Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Kamu Lebay


__ADS_3

Mira sudah menyakiti hatiku, seolah kita tidak bisa makan tanpa dia. Aku akan menjual seluruh warisan keluargaku untuk modal kita jika kamu mau tidak bekerja di sana. Berhenti berkomunikasi dengan Mira. Maka, aku tidak akan minta pisah," ancam Arini lagi.


"Kamu lebay. Hanya karena Mira mengucapkan kata-kata seperti itu, terus kamu sakit hati. Sangat kekanakan, Arini. Biarkan saja dia berbicara apapun yang penting kita hidup kembali seperti semula. Tenang, nyaman tanpa kekurangan apapun, dan tidak meminta belas kasihan Kakek. Aku menerima Satya. Aku menerima kita tidak punya anak, sudah selesai. Cukup!"


"Biarlah aku hidup serba kekurangan, kalau Mas masih akrab juga pada Mira. Ceraikan aku! Mungkin dengan Mira kamu bisa memiliki keturunan yang kau idamkan, Mas."


"Kamu kenapa, Arini? Cerai-cerai-cerai, apa tidak ada kalimat lain? Lihat ibu-ibu dua belas anak yang suaminya suka mabuk, mereka sabar, bahkan tak pernah mengeluh, apalagi meminta cerai."


"Apa selama ini aku sering mengeluh?" tanya Arini menantang. Ah, Ilham mengutuk mulutnya yang salah bicara. Wanita tak sudi dibandingkan. "Bukan itu maksud Mas, Arini. Ambil pelajaran dari mereka yang hidupnya lebih sengsara, mereka percaya suaminya. Kadang pulang malam kadang tak pulang. Lihat para artis itu, berapa banyak gosip yang disebar untuk meruntuhkam rumahtangga mereka, tapi, mereka menepis itu. Bertahan karena tau semua hanya gosip."


"Suamiku bukan artis dan aku bukan selebritis. Jadi ... cukup!" Air mata Arini jatuh berderai. Sakit sekali rasanya.


"Arini ... berapa kali aku harus menjelaskan padamu, aku tidak tertarik pada Mira. Apa perjalanan cinta kita sedari SMA kau ragukan?"


"Tapi, kamu hanya diam saat dia berbicara tentangmu dengan begitu mesra padaku, Mas."


"Aku harus bagaimana, Arini?" Ilham mulai emosi.


"Jika ia ingin menjalin pekerjaan denganmu, di kantor saja, tidak perlu sampai harus ke rumah ini. Senyum dan tawa kalian berdua menyayat hatiku."


"Arini, dulu kamu tidak seposesif ini, kenapa sekarang berubah. Ada apa denganmu?"


"Aku tidak berubah, kamu lah yang berubah. Berapa kali aku bilang, tidak usah bekerja di perusahaan itu. Keluarga Mas punya banyak perusahaan. Mama Meli juga punya banyak Yayasan."


"Kau tau aku tidak cocok dengan mereka. Kau tau mereka dan ibu bagai Selatan dan Utara? Kalau bekerja di Yayasan mama jelas aku tidak pandai, aku tidak punya latar belakang jurusan pendidikan. Mama berbisnis di lembah pendidikan sama seperti kamu yang berbisnis di dunia sablon dan jahit, aku gak bisa."

__ADS_1


"Ikatan darah itu abadi, pasti ada sedikit cinta di hati mereka. Daripada di perusahaan itu, kamu akan terus bertemu Mira."


"Mira lagi, Mira lagi, jangan uji kesabaranku, Arini."


"Kesabaran apa?"


"Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar menanti buah hati, aku sabar. Bahkan aku rela kamu mengadopsi Satya demi membahagiakanmu. Lalu apa lagi? Kamu pikir aku ini apa? aku juga ingin punya anak sendiri!" teriak Ilham kalap.


Siluet silet serasa terbang menyentuh dada Arini. Menyilet tepat di ulu hatinya. Ngilu.


"Jadi sebenarnya Mas sangat membenci ada Satya di rumah ini? Jadi sebenarnya Mas keberatan karena kita lama punya anak. Allah belum memberi itu. Mas keberatan? Bahkan Satya itu usul dari mama."


