MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN

MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN
MAKHLUK PENJAGA PUSAKA


__ADS_3

"Kau!!! Kau seorang Sigirlya?!" pekik Havard tak percaya, terhenyak dengan segala keterkejutannya. Yang lainnya pun demikian pula, terkecuali Nagini yang hanya memamerkan senyum tipis nan dingin.


"Aku sudah menduganya sejak pertama kali." ujarnya seperti bergumam.


Havard menatap Nagini diatas punggung kuda geryonnya. "Kau... kau sudah tahu sejak awal?" desisnya.


Nagini kembali tersenyum tipis. "Mulanya aku hanya menduga dan mencurigainya... nyatanya... firasatku tak keliru."


Sultan Yazid menghela napas. Do Quo ikut menghela napas. Thor menatap Champa dengan tajam.


"Apa maksudmu menyembunyikan jati diri seperti itu, Champa?" tanya Thor tiba-tiba sembari turun dari kambing raksasanya dan melangkah pelan hingga dirinya kini hanya sebatas semeter saja dengan Champa.


Champa hanya tersenyum ditengah derai airmatanya yang berkilauan menghias pipi putihnya.


"Aku hanya tak ingin kalian mencurigaiku sebagaimana Nagini..." jawab Champa beralasan. "Lagipula... bukankah buronan yang kalian buru, juga seorang lelaki Sigirlya?"


Sultan Yazid menghela napas. "Tapi tidak perlu menyembunyikannya, Champa...kami juga tak sepicik itu. Hanya karena Sinhala seorang dari bangsamu, menyebabkan semua orang Sigirlya harus menerima rasa benci kami... kau terlalu berpikir jauh." tegurnya.


"Ya... aku tahu, aku salah." sahut Champa menunduk sejenak lalu menatap Thor. "Apakah setelah ini, aku akan dibenci?"


"Paduka dari Negeri Bustamiyah telah menyatakan sikapnya..." jawab Thor. "Alasan apa bagi kami untuk membencimu?"


Jawaban Thor membuat Champa kembali menangis tanpa suara. Ia tersenyum.


"Maaf jika membuat kalian semua kuatir." ujarnya.


"Sekarang apalagi yang kau sembunyikan?" tuntut Havard. Pemuda itu memamerkan senyumnya. "Bilang saja sekarang sebelum semuanya terungkap dan kami akan betul-betul membencimu."


Champa tersenyum dan menyeka airmatanya. "Nama asliku bukan Champa. Aku menggunakan nama itu saat menetap di Dataran Tengah."


Havard mengangkat alisnya. Champa menghela napasnya lalu melanjutkan ucapannya. "Namaku sebenarnya adalah... Siff..."


"Siff..." ujar Sultan Yazid mengangguk-angguk. "Bisakah kau menunjukkan jalan menuju Shamvala?" pintanya.


"Dengan senang hati, Paduka." jawab Champa atau Siff.


Gadis kecil berambut sewarna perak dengan sayap cahaya yang bagian ujungnya bercakar mirip lima ruas jari tangan itu membungkuk takzim.


Siff berbalik dan merentangkan tangan beserta sayap cahayanya. Tiba-tiba muncullah berkas cahaya yang makin lama makin nampak dan melebar bagaikan sebuah gerbang. Siff kemudian berbalik menatap para penunggang itu.


Sayap kanan Siff melambai dengan cakarnya yang membuka seakan mempersilahkan mereka melintasi gerbang cahaya tersebut.


Sultan Yazid menatap kelima rekannya. "Kita tinggalkan kuda-kuda kita disini. Kurasa akan lebih baik kita memasuki tempat itu tanpa membawa kendaraan." usulnya. Saran penguasa wilayah timur itu disetujui oleh yang lainnya.


Mereka masing-masing turun dari kendaraannya lalu melangkah memasuki gerbang cahaya itu dipandu oleh Siff.


Begitu mereka melintasi gerbang cahaya itu. Nampaklah dihadapan mereka sebuah pemandangan yang indah. Sebuah pemukiman yang asri menyatu dengan rimbunnya pepohonan yang menghias dataran itu.


"Inikah Shamvala?" desis Sultan Yazid dengan takjub lalu menatap Siff.


Siff mengangguk lalu mempersilahkan keenam rekannya menyusuri jalanan sedang dirinya didepan sebagai pemandu. Beberapa penduduk Shamvala terheran-heran melihat enam orang bukan peri menyusuri jalanan.


Sesekali Sultan Yazid menatap mereka dan membungkuk dengan hormat nan santun. Mereka membalasnya dengan sikap santun yang dipaksakan.


