
Sepanjang perjalanan, yang membentang di pandangan mata hanyalah bentangan salju yang bertumpuk-tumpuk dan bergunung-gunung. Kaki-kaki hewan tunggangan itu terlihat membenam sedalam pangkal kaki mereka. Cuaca dingin yang menyerang membuat beberapa stamina hewan-hewan itu rontok, terutama kuda-kuda yang di naiki oleh Sultan Yazid dan Do Quo. Hewan itu memang berdarah panas dan justru itulah yang menyebabkan aliran suhu tubuhnya sedikit kacau ketika berupaya beradaptasi dengan cuaca dingin. Alih-alih melangkah tegap, justru kuda-kuda itu melangkah lambat dan sesekali mendengus kedinginan. Sedangkan Geryon yang ditunggangi Nagini dan naga jenis wyvern yang ditunggangi Rumellia adalah hewan berdarah dingin yang sangat mampu beradaptasi dengan cuaca apapun sehingga tidak mengganggu metabolisme tubuh mereka. Adapun karkadan yang ditunggangi Havard dan Sinhala merupakan hewan hibrida yang dibesarkan di penangkaran khusus dan memiliki kemampuan khusus dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Begitupun dengan dua ekor kambing raksasa, Tangrisnir dan Tangostir yang menarik kereta yang ditumpangi Thor dan Siff meskipun berdarah panas namun memiliki pasokan energi lebih yang bisa menghangatkan tubuhnya sebab kedua kambing itu adalah salah satu jenis hewan endemik khas Asgrad.
"Sedikit lagi kita akan mendapati Bukit Harka." seru Sinhala. "Dibalik bukit itu ada bangunan kuno, sebuah kuil lama yang bisa kita gunakan untuk berteduh dan memulihkan tenaga."
Mereka memaksakan hewan-hewan mereka untuk menembus kepungan cuaca dingin yang mengintari tanah bersalju itu. Dengan susah payah, mereka berhasil mendaki perbukitan Harka hingga tiba dipuncaknya yang landai. Badai salju itu masih terus mengusik mereka.
"Kau benar." seru Havard saat dilihatnya sebuah bangunan besar dibawah perbukitan itu.
"Ayo kita bergegas." seru Sultan Yazid. "Aku tak mau kuda-kuda ini tumbang disini sebelum kita tiba ditempat tujuan!"
Mereka menyusuri lereng-lereng bukit Harka hingga akhirnya berhasil tiba ditempat bangunan lama itu berada. Nagini menatap bangunan itu.
"Dol-Merkva..." ujarnya dengan pelan.
"Apa katamu?" tanya Havard saat turun dari pelana sementara yang lainnya juga ikut turun dari kendaraan.
"Dol-Merkva..." ujar Nagini menyebut nama bangunan itu. "Ini adalah sebuah haikal."
Haikal adalah sebutan untuk bangunan zaman kuno yang digunakan untuk beribadah oleh kaum-kaum agama lama. Sekarang agama lama telah punah dan agama-agama pengganti muncul dengan bangunan-bangunan ibadahnya sendiri. Bangunan-bangunan itu mereka namakan Loga.
"Apakah penganut agama Watsaniy sudah punah?" tanya Sultan Yazid.
"Entahlah..." jawab Nagini.
Do Quo sendiri bergegas menyeret kuda-kuda tunggangan mereka memasuki bangunan itu. Langkah itu diikuti oleh yang lainnya. Untunglah haikal itu memiliki serambi luar yang cukup luas sehingga bisa digunakan sebagai istal sementara. Sementara Sultan Yazid menginjak tangga pertama dari undakan tangga yang menuntun mereka menuju serambi dalam dari bangunan kuno itu.
"Kelihatannya haikal ini sudah lama tidak digunakan lagi." ujar Sultan Yazid sembari memperhatikan keadaan disekelilingnya. Dibelakangnya, Sinhala mengamati pintu bangunan yang tertutup rapat.
