
"Suara apa itu?!" seru Havard dengan kaget.
Mereka semua mendongak menatap langit mencari-cari asal suara. Tak ada satupun sosok yang bisa dicurigai memiliki suara sedemikian menggelegar.
Havard nyaris saja menghunus claymorenya kalau saja Sultan Yazid tidak mencegahnya.
"Kita bukan sedang menghadapi musuh." ujar Sultan Yazid. "Tahan keinginanmu."
Havard akhirnya membiarkan pedangnya tetap tersarung, namun ia waspada.
Tak lama kemudian, apa yang mereka cari muncul. Sesosok besar makhluk melintas diikuti suara menderu yang keras bagaikan suara guntur yang bersahut-sahutan. Makhluk itu melewati bangunan-bangunan dan mengangkasa dengan agungnya, mengepakkan sayap besarnya yang menimbulkan suara gemuruh.
Warga Leningrad yang melihat sontak panik dan berlarian kesana-kemari mencari perlindungan. Makhluk itu sejenak menatap kebawah, menyaksikan orang-orang yang berlarian seperti titik-titik kecil yang berhamburan kesana-kemari.
RRRRAAAAAARRRGGHHHH....
Makhluk itu kembali meraung. Keenam pendekar itu tetap awas menegadahkan wajah mereka ke langit.
"Itu... Naga, kan?" tebak Selena dengan takjub bercampur rasa takut.
"Tanihwa..." desis Nagini dengan datar dan memicingkan matanya.
"Siapa?" tanya Sultan Yazid menatap Nagini. "Siapa Tanihwa?"
Nagini menatap Sultan Yazid sejenak lalu kembali menatap langit. Sosok besar itu, tak lain memang Naga Tanihwa yang baru saja bebas dari belenggu di kawah Gunung berapi Pyrgo.
"Tanihwa... sosok itu, namanya Tanihwa." jawab Nagini.
"Tanihwa? Naga tunggangannya Raja Samiri?!" cetus Havard.
Nagini mengangguk. "Kaisar Uran berhasil memenjarakan naga itu paska hilangnya Raja Samiri dan gugurnya enam Satria Dewa Menara Temen-Ni-Zur." tuturnya, "Naga itu dibelenggu digunung berapi untuk melemahkan kekuatan magisnya. Kini dia bebas... berarti..."
__ADS_1
"Berarti Raja Samiri juga tak akan lama lagi muncul." sambung Havard dan menatap Nagini dengan tajam. "Begitu maksudmu, kan?!"
Nagini menatap Havard lalu akhirnya mengangguk lemah.
Havard mendengus. "Makhluk itu tak boleh berkeliaran bebas." ujarnya menatap Sultan Yazid. "Dia sedang mencari majikannya."
"Terus?" pancing Sultan Yazid.
"Jika dibiarkan bebas, Tanihwa akan melakukan pengrusakan yang sangat besar dan merugikan warga kota." sambung Thor tiba-tiba.
Do Quo menatap Thor. Raksasa itu menatap si lelaki berkumis. "Bukan hanya dia yang mengetahui sejarah sang naga." ujarnya. "Pendahulu kami, salah satu satria dari Temen-Ni-Zur, bernama Theoldur... dari kisah-kisah pada mural yang terpahat di dinding-dinding Istana kami, aku mengetahui bahwa Tanihwa dimanfaatkan Raja Samiri untuk meluluh lantakkan Menara Temen-Ni-Zur." Thor menatap arah perginya sang naga. "Hanya Tanihwa yang bisa membendung semua kekuatan para satria dewa itu."
"Kurasa kita sudah tahu dampak apa yang akan ditimbulkan olehnya jika makhluk itu tidak segera ditaklukkan." tukas Havard. "Mari kita ke Gunung Pyrgo untuk menghabisi naga itu." ajaknya.