"Siapapun laki-lakinya, pasti menginginkan darah dagingnya, bukan darah daging orang lain. Cukup, sudah Arini! Jangan lagi kita bahas ini. Aku lelah bertengkar denganmu."


"Tidak. Jika kau tak menginginkan Satya. Aku akan bawa anak tak berdosa itu bersamaku. Mungkin bersama Mira kau bisa memberi perintah pada Tuhan untuk menciptakan darah dagingmu."


Sebab pertengkaran mereka membahas hal itu telah acap terjadi. Kali ini Ilham berpikir untuk membuat Arini jera saja.


"Cukup!" teriak Arini murka. "Ceraikan aku hiduplah bersama Mira yang mau bangga-banggakan itu."


"Baiklah. Kalau itu maumu. Aku ceraikan kamu, kubebaskan kamu mulai hari ini," ucapnya menantang. Ilham pikir ia bermaksud dengan menceraikan ia bisa memberi pelajaran sedikit gertak untuk Arini.


Glerrr.


Ilham yang memiliki karakter emosional tak tertahan, akhirnya melepaskan kalimat itu. Talak telah jatuh. Niat Ilham benar-benar ingin membuat Arini mengerti, memberi pelajaran pada istrinya itu, agar tidak lagi memiliki cara berpikir kekanakan. Suka berprasangka dan lainnya.

__ADS_1


Ilham jatuhkan talak. Sayangnya tidak begitu pada pikiran Arini. Wanita yang ditalak secara psikologi hancur berantakan. Apalagi kalimat sebelum talak jatuh karena anak.


Satya dianggap Ilham pembawa tulah. Hati Arini sakit bagai luka yang diberi garam.


Bocah tiga tahun yang tidak mengerti apa-apa jadi sasaran kesalahan para dewasa. Arini berlari ke kamar.


Menggendong Satya yang tengah tertidur. Menangis sesenggukan.


"Sayang, percaya pada Bunda, Nak. Unda akan bawa Satya ke manapun pergi. Meski tiada siapa-siapa bersama kita. Percayalah, Nak. Suatu hari kita akan menemukan orang-orang yang menyayangi kita tanpa sarat apapun, sedarah ataupun tidak." Meski sadar bocah itu tidak mengerti, Arini tetap berbicara layaknya orang dewasa. Satya mengerjap. Bocah imut yang baru pandai bicara cadel itu menangkup pipi Arini yang berderai air mata.


"Unda janan nanis, atia edih, Nda. Atia sayang Unda." Bocah itu terbangun memeluk Arini seolah mengerti kesedihan yang dialami ibu asuhnya.


"Sama sayang, Bunda juga sayang Satya." Arini semakin mengangguk. Membereskan semua barang-barang, bersiap meninggalkan rumah Ilham. Ilham sedari dulu lelaki yang gampang tersulut emosi, namun Arini tahu, Ilham mencintainya, hingga ia bertahan untuk belajar menyelami dunia Ilham.


Menyatukan perbedaan dalam rumah tangga. Tujuh tahun mereka menyemai cinta. Memupuk dengan rasa bahagia.


Namun sayang ... semua telah telanjur. Menatap nanar kepergian Arini. Ilham yakin pasti tujuan Arini rumah orangtuanya, Meli--Mama Ilham sangat menyayangi menantunya itu.


Pasti mereka ke sana. Pikir Ilham, tak bicara sepatah katapun kala koper dan Satya dalam gendongan melewati dirinya di depan pintu. Cerai, adalah hal paling Allah benci.


Cerai adalah bom yang mengguncang Arasy.


Kata yang paling Allah laknat adalah cerai. Jika ada solusi lain, mengapa harus bercerai? Emosi, bujukan setan, rayuan hormon egoisme telah menang melawan gumpalan kecil bernama hati.


Petaka pertama di rumahtangga Arini-Ilham.

__ADS_1


(Ada yang cerai. Apa aku harus potong tumpeng?)


Status baru memenuhi beranda Mira. Arini melotot tak percaya. Belum lima menit dari ia keluar rumah, Mira sudah mengetahui.


__ADS_2