Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Pesta Tinju


__ADS_3

Villa eksotis di sebuah bukit permai, di kelilingi hutan alami, jalan masuk sudah tertanam paving blok menuju villa, kiri kanan ditanami mawar merah yang batang pohonnya tergunting dan susun rapi. Sungguh pemandangan sangat indah. Bangunan bermode kuno menjulang di antara pondokan kecil mirip saung sekitar lima bangunan segala sisi terhampar mengelilingi Villa dengan ungu mendominasi.


Suara ramai tawa riuh terdengar dari dalam Villa, menandakan sedang berlangsung acara spektakuler di dalamnya, mengingat pemilik Villa tersembunyi di antara hutan natural itu adalah Keluarga Jansen Prakash Kamandanu Penang. Salah satu konglomerat di sebuah provinsi metropolitan.


Malam ini Kakek Jansen Prakash ulang tahun pernikahannya. Pemilik sebuah perusahaan fashion terkenal, pemilik ribuan distro merk ternama itu sedang membaca daftar pembagian bagi hasil harta.


Beberapa perusahaan ditangani dan dikelola oleh putra bungsunya bernama Rian Prakharsa Penang, membuat Rian besar kepala. Seorang putra baik hati--menurut Jansen Kamandanu, putranya Rian yang hingga kini masih sukses melajang, begitu anggapan semua kalangan. Rian si baik hati. Tidak pembangkang. Si bungsu itu sangat lihai mengambil hati ayahnya.


Sang Kakek Jansen, malam ini merayakan hari pernikahan dengan nenek Jansen yang acap dipanggil Nenek Jei, Anniversary ke lima puluh tahun. Usia pernikahan yang super harmonis. Contoh tauladan bagi banyak pasangan. Selain perusahaan fashion yang sudah memiliki tiga puluh lebih cabang di seluruh Indonesia.


Keluarga Prakash juga memiliki perkebunan karet yang dikelola perseroan dengan nama perusahaan, PT. Plastik Arya Penang Penghasilannya pertahun mencapai triliyunan rupiah. Acara malam ini super riuh, semua anak, cucu, menantu memberikan hadiah istimewa bagi kakek dan nenek Jansen Prakash.


Hanya satu orang di sudut kursi antik buatan jerman berbalut serba ungu sesosok hening menikmati acara. –Arini. Arini wanita yang baru saja dicerai lalu terpaksa menikah dengan pria pilihan mantan suaminya, menantu anak pertama Jansen Prakash, Ronald Arya Penang dan Renata Melinda.


Ronald menikah dengan Meli gadis desa bukan berdarah sultan. Sehingga kelahiran Ilham sang buah hati semacam tak membahagiakan. Meskipun di tengah keluarga Jansen Prakash--Ilham satu-satunya cucu laki-laki, pewaris tahta harta. Karena diyakini Rian memiliki orientasi menyimpang. Pernikahan Ronald-Meli tidak disetujui keluarga. Namun begitu, acara-acara keluarga mereka selalu wajib datang.


Dengan alasan malu pada tetangga, relasi dan sorotan media. Jansen Prakash pemilik harga diri paling tinggi. Iya tidak suka jika ada anak dan cucunya orang miskin. Pebisnis handal itu tidak mencoret Ronald sebagai pewaris hartanya. Namun, tidak menggubris apalagi peduli pada keluarga anak sulungnya itu. Seperti malam ini Meli dan Ronald datang berdampingan. Orang-orang berpendidikan tidak ingin mempertontonkan ke khalayak mereka sedang tidak baik-baik saja.


Orangtua Meli, meskipun bukan dari kalangan Sultan, memiliki yayasan sekolah-sekolah elite yang juga memiliki cabang pelbagai daerah. Keturunan para orang-orang kaya di kampungnya tapi, tidak sekaya Ronal Arya Penang. Namun Meli berkelebihan harta. Ronal dan Meli hidup bahagia.


Anak kedua Jansen bernama Ardi Arya Penang Menikah dengan Berly.


Mereka memiliki tiga orang anak.


Kerin anak pertama menikah dengan Bagas anak salah satu pejabat Negara. Anak bungsu Ardi--Berly itu masih kuliah di Amerika. Malam ini dia spesial datang untuk menghadiri acara keluarga tahunan itu.


Sedangkan anak kedua Jansen bernama Dina. Dina menikah dengan Adly selebritas tanah air. Dina dan Adly jarang terendus media, selain aktif di dunia akting keduanya memiliki beberapa gerai usaha pakaian. Keduanya tampak serasi. Ronald sebagai anak pertama seakan tidak dianggap ada, namun silaturahmi masih terjalin.

