Menanti Kepastian Seorang Abdi Negara

Menanti Kepastian Seorang Abdi Negara
Pertama kali jumpa


__ADS_3

Ponselku berdering sangat keras, alarm yang setiap pagi membangunkan tidurku. Kulihat jam dinding menunjukan pukul 4 pagi.


Setelah sholat subuh semua orang sibuk dengan aktivitas masing-masing.


Ibu sibuk dengan pekerjaan di dapur, Bapak dan si bungsu sibuk memberi makan ayam dan kucing karena di rumah memiliki hewan peliharaan. Seperti biasa aku sibuk dengan membersihkan rumah dan de Ani bertugas menjemur pakaian.


Bapak dan de Ani berangkat kerja lebih awal karena jarak rumah ke tempat kerja mereka lumayan jauh. Berbeda dengan diriku yang hanya cukup 5 menit sudah sampai di tempat kerja.


Sampai di sekolah ponselku berdering kembali, ya dia Fransisco yang mengirimkan pesan.


"Assalamualaikum, apa kamu besok sibuk?" isi pesan dari Frans


"Wa'laikumsalam, tidak mas." balasan dariku


"Baiklah, tolong kirimkan alamat rumah. Besok aku ingin bersilaturahmi ke rumah." balasan Frans


Seketika aku langsung berkata dalam hati. Mau apa dia ke rumah? nanti aku harus apa? baru juga kenal? aduh gimana ini dengan raut muka panik karna selama ini aku jarang memperkenalkan laki-laki ke rumah apalagi ini baru kenal.


"Kita baru kenal, ketemu di luar dulu saja bagaimana?" balasan pesan Mely


"Kenapa harus di luar? Aku besok libur, aku ingin bersilaturahmi ke rumah. Cepat kirim lokasi rumah." balasan Frans


Karena tidak ada balasan, akhirnya Frans menelpon Mely. Namun tidak di angkat karena waktu itu Mely sedang merapihkan buku pelajaran di perpustakaan.

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul 12:00 waktunya untuk makan siang, Mely pun pergi ke ruang guru untuk sholat dzuhur dan makan siang.


Setelah sholat dan makan Mely melihat ponselnya kembali dan membalas pesan dari Frans.


"Maaf tadi aku sedang merapihkan buku di perpustakaan." isi pesan Mely


Ponsel Mely kembali berdering, sebuah panggilan telpon dari Frans


"Assalamualaikum, ada apa telpon? aku masih di sekolah." ucap Mely


"Walaikumsalam, kirimkan alamat rumah mumpung aku besok libur aku ingin ketemu." dengan tegas Frans berbicara


"Ya, baiklah akan ku kirimkan. tapi rumahku lumayan jauh." kata Mely


"Baiklah. Oh iya mas sudah dulu yaa, aku masih ada kerjaan nanti ku kirimkan alamat rumahku. Assalamualaikum." Mely langsung menutup telpon sebelum Frans membalas salam.


Karena Frans terus memaksa akhirnya Mely mengirimkan alamat rumah.


Mely bukan anak yang ceroboh dia hanya berpikir tidak salahnya jika aku memberikan alamat rumah dan ga mungkin juga dia langsung ke rumah. Isi pikiran Mely saat itu.


Keesokan harinya. Hari ini adalah hari Sabtu, semenjak Pembatasan sosial bersekala besar atau psbb Mely tidak berangkat ke sekolah.


Ketika sedang bersih-bersih rumah, tiba-tiba bunyi notifikasi pesan. Mely pun langsung mengambil ponselnya dan melihat isi pesan itu.

__ADS_1


ya itu pesan dari Frans " Aku berangkat ya ke rumah kamu."


deg seketika Mely diam tanpa kata dan malah bergumam dalam hati. Apa? dia beneran mau ke rumah, aduh aku harus gimana yaa? pakai baju apa? trus nanti ngomong ke Bapak dan Ibu bagaimana? aku bingung.


Mely langsung menemui Ibunya dan berkata bahwa Frans akan ke rumah hari ini, dia sudah berangkat dan mungkin 1 jam lagi dia sampai.


Satu jam berlalu, tiba-tiba ponsel Mely berdering kembali.


"Halo, assalamualaikum." ucap Mely


"Walaikumsalam, aku sudah sampai. Rumah kamu di sebelah mana di pinggir jalan atau masuk gang? kalo masuk gang kamu ke depan tunggu di depan gang ya." ucap Frans


"Ya, aku tunggu di depan gang." ucap Mely kepada Frans


Tak lama sebuah motor menghampiri Mely dan membuka kaca helmnya.


Ya dia Fransisco yang baru kenal beberapa hari dan langsung ingin bersilaturahmi ke rumah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2