
"Selamat Datang di Kota Penuh Cahaya"
Itu adalah tulisan yang terpampang di spanduk besar yang tergantung di puncak tiang pembatas kota dengan wilayah luar.
Havard menatap lama spanduk itu. Tatapannya baru beralih ketika Selena menepuk pundaknya dengan lembut.
"Kau baik-baik saja?" bisik Selena dengan lembut.
Havard hanya menoleh kearah gadis itu sejenak saja lalu kembali memandangi spanduk tersebut.
"Sudah beberapa tahun terlewatkan..." gumam Havard. Nada bicaranya terkesan sendu.
Selena mengernyitkan alisnya. Gadis itu heran dan tak mengerti kemana arah perkataan pemuda itu. Do Quo sendiri yang mengerling ke arah Havard lalu tersenyum.
"Kau merasa familiar dengan hal ini?" pancingnya.
Sultan Yazid menatapi Do Quo dan Havard bergantian. "Ada yang belum kuketahui?" tanya lelaki bermantel hitam itu.
Havard tak menjawab melainkan menggerakkan tali kekang Bukefals, karkadan tunggangannya bergerak memasuki kota. Berbeda dengan kota-kota lainnya. Leningrad mungkin satu-satunya kota yang tidak menempatkan para tentaranya dipintu masuk gerbang atau terlihat di jalanan meronda keadaan, seakan-akan kota itu tak memiliki satupun perangkat militer didalamnya.
Yang ada hanyalah kumpulan para warga sipil yang berseliweran dengan bebasnya tanpa takut dicegat kejahatan ditengah jalan, seperti pencopet atau perampok. Bukan berarti hukum disana tidak ketat, melainkan begitu ketatnya bahkan terkesan sadis jika dibayangkan. Dikota itu berlaku hukum tangan dibalas tangan, sehingga pelakunya mungkin berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan yang akan merugikan dirinya kelak.
Ketiga orang itu menyusul Havard memasuki kota. Empat ekor tunggangan itu melangkah santai ditengah kerumunan warga yang memenuhi jalanan.
Sultan Yazid kembali menatap Do Quo. Lelaki berkumis tebal itu akhirnya mendesah dan mengangguk. "Aku menemukan pemuda itu terlunta-lunta diluar desa yang terbakar diwilayah ini... kami berdua kemudian bertualang bersama hingga akhirnya kami berpisah di Kurama. Kami bertemu lagi di Turan saat Tarung Sejagat digelar..." Do Quo kembali mendesah dan tersenyum. "Rasanya baru kemarin anak itu kutemukan... sekarang ia terlihat gagah... ah...usiaku memang sudah tak muda lagi..." ujarnya lalu terkekeh.
"Berarti, Havard adalah penduduk asli wilayah ini?" desis Sultan Yazid. "Kupikir, ia orang Las Mecca."
"Mungkin setelah menimba ilmu di Kurama, dia memutuskan tinggal di Las Mecca, tidak kembali kesini... bisa jadi, ingatan tentang desanya yang terbakar itu sangat menyakiti perasaannya." jawab Do Quo.
"Selena mengetahuinya?" tanya Sultan Yazid.
Do Quo menggeleng. "Kurasa, perempuan itu belum mengenal sepenuhnya jati diri pemuda itu."
Sultan Yazid kembali melempar tatapnya ke arah Havard dan Selena yang mengendarai karkadan tersebut. Nampak Selena berkali-kali menunjuk ke suatu tempat dengan semangat sedangkan Havard menanggapinya dengan senyum, namun sangat nampak ia menyembunyikan kesenduannya dibalik senyumannya.
Tiba-tiba Havard menghentikan karkadannya. Pemuda itu menatap Selena. "Bisakah kau melanjutkan sendiri perjalananmu?" Havard mengalihkan tatapannya ke sebuah bangunan biara. "Aku mau menemui seseorang dulu."
"Aku akan menemanimu." pinta Selena.
Havard menggeleng dan tersenyum datar. "Sebaiknya tak usah. Akan terasa membosankan."
Sultan Yazid memacu kudanya mendekati karkadan tunggangan Havard. "Ada apa?" tanya penguasa itu.