"Kau pikir kita sedang memburu Komodo?" tukas Do Quo mengerutkan alisnya. "Kadal besar di Kepulauan Naga Tenggara itu bisa kita taklukkan karena besarnya sekilas mirip seekor buaya tanpa sisik berduri, tentunya. Tapi ini Tanihwa, naga raksasa penghuni Gunung Pyrgo... kau tak lihat betapa besar tubuhnya? Mungkin saja ukurannya sebesar Istananya Ratu Brunihilda!"
"Kau mau ikut aku memburu naga, nggak?" tanya Havard setengah memaksa.
Do Quo diam dan akhirnya Sultan Yazid angkat bicara. "Baiknya kita menunggu Champa. Bukankah kita sepakat menunggunya disini?"
Sultan Yazid menatap yang lainnya. "Apakah kalian setuju jika kita bersama-sama Havard memburu naga tersebut?"
Sebagian berpandangan. Havard menatap Selena. "Kamu tunggu disini saja. Perjalanan kali ini sangat membahayakan. Aku tak mau kau kenapa-kenapa."
"Tapi aku ingin ikut." rengek Selena kemudian mengangkat busurnya. "Aku bisa membidiknya dari jarak aman sementara kalian berlima mengepungnya."
Havard mendesah lagi. "Baiklah..." keluhnya.
Do Quo tertawa. "Bagaimana mungkin dia tak akan mengikutimu? Bukankah dia itu kekasihmu?"
Wajah Havard memerah sedang Selena hanya tersipu. Sultan Yazid menarik napas dan mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah. Mari kita ke Gunung Pyrgo." ajaknya lalu menatap Havard. "Kau tahu letaknya, kan?"
"Tentu..." seru Havard yang langsung melompat ke punggung karkadan tunggangannya, diikuti oleh Selena.
Sultan Yazid mengangguk lalu bergegas menuju istal umum dimana kendaraan mereka diistirahatkan. Tak lama kemudian lima ekor hewan menyusuri jalanan yang sunyi, membawa pengendaranya menuju gerbang. Sesampainya disana, mereka terkejut melihat seekor kuda jenis chitu membawa Champa masuk kedalam gerbang kota.
"Maaf membuat kalian terlambat." seru Champa lagi. "Kalian hendak mengejar Tanihwa, kan?" tebaknya.
"Ya, kami akan menaklukkannya." jawab Havard mendahului Sultan Yazid.
Champa menggeleng. "Kalian tidak akan bisa menaklukkannya begitu saja." ujarnya.
"Mengapa tidak?" tanya Havard.
"Naga Tanihwa termasuk dalam hewan-hewan magis, setingkat sama dengan dengan kuda unicorn atau Naga Seiryu di Dataran Timur.... dia tak akan mempan dengan serangan fisik sebelum kekuatan sihirnya dilumpuhkan." jawab Champa.
"Lalu... apa yang bisa membuat kekuatannya memudar?" tanya Sultan Yazid.
"Tombak Seiryu... itu senjata yang bisa mengunci kekuatan magis naga tersebut." jawab Champa.
"Dimana menemukannya?" tanya Sultan Yazid.
"Tombak itu terbuat dari tanduk Raja Naga Seiryu yang dipatahkan Megumi... naga hanya bisa dilawan dengan naga. Tanduk milik Seiryu dijadikan Megumi sebagai senjata mengunci kekuatan magis Tanihwa...." ujar Champa.
"Sekarang, dimana Tombak Seiryu itu?" tanya Sultan Yazid.
"Ada di Shamvala..." jawab Champa. "Salah seorang sesepuh kaum Sigirlya mengamankan Tombak Seiryu paska peperangan besar itu."
"Kalau begitu, kita akan kesana." seru Havard hendak melecutkan tali kendali Bukefals.
BLUGHH...
__ADS_1
Bunyi suara benda jatuh membuat pemuda itu menoleh ke belakang dan terkejut lalu berseru panik.
"Selena!!!!" []