"Kelihatannya begitu." sahut Havard yang sedang membersihkan tubuh karkadan miliknya, begitu juga dengan Rumellia yang menenangkan naga tunggangannya. Sementara hewan-hewan tunggangan lainnya berdiri dengan tenang setelah diberikan makanan.
"Mari kita periksa tempat ini." ajak Sinhala.
Sultan Yazid menatap lelaki Sigirlya itu sejenak lalu menatap teman-temannya. "Kita periksa tempat ini. Jika aman, kita akan berteduh sejenak untuk memastikan bahwa badai salju telah berakhir." usulnya.
Mereka menyetujuinya. Sultan Yazid sendiri melangkah pertama kali. Tombak Pasak Bianglala warisan Nuzlan tergenggam ditangannya. Nagini menghunus Belati Setan, diikuti oleh yang lainnya terkecuali Sinhala.
Mereka sama-sama menaiki undakan tangga menuju serambi dalam dan tiba didepan pintu gerbang besar yang tertutup rapat. Gerbang itu tinggi, bahkan lebih tinggi ukurannya dari panjang tubuh Thor. Raksasa itu terlihat seperti kurcaci dihadapan pintu itu, terlebih yang lainnya.
Thor yang memiliki kemampuan fisik lebih kuat berinisiatif mendorong daun pintu yang menutup gerbang tersebut. Terdengar suara derak kayu usang dan bunyi keriat karat pada logam engsel yang lama tak dibuka, menggema diseantero ruangan ketika daun pintu itu bergeser ke samping saat didorong oleh Thor. Pemandangan dihadapan mereka tersaji menimbulkan aura mencekam.
"Kita lanjutkan?" ujar Sultan Yazid dengan lirih sembari tetap menatap ke depan.
Keheningan disekeliling memantapkan hatinya untuk kembali melangkah. Bunyi langkah sol sepatu terdengar menggema ketika mereka menjajaki lantai bangunan itu.
"Keheningan ini mencurigakan..." gumam Havard.
Sultan Yazid mengangguk-angguk membenarkan sambil terus mengamati keadaan dengan waspada.
BLAM!!!!
Tiba-tiba terdengar bunyi berdentam dari arah belakang mereka. Kedelapan orang itu langsung berbalik dan mendapati pintu gerbang itu telah tertutup. Kemungkinan telah dihempaskan dengan kuat oleh suatu kekuatan misterius.
"Gawat!!! Kita terperangkap!" seru Havard yang langsung berlari mendapati pintu gerbang itu.
"Awas!!!!" seru Rumellia tiba-tiba. Biarawati itu telah sejak tadi membidik.
__ADS_1
Seketika sebuah entitas muncul dihadapan Havard setelah melompat entah dari arah mana. Entitas misterius itu berujud sebuah makhluk yang tubuhnya diliputi eksoskeleton. Sepasang tangan dengan ruas jari yang bercakar terlihat mengembang seakan siap menangkap Havard yang terlanjur berdiri dihadapannya.
Tanpa disangka sebelumnya, tiba-tiba bagian perut dari makhluk itu membuka dan sebatang tentakel muncul dari sana, menyambar tubuh Havard dan menariknya masuk kedalam, mendekam diperut makhluk tersebut. Hanya kepala Havard yang muncul dibagian uluhati makhluk tersebut, terlihat dengan jelas.
Pedang Langit yang semula digenggam pemuda itu terlepas saat dia ditarik masuk tanpa sempat mengantisipasinya. Senjata itu menggeletak didepan makhluk itu.
"Havard!!!!" teriak Sultan Yazid dengan panik. Sementara yang lainnya sudah siaga, termasuk Sinhala yang terus memperhatikan Pedang Langit yang tergeletak dilantai.
"Makhluk apa ini?! Dia menghisapku!!!" teriak Havard yang juga terlihat panik.
"Kau tidak apa-apa?!" tanya Nagini.
"Apakah kau lihat aku terlihat baik-baik saja?!" sembur Havard dengan suara melengking.
"Makhluk apa ini?!" seru Do Quo yang sudah mengaliri tubuhnya dengan hawa murni dari Ajian Lonceng Suci Arhat Emas.
