
Hari terus berganti, sudah 1 minggu Frans dan Mely tidak saling menyapa.
Mely merasa kehilangan akan sosok sang kekasih, namun dia juga tidak mau memberi kabar duluan karena dia berpikir masa perempuan duluan sih yang memberikan kabar, masa aku sendiri yang berjuang terus-terusan, sudahlah aku akan bersikap biasa-biasa saja. Kalo emang dia mencintaiku pasti dia akan menghubungiku. Itu isi kepala Mely
Mely menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Meskipun dia menyibukkan diri dengan bekerja dan dia menguatkan hatinya untuk tidak menghubungi Frans lebih dulu, tetap saja ada rasa rindu yang selalu hadir.
Begitupun Frans dia masih bingung harus mulai dari mana. Apa dia harus menghubungi kekasihnya atau menunggu saja.
Rasa rindu mereka berdua terkalahkan dengan keegoisan masing-masing.
Tidak ada yang ingin mengalah, mereka larut dalam pikirannya masing-masing.
Minggu sudah berganti bulan, Frans lebih asik dengan kegiatannya menjaga ibu pertiwi di perbatasan sana. Sedangkan Mely sibuk dengan kegiatannya di sekolah lebih tepatnya menyibukan diri sih.
Mereka berdua tidak ada yang mau mengalah. Sampai akhirnya Mely menyerah dengan egonya, dia sudah tidak bisa menahan rasa rindu kepada kekasihnya.
Mely mengambil ponselnya dan dia mengetik nama Frans untuk melakukan panggilan telpon, namun keraguan muncul di hatinya.
Apa harus gue yang telpon duluan? tapi kn dia cwo masa gue duluan sih yang harus telpon. Aah aku rindu sangat rindu, baiklah aku yang akan telpon lebih dulu. gumam Mely dalam hati dan pikirannya.
Dia langsung mengetik nama Frans tanpa ragu yang tadinya ingin melakukan panggilan telepon beralih menjadi panggilan video.
__ADS_1
Sedangkan di sebrang sana Frans sedang melakukan rapat dengan semua anggota yang bertugas di sana karena mendapat kabar bahwa ada 3 orang penduduk lokal yang di sandera . Dia meninggalkan ponselnya di barak.
Beberapa kali ponsel milik Frans berdering.
Rizki yang baru selesai piket mencari dimana sumber suara berasal, dia menemukan di atas lemari milik Frans. Meskipun dia senior tetap saja memiliki etika dan sopan santun yang begitu tinggi, dia tidak berani mengambil atau menyentuh barang milik orang lain.
Ponsel itu terus berdering hingga Rizki merasa risih dan menghampirinya, melihat siapa sedari tadi menelpon Frans.
Terlihat dengan jelas nama "cintaku" dia hanya tersenyum.
Sial pantas saja dari tadi bunyi terus ternyata betinanya yang menghubungi. Gumam Rizki dalam hati.
Gini amat ya hidup gue, udah ngalah sama ego sendiri eh taunya kaga ada respon. Hu..hu..hu..
Abang kemana sih? angkat dong telpon, jangan bikin hawatir. Ucap Mely dengan raut wajah yang mulai panik.
Rizki meninggalkan barak dan mencari dimana keberadaan Frans. Dia berniat untuk memberitahu bahwa ponselnya dari tadi berbunyi.
Pada saat hendak keluar dari pintu barak, ternyata orang yang ingin ia temui sudah ada di depan mata.
Ini dia orangnya. Ucap Rizki pada Frans sambil menepuk bahu kanannya
__ADS_1
Eh ada bang? baru turun jaga bukan? Frans bertanya
Lu masuk ke dalam dan lihat ponsel milik lu. Cintaku sudah menelpon sedari tadi sampai-sampai gua mau tidur saja tak bisa. Rizki yang sedikit menggoda juniornya
Maksudnya gimana bang? Frans kembali bertanya. Sepertinya dia belum mudeng dengan perkataan seniornya.
Udah lu masuk aja ke dalem dan lihat ponsel lu. Gua mau beli makan dulu. Ucap Rizki langsung meninggalkan Frans.
.
.
.
***
Maaf baru update lagi, karena sibuk dengan kegiatan🙏🏻
Jangan lupa komen & like ya, agar author lebih semangat lagi buat nulisnya🙂
Terima kasih yang sudah like🙏🏻
__ADS_1