Ketujuh orang itu terus menyusuri jalanan. Nampak diujung jalan terlihat bangunan paling besar.


"Itu adalah Kuil Angravesta... tempat dimana tujuan kita." ujar Siff memberitahu.


Mereka tiba didepan bangunan itu dan dua orang menghadang didepan Kuil. Salah satunya adalah ayah dari Siff.

__ADS_1


"Mengapa kau bawa mereka kemari? Bukankah sudah kubilang, kawasan kita suci dari orang-orang semacam mereka!" tegur lelaki parobaya itu.


"Ayah... kami punya tugas untuk menundukkan Naga Tanihwa!" ujar Siff dengan tegas. "Dan naga itu... seperti yang ayah tahu, telah keluar dari Gunung Pyrgo dan memperdengarkan raungan kemarahannya... hanya Tombak Ormuz yang bisa menahan kekuatannya."


"Tapi mengapa harus kamu?!" tuntut sang ayah. "Biarakan mereka menanggungnya. Sudah cukup kerusakan yang terjadi akibat ulah manusia. Kita kaum peri tak punya tanggung jawab itu!"


"Anda salah Tuan..." seru Havard.


Lelaki parobaya Sigirlya itu menatap Havard. "Panggil aku, Assurbasirpal!"


"Tuan Assurnasirpal... anda salah jika mengira bahwa kaum peri telah lepas tanggung jawab bersama manusia dalam menjaga bumi." ujar Havard.


"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?" tantang Assurnasirpal. "Era bangsa peri telah selesai paska Perang Besar itu. Ketika Ratu dari Bangsa Aragami itu menitipkan Tongkat Ormuz tersebut disini, maka kami sebagai sesama bangsa peri telah saling mengikat sumpah untuk tak terlibat dalam urusan dunia. Kami sudah cukup merasa damai dan tak terganggu hingga kalian datang lagi kemari!"


"Tapi salah satu bangsamu kembali membuat ulah!" seru Havard. "Dia mengaku berasal dari Shamvala dan telah berbuat kekacauan di wilayah timur, mengadu domba dua kerajaan besar dan nyaris meletuskan perang! Bagaimana bisa kau katakan bahwa kalian tidak punya tanggung jawab moral untuk itu?!"


"Memang siapa lelaki itu?!" tanya Assurnasirpal.


"Namanya Sinhala... apakah anda mengenalnya?" tanya Sultan Yazid.


"Sinhala? Kalian bilang Sinhala dari Shamvala?" seru Assurnasirpal lalu tertawa mengejek. "Orang itu bukan warga Shamvala!"


"Tapi dia mengaku..." protes Havard menuntut.


"Dia memang seorang Sigirlya! Tapi bukan warga Shamvala!" seru Assurnasirpal membantah. "Kalian telah dibodohinya. Sinhala adalah pangeran kerajaan Hittia di Gurun Boudi diwilayah barat."


"Tapi Ratu Mezura tidak pernah memberitahukan hal itu padaku!" seru Nagini tiba-tiba.


"Tentu saja!" sahut Assurnasirpal. "Sinhala adalah pangeran yang dilengserkan, sebab mencoba melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Mezura. Tahukah kamu kalau Mezura adalah adiknya?!" jawabnya seakan menempatkan Mezura seakan-akan sosok Sigirlya yang tak penting.


"Sinhala melarikan diri ke Shamvala, meminta bantuan Raja Marduk agar membantunya merebut tahta. Tapi Paduka Yang Mulia Marduk menolaknya. Setelah itu kami tak pernah lagi mendengar kabar tentang lelaki itu." sambung Assurnasirpal.


"Kalau begitu, bantulah kami mengalahkan Sinhala." pinta Sultan Yazid. "Dia telah melakukan berbagai kekacauan di timur. Lelaki itu telah mengumpulkan Harta Karun Dunia... aku bisa menyimpulkan bahwa ia ingin membangkitkan Raja Samiri dari kematiannya."


Assurnasirpal terhenyak mendengar penuturan itu lalu menatap putrinya. Siff mengangguk dengan mantap.


"Tolonglah kami, Ayah... kami harus menemui Ahura Mazdha yang menjagai Tongkat Ormuz agar ia mau memberikannya dalam rangka mencegah Naga Tanihwa membuat kekacauan." pinta Siff membujuk Assurnasirpal.


Assurnasirpal diam dalam bimbangnya. Siff kembali membujuk. "Ayolah Ayah... nasib alam semesta terletak padamu."


