
Untuk pertama kalinya Abi harus masuk ke ruang administrasi. Uang semester ini belum di bayar oleh Abi. Dia harus segera membayar uang semester, jika dia ingin ikut ujian. Tentu ini menjadi hal yang tidak pernah di duga oleh dirinya. Dia harus berurusan dengan uang seperti ini. Selama ini semua biaya administrasi dari Abi tidak pernah terganggu sedikit pun, mudah saja bagi Abi untuk bisa membayar uang kuliahnya. Namun semuanya sekarang sudah berubah. Semua harta orangtuanya sudah tidak ada, kini Abi pun harus merasakan perasaan yang sama dengan beberapa temannya yang harus menunggak biaya kuliah.
Abi tidak sedih dengan apa yang terjadi pada dirinya. Dia terus berpikir positif akan kejadian yang di alami oleh dirinya. Mungkin ini adalah cara Tuhan mengajarkan Abi untuk bisa lebih dewasa lagi sebagai manusia. Selama ini Abi selalu bergantung dengan uang dari kedua orangtuanya. Sehingga ketika orangtuanya sedang memiliki masalah besar, Abi pun harus merasakan kehilangan yang cukup besar. Tapi kini Abi bisa menjadi seorang yang lebih baik lagi. Dia akan mendapatkan kesempatan untuk bekerja paruh waktu untuk mendapatkan uang.
Abi meninggalkan ruang admistrasi dengan sebuah senyuman. Tidak ada rasa sedih yang melanda hatinya. Bagi Abi ini adalah hal yang wajar untuk dirinya. Jika kedua orangtuanya tidak bisa membiayai biaya kuliah dari Abi. Sudah seharusnya dia mencari biaya kuliah sendiri. Menjadi seorang yang jauh lebih mandiri lagi.
Begitu Abi keluar dari dalam ruang administrasi tersebut. Abi pun bertemu dengan Sita. Perempuan itu menaruh perhatian lebih pada Abi. Sehingga Sita kerap terlihat begitu iba melihat Abi bersedih.
"Kamu habis bayar biaya kuliah?" tanya Sita pada Abi.
"Bukan, tapi aku baru saja dapat surat peringatan untuk segera melunasi biaya kuliah." jawab Abi dengan santai.
__ADS_1
"Apa aku boleh bantu kamu melunasi biaya kuliah tersebut?" tanya Sita kembali.
"Tidak usah, ini akan jadi urusanku. Kamu tidak harus repot. Aku bisa melunasi semuanya. Mungkin aku akan bekerja paruh waktu besok. Sehingga aku bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliahku." jawab Abi tetap tenang.
Sita merasa iba dengan kondisi dari Abi. Dahulu ketika orangtuanya mengalami hal yang sama dengan apa yang terjadi pada orangtua Abi. Sita pernah mendapatkan pertolongan dari kedua orangtua Abi. Jadi tidak ada salah bagi Sita untuk menolong Abi. Sehingga Abi tidak harus bekerja paruh waktu untuk melunasi tunggakan kuliahnya tersebut.
Abi yang masih harus menyelesaikan kuliahnya di hari ini, berpamitan pada Sita untuk kembali masuk kelas. Dia berjalan pergi dengan perasaan yang tetap tenang. Tidak seperti beberapa orang yang sedang di timpa sebuah masalah, Abi terlihat begitu tetap tenang dengan persoalan yang sedang di hadapinya tersebut. Itu yang membuat Sita merasa beruntung bisa mengenal Abi sebagai seorang teman. Dia adalah seorang yang begitu bijaksana dalam berbagai persoalan yang ada.
Sita pun masuk ke dalam ruang administrasi saat Abi sudah pergi jauh dari dirinya. Mungkin pertolongan dari Sita ini akan membuat Abi bisa mengikuti ujian. Sebab jika seorang mahasiswa tidak membayar biaya semester. Sudah pasti mereka tidak akan ikut dalam ujian yang akan segera di lakukan. Ini menjadi perhatian yang cukup besar bagi seorang Sita. Dia harus bisa menolong Abi dengan persoalan yang sedang di hadapi olehnya kini.
"Siang. Silakan duduk."
__ADS_1
Sita pun langsung duduk di kursi depan meja kerja bu Rose. Sita terlihat begitu senang bisa di sambut dengan baik oleh bu Rose. Kedatangan dari Sita yang ingin melunasi tunggakan dari Abi, tentu sudah tidak sabar untuk segera membayar tunggakan dari Abi tersebut. Apalagi Sita berharap akan ada perhatian yang akan lebih lagi dari Abi saat dia membayar tunggakan dari Abi tersebut. Mungkin saja Abi akan membalas semua kebaikan dari Sita itu dengan sebuah cinta yang tulus.
"Kedatangan dari saya ke ruangan Ibu, untuk membayar tunggakan semester dari Abi. Kira-kira berapa total semuanya?" tanya Sita.
"Total semuanya sekitar 7 juta rupiah. Kamu bisa lihat di sini daftarnya." jawab bu Rose menyodorkan sebuah kertas.
Sita melihat biaya tunggakan dari Abi. Memang mungkin ekonomi dari Abi sedang berada di titik nadir. Sehingga uang tunggakan yang sebenarnya tidak begitu besar nominalnya, tidak mampu di bayar oleh Abi. Padahal sebelumnya bagi kedua orangtua Abi, uang ini sama sekali tidak besar nominalnya. Namun berbeda kini kondisinya, sehingga mereka tidak bisa membayar semua tunggakan dari Abi yang sebenarnya tidak besar tersebut.
Sita segera mengeluarkan kartu ATM miliknya. Mungkin Sita akan membayar biaya kuliah Abi menggunakan kartu ATM miliknya. Dia memiliki banyak saldo di kartu ATM tersebut. Sehingga tidak harus khawatir dengan uang yang akan dia keluarkan.
Sita pun selesai dengan transaksi pertamanya tersebut. Dia merasa senang bisa menolong Abi. Sehingga Abi bisa mengikuti ujian dengan tenang, tanpa harus memikirkan biaya kuliah yang masih belum di bayar. Sebab Sita sudah membayar semua biaya tunggakan dari Abi. Itu adalah hal yang tidak sulit untuk di lakukan oleh Sita.
__ADS_1
Begitu selesai membayarnya, Sita pun berpamitan kepada bu Rose. Dia meminta pada bu Rose untuk tidak memberitahu pada Abi, jika Sita yang telah membayar tunggakan dari Abi. Tentu saja Abi akan merasa tidak enak dengan apa yang di lakukan oleh Sita. Dia selalu merasa tidak enak hati saat di repotkan oleh orang lain. Abi yang begitu kuat dalam pendiriannya.
Bu Rose pun siap merahasiakan identitas Sita. Dia tidak akan mengatakan pada Abi jika Sita yang telah membayar uang tunggakan dari Abi tersebut. Semuanya akan di jaga dengan baik oleh bu Rose.