Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Mana Mertuaku?


__ADS_3

"Untuk itu kau banyak menghabiskan duit, transfusi darah pasca kecelakaan, operasi bedah kaki. Dan sekarang ibumu baru selesai dioperasi--diamputasi." Arini tertawa absurd. Geleng kepala. Tak menyangka sebab kesulitan seorang lelaki muda rela jadi Muhallil. Menikah sementara setelah tidur berdua mereka sah untuk berpisah. Sungguh perilaku kurang ajar di mata Arini.


"Maaf, Nyonya, terimakasih sudah mengerti keadaan kami. Tapi, saya berjanji akan membayar semua pengobatan ibu dan adik saya. Satu yang perlu anda tau, saya sama sekali tidak akan menceraikan anda sebelum anda sendiri yang meminta cerai," bisik Burhan pelan ke telinga Arini.


Membuat kepala wanita itu menoleh dan melotot seketika.


"Kak Arini, kakak kok cantik banget."


Menik yang tadinya sudah keluar, balik lagi ke dalam, sambil tertawa cekikikan khas gadis pemalu. Kemudian ia kembali lari menyusul kakaknya.


Arini ikut tertawa.


"Kamu juga cantik, Sayang!" ucapnya melambaikan tangan ke arah pintu.


Untuk pertama kali sekian bulan sejak kata talak tanpa ucapan hadir antara dirinya dan Ilham, Arini tidak pernah tertawa. Diam-diam Burhan menatap bahagia ke arah wajah sendu di hadapannya.


Bersyukur, setidaknya di usia pernikahan mereka selama tiga minggu Arini bisa tertawa lepas tanpa beban.


Tidak seperti biasanya. Tawa itu penuh beban, menangis, marah dalam satu waktu, dengan sorot mata datar. Kadang berkata kasar, kadang diam saja. Kadang pula bergenit tanpa rasa. Entah mengapa hati Burhan sakit, campur kasihan melihat itu semua. Hari ini, ia melihat sorot berbeda dari mata itu. Sorot bahagia. Sungguh pemandangan langka.


"Entar pulang sekolah boleh ya, aku main sama Satya." Menik nongol lagi setelah tadi menghilang beberapa menit.


"Astaghfirullah, Menik! Eh, udah telat ni. Kamu mau disuruh berdiri di bawah tiang bendera." Berlian datang menarik tangan Menik paksa. Sambil menjewer kecil telinga adik usilnya itu. Sudah berjalan sedikit jauh Menik kembali berlari ke belakang.


"Kak, kakak pacarnya Bang Burhan, ya? jangan tinggalin Bang Burhan lagi. Kesian. Move on--nya lama," teriak Burhan terbahak-bahak. Berlian kembali mengejar adiknya.


Arini kembali tertawa lepas melihat tingkah Menik. Melirik sedikit ke arah Burhan yang mendelik tajam ke arah adiknya, Arini seolah menemukan kehidupan kembali. Sebuah keluarga sederhana namun Cemara.


Di ujung pintu, Burhan yang berdiri di sana, menarik garis bibirnya ke samping sama rata, entah mengapa hatinya begitu lega, melihat tawa Arini yang lepas sekali.


"Kamu memang cantik." Burhan tanpa sadar mengeluarkan kalimat. Arini menoleh ke arahnya. Burhan menunduk malu. Ia hanya keceplosan.


"Apa kata Menik? Move on--nya lama. Artinya si Burhan ini punya pacar dahulunya. Kenapa juga kepo?" bhatin Arini penasaran.


Arini mengumpat dirinya sendiri yang justru ingin tahu.


"Bunda!" teriak suara Satya. Rupanya bocah mungil yang baru saja pandai bicara itu sudah bangun, dia tertidur dalam perjalanan menuju rumah Burhan.

__ADS_1


Mereka berjalan kaki dari Villa menuju rumah papan di ujung kota, tempat kehidupan Burhan sehari-hari bersama keluarganya.


"Bunda di sini, sayang." Arini merentang tangan. Satya berdiri sambil mengucek matanya, kebiasaan sehabis bangun tidur. Berjalan manja memeluk Arini.


Wanita itu kembali normal, kala bocah mungil membawanya bicara.


"Mau makan apa, Nak? Satya dari tadi belum makan."


"Saya beli sebentar sarapannya, nyonya juga belum makan." Burhan beranjak menuju pintu.


"Aku udah sarapan, kok. Kan kamu yang masakin. Mie goreng campur telur dadar subuh tadi," ucap Arini tersenyum, tidak terlihat genit. Normal.


Burhan bernapas lega. Akhirnya ia bisa bebas dari kegenitan Arini.


"Loh, Nyonya makan masakan saya?" Kikuk Burhan bertanya. Arini mengangguk dengan senyum yang masih melekat.