Assurnasirpal kemudian mengangguk lalu menyingkir. "Masuklah ke Kuil Angravesta..." ujarnya. "Temuilah Ahura Mazdha dan memohonlah agar ia memberimu Tongkat Ormuz tersebut."


Lelaki Sigirlya yang menemani Assurnasirpal sontak menuju pintu kuil dan membuka pintu tersebut. Dengan gembira ketujuh orang itu kemudian memasuki kuil tersebut. Siff kembali menjadi pemandu yang ahli, mengarahkan mereka menuju ruangan utama kuil dimana nampak sesosok makhluk raksasa.


Rumellia yang paling takjub sebab tak menyangka menemukan sosok makhluk raksasa yang menghuni kuil tersebut. Makhluk itu memiliki ujud griffin raksasa. Kepalanya disandangi mahkota. Ditengah mahkota itu melekatlah sebuah tongkat bercahaya. itulah Tongkat Ormuz yang memiliki khasiat magis, melumpuhkan kekuatan tenaga dalam Sang Naga Tanihwa.


Kelihatannya griffin raksasa itu sedang melakukan semadi sebab kedua matanya menutup dan dua tungkainya yang bercakar mirip elang itu sedang bersedekap didada. Kedua sayapnya terulur membungkus tubuhnya. Perlahan kemudian Siff mendekat dan berlutut dihadapan griffin raksasa.


"Yang Mulia Paduka Ahura Mazdha, pelindung negeri Shamvala yang agung... terimalah hormatku." seru Siff dengan takzim. Adapun keenam rekannya ikut melakukan hal yang diperbuat Siff.


Perlahan namun pasti, mata griffin raksasa itu membuka. Melihat tujuh orang berlutut dihadapannya membuat griffin tersebut menurunkan tungkai depannya yang bersedekap dan menegakkan tubuhnya.


"Siff putri Assurnasirpal..." seru griffin itu.


"Ya, Paduka!!!" jawab Siff.


"Mengapa kau membawa orang asing kedalam kuil suci ini? Bukankah Angravesta hanya untuk orang-orang Sigirlya?" seru makhluk raksasa itu.


"Mereka disini bukan dalam rangka berdoa, Paduka Mulia... melainkan hendak memohon pertolongan jua." jawab Siff dengan takzim.

__ADS_1


"Pertolongan? Pertolongan jenis apa yang mereka inginkan dariku?" tanya Ahura Mazdha dengan tatapan makin tajam.


"Ijinkan saya menghaturkan hormat kepada Yang Mulia..." sahut Sultan Yazid.


"Manusia..." ujar Ahura Mazdha. "Aku kagum... kau manusia pertama yang berani bicara dihadapanku..."


"Saya sangat menghargainya, Yang Mulia... perkenankan saya menyambung apa yang diungkapkan oleh sahabat saya, Siff..." ujar Sultan Yazid.


Ahura Mazdha menatapnya dengan tajam. "Katakan yang sejujurnya, anak manusia. Jika tidak, aku tak segan mengoyak tubuhmu dan menyantapnya... sudah lama juga aku tak merasakan daging manusia..."


Havard bergidik mendengar ucapan griffin raksasa itu. Sultan Yazid meneguk ludahnya sendiri lalu melanjutkan bicara.


"Anda tentu tahu bahwa Naga Tanihwa yang dikurung berjuta-juta tahun yang lalu di Gunung Pyrgo kini telah bebas dan kembali membuat kerusakan. Anda juga tahu bahwa yang bisa menghancurkan kekuatan sihir naga itu hanyalah Tongkat Ormuz yang melekat di mahkota anda. Kami ingin menggunakan pusaka itu untuk menghentikannya. Mohon Yang Mulia merestui keinginan kami." tutur Sultan Yazid kembali membungkuk takzim.


Ahura Mazdha mengangguk-angguk. "Ya, itu benar! Hanya Tongkat Ormuz yang bisa menghilangkan kekuatan mistik Tanihwa. Aku sendiri kini tak akan bisa menghadapinya. Selain kini aku ditakdirkan untuk menjaga Shamvala, kekuatan fisikku juga sudah melemah. Berbeda dengannya... bangsa sauria tidak pernah memiliki kelemahan tubuh... semakin tua, justru semakin kuat..."


Ahura Mazdha kemudian menatap Sultan Yazid. "Aku bisa memberikan benda ini kepada kalian. Tapi, itu tentu akan berlawanan dengan keinginan rakyat Shamvala. Selain itu mereka hanya bisa mempercayakan pusaka turun temurun ini kepada makhluk paling cerdas... melebihi kecerdasan mereka."


