
"Hati-hatilah terhadap Loup. Dia bisa jadi buas dan sangat berbahaya." pesan Ketua Desa Gieljoorn, Haldberg dengan mimik serius yang tersembunyi dalam balutan cambang dan janggut yang menghiasi wajahnya.
Sultan Yazid tersenyum. "Kami akan berbuat sebagaimana yang anda pesankan Tuan Kepala Desa." jawabnya. "Ijinkan kami pergi bergabung dengan tim pencari."
Haldberg mengangguk-angguk lalu mempersilahkan ketujuh orang itu menyusul rombongan yang dipimpin beberapa lelaki berfisik kekar.
Hutan Hoyabaccha, terletak disebuah bukit yang luas, dan terhubung dengan Pegunungan Pyrgo, tempat dimana - menurut legenda - Naga Tanihwa yang dikendarai Raja para Nephilim, Samiri disekap dengan rantai dari logam Nebula. Legenda juga mengatakan bahwa dihutan itu tersembunyi sebuah kampung yang dilindungi oleh benteng tanpa ujud. Kampung itu dihuni oleh bangsa Sigirlya. Mereka menamakannya Shamvala.
Perjalanan ketujuh orang itu berhenti ditengah-tengah hutan. Sultan Yazid membalikkan kuda rakhsh miliknya sehingga menghadap kearah keenam rekannya.
"Kita memisahkan diri dari mereka." pesan Sultan Yazid. "Kita jangan mengacaukan rute jejak mereka."
Havard dan lainnya mengangguk. Mereka kemudian memisahkan diri. Sultan Yazid bersama Do Quo mengambil rute ke kanan, sedang Champa bergerak bersama Nagini mengambil rute penjejakan ke kiri. Havard tentu saja bersama Selena memutuskan mengambil jejak rute ke bagian kiri agak menyerong dari jejak Champa dan Nagini, sedangkan Thor berjalan sendiri mengambil rute lurus.
...****************...
Selena mengamati pemandangan hutan dari balik punggung baju jirah ringan yang dikenakan Havard. Sementara pemuda itu mengawasi keadaan sekitarnya dengan tenang.
"Kamu kok biasa saja?" tukas Selena tiba-tiba. "Kita sementara memburu makhluk buas lho."
Havard tersenyum lalu memutar tubuhnya setengah dan menoleh menatap gadis dibelakangnya.
"Kamu takut?" tanya Havard lalu kembali memutar tubuhnya ke depan.
"Nggak." kilah Selena lalu kembali menatapi sekitarnya. Havard tertawa pelan.
"Kalau takut, bilang saja." tukas Havard setengah mengolok. Selena dengan kesal menumbuk punggung pemuda itu membuat Havard kembali tertawa.
"Kok takut? Bukankah seorang pemanah ulung tak perlu takut?" olok Havard lagi.
"Kamu yang sudah sering berpetualang, mungkin saja bisa mengatasi hal semacam itu." bantah Selena. "Bagaimana dengan aku yang baru saja melakukan perjalanan perdanaku?"
"Siapa suruh kamu ikut." balas Havard. "Kalau kamu nggak ngeyel memaksa ikut, tentu sekarang kamu duduk tenang didepan jendela dan menatap jalanan kota Las Mecca."
"Ah, itu sudah terlalu sering kulakukan." kilah Selena lagi.
"Makanya jangan takut." sahut Havard lagi. Tiba-tiba Selena mendesis, menyuruh Havard untuk diam.
"Kenapa sih?" tanya Havard dengan ketus. Selena mengangguk kepala tak kentara ke sesuatu didepannya. Havard sendiri langsung menatap tempat yang ditatapi oleh kekasihnya tersebut.
Dihadapan mereka terdapat sebuah undakan tanah. Dipuncak Undahan tanah, duduk dengan gemetar seorang pemuda belia, kira-kira berusia dua belas tahun.
Karkadan yang ditunggangi Havard dan Selena berhenti beberapa jarak dari puncak undakan dimana pemuda tanggung itu duduk memeluk lututnya. Kemunculan kedua muda-mudi itu tak mengubah gaya duduknya.
"Hei, kaukah bernama Fenris?" seru Havard sembari turun dari pelana membiarkan Selena tetap duduk disana mengamati pemuda tanggung itu.
Pemuda itu hanya mengangguk-angguk dengan cepat. Havard balas mengangguk.
"Ada salam dari pamanmu, Haldberg." seru Havard. "Kau harus segera pulang, Nak. Orang-orang Gieljoorn mengkuatirkanmu."
