
"Sinhala!!!"
Lelaki yang berdiri ditepian bukit dekat kawah itu memang Sinhala. Tapi lelaki berambut seputih perak itu kini berpenampilan lain. Ia tak lagi mengenakan pakaian ringkas, melainkan seperangkat pakaian jirah yang melapisi tubuhnya. Dipunggungnya nampak sepasang sayap cahaya yang ujungnya memiliki cakar, mirip sayap yang pernah ditampakkan Siff di Hutan Hoyabaccha. Sebilah pedang bercahaya tergenggam ditangannya.
"Dimana kau sembunyikan Selena?!" seru Havard melangkah ke depan. Sikapnya begitu waspada.
"Selena? Dia kini berada ditempat yang semestinya." jawab Sinhala dengan senyum.
"Apa? Kau membunuhnya?!" sergah Havard dengan marah.
"Membunuhnya?" ujar Sinhala menyelinginya dengan tawa keras. "Gadis itu terlalu berharga untuk dirampas nyawanya..."
Mendengar jawaban Sinhala, menjadi lega perasaan Havard, namun ia belum puas.
"Kalau begitu, katakan! Dimana dia?!" tuntut Havard.
"Keberadaannya saat ini bukan lagi menjadi urusanmu, Havard!" jawab Sinhala kemudian menatap enam pendekar lainnya. "Dan kalian, sebaiknya pulanglah ke negeri kalian masing-masing. Kalian tak akan bisa mencegah kemunculan Raja Diraja Samiri Yang Agung." seru Sinhala kemudian memperdengarkan tawanya yang panjang.
"Omong kosong!" seru Sultan Yazid. "Mendengar perkataanmu barusan justru makin memperkuat tekad kami menaklukkan Dajjal itu."
Sinhala menatap Siff. "Aku kecewa kepadamu. Ternyata kaumku sendiri memilih berada diantara para manusia demi tujuan yang absurd."
"Kau sendiri memilih takdir yang absurd." balas Siff dengan ketus.
"Jika kalian memang ingin mampus, akan ku kabulkan!" seru Sinhala dengan geram dan tiba-tiba ia maju menyerang.
"Berpencar!!!" seru Sultan Yazid.
Serangan perdana yang dilancarkan Sinhala hanya mengenai tempat kosong. Havard yang telah dirasuk kemarahan maju meladeni serangan lelaki Sigirlya itu. Beberapa kali terdengar bunyi dentingan senjata saat keduanya bentrok.
Havard tak sekalipun mengalah meski ia tahu perimbangan kekuatannya dengan Sinhala jauh berbeda. Tapi dikarenakan Selena yang diculik, membuatnya mengenyahkan perbedaan kekuatan itu dan memilih untuk terus menggempur Sinhala.
"Semangat yang bagus!" puji Sinhala. "Tapi tetap saja sia-sia!!!"
__ADS_1
Sinhala mengayunkan Pedang Langit sekali lagi. Havard berkelit dan balik membalas serangan.
"Jangan diam saja!" seru Sultan Yazid. "Bantu Havard menaklukkan lelaki itu!!!"
Nagini pertama kali berinisiatif maju menyerang membantu Havard menyerang Sinhala. Lelaki berambut seputih perak itu geram melihat serangannya banyak yang dimentahkan oleh kombinasi serangan dua lawannya.
"Kalian pikir kalian sudah menang?!" seru Sinhala dengan jengkel menjauh beberapa jarak dari Havard dan Nagini. Seketika ia mengangkat pedangnya ke atas lalu memutarnya membentuk pola lingkaran.
"Matilah!!!" seru Sinhala kemudian mengayunkan pedang. Seberkas cahaya dari pedang melesat dan melecut ke arah Havard dan Nagini.
Kedua petarung itu memisahkan diri agar serangan tenaga dalam itu tidak mengenai salah satu diantara mereka. Sinhala memanfaatkan Pedang Langit untuk menciptakan serangkum tenaga dalam berbentuk lecutan cahaya.
Thor menatap Siff. "Mari kita bantu mereka mengalahkan Sinhala!" ajaknya.
Siff menatap Thor dan mengangguk. Keduanya melesat ke arah Sinhala yang sibuk melecut Havard dan Nagini.
