MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN

MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN
PERPISAHAN


__ADS_3

Fenris berdiri memperisai Loup sementara para warga berseliweran disekitar tempat itu dengan wajah bingung. Havard dan Do Quo mengamati mereka sedang Sultan Yazid dan Nagini juga perlahan beringsut mendekati Selena yang sedang berada disisi Loup dan Fenris. Thor mendengus pelan sedang Champa mendekati salah satu warga.


"Kalian lagi ngapain?" tanya Champa dengan heran sembari memikul martilnya.


"Kami mencari-cari makhluk itu." jawab salah satu warga. "Kalian berhasil mengusirnya?" tanya warga itu sembari mengerling sekilas ke arah Fenris dan Loup.


Champa tertawa. "Kalian maksud, Garaou?"


Warga itu mengangguk. Champa kembali tertawa. "Makhluk itu nggak bakalan ada lagi disini. Dia sudah melarikan diri." Jawab gadis berambut putih perak itu.


Beberapa warga menatap Loup. "Perempuan itu siapa? Kami baru pertama kali melihatnya disini."


Sultan Yazid menyela. "Dia sama seperti halnya Fenris. Perempuan ini tersesat dihutan ini." ujarnya mengerling sesaat kepada Loup lalu menatap lagi para warga. "Kembalilah ke Gieljoorn... katakan pada Haldberg, keponakannya telah ditemukan."


Warga saling berdiskusi dan pada akhirnya mereka mengangguk setuju lalu saling mengajak yang lainnya meninggalkan bukit berundak itu.


Sepeninggal mereka, Sultan Yazid menyimpan tombaknya kembali dipunggung. Tindakan ini diikuti oleh kelima rekannya yang ikut menyarungkan senjatanya. Sultan Yazid menatap Fenris.


"Untuk sementara Kalian berdua aman, Fenris." ujar Sultan Yazid.


"Terima kasih Tuan..." sahut Fenris.


"Panggil saja aku Abu Yazid." jawab Sultan Yazid. "Bagaimana selanjutnya? Kau tidak akan bisa terus berbohong kepada para warga tentang Loup." ujarnya kembali mengarahkan tatapan kepada Loup yang menunduk sembari mencengkeram selimut yang menutupi tubuh telanjangnya.


"Kecuali dia meninggalkan Gieljoorn dan mencari kehidupan baru...." ujar Selena dengan masygul lalu menatap Fenris. "Apakah kamu sanggup membela Loup?"


Fenris, pemuda tanggung berusia dua belas tahun itu mengangguk mantap. Havard terkekeh.


"Seberapa gigih?" tantang pemuda itu.


"Aku akan menjaganya dengan segenap jiwaku." tandas Fenris.


"Aku kuatir, kau tak akan bisa lagi menginjak Gieljoorn, jika kau memperjuangkan nasib pacarmu itu." sahut Havard menganggukkan kepala kepada Loup.


Fenris menatap Loup. Gadis jelmaan Garaou itu juga menatapnya. Fenris lalu tersenyum.


"Aku rela meninggalkan Gieljoorn, demi dia." ujar Fenris pada akhirnya.


Sultan Yazid mengangguk-angguk lalu menghela napas. "Aku akan berupaya membantumu, Fenris. Untuk saat ini, biar kuantar dulu kau kepada Haldberg."


Fenris akhirnya berkenan. Ketujuh orang itu mendampingi pemuda dan pacar garaounya meninggalkan bukit tersebut.


...****************...


Haldberg menatap lama perempuan jelmaan garaou itu lalu kembali menatap Fenris yang juga menatapnya. Sementara Sultan Yazid dan keenam rekannya hanya duduk menanti apa yang akan dilakukan oleh penguasa itu.


Haldberg beberapa kali menarik napas lalu menatap langit-langit rumahnya. Lelaki parobaya itu akhirnya menatap Fenris.

__ADS_1


"Aku pribadi tak keberatan dengan keberadaan Loup, Fenris." ujar Haldberg. "Tapi warga desa terlanjur membenci makhluk itu. Lagi pula, bagaimana kau bisa bertahan semalam dengannya saat ia kembali ke ujud aslinya?"