"Aku tak tahu!!!" seru Siff yang menggenggam tongkat martilnya erat-erat.
"Selamatkan Havard!" seru Sultan Yazid.
Do Quo berinisiatif menyerang duluan. Berbekal kekuatan ajian Lonceng Suci Arhat Emas, ia menyarangkan pukulan dengan berbagai teknik, juga tendangan ke sekujur tubuh makhluk itu. Tetapi lelaki berkumis tebal itu mengerang heran saat menyadari semua serangannya bisa dimentahkan oleh makhluk itu.
Sultan Yazid yang geram juga maju menyerang menghujamkan tombak Pasak Bianglala ke titik-titik tubuh lawan yang ditebaknya mundah diserang. Hal ini menghasut Siff dan Thor juga ikut maju mengeroyok makhluk itu.
"Taklukkan makhluk itu!!!" seru Rumellia maju menghunus belati panjang dan menghambur ke arah makhluk itu diikuti juga oleh Nagini.
Berkali-kali serangan mereka berhasil mendesak makhluk tersebut namun belum sampai dapat menaklukkannya. Semuanya sibuk terjun dalam pertarungan sehingga tak menyadari Sinhala menyelinap dan berhasil mengambil Pedang Langit yang tergeletak dilantai.
Salah satu senjata dari keenam orang itu berhasil melukai salah satu bagian tubuh makhluk tersebut. Namun herannya, makhluk itu tak mengerang kesakitan seakan luka itu tak berpengaruh padanya. Yang terjadi justru sebaliknya. Mereka melihat Havard mengerang kesakitan dan memuntahkan darah segar.
"Bagaimana ini? Dia mempergunakan Havard sebagai tameng!" seru Do Quo. "Apapun serangan kita yang mengenainya akan berimbas kepada Havard."
"Bagaimanapun caranya, kita harus membuat makhluk itu mengeluarkan Havard dari dalam tubuhnya." sahut Nagini.
Tiba-tiba makhluk itu meraung dan tiba-tiba sekat pada eksoskeleton dibagian dadanya membuka dan nampak sebuah rongga hitam ditengahnya. Tiba-tiba dari rongga hitam itu memancarkan cahaya yang makin lama makin besar.
"Bahaya!!! Makhluk itu punya senjata meriam plasma di dadanya!!!" teriak Siff.
"Berpencar!!!" seru Sultan Yazid tiba-tiba.
BYARRRRRRR....
Tepat disaat makhluk itu memuntahkan sinar photon yang keluar dari dalam rongga hitam ditengah dadanya, orang-orang itu langsung berpencar menghindari arah tembakan yang diarahkan makhluk itu ke segala arah.
Namun disaat itu pula Rumellia memutuskan berjudi dengan peluang yang ada. Ia membidik bagian rongga dada yang masih terpampang itu dan melesatkan anak panahnya dari gendewa.
SWIIIIIIINGGGGG.... JLEB!!!!
RRRRRRAAAAAAARRRGGH....
UHHHHH....
Anak panah itu menancap langsung ditengah lubang rongga itu, membuat si makhluk mengerang kesakitan dan sesaat kemudian bagian perutnya membuka dan memuntahkan tubuh Havard yang menggelosor pingsan dilantai bangunan itu.
"Berhasil!!!!" seru Rumellia dengan girang.
__ADS_1
Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba tentakel diperut makhluk itu melesat lagi dan kali ini berhasil menangkap Do Quo dan mendekamkan lelaki itu dengan sukses ke dalam perut makhluk itu.
"Keluarkan aku dari siniiiii..." lolong Do Quo dengan cemas. Ia berupaya meronta namun tubuhnya tergencet ketat oleh dinding-dinding perut makhluk itu. Sementara itu, Nagini dan Rumellia mengamati gerakan makhluk itu saat sibuk menyerang Siff dan Thor yang sementara mengeroyoknya.