Sinhala!!!" seru Siff dengan nyaring sembari mengangkat Tongkat martilnya kemudian mengayunkan senjata itu ke arah Sinhala.
Sinhala yang kaget buru-buru mengayunkan pedangnya menangkis ayunan martil si gadis Sigirlya itu.
"Kau yang pengkhianat!!" balas Siff kembali maju mengayunkan tongkat martilnya ke arah Sinhala.
Thor tiba-tiba muncul dibelakang Sinhala dan mengayunkan kapak besarnya.
KRAK!!!!
Senjata itu mengenai punggung lelaki itu. Sinhala tersentak ke depan akibat daya hantaman senjata si raksasa. Namun senjata milik Thor sama sekali tidak menimbulkan kerusakan apapun pada baju jirah lawannya.
Dengan marah Sinhala berbalik dan mengayunkan pedangnya ke arah Thor. Raksasa itu menyilangkan kapaknya di dada.
TRANGGGG....
Tubuh Thor terhempas jauh akibat daya hantaman pedang lawan yang dialiri tenaga dalam. Siff kembali maju mengayunkan tongkat martilnya mengunci gerakan Sinhala yang hendak mengejar Thor.
__ADS_1
Sementara di kejauhan, Sultan Yazid dan Rumellia mengamati pertarungan itu. Meskipun terlihat tidak seimbang, namun kemampuan tenaga dalam lelaki Sigirlya itu dapat mengimbangi serangan keempat orang tersebut.
Beberapa kali Rumellia memejamkan matanya mengamati dan terus mengamati tanpa sedikitpun mengangkat gendewa membidik panahnya. Sultan Yazid menjadi jengkel.
"Kalau begini terus, keempatnya bisa dikalahkan oleh lelaki itu." tukas Sultan Yazid dengan marah dan memandang Rumellia yang sama sekali tidak bertindak.
"Tenang dulu, Paduka." ujar Rumellia. "Aku sementara mengamati setiap gerakan lelaki itu dan mengamati baju jirahnya... siapa tahu, aku menemukan titik lemah pakaian itu."
Disana tetap berlangsung pertempuran antara Sinhala yang dikepung oleh empat orang pendekar. Mereka menyerang untuk mengunci gerakan-gerakan lelaki itu. Sinhala berkali-kali menggunakan tenaga dalamnya melalui Pedang Langit yang diayunkannya kesana-kemari menangkis setiap serangan yang diarahkan oleh Havard, Nagini, Thor dan Siff.
Tak lama kemudian Rumellia tersenyum. "Aku tahu." ujarnya dan menarik tiga batang panah dari andong lalu meletakkannya pada tengah gendewa dan menarik tali pegasnya.
Terlihat mulut gadis Sekte Suci itu komat-kamit, kemungkinannya membaca mantera. Tak lama kemudian Rumellia melecutkan tali pegas busurnya.
SWINGGGG....
Anak-anak panah itu melesat kemudian memencar mengincar titik-titik yang diinginkan Rumellia.
JLEB!!! JLEB!!! JLEB!!!
AAAKH...
Tiga batang anak panah itu menancap di tiga titik, yaitu paha kiri, bagian perut dan tangan bagian kanan Sinhala yang menggenggam Pedang Langit.
Sinhala meraung kesakitan dan Pedang Langit terlepas dari genggamannya. Ditambah sebatang panah menancap dibagian baju jirah yang terbuka membuat konsentrasinya pecah.
TRAK TRAK TRAK TRAK...
PRANGGGGG...
Empat buah senjata menetak baju jirah lelaki Sigirlya itu dan berhasil meretakkan baju jirah Sinhala.
Sultan Yazid bergegas melesat ke depan dan menangkap Pedang Langit yang melayang jatuh. Sementara Sinhala jatuh dan terhempas ke tanah. Siff dengan cekatan menghantamkan tongkat martilnya sekali lagi ke dada Sinhala membuat lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengerang kesakitan.
__ADS_1
"Matilah kamu!!!" seru Havard yang maju mengayunkan claymorenya mengincar kepala Sinhala.
"Jangan bunuh dia!!!" seru Sultan Yazid.[]