MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN

MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN
MENUJU KOTA KUNO


__ADS_3

"Jangan bunuh dia!" seru Sultan Yazid.


Tapi seruan itu terlambat dan claymore milik Havard terus mengayun mengancam batok kepala lelaki Sigirlya itu. Sultan Yazid bergegas melesat sembari mengayunkan Pedang Langit untuk menangkis hujaman mata pedang yang diayunkan Havard.


TRANGGGG.... PRAKKKKK...


Terdengar bunyi logam berdentang keras ketika dua pedang itu saling berkonfrontasi, selanjutnya disusul suara patah dari bilah pedang milik Havard disebabkan tak mampu meredam efek momentum hantaman Pedang Langit pada bilah pedangnya.


Patahan pedang itu jatuh menancap disebelah Sinhala yang terduduk lemas, di ancam oleh bilah kapak Mjolnir milik Thor pada pangkal lehernya.


Havard menatap Sultan Yazid dengan nanar. lelaki bermantel hitam itu menghela napas.


"Mau membunuh dirinyakah kau, Havard? Apakah dengan membunuhnya, kau bisa memenangkan Selena kembali ke haribaanmu?" tegur Sultan Yazid dengan datar.


Havard memandang bilahan claymore yang sudah buntung lalu menghela napas dan membuangnya ke tanah.


"Entahlah... tadi darahku mendidih saja..." gumam Havard dengan pelan.


Sinhala menatap Havard dan melemparkan senyuman sinis. Havard balas menatap Sinhala dan melemparkan jenis senyuman yang sama.


"Kau beruntung, Kawan." sindirnya.


Sultan Yazid mengangguk-angguk lalu tersenyum. Ia kemudian berlutut dihadapan Sinhala yang duduk terpekur sedangkan mata kapak milik Thor masih menempel ditengkuk lelaki Sigirlya itu.


"Katakanlah Sinhala. Dimanakah kau menyembunyikan Selena?" tanya Sultan Yazid. "Tadi kau mengungkapkan bahwa nyawa Selena terlalu berharga untuk dilenyapkan... berarti, dia tidak mati kan?"


Sinhala mengangkat wajah menatap Sultan Yazid. "Dia sekarang berada dalam kekuasaan dari Kaisar Uran di Dar-Es-Salam." jawabnya.


"Kota d'Ur-Salam? Kaisar Uran?" tukas Nagini. "Omong kosong macam apa ini? Kaisar Uran sudah wafat jutaan tahun lalu dalam Perang Ar-Magidda."

__ADS_1


Sinhala menggeleng. "Tidak. Dia masih hidup." bantahnya dengan tatapan yakin membuat Nagini terhenyak kaget.


"Tidak mungkin!" lolong Nagini dengan berang dan melengos jengkel sambil melangkah menjauhi kerumunan itu.


Sultan Yazid sejenak menatap Nagini yang berdiri menjauh menampakkan seraut wajah cemas, bercampur harap. Entah apa yang dipikirkan perempuan itu, Sultan Yazid tak mampu menebaknya.


Lelaki bermantel hitam itu kembali menatap Sinhala. "Baiklah, kami asumsikan bahwa apa yang kau katakan benar..."


"Aku tak bohong!" sela Sinhala dengan ketus.


Sultan Yazid mengangguk-angguk lalu bertanya lagi. "Apakah benar Selena disekap di kota kuno itu?"


Sinhala mengangguk. Sultan Yazid mendongak menatap Havard. "Kau tahu sekarang di mana Selena berada." ujarnya. "Apakah kau siap menghadapi tokoh hantu yang telah menawan kekasihmu itu?" pancingnya.


"Tentu saja! Hantu atau tidak, aku akan tetap menuntutnya mengembalikan Selena kepadaku." tandas Havard lalu menghela napas sejenak.


"Aku harus mencari senjata terkuat untuk mengalahkannya." ujar Havard dengan pelan.


"Apanya?" tanya Havard.


Sultan Yazid memperlihatkan Pedang Langit kepada pemuda itu. "Gunakan pedang ini." ujarnya lalu menatap Sinhala. "Kau tak keberatan jika pedangmu kuberikan kepadanya?" tanya lelaki bermantel hitam itu.


