ini...”
"Pakai saja, kau membutuhkannya."
Seeji lalu meninggalkan Takai sambil membawa mangkuk kotor tadi. Takai lalu berbaring.
'Merindukan? Kupikir itu sebuah pertanda...' dalam batin Takai.
-----------
Malam pun tiba, dan Seeji masih terjaga. Dia sedang melihat bulan purnama di jendela, sambil menulis di buku catatannya.
“Perjalananku masih jauh...”
Seeji melihat ke luar jendela. Langit malam yang gelap menjadi indah dengan sinar bulan purnama.
"Lihat, bulannya indah sekali bukan?" Tanpa sadar seeji berbicara sendiri.
Seeji menahan kantuknya dengan terus menulis, tapi malam semakin larut dan dia tertidur di atas meja tempatnya menulis.
“Kh....panas...”
Takai merasa tidak enak saat dia tertidur. Badannya terasa terikat dan sangat panas. Karena terusik dia menjatuhkan gelas yang membuat Seeji terbangun.
PRAAANG!
"Hah! Takai!" Seeji kemudian menghampiri Takai.
"Takai! Apa yang terjadi padamu?!" Seeji terkejut melihat Takai tiba - tiba berontak dan Terengah - engah.
Seeji menyentuh dahi takai, suhu tubuh takai sangat tinggi, dan Seeji tidak menyadari ada sebuah simbol disana.
“Ini....segel hoseki hitam! Padahal sebelumnya aku tidak melihatnya!” Seeji teringat dengan segel yang pernah dilihatnya dulu.
Seeji merasakan kekuatan hoseki hitam yang aneh dari segel tersebut.
"Nh..." Takai terbangun di alam bawah sadarnya. Dia terikat dengan hawa gelap yang berasal dari kepalanya.
"Apa...ini?"
"Oh? Kau baru sadar ya?"
"Suara itu, kau Kuroseki!" Kuroseki berada di depan Takai dengan seringaiannya yang dingin.
"Ya, kau pasti tidak sadar saat aku memberi segel kuroseki di kepalamu waktu pertarungan itu."
"Segel? Ah! Yang waktu itu!" Takai ingat ketika kuroseki itu menghempasnya.
"Battle waiter itu tidak menyadarinya..."
"Brengsek! Apa yang ingin kau lakukan...?!"
Takai mencoba melepaskan hawa gelap yang mengikatnya, dia sangat marah karena baru saja dimanfaatkan.
"Aku hanya mencoba untuk mengembangkan kebencian dalam hatimu, sampai akhirnya kau akan membunuh seeji sebagai Black Petals!!"
"Apa!?"
Kuroseki mencoba membuat permata Takai menjadi hitam.
__ADS_1
“Akh!”
"Takai! Bertahanlah!!"
Takai memegangi kepalanya. Seeji merasa kalau segel itu yang membuatnya sakit.
“Sial!”
SRIIIING!
Seeji lalu menyalurkan kekuatannya pada segel itu secara perlahan, namun Seeji ikut merasakan sakit yang di rasakan Takai.
DEGG!
'Apa ini? Tubuhku seperti tertimpa... tapi.... di dalam kepalanya... ada hoseki hitam.... bagaimana aku menyegelnya?'
"Brengsek! Keluarkan aku dari sini!"
"Percuma saja, tempat ini adalah alam bawah sadarmu, dan jika kesadaranmu menghilang, maka kau akan kehilangan jati dirimu sepenuhnya"
"Cerewet! Aku tidak mungkin kalah darimu begitu saja!"
"Cobalah sekuat tenaga, kalahkan aku, dan lepaskan ikatan itu."
BUUAAGH!
"Ukh...sial...." Seeji terjatuh karena menerima pukulan dari Takai ke arah wajahnya. Takai kehilangan kendali tubuhnya karena segel itu.
"Pergi dari sini!!!"
Takai berdiri dan terus menyerang Seeji. Seeji berusaha menghindar dan menghentikan gerakannya.
"Lepas! Lepaskan aku!" Takai berteriak. Dia tampak kesakitan.
“Takai!”
'Akan berbahaya kalau dia kehilangan kendali hoseki merah, dia bisa saja menghancurkan penginapan ini.'
"DIMENSION!"
Seeji membuat dimensi level dua. Dan Takai semakin gelisah saat ada di dimensi Seeji.
'Aku tidak bisa memberikan titik segel untuk menyegel hoseki hitam itu... kecuali jika aku bisa mengacaukan alirannya dan membuatnya keluar...'
'Tunggu dulu... apa itu sebabnya aku tidak bisa menyegel Kuroseki? Karena hoseki hitamnya tidak memiliki bentuk yang jelas?!'
Takai kembali menyerang seeji. Seeji hanya bisa menghindarinya dan sulit untuk menghentikan gerakannya. Seeji berusaha untuk menyalurkan kekuatannya ke segel di dahi takai.
BRRRAAAAK!
“AKH!”