__ADS_1
"Ada sebuah restoran terkenal disini. Tunggulah aku disana." ujar Havard kemudian turun dari punggung Bukefals. Pemuda itu melangkah tanpa perduli membelah lalu lintas penjalan kaki menyeberangi jalanan menuju ke bangunan biara.
Sultan Yazid menatap penuh pertanyaan. Do Quo langsung menengahi. "Aku tahu tempatnya Paduka. Mari ikut aku." ajaknya kemudian menarik tali kekang kudanya. Sultan Yazid mengalah dan mengikuti Do Quo, Selena akhirnya mengikuti juga bersama-sama dengan Thor yang sepanjang perjalanan tak sedikitpun berkomentar apa-apa.
...****************...
Seorang lelaki dengan pakaian pantas berwarna biru pudar menatap hamparan hutan dibalik jendelanya. Lelaki itu berbalik dan sejenak terkejut melihat seorang gadis yang sudah berdiri dihadapannya.
"Siff..." gumamnya.
"Aku sudah pulang, Papa..." ujar gadis yang tak lain adalah Champa.
Lelaki itu menggeram. "Untuk apa kau pulang? Kau sudah tak dibutuhkan disini."
"Aku juga bukan berniat pulang, kok." jawab Champa. Lelaki itu mengerutkan alisnya dan memicingkan matanya.
"Untuk apa? Jangan mempersulit kedudukanku disini." tukas lelaki itu.
"Papa hanya memikirkan kedudukan Papa sebagai kepala suku. Papa tak pernah sekalipun memperdulikan aku." balas Champa.
"Karena kau tak pernah sekalipun mengikuti kemauanku." tandas lelaki itu. "Untuk apa memperjuangkan seorang anak yang tak pernah memikirkan ayahnya?"
"Aku hanya ingin memperlihatkan kepada manusia, bahwa suku kita bukanlah suku yang ganas dan agresif, Papa..." ujar Champa dengan tegas.
Champa tersenyum. "Tentu saja."
"Kalau begitu, pulanglah! Kau punya kewajiban menggantikanku memimpin kaum kita! Suku Vanr memerlukan pemimpin yang pandai melihat dunia luar sepertimu." ujar lelaki itu.
"Aku tak mau!" tandas Champa.
"Siff!!! jangan lagi menentangku!" seru lelaki tersebut.
"Sudah kubilang, aku tak punya niat untuk pulang. Aku hanya ingin bertemu dengan Sesepuh Bluu. Aku punya kepentingan dengannya... ini berhubungan dengan Naga Tanihwa." jawab Champa.
Gadis itu berbalik dan pergi meninggalkan lelaki tersebut.
...****************...
Nagini memandang reruntuhan-reruntuhan desa Mashed. Desa itu tak pernah berubah sedikitpun sampai sekarang ia mengunjunginya lagi. Wanita bertiara tanduk itu melangkah menuntun Geryon menyusuri jalanan sunyi didesa mati itu.
Arken... dimana sesungguhnya dirimu? Berapa ribu tahun aku mengembarai seluruh penjuru dunia untuk menemukanmu... mengapa kau tak mencariku???
Nagini mendesah lagi sembari mengamati puing-puing bangunan bekas kebakaran itu. Terkenang lagi dia akan kejadian beberapa tahun lalu.
__ADS_1
Dirinya yang tenggelam dalam kesedihan ditinggalkan oleh Arken paska perang besar di Kota Kuno Ur-Salem, mencari lelaki-lelaki yang diyakininya sebagai titisan Arken, pimpinan Tujuh Satria Dewa Menara Temen-Ni-Zur.
Arken memang punya kemampuan aneh, yaitu mampu memperpanjang kehidupannya melalui cara menitis kepada tubuh lelaki-lelaki yang diinginkannya, selama tubuh itu cocok dengan kekuatannya. Itulah sebabnya Arken tak pernah terlihat kalah dalam pertempuran manapun. Meskipun dia dibunuh dengan cara apapun, lelaki itu akan muncul lagi dan menaklukkan penantangnya.
