Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Keren


__ADS_3

Arini!" Seseorang menyapa.


"Ya, Om!"


"Berapa kali saya bilang, jangan panggil Om! Saya belum menikah."


"Meskipun belum menikah, tapi anda pamannya Ilham, sepantasnya saya panggil Om."


"Sekarang tidak berlaku itu, bukankah kamu sudah bercerai dari Ilham? Malam ini dia tidak hadir, bersiaplah esok mendapat sorotan kamera."


"Buktinya aku datang kemari, apa itu kurang untuk menunjukkan sesuatu masih baik-baik saja?" Lelaki berkemeja limited edition itu tertawa terbahak.


"Tapi, tidak mungkin Ilham tidak datang, setiap tahun Ayah selalu membagikan setengah dari hartanya untuk seluruh anak cucu. Ulang tahun ini ditunggu para kalangan. Apa kau menunggu momen ini juga, Arini."


"Terserah anda tuan Rian. Saya tidak terpengaruh setiap apa yang anda ucapkan." Arini akhirnya geram juga. Menghilangkan panggilan om.


Ia tahu benar, sedang bicara dengan siapa. Pewaris bungsu keluarga Penang.


"Menikahlah denganku, niscaya Ilham akan pingsan," rayunya kemudian. Merentang tangan tanpa tahu malu hampir meraih pinggang Arini.


Perempuan dengan style gamis pas seukuran tubuhnya, berbahan satin asli, panjang hingga mata kaki, berwarna marun, dipadu anak rambut yang dibiarkan tergerai kiri dan kanan.


Bagian belakang disanggul kecil berjepit elegant.


Penampilan memukau. Rian Prakarsa Penang, si jomblo karatan ikut tergoda. Bukan hanya sekarang, sedari dulu, Rian memang jatuh cinta pada Arini. Sejak Ilham membawa gadis itu masuk dalam keluarga mereka. Mengenalkan pada Kakek Jansen nama Arini. Kecantikan sang wanita ikut membuat Nenek Jei kagum, sesuai kesepakatan jika Ronal ayah Ilham memiliki anak laki-laki sudah dewasa maka bagian hasil perusahaan akan dibagi sama.


Awalnya Rian sengaja bercerita yang baik-baik tentang Arini pada Jansen. Membuat kakek tua itu simpati hingga mengizinkan Ilham ikut serta mengurus perusahaan. Namun pada Ronal, anak kandungnya sendiri, tak lain ayah dari Ilham, Jansen masih diam.


Ia masih sakit hati atas pernikahan Ronal dan Meli. Meli kalangan biasa. Jansen tak setuju anaknya menikah dengan wanita kalangan biasa.


Mengapa dia setuju Ilham dan Arini?


Sebab Arini berpendidikan, satu kampus dengan Ilham. Tak tampak kalau dia adalah penerima beasiswa.


Kecantikannya persis Putri raja. untuk itu Jansen menerimanya sebagai cucu menantu.


"Apa Paman tidak melihat aku datang bersama Ilham?" tanya Arini mengambil segelas air di atas nampan kecil yang dibawakan pelayan. Mengganti panggilan Om dengan Paman pula. Rian sama sekali tidak sadar. Wanita di depannya sedang tidak baik-baik saja. Rian pikir Arini masih gadis yang ia kenal dulu. Lugu, cantik, perfeksionis. Berbody sintal, membuat mata lelaki mana saja kepincut tak karuan.


Siapapun pria tidak akan lepas menatap kemolekan pahatan rupa Arini Ayunda.


Makanya Rian sangat membenci Ilham. Kesumat dendam mengakar untuk keponakannya itu.

__ADS_1


"Oh ya, mana Ilham-mu sayang, bukankah ia tengah bersenang-senang dengan Mira. Si sekretarisku yang kini, sudah kupecat, dan kubuang ke jalanan. Paling seksi dan bohay, tapi sayang hanya sampah, pantas dibuang untuk sampah juga," ucap Rian memancing reaksi Arini.


Perempuan itu justru mendekat ke arah Rian. Tepat di wajahnya, mencondongkan tubuh aduhai miliknya. Kini jarak terpangkas, tinggal dua senti saja. Ia sengaja menggoda.


Rian kelimpungan. Hal seperti itu baru kali ini terjadi. Arini bukan wanita murahan, Rian begitu sulit menembus tembok kokoh yang Arini bangun untuk sosok bernama lelaki. Ia hanya punya cinta untuk Ilham semata.


Kali ini cara Arini bersikap membuat senyum tercetak di bibir Rian.


Mira telah berhasil. Hatinya tertawa riang.


