
*Sekuat apapun aku menangkupkan tangan pada tuhan ketika suatu saat rindu ini bukan lagi tempat untuk berpulang maka menangislahh.*
---
Disaat tidak ada lagi harapan yang bisa menyelamatkan hanya takdirlah yang mampu berbicara, Mungkin semuanya akan berakhir dibentangan sia-sia. Angin kencang menyapu setiap benda yang ada.
BRUSSS..
Bencana kembali datang Tanah tebing longsor dan hampir menghimpit tubuh mereka berdua. Wira merangkak melindungi tubuh Senja dengan sisa tenaganya.
Malampun tiba Senja yang mulai pulih tersadar dari pingsannya." Wirr-aa?!" ucapnya pelan
" Iya! gue disini. loe udah sadar syukurlah,"
" Gue takut?!" Senjapun memeluk Wira erat.
" Loe gak usah takut, sekarang ada gue,"
Wira membalas pelukan Senja dan pergi beranjak jauh dari tempat mereka terjatuh tadi.
Keesokan paginya Tim Sar kembali memulai pencarian dengan teman-teman Wira disertai warga setempat.
Di Gunung sudah banyak orang yang berdatangan. Dari mulai Tim Medis sampai Pak Umar yang di percaya sebagai penjaga Gunung Cakra, turut membantu mencari hilangnya dua murid SMA itu.
Sekian lama mereka mencari hingga memakan waktu setengah hari akhirnya Wira dan Senja di temukan.
" Pak Eko.. Pak..! Sepertinya itu mereka?" Kata salah satu Tim Sar.
" Iya betul Pak yanto, Ayo cepat!"
Wira masih memeluk senja di pangkuannya.
Senja dan Wira ditemukan di bawah pohon rindang. Tergeletak tak berdaya.
" BAPAK..BAPAKK..DISINI "! teriak Tim Sar lainnya.
Semuanya langsung datang berhamburan ke TKP. Termasuk Faiz dan Kevin.
" Wir.. Bangun. loe gak papa?" Tanya Faiz panik
Wirapun mulai membuka matanya perlahan-lahan ," Cepet loe tolong Senja dulu, jangan pikirin gue. gue gak papa?" ucapnya lirih
Faiz dan yang lainnya berusaha mengevakuasi Senja dan Wira yang berada di bawah jurang.
Tidak lama kemudia mereka semua turun dari gunung. Wira dan Senja langsung dilarikan kesebuah kelinik terdekat. Wira yang kakinya juga terluka parah segera mendapat penanganan. Sedangkan Senja yang sudah pucat langsung dibawa ke ruang IGD.
Wira dengan tertatih-tatih berusaha mendekati Senja yang masih terbaring di atas tempat tidur pasien.
" Maaf apa ada keluarga korban disini?" Tanya sang Dokter
" Tidak ada Dok. Tapi saya yang bertanggung jawab untuknya"! ucap Wira cepat
" Begini Mas, jadi teman anda sekarang sedang dalam masa kritis, Apa di antara kalian ada yang mempunyai golongan darah Rhesus A+?"
__ADS_1
Mereka berempatpun terdiam sejenak,"Saya rasa Tidak ada dok"! Jawab Faiz
Tanpa pikir panjang tiba-tiba Wira mendekati dokter." Saya dok saya. Golongan darah saya Rhesus A+, apa boleh saya mendonorkannya"! Ucap Wira khawatir
" Apa Masnya yakin? melihat keadaan Mas saja rasanya tidak mungkin"!
" Saya yakin dok! Tolong izinkan saya. Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan teman saya"!
" Baiklah. Silahkan ikut saya keruangan pemeriksaan"!
Wirapun mengikuti sang Dokter itu dengan di bantu Faiz dan Kevin. "Kalian tunggu aja diluar. Biar gue masuk sendiri!"
" Hemm...oke"
Setelah agak lama Wirapun selesai dan keluar dari ruangan itu.
" Gimana Wir. Apa semuanya Oke?" tanya Kevin
" Hem Iya. Tapi Dia kekurangan cairan juga. Dan demamnya masih tinggi"!
" Mudah-mudahan dia bisa selamet dan cepet sadar. Lebih baik kita kembali takut yang lain nunggu" Ucap Faiz menimpali Kevin
" Iya loe bener"
Merekapun kembali keruang tunggu pasien. Disana sudah sangat sepi Pak Umar dan yang lainnya sudah kembali pulang. Hanya menyisakan Adrian dan Alfi saja yang terlihat murung dikursi tunggu pasien.
" Woy kenapa kalian?" kevin mengagetkan mereka
" Menurut loe?" jawab Faiz dingin
" Bagus deh. Ada suatu hal yang mesti gue ceritain"! Ucap Alfi serius
Wira,kevin dan Faiz pun saling tatap dan seketika suasana rumah sakit itu mendadak tegang akibat keseriusan ucapan Alfi.
