Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Masih Berdebat


__ADS_3

Walau hanya sekadar urusan pekerjaan. Tapi ia selalu mencari kesempatan melontarkan kalimat provokator pada Arini.


Awalnya Arini berusaha tidak menanggapi namun Mira begitu gencar memanas-manasi.


Suatu hari Mira membuat status di media sosial miliknya.


(Terimakasih atas ceria yang kau berikan. Cintaku padamu tidak bersyarat apapun, datang dan kapan pun kau mau, jika kau ingin kembali--sesukamu, aku terima dengan luang) Kali ini Arini murka. Status media sosial milik Mira menampilkan foto bersama para karyawan perusahaan Franve. Tapi ada yang lain dari foto itu. Rangkulan mesra suaminya dan Mira. Tidak terlihat sebatas teman biasa.


"Ini apa?" tanya Arini berang, menunjukkan foto mereka di sosial media milik Mira.


"Ha-nya fo-to Arini. Lagian rame-rame," jawab Ilham dengan nada ditekan. Menurut Ilham, cemburu Arini tidak beralasan. Hanya sekadar foto bareng karyawan. Bukan foto berdua.


"Memang hanya foto, tapi, lihat tangan Mira, menyelip di antara pinggang kamu, Mas. Mengapa harus berfoto di samping kamu, ngapain juga dia peluk kamu terus kamu balas merangkul dia, mengapa tidak di samping Pak Pram? Bukankah kamu yang bilang mereka punya affair? Katanya dia bukan karyawan Franve, tapi asisten pribadi Pak Pram, mengapa seolah seperti karyawan biasa saja dan punya kedekatan affair justru sama kamu bukan Pak Pram."


"Astaga, itu tidak sengaja, Arini. Kamu kalau ngomong jangan kebanyakan suuzon. Si Mira saja tidak pernah menjelekkan kamu, tapi, kok kamu anti banget sama dia. Asal kamu tau, waktu acara itu saja ia yang memberi usul agar aku pulang membawa oleh-oleh spesial untuk kamu. Waktu ke Singapura ia juga yang memberi ide untuk membelikanmu sesuatu yang paling berharga." Ilham meradang. Panggilan Mas dan sayang pada dirinya tak lagi ada.


Mendengar jawaban Ilham, Arini sudah tidak tahan. Hatinya sakit luar biasa. Ilham seolah menganggap semua biasa-biasa saja.


"Jadi ... bingkisan yang kamu belikan itu ide dia!" teriak Arini tak terima. Ia mengambil satu bungkus oleh-oleh lalu membuangnya di depan Ilham. Arini juga menarik lingeria dari dalam lemarinya, melemparnya ke wajah Ilham.


"Arini Mas minta maaf, awalnya Mas ingin memanfaatkannya tapi asal kamu tau, dia benar benar berubah, seseorang bisa saja dulu berbuat salah, bukan berarti selamanya bersalah. Dia tidak seperti yang kamu pikirkan," bela Ilham lagi.


Cemburunya memang kelewatan tapi Arini seorang wanita. Rapuh dan sensitif tentu saja tak lagi bisa ia tolerin. ditambah jawaban Ilham yang membuat moodnya berantakan.


"Oke. Kamu mendukung dia, kamu membela dia, sampai tidak sadar dia sengaja melakukan itu semua untuk menarik perhatianmu."

__ADS_1


"Bukan begitu maksud Mas Arini," elak Ilham gelagapan. Ilham panik.


"Jadi apa maksud ucapan kamu?"


"Mas cuma ingin membuka mata kamu. Mira itu tidak sejelek yang kamu kira. Orang bisa saja dulu salah tapi ...."


"Perempuan mana yang tak murahan jika menjual dirinya pada direktur dan beberapa orang lainnya. Kan Kamu sendiri yang bilang." Arini tak mau kalah. Ia tak Sudi memanggil Ilham sebutan Mas. Hatinya terlampau sakit.


Malam itu pertengkaran hebatpun terjadi.


"Kalau memang dia tidak punya perasaan apa-apa pada, Mas, mengapa mudah baginya menolong Mas langsung sebagai manager. Mengapa Mira membuat status ini. Pikir, Mas!"