Sultan Yazid menatap Siff yang hanya bisa memamerkan senyum getir dan mengangguk pasrah. Lelaki itu mendesah lalu mengangguk-angguk paham.


"Apakah kau makhluk paling cerdas dari bangsa manusia?" tanya Ahura Mazdha.


"Aku tidak tahu." jawab Sultan Yazid dengan jujur. "Tapi... jika aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan... itu bisa mengindikasikan bahwa pengetahuanku mungkin agak lebih dari manusia kebanyakan."


Ahura Mazdha tertawa sejenak lalu menatap Siff. "Temanmu ini... berkata dalam tataran yang terdengar bijak dalam pikiranku."


Siff sekali lagi hanya bisa menunduk dengan takzim. Makhluk raksasa penghuni kuil tersebut lalu merendahkan tubuhnya.


Ahura Mazdha mencondongkan kepalanya mendekati Sultan Yazid. "Aku akan menguji kecerdasanmu, anak manusia. Jika kau bisa menjawab tiga pertanyaanku maka aku mengakui kecerdasanmu dan menghadiahkan pusaka ini untukmu..."


"Silahkan Paduka memberi pertanyaan." ujar Sultan Yazid.


"Tapi jika kau tak bisa menjawab pertanyaanku... maka jangan salahkan aku jika menjadikanmu sebagai santapanku..." ancam Ahura Mazdha dengan menggeram.


Sultan Yazid hanya tersenyum mendengar ancaman itu.


"Pertanyaan pertama, anak manusia. Seorang Leprekaun*) menyimpan harta karun di ujung pelangi. Ketika kau menemukan ujung pelangi, kau hanya menemukan remah-remah jagung. Bagaimana pikiranmu tentang itu?" tanya Ahura Mazdha.


"Ambisi itu adalah keserakahan dan keserakahan hanyalah ilusi. Semakin kita berupaya memenuhi hasrat keserakahan itu... semakin kita menemukan bahwa itu hanyalah sebuah kekosongan... sebuah ilusi." jawab Sultan Yazid kemudian mendongak menatap Ahura Mazdha. "Bagaimana jawabanku, Paduka?"


"Hmmm.... masuk akal... itu adalah sebuah perumpamaan dijaman dulu..." komentar Ahura Mazdha lalu menatap Sultan Yazid dengan tajam. "Kau rupanya berpengetahuan pula."


Siff tersenyum lega sedangkan yang lainnya mengangguk-angguk meski diantara mereka, kemungkinan hanya Do Quo dan Nagini saja yang paham.


"Pertanyaan kedua. Sebuah rumah yang doyong milik seorang anak yatim-piatu. Rumah itu nyaris roboh, namun tak ada satupun warga yang bisa dimintakan bantuan... apa yang akan kau lakukan?" tanya Ahura Mazdha.


"Aku akan tetap membangunnya kembali tanpa bantuan warga-warga disekitaran, meskipun mungkin gubuknya tidak seperti bentuknya semula... sebab, rupanya aku tahu, bahwa dibawah lantai rumah itu ada sebuah pusaka yang diwariskan kepada anak tersebut dan aku bersyukur mereka tak membantuku. Sebab aku kuatir mereka akan merebut pusaka itu dan menelantarkan anak yatim-piatu tersebut." jawab Sultan Yazid.


"Pusaka apakah itu? Apakah kekayaan?" tantang Ahura Mazdha.


Sultan Yazid menggeleng. "Bukan kekayaan... tapi pengetahuan ilahiah yang dapat menyingkap rahasia semesta..."


Ahura Mazdha mengangguk-angguk lagi. "Pertanyaan terakhir. Apakah kau tahu tentang sebongkah daging yang sangat mempengaruhi perilaku setiap makhluk?"


Sultan Yazid tersenyum lagi dan mengangguk. "Aku tahu... sebongkah daging itu adalah Hati Nurani... yang apa bila dia bersih, maka akan bersihlah sifat dan sikap makhluk. Begitupun sebaliknya." jawabnya.


Ahura Mazdha menegakkan tubuhnya. "Akhirnya aku menemukan seorang yang bijak diantara bangsa manusia...." komentarnya. "Terimalah Tongkat Ormuz ini, wahai anak manusia... dan taklukkan Tanihwa dengan tekad murni kalian!" seru Ahura Mazdha dengan mantap. []


*) peri yang sering bersembunyi di rumah-rumah warga. Pekerjaannya menyembunyikan barang-barang dan perhiasan pemilik rumah.

__ADS_1


__ADS_2