
Tidak seperti malam kemarin, malam ini Raymond pulang ke rumah lebih cepat. Tidak ada alkohol yang di minum olehnya. Dia pun terlihat begitu segar, walaupun baru pulang kerja. Raymond benar-benar menikmati hari ini dengan baik.
Dua anaknya mulai mendekat ke arah Raymond. Dini dan Anjani mulai rindu pada Sarah. Mereka ingin segera bertemu dengan Sarah di malam ini. Namun mereka sama sekali tidak bisa bertemu dengan Sarah yang masih sibuk bekerja.
Dini meminta Raymond untuk melakukan panggilan video call dengan Sarah. Dini ingin sekali melihat wajah Sarah di layar handphone. Apalagi ini adalah malam yang sudah Dini tunggu. Dia merasa ingin sekali bertemu dengan Sarah.
Permintaan dari Dini pun langsung Raymond wujudkan. Dia segera menghubungi Sarah melalui panggilan video call. Menunggu beberapa saat untuk Sarah mengangkat panggilan telepon itu. Raymond meminta Dini untuk berbicara langsung pada Sarah, jika memang dirinya ingin Sarah segera pulang.
Panggilan itu tetap berdering, tapi Sarah tidak kunjung mengangkat panggilan telepon dari Raymond. Sampai akhirnya panggilan telepon yang di lakukan oleh Raymond itu berhenti dengan sendirinya.
Raymond kembali melakukan panggilan pada Sarah. Namun di panggilan kedua ini, Raymond harus merasakan perasaan yang semakin sakit. Di mana Sarah secara tiba-tiba menolak panggilan telepon dari Raymond. Sontak apa yang di lakukan oleh Sarah membuat Raymond kesal.
Raymond segera mengirim pesan pada Sarah. Sedikit ancaman di kirim oleh Raymond untuk membuat Sarah jera. Sehingga dia tidak akan menolak panggilan telepon yang di lakukan oleh Raymond. Ini seperti hal yang tidak pernah bisa di duga oleh Raymond. Istrinya tersebut akan menolak panggilan telepon dari Raymond.
Pesan dari Raymond pun hanya tersampaikan saja. Sarah sama sekali tidak membaca pesan yang di kirim oleh Raymond tersebut. Ini benar-benar menguji rasa sabar yang ada dalam diri Raymond. Raymond pun seperti tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Sarah. Tidak biasanya Sarah akan acuh seperti ini pada Raymond. Mereka sering bertengkar, tapi semuanya akan kembali normal seperti sediakala. Tapi tidak dengan malam ini, sepertinya Sarah benar-benar sudah tidak mau lagi memaafkan seorang Raymond.
Raymond mengambil handphone lainnya untuk menghubungi Sarah. Mungkin dengan handphone lain yang di milikinya, Sarah akan mengangkat panggilan telepon tersebut. Ini benar-benar di luar dugaan dari Raymond. Sarah akan marah dengan cukup lama pada Raymond.
Berbeda dengan handphone pertama dari Raymond yang di tolak oleh Sarah. Di handphone lainnya, Sarah mulai mengangkat panggilan telepon dari Raymond. Dia bahkan begitu cepat mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Selamat malam. Dengan siapa ini?" tanya Sarah.
Raymond segera mematikan panggilan telepon tersebut. Dia pun kesal pada Sarah yang ternyata benar, dia tidak ingin mengangkat panggilan telepon yang di lakukan oleh Raymond.
"Ternyata Sarah memang sengaja tidak mau mengangkat panggilan telepon dariku. Awas saja, aku akan memberikan pelajaran pada dirinya." ucap Raymond dengan penuh amarah.
__ADS_1
Dini yang sudah tidak sabar untuk melakukan panggilan video call dengan seorang Sarah, meminta ayahnya untuk segera memberikan handphone miliknya. Namun Sarah yang tidak mengangkat panggilan telepon dari Raymond. Tentu tidak bisa terhubung secara langsung. Raymond pun menjelaskan secara sederhana pada Dini. Sehingga anak itu tidak lagi bertanya akan Sarah. Mungkin dengan penjelasan sederhana yang di lakukan oleh Raymond. Dini bisa sedikit paham.
