Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Kesumat


__ADS_3

Sudahlah jangan minta maaf melulu, aku sudah memaafkan. Tapi, apa yang kamu lakukan bagai menancap paku pada sebuah papan, meskipun paku itu lepas, copot dari tancapannya, tetap meninggalkan bekas. Papan itu sudah bolong. Andai ditambal, dia tidak akan serupa bentuknya." Arini memanggil aku-kamu. Lupa pada panggilan 'Mas'


Demi melihat sepasang mata sedang mengarah ke mereka. Suara mereka bisa membuat orang lain curiga. Ia harus membiarkan Ilham berdekatan dengannya.


Terutama paman bungsu Ilham. Yang sejak Arini menginjak kaki di rumah Ilham, masih berpakaian sekolah abu-abu. Rian telah jatuh cinta padanya. Sorot mata dari sudut pintu membuat Arini kembali menggenggam tangan Ilham. Berbicara dengan begitu mudah seolah tanpa beban padahal hanya acting semata demi nama baik Ronald. Ilham terdiam. Hatinya bagai tersayat. Istrinya yang dulu tidak lagi ditemukan.


Di hadapannya Arini seperti bunglon, orang lain yang kerap berubah wujud sesuai lingkungan. “Aku mencintai kamu Arini, dulu dan sekarang. Tidak akan pernah berubah,” bisik Ilham mendekat ke telinga Arini.


“Aku juga mencintai kamu, Sayang,” balas Arini sengaja sedikit keras. Ilham mengerut kening, heran. Ia melihat sekeliling, mengapa Arini jadi berubah lagi.


"Mas, ingat! Ini kulakukan demi Mama, bukan kamu," tegas Arini berbisik pelan, sadar ia mengucapkan itu agar lelaki seperti Rian tidak curiga kalau ia dan Ilham sudah bercerai.


Kalimat Arini barusan memudarkan senyum yang sempat menghiasi wajah Ilham kala tangannya digenggam kembali oleh Arini lalu mengucapkan cinta. Seluet tidak nyaman, mampir di jiwa Arini. Hatinya sangat teriris sembilu. Ia merasa begitu tak berharga dengan mudah ditalak dan dirujuk berulang kali.


Di sisi yang berbeda, luka itu masih terbebat cinta.


Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Apakah Ilham merasa bosan? Ia tidak pernah mengatakan apapun tentang kebosanan. Atau memang ia menginginkan buah hati darah daging sendiri. Arini tidak bisa mengabulkan itu semua.


Sisi lain hati Arini tak bisa menampik. Beberapa hari tak bertemu Ilham, rindu itu pernah menghampiri sangat ia sesali. Rindu yang tidak seharusnya ada. Cinta sejak belasan tahun lalu. Amblas seketika hanya karena hasutan setan. Semat best couple yang pernah mereka raih di bangku sekolah, hancur berkeping tak bersisa. Tapi cinta? Masihkah ada? Masihkah sama?


“Mengapa kau mengucapkan cinta dan bersedia rujuk jika tidak mencintaiku lagi, Arini.” Ilham menatap Arini intens.


“Karena menunjukkan diri kita masih berstatus istri itu melindungi diriku dari paman mesummu," jawab Arini tersenyum miring.


Ilham terkesiap. Ya, Arini benar, lebih baik menunjukkan diri pada khalayak bahwa mereka baik-baik saja.


Daripada harus berurusan dengan manusia sekelas bejatnya Rian. Karena itu, mau tidak mau Arini mengiyakan ajakan Meli yang memintanya untuk datang ke acara penting ini.

__ADS_1


Karena setiap tahun Jansen Kamandanu akan membagikan lima puluh persen harta keuntungan perusahaan untuk anak dan cucunya. Meskipun tidak menyetujui dan tidak menyukai Meli menikah dengan Ronald.


Kamandanu masih memberikan hak Ronald sebagai anak.


Hal itu juga yang membuat Arini meradang tapi tidak memperlihatkan kepada keluarga Penang. Rasa sakit yang tak terceritakan. Arini mengingat dengan jelas tiap detail cerita Lian sang paman pasca perceraiannya dengan Ilham, bahwa keluarga Kamandanu hutang kelicikan dengan keluarga mereka.


Lubuk hati Arini paling dalam ia tidak lagi bisa mendeskripsikan apa sebenarnya yang terjadi pada hatinya.


