
***Sebelum membaca kalian kuatkan hati dan mental dulu yah takutnya pada ngences lagi 18+. Hihi
Jangan lupa sertakan juga votenya ok***!!
YUK MULAI BACA.!!
------
Bulanpun telah berganti dengan indahnya sinar Matahari pagi gesekan angin dan dedaunan menjadikannya alunan suara yang sangat menggetarkan jiwa, derasnya air terjun dari hulu sungai menjadi pertanda kehidupan baru telah dimulai burung yang berkicau menambah riuh alunan alam.
Wirapun keluar dari tenda dan mengamati sekitarnya setelah itu membangunkn semua orang yang masih terlelap di dalam tidurnya.
Agus,dan Adrianpun bangun disusul dengan Diva dan Senja. Semuanya langsung pergi ke sungai untuk mencuci muka sekaligus menyegarkan tubuh mereka.
" Ayo cepat kita harus segera mendaki mulai dari jam7 sebelum yang lain bergerak,"
" Iya kak! kami paham," Diva membalas ucapan Wira
Setelah membuat sarapan mereka segera membereskan kembali tenda dan mulai bergerak kembali. Disela-sela perjalanan matahari yang tadinya cerah mulai agak berawan hitam.
Senja yang dari kemarin sudah merasa kurang enak badan mulai tidak bisa berkonsentrasi sampai akhirnya dia terpeleset dan kakinya terkilir menginjak pohon kayu yang berduri tajam dan membuat kakinya terluka, darah yang mulai keluar terasa sangat nyeri sampai akhirnya Senja memutuskan untuk mengecek keadaan kakinya dulu.
" Ahh" Senjapun merintih menahan sakit. Astaga aku tidak bawa obat P3k bagaimana ini"! Ucap senja kebingungan
Sedangkan rombongannya sudah lebih jauh berjalan ke depan meninggalkan Senja seorang diri. Wira dan yang lain tidak menyadari bahawa Senja tidak bersama mereka, karena Senja yang berjalan di belakang mereka. Sampai akhirnya Wira melirik arah belakang dan terkejut.
" Senja.. Dimana dia?" Ucapnya panik pandangannya langsung terbagi kemana-mana
" Ya ampun kak! bagaimana ini Senja hilang?" Teriak Diva panik
" Oke, oke kalian tenang! saya akan mencarinya dulu! kalian duluan saja untuk kepuncak karena sebentar lagi kita akan samapai,"
" Tapi kak kami mau ikut, lebih baik bersama-sama?"
" Jangan! kalian teruskan saja perjalanan ini lagi pula sudah terlalu jauh sekali, saya ketuanya dan saya harus bertanggung jawab,"
" Tapi kak," Ucap Diva ragu
" Sudah kalian naik saja! saya masih kuat di banding kalian, dan juga bawa peta ini kalau ada apa-apa segera hubungi regu yang lain dan jika saya belum kembali tolong cari bantuan,"
" Baik kak. Kalau begitu kami duluan! kakak hati-hati," Ucap adrian
" Yasudah cepat kalian pergi sebelum yang lain! aku percayakan team regu kita padamu adrian jaga mereka? kakak tau kamu paling bisa di andalkan disini,"
" Baik kak! terimakasih atas kepercayaannya,"
Mereka bertigapun mulai mendaki lagi karena posisinya sudah sangat dekat kepuncak gunung, Wirapun segera bergegas mencari keberadaan Senja. Semakin lama hawa dingin mulai menyeruak tak tertahankan.
" SENJJJAAA KAMU DIMANA?" teriak Wira
" Astaga anak itu kemana perginya? sudah tau ini di dalam hutan malah menghilang," Gumam Wira hawatir
Wirapun pontang panting mencari Senja sampai akhirnya dia menemukannya sedang bersandar di bawah pohon besar.
" Astaga Loe gue cariin juga! kenpa loe menghilang hah loe taukan ini di hutan? jangan seenaknya loe main pergi-pergi aja, kalau mau istirahat bilang, buat hawatir orang aja," Ucap Wira kesal. Ayo bangun yang lain sudah menunggu."
Senja hanya diam saja sambil menunduk tidak terasa air matanya mulai mengalir dan membasahi pipinya.
__ADS_1
Melihat tingkah Senja yang begitu membuat Wira Curiga " Loe, nggak papa?" ucap Wira dengan nada yang sudah agak lembut.
Senjapun masih tidak bergeming sampai akhirnya Wira melirik kaki Senja yang di ikat oleh sehelai kain.
" Itu.. Itu kaki loe kenapa? coba gue liat," ucapnya terbata
Wirapun memegang kaki Senja " Kenpa loe gak bilang kalau kaki loe luka, sini gue obatin? ya ampun ini dalem lagi,"
" Udah Wir gue gak papa," jawab senja santai padahal pusing dan nyeri dikakinya sangatlah menyakitkan.
" Gak papa gimana? coba loe liat dalam banget ini lukanya,"
Wirapun mengobati kaki Senja dengan hati-hati tidak lama diapun selesai.
