MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN

MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN
LOUP SI GARAOU


__ADS_3

Iringan perahu itu menyusuri rawa dan tiba disalah satu gerombol bangunan-bangunan yang saling sambung menyambung. Gerombol bangunan-bangunan itu adalah kelompok bangunan yang agak jauh menjorok hingga ketepian daratan, dan terletak ditengah-tengah perairan, terpisah dari gerombolan bangunan-bangunan lain yang merupakan pemukiman penduduk.


"Ini adalah kawasan pemukiman para pejabat desa." ujar Rufio sembari mengendalikan mesin kendaraan hingga kedua perahu itu menyandar dengan apik ditepian anjungan. "Kita akan menuju kediaman Ketua Desa..." sambungnya kemudian menatap ketujuh orang itu dan berbicara lirih. "Anak yang hilang itu adalah keponakannya."


Ketujuh orang itu saling berpandangan. Rufio kemudian mengajak mereka bertujuh menyusuri jembatan-jembatan kayu laut yang menghubungkan bangunan-bangunan tersebut. Beberapa orang yang berseliweran sejenak memperhatikan ketujuh orang tersebut lalu kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


Mereka akhirnya tiba disebuah bangunan berbahan kayu Shorea pauciflora. Rufio menatap mereka dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Lelaki itu kemudian maju mengetuk pintu.


TOK TOK TOK... NGIIIIK


Pintu itu membuka dan muncul sesosok wajah melongok dari pintu. Wajah itu penuh bulu, tepatnya bercambang dan berjanggut lebat.


"Ada apa Rufio? Sesenja ini kau mengetuk pintu rumahku." ujar lelaki bercambang lebat itu dengan heran. Tatapannya semakin heran ketika menyadari dibelakang warganya itu berdiri tujuh orang asing.


"Siapa mereka Rufio? Ada keperluan apa mereka mendatangiku?" tanya lelaki itu setengah menebak.


"Mereka adalah pelancong, Tuan. Mereka datang hendak bertemu anda." jawab Rufio dengan sopan.


Sejenak laki-laki itu melirik kesana-sini lalu segera melambai-lambaikan tangannya dengan cepat. "Masuklah... diluar tidak aman." ujarnya mengajak ketujuh orang itu, lalu kembali menatapi Rufio. "Dan kau, kembali ke pos penjagaanmu." perintahnya.


Rufio mengangguk lalu menatap ketujuh orang yang dibawanya. "Masuklah... aku akan kembali ke pos jagaku. Hewan-hewan tunggangan kalian akan saya bawa ke istal, diperbatasan desa. Selamat tinggal."


"Terima kasih Rufio." sahut Sultan Yazid.


Rufio kembali mengangguk dan tersenyum ramah lalu meminta diri meninggalkan tempat.


Sultan Yazid mengangguk sambil mencondongkan tubuh setengah membungkuk, mempersilahkan Rufio meninggalkan mereka.


Sultan Yazid kemudian maju memasuki rumah disusul oleh keenam rekannya. Mereka disambut ramah oleh Ketua Desa tersebut.


"Silahkan duduk." ujarnya mempersilahkan ketujuh orang itu menduduki sofa panjang disisi dinding. "Maaf jika penyambutan saya agak kaku." ujarnya merendah. "Kami baru saja mengalami peristiwa yang menggoncangkan." lelaki bercambang itu kemudian duduk dikursi pribadinya.


"Saya adalah pemimpin di Gieljoorn. Panggil saja saya Haldberg.


Havard tersedak mendengar nama lelaki itu. Seakan paham, Hardberg tersenyum dan menjelaskan bahwa ia dinamai seperti jenis sebuah senjata sebab orang tuanya menginginkan anak lelakinya itu mampu kuat seperti senjata tersebut.


"Bahkan saya sendiri menyuruh kepada pandai besi di Leningrad untuk membuatkan senjata itu." ujarnya bangkit lagi dan melangkah ke sudut ruangan dibelakang kursinya. Disana ada sebuah tombak yang unik bentuknya. Benda itu diraih Haldberg dan membawanya ke tengah ruangan.