Seeji terjatuh ke arah kursi dan terhempas ke dinding karena pukulan keras dari Takai.
Dalam alam bawah sadarnya, Takai mencoba untuk menghabisi kuroseki, namun kenyataannya Takai malah memukuli Seeji secara tidak sadar.
“Apa yang kau lakukan padaku!? Keluarkan aku dari sini!”
“Heh, pukulan yang hebat...”
“Kenapa dia tidak menghindari seranganku...”
Kuroseki mengikat Takai lebih kuat.
“Kh...ahk!”
“Sebaiknya kau diam dan jadilah pionku...”
“DASAR KAU!!!”
Takai memaksakan dirinya dan mendekati kuroseki. Takai mencoba untuk mencekiknya.
“Kau pasti tidak sadar apa yang dilakukan tubuhmu ya kan?”
“Apa maksudmu..?!”
“Kau telah kukendalikan sejak awal...”
"APA!?"
Takai mencekik Kuroseki lebih kuat.
“T...Takai...kh....”
Takai mencekik Seeji yang terbaring di lantai. Seeji masih mencoba menyalurkan kekuatannya meskipun Takai sedang mencekiknya.
"Takai... jangan biarkan... hoseki hitam... menguasaimu!!"
Takai mencekiknya lebih keras, kemudian matanya berubah menjadi hitam.
"Kh...kau baru saja memukuli seseorang yang belum lama ini bersamamu." Penutup mata Kuroseki terbuka sebelah karena serangan Takai, kemudian dia menatap Takai dengan matanya yang tajam dan tenang.
"Seseorang....? Siapa...? Hhah..!? Apa ini....?!" Sesuatu berwarna kelabu menghalangi penglihatannya.
Seeji memperhatikan mata Takai yang hampir memudar cahayanya.
"Jangan....! Kau..."
"!!"
'Hoseki hitam akan mengambil kesadarannya... tidak ada cara lain selain menggunakan hoseki biru untuk membuka segel itu.... tapi jika aku menerobos hoseki hitam tanpa titik segel..... resikonya terlalu besar.....'
--"Apapun yang kau katakan, aku percaya padanya!"--
'Dia sudah berkata begitu... tidak.... aku tidak boleh membiarkan Takai menjadi Black Petals...!!'
Dengan sekuat tenaga Seeji menyalurkan hoseki birunya ke segel di dahi Takai.
"RE....SEAL!! KA...I..!"
Dengan kalimat yang terpatah - patah Seeji menggunakan kemampuan Fuinnya untuk membuka segel itu.
'Seperti dugaanku... hoseki putih mencoba menerobos hoseki biruku.... tapi...'
"Aku harap ini berhasil...!"
Tiba - tiba Takai yang tadi mencekik Seeji dengan sangat kuat melepasnya dan terjatuh di samping Seeji.
BRUUK
“Tidak!!”
"Sekarang waktunya." Kuroseki mengarahkan tangannya ke segel kuroseki yang ada pada Takai. Takai tidak bergerak, ingatannya kacau.
'Apa... Ini.... ? Siapa... aku....? Apa yang kulakukan...disini...?'
"TAKAI!"
Seeji meneriakkan Takai.
'Suara itu....'
"Jangan.... jangan tinggalkan aku sendirian.... Kau itu kuat, kenapa kau harus berakhir disini? payah!"
Seeji mendekati Takai dan masih berusaha untuk menyalurkan kekuatannya, meskipun dia sudah kelelahan dan babak belur.
'Kuat? Begitukah... aku..?'
"Kau tidak boleh menyerah..... Jangan tinggalkan aku yang sedang ketakutan disini, aho!"
Seeji hampir putus asa, Takai tidak bergerak, dia seperti mati. Seeji mencoba mengalirkan kekuatannya lebih banyak, dan memperbesar segel hoseki hitam yang dia buka.
‘Perasaan ini.... Seeji....’ Kesadaran Takai mulai kembali.
"Apa!?"
Kuroseki terkejut melihat cahaya permata biru keluar dari segelnya.
Seeji berhasil menyalurkan kekuatannya. Hawa gelap yang mengikat Takai terlepas.
"Kau pikir kau sudah menang? Sayang sekali apapun yang terjadi, aku tidak akan melupakan jati diriku!"
Takai lalu menyerang Kuroseki dengan tinju dan tendangannya. Kuroseki tampak kepayahan, Takai tidak memberi celah sama sekali.
"KELUAR KAU DARI TUBUHKU!! PENGACAU!"
SRIIING!
Cahaya permata merah kemudian membuat Kuroseki keluar dari kesadaran Takai.
"Kuroseki..."
Saat kuroseki keluar dari segelnya, Seeji langsung menembaknya dengan pistol di tangan kirinya, tapi Kuroseki menghilang sebelum Seeji menyerangnya.
"Gagal...."
SYUUTS!
"Takai...! Ha...hh..."
Seeji hampir pingsan, tapi dia berusaha menahannya.