"Inilah ujud aslinya sekarang, Paman." bantah Fenris. "Loup bukan lagi sesosok garaou. Dia sekarang adalah Loup... gadisku!"


Haldberg terhenyak. "Apa kau bilang? Gadismu? Apakah karena garaou itu menjelma menjadi seorang gadis lalu kau jatuh cinta padanya? Itu konyol sekali!" tandas lelaki parobaya tersebut.


"Perubahan ujudnya bukan kulihat sekali ini, Paman!" bantah Fenris lagi. "Setiap purnama penuh, dia akan berubah ujud menjadi manusia karena garaou sesungguhnya adalah demihuman, hanya saja kemampuan mereka lemah."


"Jadi kau sudah pernah melihat perempuan itu?" selidik Haldberg.


Fenris mengangguk lalu menatap Selena. "Dan Nona itu membalikkan rumus perubahannya... sekarang Loup hanya akan menjadi garaou setiap purnama penuh."


Haldberg membalik menatap Selena yang duduk disisi Havard. "Apakah yang diucapkannya benar?"


Selena tersenyum. "Sebaiknya anda mempercayainya."


"Tapi... bagaimana keduanya bisa hidup berdampingan? Ini melanggar kodrat." tukas Haldberg.


Sultan Yazid berdehem membuat Haldberg menoleh menatap kearahnya.


"Ada satu tempat dimana pelanggaran kodrat itu tidak menjadi suatu halangan." ujar Sultan Yazid. "Fenris bisa hidup disana dengan Loup."


"Tapi anak ini belum satu kalipun meninggalkan Gieljoorn." tukas Haldberg dengan gusar. "Hilangnya di Hutan Hoyabaccha, merupakan yang pertama kalinya."


"Jika dia ingin memperjuangkan prinsipnya, dia harus hijrah." sahut Sultan Yazid. "Fenris akan bisa memperjuangkan prinsipnya di Echidnopolis."


"Aku akan membantu menghubungi Raja Maui. Beliau pasti akan menerima Fenris dan Loup dengan tangan terbuka." ujar Sultan Yazid dengan senyum.


Haldberg kembali menatapi Fenris. "Kau yakin menjalani hidup bersama Loup di Echidnopolis?" tanya lelaki itu dengan sangsi.


Fenris mengangguk. "Jika itu bisa membuat kami berdua nyaman dan tak didiskriminasi, saya rela tinggal disana."


"Tapi..." bantah Haldberg.


"Mereka akan lebih baik tinggal disana." sela Havard. "Kecuali anda rela menjadikan diri anda pelindung mereka. Tapi saya yakin, anda tak akan bisa bertahan dari tekanan warga Gieljoorn."


Haldberg mendengus pelan lalu menarik napas lagi.


"Apakah anda menjamin mereka tidak akan menemui kesulitan ditempat tinggal mereka yang baru?" tanya Haldberg dengan ragu.


Sultan Yazid berdiri dan mengeluarkan sebuah lencana emas dan memperlihatkannya kepada Haldberg. "Apakah Anda ragu dengan saya?"


Haldberg melihat lencana tersebut dan ia terkejut. Seketika lelaki itu langsung berlutut. "Yang Mulia, Sultan Al-Bustami dari Tel-Qahira."


Fenris ikut-ikutan berlutut, sedangkan Loup hanya menundukkan wajah saja.


Havard dan yang lainnya berdiri. "Kau tak perlu lagi menyangsikan itikad baik dari Paduka Sultan." ujarnya.

__ADS_1


Haldberg mengangguk-angguk patuh. "Saya percaya kepada beliau."


Do Quo menghampiri Sultan Yazid. "Yang Mulia lagi-lagi membuka identitas." sindirnya dengan berbisik.


"Terpaksa...." jawab Sultan Yazid dengan berbisik.


...****************...