" Kayanya mau turun hujan, mending kita buru-buru pergi dari sini,"
" Hem, iya! Wir. Bisa bantu gue berdiri gak?"
" Oke yuk," Wirapun memegang tangan Senja dan membantunya berjalan.
Tidak lama mereka berjalan hujanpun mulai datang dengan derasnya.
" Ya ampun bagaimana lagi sekarang," pekik Senja yang sudah menggigil karena kedinginan
" Kita cari tempat buat berteduh dulu, soalnya tenda gue di bawa anak-anak,"
Waktu sudah menunjukan pukul 5 dan sudah sangat gelap sekali disana. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri ada sebuah gubuk tua.
" Wir itu gubuk bukan sih?" tunjuk Senja
" Ternyata Allah masih sayang sama kita," Ujar Senja sumringah
Merekapun pergi ke gubuk tua itu untuk berteduh " Loe istirahat aja, gue mau buat api dulu"? Wirapun langsung mengeluarkan korek api dan yang lainnya.
Malmpun tiba, kini jam sudah menunjukan pukul 9 malam. Senja yang tertidur dengan baju yang basah seketika langsung merasakan dinginnya udara yang menusuk tubuhnya, wira yang mengetahuinya langsung mendekati Senja.
" Loe kenapa?"
" G..G..Gue ke-di-ngi-nan!" ucapnya terbata bata
Wirapun langsung menyentuh tubuh Senja dan benar saja tubuhnya sedingin Es.
" Astaga loe Hipotermia! lepas baju loe sekarang?" pinta Wira
" Gila loe! gu..ue gak mau," ucapnya terbata
" Ini demi keselamatan loe bahaya, lagipula baju loe udah basah,"
Wirapun tidak banyak bicara dia langsung membuka seluruh bajunya di depan Senja dan hanya menyisakan CDnya saja.
" Lo..e ma-u ngapain hah?" ucapnya masih terbata bata
" Diem loe bawel, yang jelas gue mau nolongin loe!"
Wirapun tanpa basa basi lagi langsung membawa senja kepangkuannya dan melepaskan semua baju yang Senja kenakan. Tiba-tiba dia sangat shock dengan pemandangan indah di depannya.
" Glek," Wira menelan salivanya.
__ADS_1
" Astaga gue nggak nyangka punya si Biji karet gede juga," (batin Wira meracau)
Sedangkan Senja sangat malu. Wajahnya berubah memerah tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa disaat seperti ini jadi dia menerima sentuhan demi sentuhan yang Wira berikan.
Senja mulai bergetar jantungnya berdebar debar tak karuan seperti kuda yang ingin lompat keluar dari kandangnya.
Wirapun mulai mendekati Wajah Senja. "Loe Mau ngapain lagi hah?" Ucap Senja ketakutan.
Tanpa berlama-lama naluri kelaki-lakiannya menuntun dirinya untuk merasakan kenikmatan dunia.
CUPP..
Wira mencium bibir yang selama ini selalu melawannya itu. Senjapun tersentak kaget tapi dia terlalu lemas untuk melawan atau menghindarinya Wirapun langsung membawa Senja kepelukannya, sedangkan pakaian mereka digantungkan di atas api.
Badan Wira yang hangat mulai menutupi rasa dingin yang menyeruak disekitarnya.
Senja masih saja menatap Wira yang tengah memeluknya sampai akhirnya dia tersadar dari lamunanya.
" Udah jangan mikir yang macem-macem, gue ngelakuin ini buat nolongin loe biar suhu tubuh loe terjaga!" tegas Wira
Senjapun menurut karena dia merasa sudah ada di ujung tanduk tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi namanya juga laki dikasih ikan ya di makan mungkin ungkapan ini berlaku sekarang untuk Wira.
Tanpa sadar Wira mencumbu leher dan bukit indah Senja. Diluar hujan masih sangat deras dengan petir yang saling menyambar. Waktu terasa sangat lama sekali untuk menuju pagi.
" Wir tolong jangan lakuin apa-apa lagi? gue mohon!" ucap Senja dengan suara yang pelan
" Ya udah Loe tinggal pilih gue bantuin loe dari ambang kematian atau loe pilih mati kedinginan hah?" Acam Wira. Udah deh sekarang jangan ngeyel dulu nurut aja. Paham loe!"
Senjapun terdiam dan tidak membalas lagi ucapan Wira tapi malam itu dilalui dengan sangat panas dan bergairah.
" Ahh," Udah wir gue gak kuat capee! Aww Sakit Wir Sakit pelan dong," jerit Senja bertubi-tubi
" Iya iya sorry, gue pelanin!" Wirapun tersenyum dengan puasnya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
jangan kemana-mana tetap lanjut baca kalau gak mau gentayangan.
" Apa yang dilakukan Senja dan Wira yah hemm!"
Jumpa di next eps..
Annyeong!!
__ADS_1