Sinhala melengos sejenak membuat Sultan Yazid tersenyum lalu memberikan Pedang Langit kepada Havard. "Dia tak keberatan senjatanya kau gunakan. Dia hanya gengsi mengungkapkannya." ujarnya kepada Havard sekaligus menyindir Sinhala yang hanya mendengus mendengar ucapan si penguasa wilayah timur itu.


Havard menerima Pedang Langit itu dan menggenggamnya dengan erat. "Kalau begitu, kita harus bergegas menyelamatkan Selena."


Sultan Yazid mengangguk mantap lalu menatap Rumellia. "Nona biarawati, kurasa kebersamaan kita hanya sampai disini. Kami berenam akan melanjutkan perjalanan menuju tempat itu. Anda sendiri bisa kembali ke Leningrad." ujar Sultan Yazid sembari membungkuk hormat. "Kami berterima kasih atas pertolongan anda kepada kami."


Rumellia tersenyum. "Sayangnya, aku harus menolak permintaan anda, Paduka." jawab biarawati itu.

__ADS_1


Sultan Yazid menegakkan tubuhnya menatap biarawati Sekte Suci yang berpakaian pemburu itu.


"Saya memutuskan untuk ikut bersama dengan anda sekalian. Saya ingin membantu anda sampai tuntas. Mohon diterima permintaan saya ini." ujar Rumellia.


"Nona Rumellia, perjalanan ini bukan petualangan biasa. Perjalanan ini penuh dengan bahaya yang mengancam keselamatan jiwa." ujar Havard mengingatkan.


"Lagipula, kota Leningrad sangat membutuhkan anda." sambung Do Quo.


Rumellia tersenyum. "Masih banyak anggota Ordo Imanulla yang bisa mempertahankan kota Leningrad, lebih baik dari saya." kilahnya. "Intinya, saya akan tetap bersama anda sekalian, hingga perjalanan kalian benar-benar tuntas."


Sultan Yazid menatap kelima sahabatnya untuk meminta pertimbangan. Havard hanya mengangkat bahu, sedangkan Do Quo dan Siff mengangguk semangat. Yang tak memberikan respon apapun hanyalah Nagini dan Thor.


Siff menyikut rusuk raksasa itu. Thor menatap gadis Sigirlya itu. "Kenapa?" tanya Thor kepada Siff.


"Kenapa kamu diam saja? Apakah kau tak setuju?" tanya Siff dengan lirih.


"Aku setuju." jawab Thor dengan datar.


"Lalu kenapa tak mengangguk?" tanya Siff.


"Kau sudah mewakiliku mengungkapkan aspirasiku. Untuk apa aku harus mengangguk dua kali?" Jawab Thor membuat Siff merona wajahnya dan langsung tersipu sambil memukul pelan lengan kekar si raksasa.


Sultan Yazid tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, jika itu keinginan anda. Yang jelas, perjalanan kita ini bukan sekedar perjalanan biasa, melainkan menuju hal yang lebih besar, yaitu mencegah kemunculan kembali sang raja kejahatan, Samiri al-Masikh."


Sultan Yazid menatap Sinhala. "Kuharap kau bekerjasama dengan kami, menunjukkan letak kota kuno itu." pintanya.


Nagini baru saja hendak menyela namun keinginan itu diurungkannya kembali. Wanita itu memilih untuk tak melakukan apapun selain mengamati saja.


Sinhala mengangguk. "Aku akan menunjukkan tempatnya." jawabnya.

__ADS_1


Havard mengangguk. "Kau naiklah dibelakang." ujarnya menunjuk pelana belakang yang berada di punggung karkadan. "Aku tak mau kau jalan kaki sementara kami menunggangi kendaraan. Kami akan terlihat seperti orang-orang dzalim dimata masyarakat."


Ucapan Havard menerbitkan tawa Sultan Yazid dan lainnya, terkecuali Nagini. Akhirnya, kedelapan orang itu bergerak meninggalkan Gunung Pyrgo dan menuju arah barat daya.[]


__ADS_2