"Aku tak akan pulang!" seru Fenris membuat alis Havard langsung berkerut. "Orang-orang itu, suruh mereka kembali ke Gieljoorn. Loup bukan tandingan mereka!"
"Kau tak bercanda, kan?" balas Havard sembari mengangkat kaki dan melangkah mendekati undakan-undakan bukit yang dihiasi perdu-perdu.
Fenris meluruskan kakinya. "Sebaiknya kau tak mendekat." pinta Fenris dengan gemetar. "Loup akan menerkammu."
"Kau menggertakku, anak muda." ujar Havard dengan senyum. "Aku tak akan mempan lagi."
"Aku sungguh-sungguh, Tuan!" seru Fenris.
Tepat pada saat itu dibalik perdu yang agak tinggi, menyeruaklah sesosok makhluk yang kemudian menggeram dan meraung. Makhluk itu berdiri tepat didepan kedua muda-mudi tersebut.
Havard yang terkejut langsung sigap menghunus claymorenya. Pemuda itu mengacungkan pedang panjang tersebut dihadapan demihuman berujud anjing besar.
"Havard! Hati-hati!" seru Selena yang juga langsung mengambil busur beserta anak panah.
"Loup! Jangan serang mereka!" teriak Fenris dengan kalap. "Jangan serang mereka, Loup!!!"
Namun makhluk itu seakan tak ambil perduli. Ia menghentakkan kedua tungkai tangannya dan seketika keempat jarinya langsung mencuatkan cakar yang melengkung layaknya pedang.
"Havaaarrd!!!" seru Selena ketika makhluk itu meraung sejenak lalu melesat menyerang Havard.
...****************...
Champa mengamati perdu dan pepohonan. Nagini mengarahkan kuda berkulit eksoskeletonnya dengan tenang. Geryon beberapa kali mendengus sedangkan kuda jenis chitu yang ditunggangi Champa justru meringkik keras.
__ADS_1
"Diamkan kudamu, Champa!" bentak Nagini. "Makhluk itu bisa mengetahui letak keberadaan kita!"
"Aku tak tahu, kenapa kuda ini gugup." bantah Champa dengan gelisah berupaya menenangkan hewan itu.
Nagini langsung waspada mendengar Champa mengeluhkan kuda chitu yang terkesan tak mau diam. Wanita itu langsung memprediksikan keadaan disekitarnya.
"Waspada!!!" seru Nagini langsung menghunus Belati Setan.
Disaat yang bersamaan terdengar suara pekikan.
HAVAAAAAARRD.....
"Itu suara Selena!" seru Nagini dengan geram.
"Arahnya dari sana!" sahut Champa menunjuk ke bukit.
Seketika Nagini langsung membalapkan Geryon menabrak barisan perdu-perdu tinggi dan menghilang direrimbunan pepohonan.
"Nagini! Tunggu!" seru Champa juga memacu kuda kecil bertelinga panjang itu membalap menyusul Nagini.
...****************...
Thor terhenyak mendengar suara pekikan. Ia menoleh ke arah bukit lalu menggeram dan raksasa itu berlari menyusuri rimbunan perdu dan pepohonan memanjati tanah yang yang mulai menanjak menuju bukit dimana arah suara itu muncul.
...****************...
Do Quo dan Sultan Yazid membalapkan kudanya menyusuri lorong-lorong jalan setapak dalam Hutan Hoyabaccha itu. Suara pekikan milik Selena terdengar dari arah bukit.
Mereka duluan tiba dan mendapati Havard yang terlibat kontak langsung dengan demihuman berujud anjing besar. Berkali-kali pedang panjang milik Havard menghantam kelima cakar runcing milik makhluk itu sementara dipuncak bukit, Fenris berteriak-teriak putus asa menyuruh Loup untuk berhenti.
Do Quo mengambil inisiatif memacu kudanya mendaki undakan bukit mendekati Fenris. Tiba-tiba Loup yang sedang menyerang Havard melihat Do Quo yang sementara menjalankan hewan tunggangannya mendaki bukit, langsung menghentikan serangannya dan berbalik melesat ke arah Do Quo.
"Do Quo!!!" seru Havard.
Do Quo menoleh dan terkejut mendapati jarak dirinya dengan makhluk itu tinggal beberapa meter. Loup sudah mementangkan cakar-cakarnya siap mencabik lelaki berkumis tebal yang duduk diatas punggung kuda itu.
Do Quo untungnya tidak panik. Ia langsung menghimpun tenaga dalamnya dan mengalirkannya ke seluruh tubuh. Itu adalah tameng tenaga dalam yang disebut Ajian Jirah Arhat Emas.