Ada sedikit kekecewaan yang ada di hati seorang Dini. Dia merasa ini adalah hari yang melelehkan untuk dia. Sehingga sebelum dia tertidur, dia ingin bisa bertemu dengan Sarah terlebih dahulu. Namun sepertinya Sarah sedang dalam keadaan sibuk, sehingga dia tidak bisa mengangkat panggilan telepon dari Raymond.
Ada kesedihan dalam diri Raymond saat melihat bagaimana anaknya itu terlihat begitu sedih. Dia merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Dini adalah kesedihan yang normal pada anak-anak. Tapi Raymond merasakan hal yang lain. Itu yang buat Raymond begitu sedih dengan kondisi dari Dini saat ini.
"Kamu sedih Din?" tanya Raymond.
"Sedih Pah. Aku pikir Mama akan mengangkat panggilan telepon itu. Tapi ternyata dia tidak peduli sama sekali pada Dini. Rasanya begitu sedih." jawab Dini dengan wajah murung.
Raymond pun mencoba menghibur Dini dengan permainan game online di handphone miliknya. Namun Dini yang sudah mulai bosan dengan permainan game online itu, merasa sudah tidak bergairah lagi. Dia hanya ingin bertemu dengan Sarah. Mungkin pertemuan lewat layar handphone sudah cukup membuat perasaan dari Dini bahagia.
Dini berjalan ke dalam kamarnya dengan perasaan hancur. Di ikuti Anjani yang terlihat kecewa juga akan penolakan yang di lakukan oleh Sarah. Kakak beradik itu terlihat hancur dengan apa yang terjadi pada kedua orangtua mereka. Padahal keduanya hanya ingin bertemu dengan Sarah saja, tapi dia justru menolak pertemuan yang seharusnya terjadi tersebut.
Raymond pun berusaha menghibur kedua anaknya. Mulai dari membawakan es krim untuk keduanya. Hingga boneka lucu yang siap menjadi hiburan kedua. Raymond tidak ingin semuanya menjadi kacau untuk kedua anaknya. Oleh sebab itu Raymond berusaha untuk terus menghibur kedua anaknya itu dengan cara apapun. Sehingga keduanya tidak berlarut dalam sebuah kesedihan yang ada. Sebab jika tidak di lakukan seperti itu, mungkin saja kesehatan mental dari kedua anak Raymond akan terganggu. Semua itu di sebabkan oleh ulah dari Sarah yang tidak mau mengangkat panggilan telepon dari Raymond.
Sarah harus bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada kedua anaknya. Jika tidak, mungkin saja akan ada hal buruk yang akan kembali melanda batin kedua anaknya. Itu yang dikhawatirkan oleh Raymond akan kedua anaknya tersebut.
Di dalam kamar itu, Raymond melihat bagaimana kesedihan besar di rasakan oleh Dini. Dia benar-benar terlihat begitu payah. Raymond harus menurunkan egonya sendiri, sehingga mungkin dia bisa melakukan panggilan telepon dengan handphone kerjanya. Dengan begitu Sarah akan mengangkat panggilan telepon dari Raymond. Tapi sepertinya itu hal yang sulit di lakukan oleh Raymond. Sebab gengsi dia yang begitu tinggi, akan sulit untuk di turunkan. Itu yang membuat semuanya semakin sulit lagi untuk dirinya. Namun Raymond harus bisa mengatasi semuanya segera. Jika tidak, bukan tidak mungkin itu akan semakin buruk bagi dirinya sendiri.
Akhirnya Raymond menurunkan egonya tersebut. Dia pun kembali mengambil handphone kerjanya. Dia langsung menghubungi Sarah melalui panggilan video call. Dengan begitu, Raymond bisa mengatakan jika ada kerinduan berat yang tengah melanda kedua anak Sarah. Mereka begitu berharap bisa bertemu dengan Sarah. Mungkin saja pertemuan itu akan membuat kondisi dari kedua anak Raymond akan kembali membaik.
Sarah langsung mengangkat panggilan video call dari Raymond. Sarah tentu terkejut saat tahu nomor telepon itu adalah milik Raymond. Sarah pun hanya terdiam saat dia melihat wajah Raymond yang begitu marah pada dia.