__ADS_1


Demi cinta pada Ronald, Meli rela menikah tanpa persetujuan keluarga. Bahkan Meli selalu menjadi olok-olok saudaranhnya, karena Keluarga Meli tau, Keluarga Kamandanu adalah keluarga paling licik dan sombong se-ibukota.


Berkali-kali menerima cibiran, Meli dan Ronald mampu sukses jadi orang terpandang. Ilham yang hadir di pernikahan mereka, mau tidak mau sesuai janji Jansen, setiap cucu yang lahir dari keturunannya wajib menerima aliran harta darinya. Hingga Ilham dewasa, Ia berkarir di perusahaan Jansen, sebelum akhirnya Mira menghancurkan semua.


Kemudian Mira sengaja menata ulang kembali dengan memasukkan Ilham bekerjasama sebagai orang paling dipercaya oleh Pram Alexander. Pemilik Franve.


Lalu mengapa Arini hadir di acara malam ini?


Ya, atas perintah Meli. Dan suatu Misi yang akan diperhitungkan oleh sosok Arini dengan begitu matang. Gadis sebatang kara itu sedang menyusun api dendam agar terus membara. Netra jernihnya, bulu mata tanpa pelentik, iris coklat muda yang begitu menarik. Arini memang cantik natural. Diam-diam seseorang memperhatikannya dari ujung kursi kebesaran.


Bukan gagal move on yang membuat Arini sampai ke tempat ini. Bukan pula karena ia masih mencintai mantan suami. Mantan yang diharamkan untuknya kembali.


Kecuali Arini menemukan jodoh sementara alias nikah muhallil seperti yang sudah terjadi. Tapi, Ia datang bukan karena cinta apalagi merasa bersaudara, wanita elegan meski berasal dari sudut kota itu, datang dengan membawa buncah di dada yang semakin membara.


Siapa tembakan buncah itu? Ilham? Jansen? Atau sosok misterius yang selalu menatapnya penuh goda. Tawa riuh semakin menjadi, malam merambat semakin gulita, Arini merekatkan jaket kulitnya, hadiah pembelian motor kredit dua tahun lalu. Hidupnya memang sederhana.


Tenang.


Lalu, tersenyum miring. Ia teringat perbincangan bersama Pamannya Lian.


"Tenang, Paman. Asti dan aku siap menunjukkan pada mereka siapa kita. Kita akan kembali merebut apa yang seharusnya menjadi hak."


Arini mengepal tangan, tersungging senyum sinis.


*


"Aku tidak bohong, Arini. Kau sangat berbeda malam ini," ucap Lelaki itu masih bersikukuh menggoda, sangat ambisius, meski telah ditolak berkali-kali.

__ADS_1


Listrik yang padam memberinya kesempatan menarik tubuh Arini lebih dekat.


"Apa yang kau lakukan, Rian!" teriak Arini terkejut. Namun mulutnya dibungkam tangan Rian, tubuhnya terkunci. Berusaha melepaskan diri namun sia-sia.


"Hari ini kesombonganmu hancur, Sayang!" bisik Rian tertawa sangat berniat melecehkan. "Kau pasti suka ini, sejak ada Mira, kau jarang disentuh suami, 'kan?" bisik Rian tertawa.


"Niat jahat tidak akan pernah terealisasi, kau tau, kau dan keluargamu akan segera hancur, Rian!"


"Apa kau bilang, kelinciku marah? emangnya apa sih yang bisa dilakukan anak yatim piatu sepertimu, aku jadi pengen liat!" Rian semakin menguatkan pelukannya.


"Dasar, Iblis!" umpat Arini hampir menendang keramat Rian.


"Kau sangat wangi, menggiurkan. Mulut judesmu ... rasa ...."


Tiba-tiba sebuah bayang datang mendekat. Sebelum kalimat Rian selesai.


Buck ...


Suara debam tinju menggempar.


"Jangan pernah kau sentuh wanita ini kecuali kau ingin melihat rahangmu berpindah ke lutut." Suara itu bergetar.


Buck.


Dalam gelap, seorang lelaki melayangkan tinjunya tepat sasaran.


"Siapa kau berani datang ke acara keluarga Penang?"

__ADS_1


"Kau mau berteriak memanggil security? dan semua orang akan mengetahui kau melecehkan istri keponakanmu sendiri!"


"Kurang ajar!" teriak Rian nyalang. Arini terlempar ke samping. Sigap lelaki itu menyambut tubuhnya.


__ADS_2