Mas Dosen

Mas Dosen
Part 35 (Jangan macem-macem)


__ADS_3

Happy Reading


...


"K-kamu?"


Alin ngangguk sambil sesenggukan.Gak lama wooseok merengkuh kembali tubuh ramping Alin.Diusapnya puncuk wanita itu dengan lembut.


"Kenapa gak bilang?"


"Udah keburu ditampar." Jawab Alin datar tapi masih sesenggukan.


"Alhamdulillah." Wooseok bersyukur sekaligus khawatir dengan kabar ini.Dia bersyukur karena ada alasan Alin untuk bertahan disampingnya.


"Jangan bilang mau pisah lagi please,ini yang didalem kayanya kaget." Tutur alin kemudian menunjuk perut ratanya.


"Kan masih jadi janin lin."


"Tetep aja kaget!"


Yaudah wooseok ngalah,tapi tetep aja wooseok merasa khawatir.Siapa tau sikap cemburuannya yang diluar kendali datang dan melukai alin beserta calon anaknya.


"Udah berapa minggu?" Tanya wooseok mengalihkan topik pembicaraan dan mengusir keheningan.


Alin menggeleng.


"Baru cek tadi pagi sih,pas mas tidur diluar." Alin melepas pelukannya pada wooseok kemudian masuk kedalam kamar dan mengambil benda pipih persegi panjang itu didalam laci.


"Ini." Alin menyerahkannya pada wooseok.

__ADS_1


"Kali ini garis nya dua,kemarin juga sebenarnya garisnya dua,cuman mungkin dedeknya ngajak main petak umpet." Tambah Alin yang bikin wooseok ketawa kecil.


"Ada-ada aja sih kamu lin,mungkin emang testpacknya kurang akurat."


"Jadi gimana?" Tanya wooseok ke alin yang bikin alin menoleh dengan bingung.


"Gimana apanya?"


"Kamu siap kan terima kondisi saya yang seperti ini lin?" Tanya wooseok yang dengan segera dijawab anggukan oleh alin.


"Terima lah! nanti aku ajak mas rukiyahan aja biar sifat mas yang ngeri itu bisa lenyap." Yaa begitulah pikiran alin saat ia tau dirinya tengah berbadan dua.Mungkin kalau untuk berpisah dengan wooseok ia tidak kuat,dia bukan dilan yang rindunya berat.Tapi dia Alin yang tidak kuat menahan rindu.


"Nanti kita ke dokter aja buat pastiin usia kandungan kamu udah berapa minggu sekalian USG." Ucap Wooseok yang disetujui oleh Alin.


"Mas...jangan bilang cerai lagi ya.." Wooseok mengangguk kemudian menempelkan bibirnya di kening alin seraya mengecupnya lembut.


...


Alin sama wooseok udah naik kedalam mobil.Mereka udah siap buat pergi ke rumah sakit guna cek up kandungan sekalian USG.


Pas wooseok mau jalanin mobilnya,eh Hangyul dateng sambil cengengesan.Wooseok buka kaca mobil dan bertanya pada hangyul, "Kamu ngapain haha hehe didepan gerbang rumah saya?"


"A-nu pak."


Hangyul gugup,udah berasa kaya minta restu ngelamar dia aja ngomong sama wooseok tu.


"Saya mau nebeng."


Alin cekikikan pas liat ekspresi wooseok yang berubah masam.

__ADS_1


"Saya gak ke kampus tapi ke rumah sakit."


"Justru itu pak,saya mau kerumah sakit bukan ke kampus."


Wooseok mengernyit bingung, "Tau darimana kamu saya mau ke rumah sakit."


Kemudian pandangan hangyul melirik kearah Alin yang seolah-olah membuang muka.


"Tadi,di chat sama teh alin."


"Lin..." Kesal wooseok,alin cuman balas cengengesan.


Jadilah sekarang wooseok yang kesel sama hangyul,Gara-gara dia sama alin gak berhenti ngoceh dan ngobrol.


Membiarkan wooseok yang kaya obat nyamuk,eh gak deng kaya supir pribadi mereka berdua aja.


Untung alin duduk di depan.


"Sakit apa teh?" Tanya Hangyul.


"Rahasia." Jawab Alin sambil cekikikan.


"Mana ada penyakit rahasia teh,yang ada mah penyakit dilanda rindu tak bertemu denganmu." Hangyul cari mati emang,udah bosen idup pengen cepet-cepet ditelfonin malaikat izrail.


Wooseok sedaritadi udah jengah sendiri pengen tendang hangyul dari mobil.Perasaan cemburunya bisa meledak kalau lama-lama begini.


"Alin itu lagi hamil anak saya,gak usah kamu kerdus-kerdusin! kamu mau nilai kamu saya kurangin!"


Hangyul auto minkem.

__ADS_1


__ADS_2