Menanti Kepastian Seorang Abdi Negara

Menanti Kepastian Seorang Abdi Negara
Tak sesuai dengan ekspektasi


__ADS_3

Sepulang dari makan mie ayam, Frans berpanitan kepada Papah dan Mamah.


"Papah Mamah, aku antar abang ke depan ya" ucap Mely


Sebelum berpamitan Frans mengusap kepala Mely dengan lembut dan mencium kening penuh kasih sayang.


"Jaga diri baik-baik ya, jika nanti abang ada waktu akan abang usahakan untuk ke rumah lagi" sambil tersenyum kepada Mely.


"Iya, abang juga baik-baik ya dan kabarin kalo dah sampai asrama" sambil mencium punggung tangan Frans.


"Ya sudah masuk sana, abang pulang ya. Assalamualaikum" Frans segera menjalankan sepeda motornya.


"Walaikumsalam" hati-hati ya bang gumam Mely dalam hati sambil melambaikan tangan.


Sepulang Frans seperti biasa mama akan mengintrogasi aku. Benar saja Mamah sudah sejak tadi menunggu di ruang tamu.


"Teteh kenal dimana dengan Frans?" ucap Mamah yg sudah tidak sabar mengintrogasi putri pertamanya.


"Aplikasi Mah" ucap Mely


"Apa aplikasi? teteh ini bagaimana, kenapa teteh ceroboh" Mamah yg sudah mulai meninggikan intonasi suaranya.

__ADS_1


"Mah dengarkan dulu. Mungkin aku mengenal Frans dari aplikasi tapi dia orang baik ko. Buktinya baru kenal saja dia sudah berani datang ke rumah" Mely menjelaskan dengan nada pelan kepada Mamah


"Tapi kita tidak tahu dia orang baik atau bukan" ucap Mamah dengan tegas kepada Mely.


"Ya Mah, teteh tau saat ini salah dan teteh mohon agar Mamah jangan bilang kepada Papah kalo aku dan Frans bertemu di aplikasi" ucap Mely dengan nada memohon kepada ibunya.


"Baiklah, tapi ingat pesan Mamah jaga diri kamu baik-baik jangan sampai kamu salah langakah" ucap Mamah.


"aah terima kasih, Mamah memang selalu mengerti aku" sambil mencium pipi dan memeluk Mamah.


"Sudah hentikan, kamu sudah dewasa masih saja seperti anak kecil" Mamah melepaskan pelukan Mely dan pergi untuk beristirahat.


Mely yang waktu itu langsung pergi ke kamarnya dan langsung mandi karena sebentar lagi azan magrib.


Tidak ada pesan dari Frans dan ia memilih membuka grup anak-anak kelas.


Di dalam grup sudah banyak sekali pesan dari orang tua yang mengirimkan tugas hariannya.


"Sepertinya hari ini aku langsung koreksi saja agar tidak menumpuk" ucap Mely sambil menyiapkan buku nilai dan mulai mengoreksi


Waktu menunjukan pukul sembilan tiga puluh, tiba-tiba ada nada notifikasi pesan.

__ADS_1


"Aku sudah sampai asrama, aku langsung naik piket ya" isi pesan itu


Apa dia langsung piket, Mely berkata dengan nada sedikit kesal.


"Ko piket? bukannya tadi abang bilang piketnya besok" balasan Mely


Tak lama ponsel Mely berdering karena Frans melakukan panggilan video.


"Assalamualaikum, ko abang malah langsung piket. Kenapa? abang ga di hukum kan, gara-gara keluar asrama" Mely berkata dengan wajah hawatir


"Bukan adek, tadi senior abang yang harusnya piket tiba-tiba istrinya menelpon dan berkata mau melahirkan, jadi terpaksa abang yang harus menggantikan" penjelasan Frans


"Oh gitu, adek pikir abang di hukum gara-gara keluar asrama" sambil tersenyum


"Engga lah dek, oia kamu sedang apa?" ucap Frans


"Adek sedang memasukan nilai tugas anak-anak nih bang" sambil menunjukan buku nilai


"Ya sudah, segera selesaikan dan langsung tidur jika sudah selesai. Abang piket dulu nanti turun piket abang telpon lagi" ucap Frans


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2