MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN

MASSHIAHSAGA - TAKDIR MENARA KEAGUNGAN
RAUNGAN DARI GUNUNG PYRGO


__ADS_3

Havard melangkah tergesa-gesa menyibak kerumunan warga yang berseliweran dijalanan. Wajahnya terlihat kusut, seakan memanggul masalah yang sulit terpecahkan.


"Havard!!" seru seorang wanita.


Havard menoleh mencari pemilik suara tersebut. Ia melihat Nagini melangkah ditemani seorang biarawati.


"Kau dari mana?" tanya Nagini lagi kemudian mengedarkan pandangannya. "Mana yang lainnya?"


"Kami berpisah." jawab Havard sekenanya. "Mereka ada di salah satu kedai dikota ini." Pemuda itu menatapi biarawati yang berdiri disamping Nagini.


Seakan tahu makna tatapan pemuda itu, sang biarawati memperkenalkan dirinya. "Aku Cleopatra, anggota Sekte Suci Kerajaan Bellial tingkat ketiga... senang dapat berkenalan dengan anda." ujarnya sembari membungkuk datar.


Havard membungkuk pula dengan gaya formal. "Maafkan ketidak sopananku, Nona. Namaku Havard, dan wanita disampingmu adalah sahabatku."


Cleopatra tersenyum dan mengangguk. "Kalau begitu, ijinkan saya meninggalkan kalian disini. Saya hendak memenuhi panggilan Yang Mulia Ratu Brunihilda." ujarnya kembali membungkuk dan dibalas dengan gaya yang sama oleh kedua orang itu.


Cleopatra melangkah meninggalkan keduanya. Nagini menatap Havard. "Apa yang kau cari di Igrjia Imanulla? Kulihat kau baru saja keluar dari gerbangnya."


Havard mengajak Nagini jalan berdua sambil berbincang-bincang. "Aku mencari berita tentang Pohon Kal'vatar..."


"Kal'vatar... Pohon Dunia..." gumam Nagini kemudian mengerling lagi kearah Havard. "Untuk apa kau mencari tahu tentang pohon itu?" tanya wanita itu penuh minat.


"Bukankah kita sama-sama melihat Valmana milik Raja Samiri masih melayang-layang diangkasa?" tukas Havard dengan alis berkerut.


"Oh, kau mengungkit lagi pembicaraan di Observatorium itu?" balas Nagini. "Memangnya kenapa dengan Valmana?"

__ADS_1


"Aku pernah mendengar cerita yang dikisahkan ayahku." tutur Havard. "Katanya, Raja Samiri belum puas akan kemenangannya melawan Kaisar Uran. Raja kaum Nephilim itu mengalami kerusakan akibat pertempuran melawan Tujuh Satria Dewa dan harus menyembunyikan tubuh fisiknya dalam Valmana tersebut."


"Kisah yang menarik." komentar Nagini.


"Kuteruskan atau kusudahi saja disini?" pancing Havard.


"Jangan! Teruskan ceritamu. Aku tertarik mendengarnya." pinta Nagini.


Havard mengangguk lalu kembali bercerita. "Sekarang ini, Samiri mengandalkan atma halusnya dan merasuki seseorang yang dipercaya untuk menjalankan rencananya mengumpulkan Pusaka Dunia agar tubuhnya bisa kembali pulih. Sudah dua Pusaka yang dikumpulkan... tinggal pusaka terakhir yang bertengger diatas kepala Ratu Brunihilda dan seorang wanita dengan kemampuan 'Inti Semesta' untuk mempermudah kelahirannya kembali..."


"Kelihatannya kau tahu banyak tentang itu." ujar Nagini. "Siapakah ayahmu?"


"Aku sebenarnya bekas warga Mashed." ujar Havard mengungkapkan dirinya. "Ketika kebakaran itu, aku diselamatkan oleh ayahku. Namun semua penduduk, termasuk ayahku tewas dalam kebakaran itu..." Havard menatap Nagini. "Nama ayahku... Temur I Lenk."


"Kenapa denganmu, Nagini?" tanya Havard dengan heran.


Nagini menatap Havard lama. "Ayahmu... adalah Temur? Penjaga Desa Mashed?" desisnya.


Havard memicingkan mata. "Kau... mengenal ayahku?" desisnya.


Mau tak mau akhirnya Nagini mengangguk lalu melangkah pelan lagi. Havard mengamati wajah wanita itu.


"Apakah aku harus meneruskan kisah ini?" tanya pemuda itu.


"T-teruskan..." pinta Nagini.

__ADS_1


Keduanya kembali melangkah. "Ayahku bilang... jangan sampai Valmana itu bersandar pada pucuk Kal'vatar. Jika itu terjadi, maka bisa dipastikan semua Maqoq yang terkubur akan bangkit kembali dan melakukan penaklukan yang kedua kalinya... semua kerajaan saat ini tidak akan mampu menahan gempuran mereka. Kerajaan Kuno Dur-Salim yang begitu kuat saja, hancur diserang pasukan itu... apalagi jika..."


RRRRRRAAAAAAARRRRRGGGGHHHH....


Sebuah raungan menggema, mengagetkan semua warga tak terkecuali Havard dan Nagini.


"Suara apa itu?!" seru Havard yang langsung meraba gagang pedangnya.


"Tanihwa..." desis Nagini sembari mengedarkan tatapan memandang angkasa.


RRRRAAAARRRGGGGHHHH....


Sekali lagi terdengar raungan. Nagini menatap Havard. "Dimana yang lainnya?! Kita harus menemukan mereka!!" seru Nagini.


"Ayo!!!" seru Havard mendahului dengan langkah setengah berlari.


...****************...


Di Barat Laut Kerajaan Bellial. Beberapa kilometer dari kota Leningrad, nampak sebuah gunung berapi. Para warga menamainya Gunung Pyrgo.


Dikawahnya yang senantiasa menggelegak, nampak sesosok hewan besar yang terbelenggu oleh rantai dari baja pelangi khas buatan kaum peri. Hewan itu meronta-ronta dan meraung. Tiba-tiba sekali meronta dan menghentak, rantai yang melolit sayapnya putus. Sekali lagi sang Naga meronta dan menghentak-hentakkan tubuhnya membuat semua rantai yang melilit sayapnya putus menjuntai.


Dengan sekali raungan, Naga Tanihwa mengepak-ngepakkan sayapnya dan perlahan makhluk itu mengangkasa. Perlahan ia melayang dan keluar dari kawah berapi gunung itu.


Sekali lagi Tanihwa meraung dan ia mengepak sayap terbang menjauhi Gunung Pyrgo. Tujuannya adalah Kota Leningrad.[]

__ADS_1


__ADS_2