KRRAAK.....
--”Apa itu? Apa hanya perasaanku? Ada sesuatu yang retak...”
Segel Kuroseki pada dahi Takai mulai menghilang, Seeji menyentuh dahi Takai dan mencoba mendinginkannya. Takai mulai tersadar
“Hei... Bodoh... Kau mendengarku..?...”
Penglihatan Takai masih belum jelas. Dia melihat Seeji yang seperti menangis dan ketakutan.
“Jangan... lihat aku... seperti itu... Takai bodoh...” Seeji memanggilnya.
Takai yang dalam keadaan berbaring lalu memegang pipi Seeji. Tangannya mendekatkan mereka, Takai menciumnya tanpa sadar.
‘A...Ta...kai....’
"Seeji... Jangan menangis.... aku disini kok...."
Takai menyentuh lembut pipi Seeji. Tangannya hampir terjatuh, dan Seeji menahannya, kemudian menggenggamnya erat.
"Dasar....Bo...doh..."
Seeji merasa lemas karena rasa sakit yang baru saja dialaminya. Dia kehilangan kesadaran bersamaan dengan Takai disampingnya. Mereka tertidur di lantai.
--'Perasaan apa ini?'
--’Aneh...padahal dadaku tidak pernah berdegup secepat ini...apa karena apa yang baru saja terjadi?’
--’Hhah....lalu kenapa aku merasakan sesuatu yang membuatku senang...?’
--------------
"Dimana...ini?"
Takai terbangun. Matahari yang terlihat di jendela masih rendah, hari sudah pagi.
"Oh ya, ini di penginapan. Tunggu, aku tertidur di lantai? Dan...ini? Seeji?"
Takai heran yang ada di dahinya bukan sapu tangan melainkan tangan seeji. Takai melihat Seeji tertidur di sampingnya. Tangannya masih digenggam erat Seeji.
"Seeji...." Takai mencoba membangunkannya dan memanggilnya pelan.
"Engh.....”
"Selamat Pagi.... Seeji..." Takai tersenyum lembut pada Seeji dengan rambutnya yang diterpa sinar matahari. Sesuatu membuatnya terlihat berbeda.
"Hah!!" Seeji terkejut. Seeji memandangi Takai sejenak.
"Eeh... Eh!!!"
Seeji baru sadar dia memegang tangan Takai sejak tadi. Dia Reflek melepasnya.
"Ke...kenapa... Seeji...?"
Wajah Seeji memerah, dia tampak malu mengingat kejadian kemarin. Tapi Takai tidak mengingatnya.
"Ada apa Seeji? Wajahmu memerah... Jangan - jangan kau tertular?! Dan kenapa banyak luka memar di tubuhmu?"
Takai langsung menyentuh dahi seeji. Dia tampak khawatir melihat memar dan luka pada Seeji. Seeji tampak sangat terkejut, dia belum berkutik dan terpaku kaku.
"Tunggu! Seeji...! Di lehermu ada bekas..."
Saat tangan Takai mendekati lehernya, Seeji akhirnya bergerak.
"Kau ini....!"
"See...ji?"
"KELEWAT BODOH TAU!!!"
BUAAAGH!!
Seeji tidak segan melepas pukulan kerasnya ke wajah polos Pria itu.
"Apa maksudmu Seeji? Kau tiba - tiba memukul orang yang baru saja membangunkanmu!!''
"Lalu apa maksudmu bersikap seperti itu hah?!!"
"Heeeh...? Salahmu sendiri, kau bilang kau tidak mau tidur denganku!"
"Kau pikir aku sengaja melakukannya?!!"
“Memangnya... Kenapa kita tertidur di lantai? Seeji?”
“Eh? Kau tidak ingat...?”
“Jangan - jangan.....”
Takai menduga - duga dengan mulutnya yang menyeringai lebar.
“Hei, ada apa dengan tatapan yang menjijikan itu..?”
“Kau memang ingin tidur bersamaku ya...?”
“Apa...?!! Jangan mikir yang enggak - enggak ah!! Dasar Pria tidak Tahu diri!!!”
"Eeh...kau..."
"Diamlah!!!"
"Seeji...."
"Berisik!!"
"Jangan – jangan kau...."
"AKU BILANG DIAM TAU!! BERISIK!!"
BUUAAGH!
Seeji sebenarnya sangat senang melihat takai bisa tersenyum lagi, dia cuma tidak bisa mengungkapkannya....
----------
"Kau mau mengambil benda ini...?! Ini bukanlah mainan! Kenapa kau bisa masuk ruangan ini!?"
"Tapi.... itu juga bukan mainanmu..."
WHOOOOSSH!!
Api berkobar dan menyulut segala yang ada penjuru ruangan.
"Apa..?! Apa ini?! Siapa kau?!"
"Masa sih.... kau lupa dengan putramu..."
"Kau?!"
"Biar kuambil ini..."
"JANGAAAAN!!!!"
__ADS_1