
Happy Reading
...
"Kamu kok nangis sih lin?" Tanya wooseok seraya membalas pelukan yang Alin berikan.
Alin gak jawab,dia masih mau meluk wooseok erat.Gak tau kenapa dia ngerasa bahagia banget karena cintanya itu terbalas.
"Eung-- aku,,aduh gimana ya lin,saya gak biasa pake aku-kamu." Ucap Wooseok diselingu ketawa kecil.
Alin ikut ketawa dengernya,,,
"Ya mas kalau gak bisa gak usah dipaksain nanti lama-lama juga terbiasa kok." Cicit alin yang masih ada di pelukan wooseok.
"Tidur lin...udahan peluknya nanti sambil tidur bisa pelukan..." Tambah wooseok yang udah ngerasa ngantuk dan lelah.
Sebenarnya tadi sebelum pulang dari kampus,Wooseok punya banyak kerjaan yang harus selesai hari ini biar bisa cepet pulang dan ketemu alin.
Eh alinnya malah ngajak main sembunyi-sembunyian.
Alin ngangguk dan akhirnya mereka berdua tidur bersama dengan posisi alin meluk wooseok dari samping.
Gak tau deh posisi itu sampe pagi bertahan lama apa nggak?
"Pagi bunda..." Ucap Alin yang begitu semangat menyapa sang bunda yang kini sedang berdiri di dekat kompor.
"Ciee yang semalaman tiduran sambil peluk-pelukan." Goda bunda yang bikin pipi Alin merona.
__ADS_1
"Udah bunda ih! Alin mau bantuin bunda masak." Tukas Alin semangat kemudian mengambil Alih tugas dan urusan dapur.
Sebenarnya alin tuh gak bisa masak,Tapi karena dia tinggal sama wooseok mau gak mau dia harus belajar ngurus suami.
Apalagi alin jadi makin sayang sama wooseok...
"Alin! bawangnya diiiris bukan di potong gede-gede begini." Omel bunda yang bikin Alin cengengesan sendiri.
Gak lama Wooseok keluar dari kamar dengan rambut yang basah dan juga kemeja putih garis-garis biru yang belum dia ganti.
"Loh nak? kenapa baju kamu gak diganti?" Tanya bunda sesaat setelah melirik sekilas kearah wooseok.
Wooseok sendiri hanya senyum kikuk.
"Mas wooseok gak bawa baju ganti bun." Akhirnya Alin yang jawab kan.
Deg!
Hati alin sedikit bergetar tatkala bundanya menyebut almarhum ayah.
"Ikut alin mas." ucap alin pelan.
Wooseok mau nggak mau tetep nurutin kemana alin pergi.Setelah mereka sampai di gudang dekat dengan kamar bunda,Alin mengajak wooseok agar ikut masuk dengannya.
"Ini kayanya cocok deh mas." Ucap alin yang kini netranya menatap kemeja berwarna abu muda milik mendiang sang ayah.
Tes
__ADS_1
Air mata kembali mengalir tatkala memori tentang kebersamaannya dengan mendiang sang ayah kembali berputar.
Hati wooseok iba melihatnya,Ia kemudian merengkuh tubuh alin dan memeluk gadis itu yang kembali menangis.
"Jangan sedih lin,sekarang ada saya..."
Alin masih terisak dengan suara kecil.
"Boleh kan saya menyapa ayah mertua saya lin?"
...
Ditatapnya nisan yang kini basah dan penuh dengan bunga rampai yang sengaja ditabur alin.
"Assalamualaikum...Ayah...Alin dateng.."
"Sama menantu ayah..." Tambah alin dengan suara yang sangat lembut.
"Assalamualaikum yah,Maaf saya baru menyapa ayah sekarang." Ucap wooseok yang kini ikut berjongkok disamping Alin.
"Yah,dulu ayah bilang princess ayah harus ketemu sama pangerannya...Dan sekarang alin udah ketemu nih yah? Ayah bahagia gak?" Curhat Alin.
Wooseok berusaha membuat Alin tenang setidaknya dengan merangkul gadis itu dengan sayang.
"Ayah terimakasih karena sudah mendidik alin dengan baik...Saya berjanji akan menjaga Alin dan mendidik dia dengan sepenuh hati saya." Ucap Wooseok yang ikut bermonolog.
Sore itu di depan makam Ayahnya Alin,wooseok udah berjanji kalau dia akan dengan segenap hati melindungi dan mendidik Alin.
__ADS_1
"Karena Alin istri saya..."