K.M. Sancakala berlabuh di lautan. Di anjungan dermaga itu, Fenris dan Loup berpamitan. Keduanya atas ijin Haldberg dan berkat dari Sultan Yazid akan melanjutkan hidupnya di Echidnopolis, kota para keturunan campuran atau pasangan manusia-non manusia. Seperti halnya kota Turan yang dikuasai Syaikh Fahril at-Tamim, Echidnopolis juga merupakan kota yang memiliki otonom khusus dan diperintah oleh seorang peri dari suku Vanr.


"Kuharap Kalian berdua akan selalu rukun." ujar Haldberg kepada Fenris. "Dan jaga perempuan itu supaya tak mengacungkan cakarnya dihadapan warga kota."


Havard dan yang lainnya hanya menanggapi ucapan Haldberg dengan tawa pelan. Fenris tersenyum dan mengangguk. Haldberg menghela napas dan menatap Loup.


"Jagalah ponakanku. Ia telah menaruh hatinya kepadamu. Kelak, jika aku mengunjungi Echidnopolis, aku akan bisa menjumpai cucu-cucuku dari kalian berdua.


Fenris hanya tertawa kikuk sedang Loup tersipu. Haldberg mengangguk. "Berangkatlah. Kapal telah menunggu."


Fenris pamit dan melangkah menuju perahu diikuti oleh Loup. Seorang pendayung kemudian menggerakkan perahu itu menjauh.


Haldberg baru saja berbalik menghadap Sultan Yazid ketika lelaki bermantel hitam itu bersuara. "Kami juga akan pamit meninggalkan Gieljoorn." ujar Sultan Yazid. "Kami akan menuju Leningrad."


Haldberg tersenyum. "Rupanya aku tak berkesempatan menjamu anda sekalian." sindirnya.


"Kami punya tugas khusus yang harus kami rampungkan secepatnya." kilah Sultan Yazid memaparkan alasannya. "Kelak jika tugas itu selesai, aku akan mengundangmu ke Tel-Qahira."


"Baiklah kalau begitu, Paduka. Kuharap perjalanan kalian ke Leningrad tidak akan mendapatkan halangan." ujar Haldberg sembari membungkuk takzim.


Sultan Yazid mengangguk lalu mengajak ke enam rekannya meninggalkan tempat itu. Enam hewan tunggangan membawa ketujuh orang itu meninggalkan Gieljoorn menuju arah Hutan Hoyabaccha.


Mereka memasuki hutan tersebut. Beberapa jarak dalam hutan, Champa menghentikan kudanya.


"Kurasa aku punya urusan lain yang harus ku kerjakan." ujar Champa. "Kita akan berpisah disini. Jika kalian menyusuri bagian kiri dari lorong hutan itu, kalian akan tiba di Leningrad."


Sultan Yazid menatap Champa dengan dalam lalu lelaki bermantel hitam itu mengangguk. "Jika kau mencari kami, kami belum meninggalkan Leningrad selama seminggu."


Champa mengangguk lalu mengarahkan kuda Chitu berbelok ke lorong kanan dan hewan itu berlari membawa Champa memasuki bagian hutan lainnya. Baru saja Sultan Yazid hendak mengajak kelima rekannya, lagi-lagi Nagini bersuara.


"Aku juga punya urusan yang harus aku laksanakan." ujar wanita itu. "Jika dalam seminggu kalian tak melihat aku, lanjutkan saja perjalanan kalian."


Tanpa membutuhkan komentar, Nagini mengarahkan kuda geryon membelok dan berbalik meninggalkan lima orang itu. Havard yang keheranan hanya memandang Selena yang juga mengangkat bahunya.


"Selanjutnya bagaimana Paduka? Apakah kita meneruskan perjalanan?" pancing Do Quo.


Sultan Yazid hanya menghela napas lalu mengangguk. "Ya. Kita menuju Leningrad."


kelima orang itu meneruskan perjalanannya menyusuri Hutan Hoyabaccha dengan mengikuti alur lorong yang membawa mereka ke utara, ke Kota Leningrad. []

__ADS_1


__ADS_2