Burhan memang masak subuh sekali. Ia pikir berangkat subuh hari sebelum Arini terbangun tidak akan mendapat gangguan godaan. seperti hari sebelumnya, ternyata, pagi itu, Arini justru bangun lebih dulu.


Pulang larut malam, bangun lebih dini, pikir Burhan mampu menghindari Arini, ia hanya melaksanakan perintah Ilham. Agar tidak bersua malam hari dengan Arini.


Tapi, tidak sesuai perkiraan. Bangun fajar buta, wanita tanpa ekpresi itu telah menyambut duduk santai di sofa.


Semakin dekat. Arini meraih pinggang Burhan yang diam di tempat. Mengalungkan dua tangannya di leher Burhan. Mendongakkan kepala, dengan sengaja membuka mulut yang sudah disemprot pewangi yang kini hanya berjarak dua senti dari bibir Burhan


"Astaghfirullah," ucap Burhan tanpa sadar. Tangannya menggigil. Menutup mata sepenuh kesadaran. Menguatkan hati untuk tidak mengikuti permainan Arini.


Bisa saja perempuan itu hanya menjebak. Dalam perjanjian yang dibuat oleh Ilham, jika Burhan berani menyentuh Arini, maka nota kesepakatan batal.


Tapi, Arini justru bersikukuh, jika Burhan tidak berani menyentuhnya mana mungkin bisa mereka bercerai. Firman Allah jelas, hadist Rasulullah juga jelas. Ia harus seranjang bersama Arini baru boleh mentalak.


"Nyonya, saya mohon! Ibu saya sedang sekarat di rumah sakit. Adik-adik saya butuh biaya. Saya mohon Nyonya. Jangan sulitkan saya," ucap Burhan menahan air di ujung matanya untuk tidak meluncur.


Bukan karena dia lelaki yang lemah. Menahan diri dari hidangan gratis, halal, dan menggoda hal paling sulit yang pernah ia lakukan.


Degub frekuensi jantungnya sangatlah tidak normal, bagai mobil melaju dengan kecepatan tinggi, dan rem sengaja sudah blong. Sungguh tidak nyaman.


Arini menghentikan aksinya demi mendengar satu kata 'ibu.'

__ADS_1


Ia sangat mencintai seorang ibu. Menjadi sebatang kara tidaklah bahagia.


Karena tidak berani menyakiti seorang ibu, makanya Arini menerima tawaran nikah muhallil demi kembali pada Ilham. Meli--sang mertua.kasih sayangnya melebihi ibu kandung sendiri.


"Ibu? Maksud kamu?"


Wanita lemah itu mundur mengamati Burhan. Lingerie yang sengaja hendak ia jatuhkan dari tubuhnya, kembali melekat.


"Sa--saya melakukan ini semua demi ibu, Nyonya. Ibu saya harus rutin cek darah, rutin makan obat, juga rutin terapi, ibu saya stroke, kolesterol, kurang darah juga, diabetes mengharuskan ibu saya untuk operasi." Burhan menjelaskan keadaan ibunya


Lepas juga bebannya selama ini. Burhan menarik napas panjang. Menceritakan perihal ibunya yang sakit keras. Butuh biaya kesehatan yang tidak sedikit.


"Kamu mau ke sana sekarang?" tanya Arini, berubah seratus delapan puluh derajat. Begitulah hati seorang wanita. Begitu mudah dikelabui rasa iba.


"Iya, Nyonya. Saya mau jenguk adik-adik dulu, hari ini saya masuk siang. Besok saya kerja shift malam."


Burhan menjelaskan sedikit.


"Saya ikut." Tiba-tiba Arini mengucapkan kata itu.


Arini terdiam mundur setelah melepaskan kalimat. Entah mengapa, hati kecilnya ingin mengenal keluarga Burhan.


"Maksud, Nyonya?"


"Saya ikut ke rumah kamu, bagaimanapun di mata agama kita ini adalah suami istri. Aku istri kamu," jawab Arini sedikit membentak.


Burhan hening. Bingung mau berkata apa.


"Burhan, aku mengangguk kepala saat wali hakim menikahkan kita, tandanya aku tidak keberatan dengan pernikahan ini. Aku berhak mengenal keluarga suamiku, apa kau keberatan?"


Burhan menatap bingung. Entah apa yang merasuki mantan istri bosnya itu, ia pasrah mengikutsertakan Arini ke rumahnya.


Sekarang, di sinilah mereka, saling diam dalam kebingungan, bingung memulai kalimat dengan suasana canggung.


"Di mana ibumu dirawat?"


Akhirnya Arini memulai kata.

__ADS_1


"Hei, kau dengar? di mana mertuaku?"


Mata Burhan membola sempurna.


__ADS_2