"Paman Rian, Om atau ... hmm aku harus memanggilmu apa? Perlu kamu ingat, ucapanmu barusan membuktikan dengan sangat jelas, bahwa kau kalah dari Ilham, Ilham sudah mendapatkan tubuhku, juga perawanku, kau sendiri dapat apa? dapat tubuh busuk Mira ya?" bisik Arini sengaja berbicara dengan desah menggoda.


Bola Rian membulat sempurna. Tidak menyangka mendapat kalimat pedas dari Arini.


"Kalo begitu, tunjukkan kau lebih hebat dari Mira, mari berdansa denganku!" Rian menarik pinggang Arini paksa.


"Aku tidak berdansa dengan lelaki penyuka sesama jenis, jangan-jangan kau impoten makanya sampai detik ini tak memilih wanita untuk kau jadikan istri," bisik Arini melepas gegas tangan nakal Rian. Lalu tertawa mengejek.


"Kurang ajar! Kau berani menghina aku, Arini!" Wajah Rian merah padam.


"Aku tidak sedang mengejek, apalagi menghina, Paman Rian. Masa Mira si bohay yang aduhai itu tidak bisa anda dapatkan, kalah dengan anak bawang seperti Ilham. Justru Ilham sudah bobok bareng di Motel bersama ajudan sekaligus pelacur sampah itu. Masa kau tak tau!" Arini kembali ketawa.


"Arini! jaga mulutmu." Rian mengacung marah.


Klek.


Lampu seluruh ruangan mendadak mati. Sebelum kehabisan cahaya, Arini masih sempat melirik jam mahal yang melingkar di tangannya. Sudah lebih tiga puluh menit. Ilham belum menunjukkan batang hidung.


"Arini sayang, listrik padam itu anugerah," bisik seorang yang familiar di samping Arini. Siapa lagi kalau bukan Rian. Murkanya lenyap. Listrik padam bagai jackpot untuknya.


Tangannya mulai menjelajah. Menarik paksa leher Arini mendekat.


"Kau mau tubuh bekas Ilham, Tuan Rian? apa kau tidak lagi menemukan perawan?" Arini kembali menghina, walau hatinya kebat kebit menganjakkan tangan Rian yang mulai kasar. Rian gelap mata.


Buk ...


Sebuah tinju melayang tiba-tiba.


"Siapa kau, Setan!"


Buck.

__ADS_1


Sekali lagi tinju itu bersarang tepat di bibir lawan.


*


"Mau berdansa denganku? aku mau melihat wanita cantik berdansa." Burhan berbisik di telinga Arini.


"Boleh, siapa takut! aku takut kau jatuh cinta lebih parah setelah kita berdansa," bisik Arini pula ke telinga Burhan.


Dia Burhan? lelaki culun bisa berdansa? tawa Arini dalam hati.


"Demi Nyonya sekaligus istri terbaikku semua akan kulakukan," ucap Burhan.


"Kau mirip bunglon. Kadang culun, kadang pejantan."


Burhan tertawa kecil mendengar istilah Arini menyebutnya. Tentu saja ia harus mengikuti tingkah Arini, seperti bunglon.


Mereka berdansa, sengaja melupakan Rian yang sekarat akibat tinju Burhan.


"Kau hebat, wangi juga. Tak sabar aku merasakan sensasi berpetualang denganmu," ucap Arini sengaja memancing Burhan.


"Kau istriku, selamanya akan jadi istriku, selamanya juga sensasi petualanganku akan kau yang rasakan, Nyonya cantik."


"Benarkah? Kalau gitu tolak permintaan Ilham, apa kau berani? apa kau rela ibumu tidak memiliki uang untuk perawatan, apa kau rela demi aku, Menik selamanya cacat. Kakinya membutuhkan perawatan yang tidak sedikit. Kau pikir asuransi kesehatan milik Ilham bisa jadi solusi." tawa kecil Arini kembali mengejek.


"Menolak permintaan Ilham itu tidak mungkin.


"Mengapa tidak mungkin. Artinya kau pendusta, kau hanya menjadikanku ladang uangmu." Arini menghempas Burhan. Lelaki itu sigap menarik tubuh Arini menempel padanya.


Lampunya mati lagi.


"Aku punya cara sendiri untuk mengatur napasmu sedikit hangat, aku suka," bisik Burhan menggoda.


"Mengapa tak kau adu napas kita,,?" tanya Arini semakin berani.


"Nyonya. Kau terlalu mahal mengucapkan kalimat itu. Jangan katakan pada yang lain. Cukup padaku saja..Kau suka berdansa denganku, Nyonya?"


"Lebih suka andai kau tiduur di ranjangku," ucapnya ketawa lagi.


"Aku tidak akan menceraikanmu. Apapun yang terjadi aku tidak akan menceraikanmu, Arini Ayunda." Burhan tersenyum. Mengelus lembut puncak kepala Arini.


"Kau bilang apa? itu bahasa paling keren yang pernah kudengar."

__ADS_1


__ADS_2