MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN

MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN
SISI LAIN SEORANG CHAMPA


__ADS_3

Selena perlahan membuka matanya dan mengerjap-ngerjapkannya dengan pelan, membiasakan berkas cahaya mengusap matanya. Wajah pertama yang dilihatnya adalah Havard yang terlihat begitu cemas.


"Selena? Selena?..." panggil Havard begitu melihat gadis itu membuka matanya dan mengamati keadaan sekitarnya.


Selena melihat keadaan ruangan yang begitu kusam. Gadis itu kembali menatap Havard.


"Kita berada dimana?" tanya Selena dengan lemah.


Gadis itu hendak bangun namun bahunya ditahan oleh kedua tangan Havard.


"Jangan bangun dulu. Kau kelihatan begitu lemah..." ujar Havard dengan lembut. Pemuda itu kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Selena. "Apa kau merasakan sakit? Dimana? Dikepala? Leher? atau..."


"Aku... baik-baik saja, Havard..." bantah Selena.


"Kalau kau memang baik-baik saja, mengapa kau jatuh dari pelana? Kata tabib, kau mengalami gegar otak ringan akibat kepalamu terhantam tanah." tukas Havard mengerutkan alis. "Apakah kau merasa tidak sehat?"


"Entahlah..." desah Selena. "Tiba-tiba saja aku merasa kehilangan keseimbangan dan jatuh... setelah itu tak ingat apa-apa lagi..." tutur Selena dengan bingung.


Havard mengangguk-angguk kepala saat gadis itu bertutur. Setelah Selena selesai menjawab, pemuda itu mendesah.


"Ada baiknya, kamu istirahat dulu disini." ujar Havard pada akhirnya.


"Ini... kita sedang dimana? Kau sendiri hendak kemana?" tanya Selena dengan rasa cemas, takut tak diajak.


"Kau berada di kamar peristirahatan salah satu biarawati Sekte Suci." jawab Havard. "Aku akan pergi bersama-sama Do Quo dan lainnya menuju Hutan Hoyabaccha mencari tempat bernama Shamvala..."


"Tapi..." protes Selena dengan lemah.


"Dan aku tak mau apa-apa terjadi padamu saat kita melintasi hutan keparat itu!" sambung Havard. "Ini perjalanan berbahaya... kata orang-orang disini, hutan itu berbahaya... banyak menyimpan misteri. Aku tak mau kau kenapa-kenapa..."


Selena kembali hendak memprotes, namun Havard menjawab lagi, "Tolong mengertilah perasaanku, Selena... aku tak mau apapun terjadi padamu. Aku bisa gila jika nantinya sesuatu yang buruk menimpamu..."


Mendengar permohonan pemuda itu, Selena terpaksa mengangguk dan Havard tersenyum dengan layu.


"Sebenarnya aku berat meninggalkanmu disini... tapi, bagaimanapun... Sinhala harus kutemukan. Dia menjadi pemicu segala yang terjadi... dia harus mempertanggungjawabkan apa yang lakukan..." tambah Havard kemudian membelai rambut gadis itu.


Sejenak Selena tersenyum menyadari betapa lembutnya telapak dan jemari tangan pemuda itu ketika membelai dan membarut kepalanya. Havard kemudian menegakkan tubuh dan berdiri lalu membalikkan tubuhnya, melangkah meninggalkan Selena yang berbaring diranjang itu.


Selena menarik napas panjang dan melepaskannya juga dengan perlahan. Setelah itu ia memejamkan mata dan melanjutkan istirahatnya yang tertunda.


...****************...


Havard menutupi pintu dan menatapi kawan-kawannya yang berada diruangan itu.


"Bagaimana keadaannya?" Do Quo berinisiatif bertanya duluan.


Havard mengangguk. "Dia tak bisa mengikuti perjalanan kita. Sementara dia beristirahat disini dulu."

__ADS_1


Sultan Yazid menghela napas berat lalu menyahut. "Yah, apa boleh dikata. Kita terpaksa melanjutkan perjalanan..."


"Apakah Champa sudah kembali?" tanya Havard.


"Dia menunggu kita di gerbang kota. Katanya, jika kita sudah siap berangkat... dia akan menunjukkan jalannya." jawab Sultan Yazid.


"Dia akan menunjukkan jalannya?" desis Havard dengan lirih.


"Kelihatannya, Champa sedikit tahu tentang misteri Shamvala..." ujar Nagini. "Aku sebenarnya sedikit curiga dengannya..."


"Curigamu dimana?" tanya Sultan Yazid.


"Perhatikan rambutnya... apakah kalian berpikir jika warna rambutnya sama dengan Sinhala?" pancing Nagini.


"Maksudmu.... dia seorang Sigirlya?" tukas Havard.


"Bisa saja, kan?" tukas Nagini.


Havard tertawa. "Mana mungkin?" bantahnya. "Orangnya kecil begitu. Pendek, kecil... dadanya rata..." oloknya.


"Oh... kau belum pernah ketemu dengan perempuan Sigirlya yang seksi rupanya..." tukas Nagini menggoda. "Asal tahu saja, Havard... bangsa Sigirlya, termasuk bangsa peri seperti halnya bangsa Aragami yang mendiami wilayah paling timur... mereka punya pesona yang kuat..."


"Alaah... hatiku tak akan terpikat!" seru Havard langsung melangkah pergi dengan gusar diiringi tertawaan Do Quo dan Sultan Yazid. Thor sendiri hanya diam seakan hal tersebut bukan sebuah candaan baginya.