"Ini adalah senjata kebanggaanku, sesuai dengan nama yang disandangkan mereka terhadapku." ujarnya dengan senyum sembari mengelus-elus batang senjata tersebut. Setelah puas menyapu-nyapu batang senjatanya, seakan tersadar, Haldberg kembali menatapi Sultan Yazid.

__ADS_1


"Oh, ya. Rufio membawa kalian kepadaku disebabkan urusan apakah?" tanya Haldberg sembari menyandarkan tombaknya ke sisi sandaran belalang kursinya.


Sultan Yazid mengangguk. "Sebenarnya tak ada maksud tertentu." jawabnya kemudian menatap keenam rekannya. "Kami bertujuh ini adalah pelancong dari timur hendak melakukan perjalanan. Dan kebetulan rute kami melintasi Gieljoorn. Kami hanya meminta ijin lewat, jika diperkenankan."


Haldberg tertawa. "Kupikir kalian adalah para pemburu yang diajukan Rufio kepadaku." ujarnya lalu mengangguk-angguk. "Silahkan saja. Untuk menghargai kedatangan kalian, aku mempersilahkan kalian menginap semalam dirumahku." ujarnya lalu memanggil seorang pelayannya.


Seorang bujang golongan sida muncul. Lelaki sida itu anehnya mengenakan pakaian wanita dan bergaya kemayu.


"Bawa mereka ke kamar tamu dan layani mereka dengan baik." perintah Haldberg kepada pelayan sidanya.


Lelaki sida itu mengangguk takzim dan mempersilahkan mereka untuk menuju kamar tamu. Sultan Yazid meminta Nagini dan Champa untuk mengikuti lelaki sida itu.


"Kau juga Selena." pinta Havard menyela. "Pergilah temani mereka. Kami berempat masih hendak diskusi dengan Tuan Haldberg."


Selena mengangguk patuh lalu bangkit mengikuti Champa dan Nagini yang telah lebih dulu meninggalkan ruangan itu.


Sepeninggal ketiga wanita itu, Sultan Yazid kemudian mengatur duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Kami mendengar, di desa ini terjadi penculikan. Apakah benar?" tanya Sultan Yazid dengan lirih.


Haldberg menghela napas panjang lalu mengangguk-anggukkan kepalanya sembari membuang napasnya kelihatannya seperti menyimpan beban yang berat.


...****************...


Mereka bertiga tiba di kamar yang dimaksudkan oleh Haldberg. Lelaki sida itu mempersilahkan mereka masuk ke dalam kamar itu.


"Sebentar lagi saya bawakan makanan kedalam kamar." ujar lelaki sida itu kemudian membungkuk dan berbalik hendak pergi.


"Tunggu dulu." sela Champa menahan lelaki itu. Gadis berambut putih perak tersebut menatap kedua sahabatnya. "Aku penasaran tentang peristiwa itu. Marilah kita tanyakan kepadanya."


Nagini kemudian mengisyaratkan agar lelaki sida itu mengikuti mereka bertiga memasuki kamar. Setelah berada dalam kamar, mereka mulai menginterogasi pelayan banci itu.


"Siapa namamu, pelayan? Katakan apa yang terjadi pada ponakan Ketua Desa?" tanya Champa bertubi-tubi.


"Sabar Nona. Biar kujelaskan satu persatu." ujar pelayan itu meminta Champa untuk bersikap tenang. Setelah itu ia menarik napas panjang dan mulai bercerita.


"Namaku Padmi, aku berasal dari negeri dibagian tenggara bernama Nusanggadwipa... aku bekerja di Gieljoorn, sudah sepuluh tahun mengabdi kepada Tuanku, Haldberg." ujar lelaki banci itu memperkenalkan dirinya.


"Nusanggadwipa? Kau kenal lelaki bernama Rudra?" tanya Selena.

__ADS_1


"Rudra, Si Pemanah Rembulan?" tebak Padmi. Selena mengangkat bahu. Lelaki sida itu mengangguk. "Tiada satu gadispun se-Nusanggadwipa yang tak mengenalnya. Dia seorang satria ternama disana, banyak digandrungi para gadis meski penampilannya sangat sederhana."