"Kamu tinggal hapus pertemanan dengan Mira. Blokir sekalian. Supaya kepala kamu isinya tidak sekadar suuzon saja." Ilham yang memang mudah tersulut emosi, naik pitam.


"Jadi mas menganggap aku suuzon dengan melihat tangan mesra Mira. Sekarang Mas jawab! Apa reaksi mas waktu Mira melakukan itu. Diam saja atau menikmati pelukannya."


"Dan Mas mengaminkan kebiasaan itu. Mas lupa, dulu aku jatuh cinta padamu karena kamu selalu punya prinsip. 'Jangan membenarkan yang biasa, tapi biasakan yang benar' apakah gara-gara Mira kamu lupa sama prinsip itu?" Ilham memijit pelipisnya. Awalnya ingin meladeni Arini dengan suara pelan, sementara Satya menangis karena mendengar papa-mamanya bertengkar.


Bagi Satya Ilham adalah ayahnya, dan Arini ibunya. Ia tidak ingin keduanya bertengkar. Menangis sejadi-jadinya, Satya seperti anak tantrum.


"Diamkan anak itu, aku lelah. Aku mau istirahat, terserah kau menganggap Mira apa, suamimu ini baru datang dari luar kota, ya disambut dengan membuat teh atau apa saja bukan malah diamuk dan dituduh macam-macam."


"Ceraikan aku, Mas! Menikahlah dengan perempuan yang kau anggap baik. Aku capek perempuan itu selalu menggangguku dan mengatakan kamu kerja karena andil dia. Kita makan karena andil dia. Aku muak. Jika kamu tidak mau berhenti dari perusahaan itu, ya sudah. Ceraikan saja aku. Kamu pikir aku tidak lelah diganggu olehnya setiap hari. Dari mulai kata sampai status. Tapi toh kamu selalu membela dia, kamu selalu menganggap dia baik karena telah memberimu kursi manager."


"Arini ada apa dengan kamu?" Ilham bertambah murka. Ia tak menyangka Arini begitu sensitif sampai meminta hal yang diluar sangkanya.

__ADS_1


"Ceraikan aku, kamu masih dengar 'kan!" ucapnya pelan tapi menekan. Wajah Arini panas.


"Sudah aku bilang, pasti ini tulah dari anak itu. Dia pembawa sial!" umpat Ilham kesal. Merasa kalau apa yang mereka alami kesialan dari Satya.


"Walau seribu kali kamu membenci Satya, aku tetap membawa anak itu hidup bersamaku." Arini bertambah sakit hati mendengar kalimat Ilham tentang Satya. Terluka.


"Apa kau lebih mementingkan anak itu daripada aku?"


"Tidak usah berspekulasi, ceraikan aku!" teriak Arini kuat. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, Ilham mendengar perempuan itu menangis terisak. Hatinya terluka. Tapi, Ilham selalu menganggap santai segalanya.


"Ceraikan aku, Mas!" ulang Arini lagi. Entah mengapa hatinya begitu sakit mendengar Ilham meminta Satya dikembalikan dipertengkaran lalu, dan sekarang seolah anak itu bagi Ilham hal tidak penting dalam ikatan pernikahan.


"Aku menginginkan anak kita bukan anak orang lain, ini bukti kalau aku mencintai kamu, Arini! Blokir akun si Mira. Selesai perkaranya."


"Tidak semudah itu. Kamu selalu santai menanggapi semua ini. Aku benci kamu, Mas!"


Persetan dengan cinta.


Arini telanjur terluka perasaannya.


Padahal Aisyah Radhiyallahu Anha, istri Rasulullah tidak memiliki anak, justru menjadi istri paling dicinta.


Hati yang telah tergores bagi seorang wanita, berpisah sepertinya jalan terbaik.


"Sebegitu banyak kalimat lain, mengapa kamu harus minta cerai. Apa kamu mampu hidup tanpa aku. Jangan, jangan kamu yang punya lelaki lain."

__ADS_1


"Apa?"


"Cerai dan cerai. Tidak adakah stok kalimat lain, Arini. Jangan kamu mancing-mancing aku Arini, kau tau aku sangat mencintaimu."


__ADS_2