MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN

MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN
KEHENINGAN MENCEKAM YANG MENYELIMUTI DESA


__ADS_3

"Hore... akhirnya kita tiba juga ya?" seru Selena dengan gembira. Mereka memandang hamparan pemukiman yang membentang beberapa langkah dari posisi mereka menjejak sekarang.


Itu adalah Desa Gieljoorn, merupakan wilayah paling luar dari Kerajaan Bellial. Keistimewaan desa ini adalah transportasinya yang menggunakan gondola, yaitu sejenis perahu khusus yang dipergunakan diperairan sempit semisal sungai dan parit kota.


Nyatanya, memang tak ada jalanan melainkan perairan saja. Sedangkan rumah-rumah penduduk maupun kantor-kantor pemerintahan didirikan diatas perairan menggunakan sistim bangunan panggung.


Havard mendesah. Bukefals selalu gugup jika berhadapan dengan air. Entah mengapa, padahal seekor karkadan biasanya tak pernah bermasalah dengan air. Hewan tunggangannya beberapa menggerutu dan mengerang pelan menandakan ia enggan melewati perairan itu.


Champa mengangguk. "Penduduk desa ini memang mengandalkan perairan sebagai wadah transportasi mereka. Biasanya setiap penduduk memiliki satu atau lebih gondola, dan mereka bisa menyewakan perahu mereka."


Sultan Yazid tersenyum. "Berarti tak ada yang perlu kita kuatirkan." ujarnya sembari mengajak keenam rekannya kembali bergerak mendekati desa.


Mereka tiba digerbang desa. Ada sebuah anjungan pendek disana sekaligus sebuah papan nama bertuliskan: 'Selamat Datang di Gieljoorn' yang dibentuk unik membentuk pola gondola. Dipinggir papan nama itu ada sebuah pondok jaga. Sebuah pagar terbuat dari bahan logam berjala mengelilingi kawasan pemukiman itu. Rumah-rumah penduduk membentuk kelompok-kelompok dan cara untuk mendatangi kelompok-kelompok perumahan itu hanya bisa dengan menggunakan perahu.


Sultan Yazid mengamati pemandangan desa dan lelaki bermantel hitam itu mengerutkan alisnya.


"Kok sepi ya?" gumam lelaki itu.


"Iyakah?" seru Champa tak yakin. Ia memajukan kendaraannya hingga ke tepian anjungan dan mengamati desa. "Iya, ya? Kok sepi?"


"Mungkin mereka sedang punya kegiatan khusus..." kilah Do Quo. "Berdiam selama sehari penuh dalam rumah..."

__ADS_1


"Kata-katamu nggak lucu." dengus Nagini membuat Do Quo hanya tersenyum menyeringai sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Thor memicingkan mata.


"Desa ini sedang mengalami sebuah peristiwa yang menggoncangkan." ujarnya dengan pelan. Keenam rekannya memandangnya. Thor balik menatap mereka. "Apakah kalian tidak merasakannya?"


Sultan Yazid kembali menoleh ke arah desa yang berada di tengah perairan itu. "Sebaiknya kita mengadakan penyelidikan..." ujarnya menatap keenam rekannya.


Gieljoorn sebenarnya terletak ditepian rawa luas yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga nyaman ditinggali. Satu-satunya pengganggu hanyalah nyamuk-nyamuk yang banyak mendiami pepohonan manggrove yang banyak terdapat dirawa itu. Para penduduk sudah menyiasatinya dengan membuat lulur pengusir nyamuk.


Tiba-tiba Selena melihat ke arah desa itu dan menunjuk. "Lihat... ada yang datang kemari." serunya.


Mereka kembali menatap ke arah anjungan. Nampak diseberang, seorang pria mengendarai sebuah gondola dan menarik sebuah gondola lainnya yang agak besar. Kedua perahu itu akhirnya tiba dan menepi di anjungan.


Sultan Yazid tersenyum. "Katakanlah seperti itu." ujarnya kemudian mengulurkan tangan menyalami lelaki itu. "Saya, Abu Yazid al-Bustami dari Najd... dan ini kawan-kawan seperjalanan saya..." ujarnya memperkenalkan diri beserta keenam rekannya.


"Lelaki itu mengangguk. "Saya Rufio, senang bisa berkenalan dengan anda semua."


"Pak Rufio, kalau boleh saya bertanya?" sela Champa tiba-tiba. Rufio menatapnya dan mengangguk.


"Silahkan..." katanya.


"Mengapa desa kelihatan sepi?" tanya Champa.

__ADS_1


Rufio mengangguk-angguk. "Aaahhh... rupanya kalian sudah bisa melihatnya..." lelaki itu sejenak memandang desanya. "Desa kami sekarang diganggu sesosok Garaou. Saat ini, makhluk itu sudah menculik seorang anak desa ini... dia adalah anaknya Ketua Desa ini."


"Garaou?" seru Champa. "Lalu dimana makhluk itu membawa anak tersebut?"


"Kabarnya, Garaou menyembunyikan anak itu di Hutan Hoyabaccha... bukankah hutan itu angker, penuh makhluk menyeramkan?" jawab Rufio dengan bergidik.


"Tak mungkin!" seru Champa seketika membuat kelima orang, terkecuali Nagini menatapnya dengan heran. Gadis berambut perak itu seketika salah tingkah dan berupaya memperbaiki sikapnya.


"Apanya yang tak mungkin, Champa?" todong Havard. "Apakah kau mengenal hutan itu?"


"Nggak..." jawab Champa serentak. "Tapi jika mengatakan hutan itu angker, aku tak percaya." kilahnya.


Havard menatapnya dengan tajam. "Jangan membuat alasan yang membuatku curiga terhadapmu."


"Aku pernah melintasi hutan itu sewaktu melancong ke Leningrad. Tak ada apa-apa disana, selain hutan yang asri." ujar Champa mengemukakan pendapatnya.


Sultan Yazid maju melerai keduanya. "Baiklah... tak usah bertengkar." lerainya kemudian menatap Rufio. "Kau bisa mengantarkan kamu kepada Ketua Desa?"


Rufio langsung mengangguk. "Tentu saja. Aku akan mempertemukan kalian dengan beliau. Silahkan naik. Untuk hewan-hewan silahkan menaiki perahu dibelakang."


Mereka berenam kemudian menaiki perahu. Havard dan Rufio sementara menenangkan karkadan yang gugup agar mau menaiki perahu. Setelah itu mereka berlayar menyusuri rawa itu menuju bangunan-bangunan diatas air. []

__ADS_1


__ADS_2