
Happy reading
...
"Pak kalau saya misalnya konsultasi dirumah gimana?" Tanya Alin seraya menatap penuh harap ke wooseok yang sekarang lagi sibuk dengan laptopnya.
"Ekhemm Lin,Bikinin teh anget dong tenggorokan saya kering nih."
Alin mendengus pasrah kemudian berjalan menuju dapur dan membuatkan wooseok secangkir teh hangat.
"Ihh pak! pertanyaan alin jangan sampe gak dijawab." Tegur Alin pada wooseok yang sibuk dengan laptopnya.
"Urusan rumah ya urusan rumah,Urusan kampus beda lagi." Jawab wooseok tanpa mau menoleh kepada Alin.
"Padahal kan tinggal konsultasi doang." Dengus Alin.
"Enak aja,kamu kira otak saya gak bekerja apa tiap kamu konsultasi." Tukas wooseok tidak terima.
"Yang bilang otak bapak gak kerja tuh siapa? Kalau otak gak bekerja gak mungkin kan bapak jadi dosen." Sahut Alin yang bikin wooseok geram sendiri.
"Suka banget nyahut kamu itu,Jangan suka nyahut saya gak suka."
Alin diem.
"Pak saya mau pamit ya."
Wooseok mendongak kepada Alin saat gadis itu beranjak dari tempatnya.
"Mau kemana kamu?"
"Mau kerumah ibu."
"Eh mau ngapain? Kita baru tiga hari menikah loh masa udah mau cerai aja."
__ADS_1
Alin kesel sendiri dengernya.
"Pak kalau mau nengok ibu sendiri emang gak boleh? Saya mau nengokin ibu saya pak,bukan minta cerai."
Alin menggeleng pelan kemudian masuk kedalam kamar mengambil blazer hitamnya.
"Mau saya antar?"
"Tapi saya lagi repot nih." Alin kembali mendengus sebal.
Heran ya,Ada gitu orang senyebelin wooseok di dunia ini.Ganteng-ganteng nyebelin.
"Saya juga gak minta bapak anter,Lagipula rumah ibu saya beda dua gang doang darisini." Sinis Alin.
"Yaudah dong nada bicara kamu biasa aja,Saya gak pernah ngebentak kamu."
Alin sabar aja punya suami nyinyir kaya wooseok.Muka bapak-bapak tapi mulut kaya ibu-ibu.
Setelah punggung alin tidak terlihat wooseok menghela nafas pelan.Gak tau kennapa dia suka deg-degan dan masih ngerasa aneh kalau deket Alin.
Walaupun dia masih gak terlalu suka sama perempuan kecuali mamanya.Dia takut kalau alin tu sama kaya calonnya.
Yang ninggalin dia di h-2 pernikahan mereka :)
...
"Loh alin?"
Alin ngelirik kearah koh ciyu yang lagi nangkring didepan toko kue bundanya alin.
"Suami kamu mana? sendirian aja kaya masih jomblo." Alin mendengus kemudian masuk kedalam toko tanpa berniat menjawab ucapan Koh ciyu.
"Alin,kalau ditanya tuh ya dijawab." Untung koh ciyu sabar.
__ADS_1
"Tapi kata suami alin,Kita gak boleh ngejawab terus ntar dibilang durhaka."
Koh ciyu menatap Alin bingung.
"Oh iya koh bunda mana ya?" Tanya Alin penasaran.
Biasanya kalau koh ciyu lagi nangkring depan toko.Itu tandanya bunda Alin lagi pergi atau gak sholat didalem.
"Lagi pergi sebentar nganterin kue di gang sebelah." Jawab Koh ciyu.
Alin ber oh ria jawabnya kemudian mengecek kue-kue yang terlihat menggiurkan bagi alin.
Tanganya terulur untuk mengambil satu cupcake berbentuk bintang dan memakannya.
"Jangan lupa dibayar lin." Tukas Koh ciyu yang bikin alin mengerutkan alis bingung.
"Ngapain bayar? ini kan toko kue bundanya alin." Jawab alin gak terima.
"Tapi kan sekarang kamu bukan tanggungan orang tua kamu lagi lin,Ini udah jadi tanggung jawab suami kamu."
"Ya jadi kamu harus tetep bayar kalau mau bunda kamu gak rugi."
Alin mendengus sebal.
"Bener kata koh ciyu lin."
"Assalamualaikum bun."
"Waalaikumsalam."
"Sini bayar cupcakenya." Ucap Bunda menodong alin.
"Yahhh bundaa..." Rengek alin.
__ADS_1