Ada sesuatu kesumat mengakar setelah Lian sang paman menceritakan pada Arini kisah harta dan kematian kakek Arini.


"Pokoknya kita rujuk Arini, aku tidak tahan. Aku merindukanmu," ucap Ilham masih terus merongrong penasaran.


Bukankah pandangan Arini pada layar komputer di butik itu, dan tangisan kerinduannya menandakan cinta itu masih sama. Lalu, mengapa sekarang berubah? Ilham bersenandika, bingung dengan sikap Arini yang kerap berubah-ubah.


Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan mantan istrinya.


"Baiklah Ilham, aku terima tawaranmu, kita akan kembali rujuk, jika memang semua bisa diperbaiki kenapa tidak! Tapi, saratnya tentu saja kau harus menunggu aku bermalam, satu ranjang, beradu peluh bersama Burhan," ucap Arini tenang.


Ilham terdiam, Arini bosan dengan ulah keluarga Ilham, dulu hatinya tidaklah seperih ini, mengenang ayah yang sudah meninggal. Warisan perusahaan yang diambil dengan begitu licik oleh keluarga Jansen Kamandanu. Semua yang diceritakan sang paman membuat Arini melancarkan rencana perhitungan dengan keluarga suaminya itu.


Meli adalah satu-satunya orang yang mencintai Arini dengan tulus.


Tapi semua tidak akan bisa kembali normal. Talak tiga yang sah meski tanpa ucapan, begitu tajam bagai siluet silet menancap. Meluwak luka yang bertahun-tahun telah sembuh di hati Arini. Demi cintanya pada Ilham, ia menyampingkan kesumat yang pernah hadir.


Luka dalam yang berdarah, terbebat kering, kini menguap kembali bernanah. Aromanya mematikan sel. Ia membenci cinta.


“Jansen membagikan keuntungan perusahaan untuk anak cucunya. Yang ia ambil itu harta ayah kami, kakek kamu, Arini. Jansen orang jahat.” Kalimat demi kalimat paman Lian bermain di rungunya. Ilham yang duduk di sebelah Arini mengerut.bingung.

__ADS_1


Pandangan mata sang mantan istri kosong. "Kamu melamun, Sayang?”


“Bukannya aku udah bilang akan rujuk. Jangan mempertanyakan hal yang tidak perlu kamu tanyakan,” ucap Arini tegas. Ilham terkesiap, namun mampu menetralisiir suasana, Ilham menganggap Arini hanya butuh waktu untuk tenang.


“Terimakasih. Aku akan berusaha membuat kamu jatuh cinta berkali-kali lagi. Eh, malam ini ... kamu sangat cantik, sayang," rayu Ilham lagi.


"Selamat malam semuanya, Nenek dan Kakek sudah hadir. Harap semua tenang." Suara lantang bernada arogan, berdentang dari pengeras suara setiap sudut jauh terdengar. Mata Arini tidak lepas memindai tajam. Sorotnya berubah beringas. Keping hatinya hancur berantakan.


"Sabar Arini, tenanglah. Jadikan lelaki di sampingmu kelimpungan untuk kembali, dan suka rela melakukan apa saja demi dirimu," bisik sudut hati wanita cantik itu penuh kesumat dendam. Bara semakin menyala saat dua manusia berambut putih namun tetap berwibawa, naik ke atas kursi kebesaran. Napas Arini tertahan. Berusaha menetralkan diri. Untuk tidak terlihat sakit di dadanya.


"Kamu juga tidak kalah tampan dari apapun, kurasa karena itu Mira sangat terpesona," bisik Arini sarkas.


"Arini!" Ilham terkejut mendengar jawaban mantan istrinya itu.


"Hmm. Ada apa?" tanya Arini tidak memindahkan matanya dari kursi kebesaran.


"Bisakah kita tidak membahas Mira saat bersua, aku hanya dijebak, percayalah!"


"Lalu kita harus membahas apa? sosok Muhallil impoten itu? sepertinya menjadi istri dari lelaki itu sungguh ide cemerlang darimu, sebab tidak akan ada wanita yang berminat, siapa yang mau dengan pria dingin?"


"Maafkan aku."


"Untuk?"


"Semuanya."


"Terlambat!"

__ADS_1


__ADS_2