" Maksud loe apaan Fi?" Selidik Wira
Setelah Wira mendengarkan penuturan Alfi dia benar-benar dibuat kaget bukan kepalang. Alfi memang sedikit agak indigo jadi wajar saja dia bisa melihat hal-hal yang di luar Nalar.
" Loe serius dengan ucapan loe barusan?"
" Gue serius! Pak Umar bilang bahwa kita salah dalam memilih waktu yang jatuh di Malam khusus jum'at keliwon. Dan tadi gue nanya Adrian katanya dia dan Agus telah melanggar satu dari tiga pantangan"!
Wirapun menatap tajam Adrian,"Maaf kak saya gak sengaja bersiul," jawab Adrian yang merasa sangat bersalah
Wirapun menghembuskan nafasnya dengan kasar." Sudah. Jangan di perpanjang lagi yang penting gue dan Senja selamat. Lebih baik kalian istirahat dulu biar gue disini"!
" Yaudah kita balik ke rumah Pak RT dulu. Kalau Senja udah sadar kasihin air ini, itu dari Pak Umar."
" Ok. Kalian hati-hati"!
Setelah teman-teman Wira pergi dari klinik. Dia masuk kembali ke ruangan Senja dan menatapnya dalam-dalam.
Wira memegang Tangan Senja yang dingin dan terlihat lemah itu. Luka disana sini membuat hatinya yang kemarin keras bagaikan batu agak sedikit melunak.
__ADS_1
Dia terus menemani Senja disamping tempat tidurnya tidak lupa dia selalu memanjatkan Do'a agar semuanya baik-baik saja.
Detik demi detik telah berlalu tapi senja masih belum sadar dari masa kritisnya.
" Loe pasti bisa ngelewatin ini. Gue mohon loe harus cepet bangun, gue sadar meskipun kita sering ribut dan loe suka galak sama gue tapi gue gak bisa kalau harus ngeliat loe kaya gini ," Ucap Wira yang bergetar menahan air matanya
Senja yang sebenarnya sedari tadi sudah siuman, hanya mendengarkan segala isi hati dari rivall nya itu. Ada rasa tidak percaya dan bahagia yang menyelimuti hati Senja saat ini.
Senja sadar bahwa Wira tidak seburuk apa yang dia pikirkan, jauh dilubuk hatinya Wira sangatlah baik dan bertanggung jawab. Meskipun diluarnya memang seperti jangkrik, hanya diam, cuek dan arogan.
Senja tau semua yang dilakukan Wira itu hanya demi menarik perhatiannya saja. Karena mungkin dulu Senja pernah menolak perasaan Cinta dari kakak kelasnya itu secara mentah-mentah.
Tapi semua itu memang ada alasannya. Apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur. kini Wira yang terlanjur sakit hati malah berbalik menindas dan membalas dendam padanya.
Memang takdir tidak bisa di rubah kembali. Yang sudah tejadi maka terjadilah, sampai dimana Wira harus terbiasa dengan semua keadaannya saat ini.
Senja mulai membuka matanya secara perlahan. "Awhhh" Ia mengerang pelan sambil memegangi kepalanya.
Wira yang terkejut langsung memanggil Dokter untuk memeriksa keadaannya, tidak lama Dokterpun selesai dan beranjak pergi.
Suasana didalam ruangan itu mendadak menjadi canggung tidak seperti biasanya, sampai salah seorang membuka suara.
" Emm.. Gue minta maaf," Ucap Senja tiba-tiba.
Wira yang mendengar ucapan Senja hanya diam mematung," HAHH! Tumben ada apaan nih. Apa kepala loe kejedot pohon jadi Amnesia?" ucapnya tidak percaya
" Nggak. Gue serius!"
Deg...
Wira langsung terdiam dibuatnya kemudian Ia tersenyum," Sudah nanti saja. Jangan bahas itu sekarang, loe pasti laperkan? gue beli makanan dulu sebentar," ucap Wira sambil mengelus tangannya lembut.
Senja hanya mengangguk pelan dan Wirapun beranjak pergi," Maaf Wir! ucapnya lirih. Dulu aku tidak bisa menerima kamu. Sebenarnya aku juga tidak mau seperti ini, tapi mungkin Allah lebih sayang kepadaku sekarang. Kalau dulu aku menerima Wira, mungkin sekarang hubunganku dengannya akan baik baik saja." Gumam Senja mengusap air matanya yang jatuh menatap kepergian Wira dari belakang
" *Ini semua salahku yang tidak bisa memenangkan Ego, betapa peduli diatas ketidakpedulian." Batin senja merinti*h
.
.
.
.
Yuk balik lagi dengan K'Dellin maafkan jika ceritanya bertele-tele tapi memang harus begitu biar panjang Episodenya wkwk..
Maaf pula jika ceritanya jelek tidak sesuai dengan humor atau bayangan kalian, pokonya maksih banget yang udah mampir luv luv untuk kalian semua.
jangan lupa like,vote,Rat,and coment biar rame selalu.
jumpa di next eps.
Annyeong!!
__ADS_1