"Andini dan Anjani kangen sama kamu. Mereka terlihat begitu murung, sebab dari tadi kami tidak bisa di hubungi. Padahal mereka hanya ingin melihat wajah kamu sebelum tidur." ucap Raymond dengan tegasnya.
__ADS_1
Sarah pun seketika merasa bersalah dengan sikapnya yang egois. Seandainya Sarah mau untuk mengangkat panggilan telepon dari Raymond, mungkin saja kedua anaknya itu tidak akan bersedih. Sarah sangat merasa bersalah dengan sikap egoisnya tersebut.
Kedua anak Sarah pun langsung menghampiri Raymond. Keduanya sudah tidak sabar untuk melihat wajah Sarah, walaupun hanya dari layar kamera. Namun keduanya mengaku senang dengan pertemuan tersebut.
"Malam Mama." sapa Anjani dengan penuh semangat.
"Malam Sayang." jawab Sarah dengan wajah penuh penyesalan.
Andini yang sedikit kecewa pada Sarah, terlihat tidak mampu berkata-kata. Dia hanya menatap wajah Sarah dengan tatapan kosong. Andini merasa Sarah sudah tidak sayang lagi pada mereka. Sehingga dia menolak untuk bertemu dengan Andini dan Anjani. Padahal keduanya begitu berharap bisa bertemu dengan Sarah.
"Andini marah sama Mama?" tanya Sarah dengan wajah paniknya.
"Andini kecewa sama Mama. Kenapa Mama tidak mengangkat telepon dari Papa. Tapi di handphone ini Mama mengangkat panggilan telepon dari Papa. Mama marah sama Papa?" jawab Andini dengan polosnya.
"Enggak Sayang, Mama gak marah sama Mama. Tadi Mama cuman belum sempat saja mengangkat panggilan telepon dari handphone Papa satu lagi. Makanya Mama tidak mengangkatnya." ucap Sarah dengan sedikit gugup.
Andini yang sudah berada di kelas 5 sekolah dasar, tentu sudah paham betul. Sehingga kebohongan dari Sarah sudah bisa di ketahui oleh dirinya. Andini pun merasa Sarah seperti seorang pembohong besar di hadapannya. Padahal selama ini Sarah selalu mengatakan pada Andini dan Anjani untuk tidak berbohong. Tapi itu semua di lakukan oleh Sarah secara langsung. Seketika Andini pun merasa kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Sarah pada dirinya.
Andini pun meminta Raymond untuk mematikan panggilan video call dengan Sarah. Andini sudah tidak ingin bicara apapun lagi dengan Sarah. Rindunya di balas dengan sebuah kekecewaan besar dalam hatinya. Sarah membohongi Dini dengan perkataan kotornya. Semuanya seolah baik-baik saja, padahal tidak sama sekali. Semuanya di tutupi dengan rapat oleh Sarah. Padahal Andini berhak tahu apa yang terjadi.
Anjani justru menolak untuk mematikan panggilan video call tersebut. Dia masih ingin mengobrol dengan Sarah lewat panggilan video call tersebut. Namun Anjani tetap ingin Sarah pulang lebih cepat di hari ini. Sebab Anjani ingin segera bertemu dengan Sarah.
Raymond tetap lebih memihak pada Andini. Dia merasa Sarah adalah seorang yang tidak bisa di percaya lagi. Kebohongan di buat oleh Sarah dengan begitu sistematis. Itu yang membuat Raymond begitu kecewa pada Sarah. Padahal dia yang mendidik anaknya untuk tidak berbohong, tapi dia sendiri yang berbohong. Sebuah hal yang tidak pernah di pikirkan oleh Raymond sebelumnya.
Sarah terlihat panik dengan situasi yang ada. Dia tidak mengangkat panggilan telepon dari Raymond adalah hal yang biasa. Tapi melihat anak pertamanya kecewa berat pada dirinya, tentu bukan hal yang biasa. Sarah harus bisa memenangkan anaknya itu. Sehingga rasa kecewanya pada Sarah tidak akan berlanjut dan terus menerus terjadi.
__ADS_1