"Termasuk kamu?" tanya Selena menggoda membuat Padmi tersipu-sipu.


"Eh, kita lagi membicarakan ponakan si kepala desa." sela Champa. "Kok malah bicarakan si Rudra?" ujarnya protes membuat Selena hanya tertawa.


Padmi menjelaskan lagi. "Fenris memelihara seekor Garaou, sejenis anjing sintezoid yang bisa bertransformasi menjadi manusia meski tetap saja berwajah anjing..."


"Semacam demihuman..." sela Selena.


"Garaou memang sejenis demihuman namun kelasnya rendah." ujar Padmi. "Garaou ini dinamai Loup oleh Fenris dan keduanya berteman sejak itu."


"Dimana Garaou itu ditemukan Fenris? Setahuku Garaou tidak dikomersilkan seperti halnya karkadan dan makhluk-makhluk hasil rekayasa genetika lainnya." todong Nagini.


"Mengapa begitu?" tanya Selena.


"Garaou sulit dipelihara. Tidak ada penangkaran untuk makhluk itu. Garaou termasuk jenis demihuman liar karena sifat mereka pada umumnya lebih condong ke binatang buas ketimbang binatang penangkaran." jawab Nagini.


"Fenris menemukannya dua tahun lalu di Hutan Hoyabaccha bagian utara, dekat suatu tempat yang diyakini orang-orang adalah gerbang Shamvala." jawab Padmi.


Champa terlihat sedikit tidak tenang mendengar hal itu.


"Setelah makhluk itu besar, para penduduk Gieljoorn kuatir, Loup akan membuat kekacauan didesa. Mereka mengusulkan Tuan Haldberg untuk mengasingkan Garaou itu ke pinggir desa ditepian Hutan Hoyabaccha." tutur Padmi dengan nada prihatin. "Hal ini mungkin membuat Fenris tidak setuju dan terlibat konflik dengan penduduk desa. Suatu ketika, salah satu anak dari warga dilukai oleh Loup sehingga menyebabkan warga marah dan berniat menyakiti demihuman itu. Loup lalu menculik Fenris dan membawa anak itu ke dalam Hutan Hoyabaccha. Selama dua hari ini para warga melakukan pencarian secara beregu kedalam Hutan Hoyabaccha untuk menemukan keduanya."


Selena dan Champa hanya bisa saling pandang sedangkan Nagini hanya duduk tenang diujung ranjang. Padmi kemudian bangkit mohon diri untuk menyiapkan jamuan makan bagi tamu-tamu sang kepala desa.


...****************...


Thor kelihatannya tidak perduli dengan keheningan yang tercipta akibat Haldberg berkisah tentang kehidupan Loup dan Fenris. Lelaki raksasa berambut merah itu lebih sibuk memeriksa mata kapaknya daripada serius mendengarkan penuturan kepala desa itu. Haldberg menyelesaikan ceritanya dan Sultan Yazid menatap Havard dan Do Quo.


"Bagaimana menurut kalian? Apakah kita akan bergabung bersama para warga untuk mencari mereka?" pancing Sultan Yazid.


Do Quo dan Havard saling pandang lalu tersenyum dan mengangguk. Do Quo menatap Sultan Yazid. "Jika Padu... maksud saya Tuan Abu Yazid mengizinkan, kami berdua akan bergabung dengan para warga untuk mencari mereka berdua."


"Aku juga akan ikut dengan kalian." sahut Sultan Yazid lalu menatap Thor. "Bagaimana denganmu, Raja Thor? Apakah kau ikut dengan kami?"


Thor mengangkat wajahnya menatap Sultan Yazid dan sedetik kemudian ia mengangguk mantap. Sultan Yazid tersenyum lalu menatap Haldberg.


"Kurasa kami berempat akan ikut mencari ponakan anda, Tuan Haldberg." ujar Sultan Yazid.

__ADS_1


Haldberg, langsung tersenyum mendengar ucapan lelaki bermantel hitam itu.[]


__ADS_2