Tubuh Do Quo seketika memendarkan cahaya kuning keemasan dan dirinya kemudian terbentengi oleh aura murni berbentuk Arhat Emas mengenakan baju perang.
PRANGGGGG!!!!
Cakar makhluk itu mengayun. Namun sedetik kemudian tubuhnya terpental akibat dorongan tenaga dalam dari Ajian Jirah Arhat Emas.
"Looooooouuuuup...." pekik Fenris dengan histeris.
Loup yang terpental kemudian bersalah dan menjejak tanah dengan keseimbangan yang baik. Ia kembali meraung. Bersamaan dengan itu, Champa dan Nagini tiba, disusul oleh Thor.
"Jangan mengeroyok!" seru Sultan Yazid. "Kita bisa menyerang kawan sendiri jika melakukan pengeroyokan. Garaou ini rupanya makhluk yang cerdas."
"Nggak! Nggak seperti itu." bantah Champa lagi. "Mereka ini hanya makhluk peliharaan orang-orang Sigirlya. Mereka tidak secerdas itu."
"Dari mana kau tahu?" tanya Sultan Yazid.
Champa kelihatan salah tingkah saat menjelaskan. "Eh... anu... a-anu... makhluk ini hidup bersama-sama bangsa Sigirlya sejak dulu.... Hutan Hoyabaccha merupakan habitat asli makhluk ini."
"Teruskan..." pinta Sultan Yazid.
"Hewan ini lebih sering digunakan sebagai hewan angkutan dan penjaga rumah." sela Nagini menatap Sultan Yazid lalu menatapi lagi ke arah Champa yang makin terlihat salah tingkah.
"Bukankah begitu kalimat yang akan kau nyatakan, kan?" sambung Nagini.
Champa hanya bisa tersenyum canggung. "Ehm... i-iya..."
Nagini tersenyum lalu menatap kembali pertarungan dimana makhluk itu dikeroyok oleh Havard dan Do Quo. Fenris sendiri akhirnya memutuskan memberanikan diri menuruni undakan bukit mendekati lokasi pertarungan tersebut.
Havard sendiri mendesak Loup hingga makhluk itu terpaksa menjauhi pertarungannya dengan pemuda itu dan lebih memilih menggempur Do Quo yang tak bersenjata.
Namun makhluk itu salah sangka. Do Quo berbekal ilmu pemberian seorang padri tua Sigirlya justru mendesaknya dan menjadikan kesepuluh cakar itu menjadi senjata yang tak berguna.
Teriakan Do Quo menggema sembari mengembangkan tangan lalu melesat maju mendorongkan tinjunya yang berhasil menghantam rusuk makhluk itu. Loup mendengking-dengking kesakitan dan akhirnya menyeret dirinya menjauh.
Havard maju sembari mengayunkan pedangnya dan tiba-tiba Fenris maju memperisai hewan itu.
"Jangan bunuh dia!" seru Fenris dengan keberanian yang dipaksakannya hanya karena melihat leher makhluk itu terancam ditebas Havard.
__ADS_1
Untung saja Havard berhasil mengerem laju pedangnya dan mengalihkannya ke arah lain meskipun membuatnya terpelanting jatuh sebab mengikuti berat senjata itu. Pemuda itu buru-buru bangkit dan langsung mengumpat-umpat.
"Anak Brengsek!!!" umpat Havard. "Kau mau mati ya?!"
Fenris menatap tak perduli. Pemuda tanggung itu tetap saja memperisai Loup yang masih menyeringai kesakitan dan napasnya memburu.
"Jangan bunuh dia." pinta Fenris. "Dia hanya melindungiku, tidak lebih..." ungkapnya.
Alis Havard berkerut lalu menatap Sultan Yazid. Lelaki bermantel hitam yang melangkah sambil menyandang tombak itu mendekati Fenris lalu berlutut dihadapannya.
"Katakan padaku, Fenris." pinta Sultan Yazid. "Mengapa kau membela makhluk ini?"
"Loup memang tak berniat menyakiti siapapun." tandas Fenris dengan tegas. "Ia hanya mempertahankan diri dan melindungiku."
"Melindungimu? Mengapa dia melindungimu?" tanya Sultan Yazid.
"Warga desa tidak menyukai keberadaan Loup. Makhluk ini..." tutur Fenris sembari menoleh sejenak menatap Loup yang menundukkan wajahnya, menyembunyikan rasa sakitnya. "Aku memungutnya dalam keadaan luka... entah siapa yang melukainya. Aku memeliharanya..."
"Dengan itu, muncul kedekatan emosional antara kau dan Loup." sela Nagini. "Tapi tahukah kau? Loup tidak saja menganggapmu sebagai orang yang mengurusnya... ia..."