Dalam pengembaraan itu juga Nagini menemukan berita tentang adanya bayi yang merupakan wadah ruh Ratu Burqa, yang diyakini memiliki kekuatan coreus animus yang mampu membangkitkan kembali Raja Samiri.
Nagini tak mau tragedi itu berulang lagi. Wanita itu mengendus letak kediaman bayi itu dan menemukannya berada di Desa Mashed. Nagini kemudian membakar desa itu dan membunuhi semua warganya tanpa terkecuali.
Langkahnya terhenti dan lamunannya buyar ketika menemukan seorang wanita dengan pakaian pengibadat sedang berdiri menatap sebuah tugu yang berdiri ditengah persimpangan jalanan. Kelihatannya, tugu itu baru saja dibangun.
Suara langkah sepatu dan kaki hewan membuat wanita berpakaian pengibadat itu menoleh dan ia membungkuk sopan.
"Selamat Datang di Mashed." sapa wanita itu. "Apakah Anda berniat melakukan ibadah mengenang tragedi desa ini?"
Nagini berdiri dihadapan wanita itu lalu menatap tugu tersebut. Wanita pengibadat itu tersenyum dan menjelaskan.
"Yang Mulia Ratu Brunihilda menginginkan adanya tugu peringatan disini dan memerintahkan setiap awal bulan diadakan ribuan doa oleh Tujuh Biarawati Sekte Suci Kerajaan Bellial... Saya, Cleopatra bertugas memimpin doa." ujar wanita itu.
Nagini mengangguk. "Apakah kau pimpinan sekte itu?" tanya wanita tersebut setengah memancing rasa ingin tahunya.
Cleopatra menggeleng. "Saya orang kedua dari Tujuh Biarawati Sekte Suci. Orang pertama adalah Rumellia yang memimpin Sekte Suci."
Nagini mengangguk-angguk. Ia menghela napas lagi. "Bolehkah kutahu, mengapa kalian mengadakan ritual doa disini?"
Cleopatra tersenyum. "Ah, terpaksa aku harus berkisah dari mulanya." wanita itu kemudian menatap tugu itu. "Dulu, kerajaan ini dipimpin oleh Ratu Frigga dan Raja Freyra. Mereka punya Putri kembar... Minerva dan Diana. Dari dua putri itu, Uskup Benediktus mengatakan bahwa Putri Diana memiliki aura yang disebut Inti Jiwa (Coreus Animus) yang diyakini sebagai kekuatan yang melahirkan keajaiban-keajaiban."
Tatapan Nagini menjadi penuh minat. "Teruskan kisahmu." pintanya.
"Uskup Benediktus menyarankan agar Putri Diana diasuh di luar istana, disamarkan sebagai rakyat jelata dibawah asuhan Temur." tutur Cleopatra.
Temur, kini wanita bertiara tanduk itu mengingat dengan jelas siapa orang terakhir yang dihabisinya di desa itu. Rupanya, ia adalah penjaga dari Putri Diana.
"Namun Temur juga berfirasat bahwa keberadaan Putri Diana sudah terendus oleh kekuatan gelap yang dikirim untuk membunuhnya. Beliau kemudian memulangkan Putri Diana ke istana seminggu sebelum tragedi desa ini..." tutur Cleopatra.
"Apakah perjalanan Raja Freyra ke Timur melalui laut itu atas prakarsa Temur?" tebak Nagini.
Cleopatra tersentak kaget. "Tidak ada siapapun yang mengetahui hal itu selain orang-orang penting di istana... bagaimana bisa kau tahu?"
Nagini tak sekalipun lagi mengucapkan jawaban. Diamnya wanita bertiara tanduk itu menambah rasa penasaran Cleopatra terhadapnya.
Nagini tahu perasaan biarawati tersebut. Namun ia memilih bungkam dan berlalu dari tempat itu. Cleopatra memicingkan mata memandangi wanita yang menuntun kuda berkulit ruas-ruas itu.
Siapa perempuan itu? Kelihatannya, dia tahu jelas peristiwa tenggelamnya kapal Ourang Sana... []
__ADS_1