"Rupanya makhluk ini bersifat parasit." ujar Nagini. "Ia menyandarkan kekuatannya pada inang yang berhasil diserapnya."
"Tapi kita sudah tahu kuncinya." timpal Rumellia. "Asalkan kita bisa membuat makhluk itu menembakkan sinar didadanya itu. Aku akan kembali memanahnya dan Do Quo akan kembali bebas."
"Kita sendiri harus menjaga jarak aman agar tidak diserap oleh makhluk itu." sahut Nagini.
"Aku mengerti." ujar Rumellia dan biarawati itu kembali membidik dengan sabar.
"Keroyok makhluk itu tanpa ampun!!!" seru Nagini membuat Siff dan Thor terhasut mengeroyok makhluk itu dengan membabibuta.
"Kau mau melukaiku ya?!" sembur Do Quo dengan kesal ke arah Nagini.
"Diam saja kau!!!" bentak Nagini dengan ketus sembari ikut menyerang.
"Awas kalau aku terluka!" ancam Do Quo. "Aku akan menuntutmu untuk merawatku seperti seorang istri merawat suaminya!!!!"
Ancaman Do Quo yang kocak itu sempat membuat Nagini bersemu merah meski tak mengendorkan serangannya. Dan dugaan Rumellia tidak salah.
Merasa terdesak, makhluk itu kembali meraung dan sekat eksoskeleton dibagian dadanya membuka mempertontonkan rongga hitam itu, siap menembakkan sinar photonnya kembali.
"Saatnya!!!!" seru Rumellia sembari melesatkan proyektil panahnya.
SWINGGGG.... JLEB
RRRRAAAAAAAARRRGGHHH...
Makhluk itu kembali meronta sebelum sempat menembakkan sinar photonnya. Perutnya membuka dan memuntahkan tubuh Do Quo yang menggelosor lemas akibat energi tubuhnya diserap oleh makhluk itu. Meskipun begitu, Do Quo tidak sampai pingsan.
Belum sempat makhluk itu mempersiapkan kewaspadaannya, tiba-tiba Sinhala melesat dengan sayap cakarnya yang membentang sembari menggenggam Pedang Langit menubruk makhluk itu dan menancapkan Pedang Langit yang bercahaya itu tepat ke dalam rongga dada yang membuka itu.
JLEB!!!!
RRRAAAARRRRGGGGHHHH....
Makhluk itu meraung keras dan tubuhnya perlahan jatuh dan berdebam dilantai. Sementara Thor, Sultan Yazid, dan Nagini langsung berpencar menjauh. Tiba-tiba Sinhala kembali melebarkan sayapnya dan mengepaknya dengan cepat. Tubuh lelaki Sigirlya itu melayang dengan cepat ke atas.
"Mau melarikan diri ya?!" seru Siff yang juga langsung memunculkan sayap bercakarnya dan terbang menyusul Sinhala.
Tubuh keduanya menghilang dalam gelapnya pemandangan atap bangunan.
AAAAAAAKKKHHH...
Terdengar suara Siff yang mengaduh kesakitan disusul tubuh gadis Sigirlya itu yang meluncur dengan deras menuju tanah. Dengan cepat Thor maju dan menangkap tubuh Siff.
"Ah... lelaki itu memperalat kita lagi." keluh Sultan Yazid dengan lesu dan jengkel.
"Sudahlah... tak usah pikirkan pengkhianat itu." sela Nagini. "Sekarang kita beristirahat sambil merawat korban dari makhluk itu."
"Ya!!!" sahut Do Quo dengan jengkel. "Cepat rawat aku!!!"
Omelan Do Quo itu ditanggapi tawa oleh Sultan Yazid dan Thor, sementara Rumellia hanya geleng-geleng kepala melihat Do Quo yang ngotot minta dirawat oleh Nagini seperti seorang istri kepada suaminya. Sementara Thor merawat Siff dan Rumellia memutuskan merawat Havard yang masih pingsan. Sultan Yazid sendiri memutuskan untuk beristirahat sejenak di kuil itu, menunggu badai salju reda.[]
__ADS_1