"Makhluk itu kenapa, Nagini?" tanya Do Quo.
Champa menatap kedua mata Loup si Garaou yang basah, seakan makhluk itu menangis. Gadis berambut putih perak itu menghela napas dan menjawab pertanyaan Do Quo.
"Makhluk itu.... jatuh cinta pada pemuda itu..." desisnya.
Sultan Yazid, Do Quo, Havard dan Selena terkejut bukan buatan. Yang tak menampakkan ekspresi disana hanyalah Thor dan Nagini.
"Nggak mungkin!" seru Havard. "Ini gila!"
"Ya! Ini gila!" seru Fenris menyahut. "Kami saling mencintai!" ungkapnya lagi. "Apakah itu aneh bagi kalian?"
"Tapi..." protes Havard.
Selena kemudian turun dari punggung karkadan tersebut lalu mendekati Fenris dan berlutut di sisi Sultan Yazid.
"Sejak kapan kau jatuh cinta kepadanya?" tanya Selena dengan lembut.
"Dalam sebulan, ada masa dimana Garaou mampu merubah dirinya menjadi apapun yang diinginkannya, termasuk menjadi manusia..." tutur Nagini. "Mungkin Loup merubah menjadi sesuatu yang membuat Fenris jatuh cinta."
Mendengar penuturan Nagini, sadarlah empat yang lainnya akan sebab mengapa Fenris begitu ngotot melindungi makhluk itu.
"Apakah dia cantik, Fenris?" selidik Selena lagi membuat Fenris menunduk dengan wajah yang bersemu merah.
Champa langsung tertawa melihat tingkah Fenris sedangkan tiga orang lelaki menatapnya sembari menggelengkan kepala. Sultan Yazid mengangguk kemudian.
"Aku paham bagaimana perasaanmu, Fenris." ujar Sultan Yazid. "Tapi ini percintaan yang melanggar kodrat. Bagaimana bisa manusia bersanding dengan demihuman?"
"Jika memang begitu..." ujar Fenris pada akhirnya. "Maka biarkan kami mengakhiri cinta kami berdua disini melalui pengorbanan diri."
"Tolol!" sergah Havard. "Kalian akan dikutuk oleh semesta!"
Selena akhirnya mengangguk. Ia menyentuh bahu Fenris. "Minggirlah Fenris... aku akan menjampi Loup..."
Fenris sejenak menatap Selena agak lama hingga akhirnya pemuda tanggung itu mengangguk dan menyingkir. Selena kemudian beringsut mendekati Loup. Semula makhluk itu menggeram hingga kemudian ia tenang lagi ketika Fenris mengusap rambutnya.
Selena dengan hati teguh menyentuhkan telapak tangannya ke tubuh Loup. Perlahan kemudian tubuh gadis itu memendarkan cahaya putih dan pendaran cahaya itu perlahan mengalir ke tubuh Loup.
Selanjutnya Havard dan lainnya terperangah kagum melihat perubahan yang terjadi. Perlahan bulu-bulu yang menghiasi tubuh Loup berguguran seiring wajahnya mengalami perubahan dari bentuk wajah anjing ke wajah manusia dan setelah itu nampaklah seorang gadis belia yang bertubuh polos dengan rambut panjang hingga ke paha dan berwajah cantik dengan kulit coklat yang eksotis.
"Loup..." seru Fenris dengan gembira.
Havard langsung berlari ke arah Bukefals. Pemuda itu meraih sebuah selimut dari barang perbekalan dan kembali ke kerumunan dan memberikan selimut itu untuk menutupi tubuh Loup yang telanjang.
Tak lama kemudian Selena terduduk lemah dengan wajah pucat dan penuh peluh. Havard dengan sigap memeluk gadis itu yang sementara mengatur napasnya.
"Apa yang kau lakukan, Selena?" tanya Sultan Yazid.
"Aku membalikkan proses transformasinya..." jawab Selena ditengah napas yang berupaya diaturnya. "Jika dulu Loup hanya bisa memperlihatkan ujud manusianya dalam semalam, maka kini ia bisa menjadi manusia dengan ketentuan dalam sehari ada waktunya ia menjelma ke ujud aslinya sebagai Garaou."
"Terima kasih!" seru Fenris. "Terima kasih!"
Tak lama kemudian para warga bermunculan. "Mana Fenris? Apakah kalian menemukan Fenris?!"
Sesaat kemudian mereka bengong mendapati Fenris bersama seorang gadis cantik berkulit coklat dikelilingi oleh ketujuh sukarelawan. Sedang garaou yang mereka incar tak satupun ditemukan ditempat itu. []
__ADS_1