
" Astaga apa aku bermimpi lagi bertemu dengan orang itu, kenapa dia ada dimana-mana"! ucap Senja yang belum menyadari bahwa itu sungguhan kalau Wira sedari tadi sedang memperhatikannya.
" Khemmm".
Wirapun berdehem agar memulihkan kesadaran Senja yang masih di atas angin itu.
" Ya ampun Suaranya jelas banget apa aku ini nggak mimpi," Gumam senja yang keheranan, dan mencubit pipinya! Awww"!
" Kenapa? sakit"!
" Astaga kau... Ternyata ini sungguhan"!
Senjapun yang sudah tersadar sepenuhnya hendak berteriak tapi Wira dengan cepat menghampiri Senja dan membekap bibirnya.
" Diamlah jangan berteriak nanti Bi Ijah bisa dengar dan bisa berpikiran yang aneh-aneh paham"!
Senja mengangguk tanda mengerti seketika itu pandangan mereka bertemu sampai tidak ada jarak lagi diantara mereka, Wira yang tersadar langsung menurunkan tangannya dari bibir mungil Senja.
" Ngapain loe ada disini? pergi loe otak mesumm"! Ucap Senja kesal
" Ehh loe dengerin ya, gue kesini sebenarnya ogah banget seharusnya loe tuh bersyukur gue kesini buat nengokin loe"!
" Bodo amat, ngapain juga loe harus repot-repot nengokin gue secara guekan musuh loe wahai kakak kelas"! Ucap senja ketus penuh penekanan
" Oke gue pergi! tapi apa loe tega hah ngusir gue padahal di luar lagi hujan gede gini, asal loe tau yah gue kesini bawa motor?"
" Gue nggak peduli"! Senja membuang muka
" Emang ya cewek dimana-mana sama aja? di baikin malah ngelunjak"! Ucap Wira kesal
Wirapun keluar dari kamar senja dengan langkah gontai di hatinya ada rasa sakit ketika Senja bilang mereka adalah musuh.
" Gue kenapa sih ini, jadi nggak ngerti sama perasaan gue sendiri? apa yang di omongin Faiz itu ada benernya ya? gue kena karma omongan sendiri Arghhh pusing," Gumam Wira sambil menuruni anak tangga
Didalam kamar Senja termenung dan berpikir tentang ucapan Wira barusan.
" Benar juga di luar lagi hujan gede, dia tadi bilangnya pake motor, apa gue udah keterlaluan ya? dia kan punya niat baik sama gue, gue jadi ngerasa kaya orang jahat kalau gini," Gumam Senja yang bingung
Tanpa pikir panjang Senja langsung turun kelantai bawah meskipun kepalanya masih sedikit pusing tapi Senja paksakan untuk berjalan menahan Wira agar tidak pergi dulu dari rumahnya.
__ADS_1
Wira yang sudah berpamitan kepada Bi Ijah hendak melangkahkan kakinya keluar dan ingin membuka pintu depan tapi tiba-tiba.
" Tunggu Wira"!
Suara wanita menahan langkah kakinya siapa lagi kalau bukan si pemilik rumah itu, Wirapun tersenyum dan mencoba menenangkan hatinya dulu, dia memasang wajah dinginnya lagi dan kemudian berbalik.
" Apa lagi? loe kan yang nyuruh gue untuk pergi dari sini?"
" Iya gue tau, tapi tunggu dulu sampai hujannya berhenti baru loe boleh pulang? tapi loe jangan ge'er dulu gue ngelakuin ini sebagai bentuk rasa kemanusiaan"! Ucap senja pelan
" Senjaa apa yang loe ucapin barusan dia pasti udah ge'er sekarang, tapi ya udah deh nurunin harga diri sedikit dari pada dia kenapa-napa di jalan gue yang repot nanti, loe udah ngelakuin hal yang bener senja tenang saja," (Sura hati senja)
Wirapun tersenyum sepintas melihat ekspersi senja yang bingung bercampur malu, sebenarnya Wira selalu membawa jas hujan di bagasi motornya..Ya tapi namanya juga laki mau kali ya di perhatiin meskipun sama rivallnya sendiri. Wkwk
" Gue gak akan pulang , kalau loe nyuruh gue tinggal jadi gue akan tunggu disini"! Ucap Wira penuh kemenangan
Wira kemudian duduk di ruang tamu dengan menyilangkan kakinya di atas paha.
" Yaudah bagus"! ucapnya kembali ketus
Senjapun hendak pergi dari hadapan Wira tapi baru beberapa langkah matanya mulai kabur dan hampir terjatuh dengan sigap Wira menangkap tubuh Senja.
Wira panik dan berteriak memanggil Bi ijah, Bi Ijah yang mendengar namanya di panggil langsung menghampiri asal suara itu.
" Astagfirullahh.. Non senja? kenapa ini den?" Bi ijah ikut panik
" Nggak tau Bi tapi badannya agak demam ini?"
" Yaudah den tolong bawa non Senja kekamarnya, Bibi mau ambil dulu kompresan sama buat teh anget"!
Tanpa pikir panjang Wira langsung menggendong Senja kedalam pelukannya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.
" Loe cantik kalau lagi diem gini Senja"! Gumam Wira sambil tersenyum
Tidak lama Bi Ijah datang dengan membawa kompresan dan dua gelas teh hangat.
" Ini den di minum dulu teh nya?"
" Iya Bi terimakasih"!
__ADS_1
" Den.. Bibi boleh minta tolong bisa?"
" Apa Bi?"
" Tolong kompresin dulu non senja, soalnya Bibi masih ada kerjaan di belakang?"
" Oh iya Bi nggak apa-apa biar saya saja! ngomong-ngomong dari tadi saya tidak melihat maminya Senja ya?"
" Oh itu, iya den maminya non Senja kemarin udah berangkat lagi ke paris buat urus sesuatu katanya"! ujar Bi Ijah
" Oh begitu ya Bi, jadi hanya ada Bibi dan Senja disini ?"
" Iya Den, sama ada satpam dan supir yang tinggal di rumah belakang, kalau begitu Bibi permisi dulu ya Den?"
" Ohh iya Bi".
Bi Ijah keluar dari kamar Senja, Wirapun memikirkan ucapan Bi Ijah barusan.
" Ternyata kehidupan loe di rumah, nggak seperti kehidupan loe di sekolah yang terlihat kuat dan kaya nggak punya beban! ternyata gue salah udah nilai loe Senja, gue tau loe pasti sangat kesepian," Gumam Wira merasa prihatin dengan keadaan senja.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian!
Jumpa lagi di next eps.
Annyeong!!
__ADS_1