Mereka tiba diluar Igrjia Imanulla dan disambut oleh dua orang biarawati Sekte Suci. Salah satunya adalah Cleopatra sedang satunya merupakan seorang wanita berambut panjang dikepang. Ia mengenakan baju jirah ringkas yang dibalut dengan mantel putih. Dibagian pinggangnya tersampir endong penuh anak panah dan sebuah gendewa besar yang digenggamnya.


"Kalian akan pergi meninggalkan Leningrad?" tanya Cleopatra.


"Kau mengenalnya?" tanya Nagini.


Havard menatap Nagini. "Cleo adalah teman kecilku. Ia asli penduduk Mashed yang menimba ilmu di Igrjia Imanulla lalu bergabung bersama Sekte Suci sejak belia." jawabnya.


"Kau tak akan mampir di Mashed?" tanya Cleopatra lagi namun Havard hanya menatapnya dengan tatap sendu. Cleopatra akhirnya mengangguk.


"Baiklah... tapi ada baiknya kalian dikawal oleh sahabatku ini." ujar Cleopatra sembari menatap kearah gadis penyandang busur besar itu. "Dia adalah pimpinan Biarawati Sekte Suci Ordo Imanulla..."


"Aku Rumellia..." ujar gadis itu memperkenalkan diri. "Selama berada di Bellial, keselamatan kalian adalah tanggung jawabku."


Havard menghela napas lalu mengangguk. "Apa boleh buat."


"Sebenarnya perjalanan kami menuju Hutan Hoyabaccha... mencari seorang bernama Sinhala... dan kami tak mau merepotkan anda..." sahut Sultan Yazid.


"Kurasa tak ada salahnya Paduka mengajaknya. Kerajaan Bellial memang perlu membantu kita menemukan buronan itu." timpal Do Quo.


"Paduka?" ujar Rumellia.


"Aku Sultan Yazid Al-Bustami dari Kesultanan Bustamiyah..." ujar Sultan Yazid sembari memperlihatkan lencananya membuat Rumellia langsung bersikap sopan dan menjura hormat.

__ADS_1


"Maafkan saya telah berlaku tidak sopan." ujar Rumellia.


Sultan Yazid tersenyum. "Tak mengapa. Jika anda ikut bergabung bersama kami, sebagai utusan dari Kesultanan Bustamiyah, saya menghaturkan terima kasih."


"Kalau begitu, mari kita berangkat." ajak Havard.


Cleopatra mengangguk dan melepas kepergian mereka. Keenam orang itu kemudian menuju istal kota mengambil kendaraan mereka. Rumellia sendiri mengendarai seekor naga kecil yang memang dipergunakan sebagai hewan transportasi umum para prajurit pengawal istana.


Mereka tiba digerbang kota. Disana, Champa telah menanti diatas punggung kuda kecil miliknya.


"Kalian lambat sekali..." keluhnya.


"Maaf..." jawab Sultan Yazid seadanya. Champa menatap Rumellia.


"Siapa dia?" tanya Champa.


"Dia menggantikan Selena..." jawab Havard.


"Kenapa dengan Selena?" tanya Champa.


"Selena kurang sehat. Dia kutitipkan di Igrjia Imanulla..." jawab Havard. "Rumellia, dari Sekte Suci akan menemani kita selama keberadaan kita di wilayah kerajaan ini..."


Champa manggut-manggut sejenak lalu mendesah. "Yah, tak perlu membuang waktu. Ayo kita berangkat!" serunya sembari memacu kuda kecilnya untuk bergerak meninggalkan gerbang kota.


Mereka meninggalkan kota dan kembali bergerak menyusuri jalanan hingga akhirnya memasuki hutan. Tak banyak pembicaraan yang terjadi. Havard sendiri hanya terngiang akan kata-kata Nagini tentang Champa.


Akhirnya Champa menghentikan kudanya. Mereka menemukan sebuah pelataran luas ditengah hutan.


"Disinikah letaknya Shamvala?" tanya Havard.


"Ya, tapi kita tak akan bisa melewatinya... tempat itu diselubungi oleh hawa gaib, mencegah kita untuk bisa masuk kesana." jawab Champa.


"Lalu? Bagaimana bisa memasuki tempat itu?" tanya Sultan Yazid dengan penasaran.


"Kalian harus bisa membawa seorang Sigirlya untuk bisa membuka pintunya." jawab Champa.


"Waduh, pekerjaan baru lagi..." keluh Do Quo.


"Aku akan membantu kalian membuka pintu itu." ujar Champa.


Havard tertawa. "Kau jangan main-main, Champa. Kau bilang sendiri, hanya seorang Sigirlya yang bisa membuka pintu menuju Shamvala... bagaimana bisa kau..." tiba-tiba tawa Havard lenyap dan menatap Champa dengan tajam. "Apakah kau..."


Havard tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena gadis berambut perak dihadapan mereka akhirnya memperlihatkan ujud aslinya. Dari punggung Champa keluar sepasang sayap yang ujungnya memiliki lima ruas cakar.


"Benar sangkaanmu, Havard... aku memang seorang Sigirlya..." ujar Champa dengan wajah sendu meski menampakkan senyum.


Terkecuali Nagini yang memang sudah mencurigainya, Havard dan yang lainnya terkejut.

__ADS_1


"Kau..." seru Havard.


Champa kembali tersenyum. "Aku memang seorang Sigirlya... dan nama asliku adalah ... Siff..." []


__ADS_2