Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Ilham Bermohon


__ADS_3

Meli dan Ronald sangat paham bagaimana watak Ilham. Tidak suka bekerjasama, emosian, ego tinggi. Tidak ingin terlihat lemah. Makanya Ilham akrab dengan perusahaan Franve, karena itu satu-satunya perusahaan yang tidak terlibat bisnis dengan keluarga Penang. "Arini," suara bariton seseorang menyapa.


Meli dan Ronal saling pandang. Rian mencebik licik. Berlalu sebelum Arini berbuat lebih mengerikan. "Awas kalau sampai terjadi sesuatu pada lelaki tadi, lehermu taruhannya," ancam Arini pelan tapi tajam tepat ke telinga Rian sebelum Ilham datang mendekat. Rian mematikan power ponselnya setelah celotehan Karin panjang lebar. Mengapa juga keponakannya itu jadi terkesan menyukai Burhan?


Bukan cuma Rian yang kesal, tapi Arini tak kalah sinis menatap kesal pada Karina.


Rian.tidak jadi menelpon anak buahnya. Ia berdecak gusar. Ancaman Arini ternyata berefek. Manusia yang tadinya hendak menonton gratis drama adu jetos.terutama anak-anak Arya, Bagas dan lainnya. Mundur teratur.


Kibasan tangan Rian mengendalikan acara kembali tenang.


Mereka semua tidak ingin Jansen Kamandanu mengetahui ada ribut-ribut lalu membatalkan pembagian hasil perusahaan.


Pembagian yang memang diadakan sekali setahun berketepatan dengan hari ulang tahun sang nenek.


Ilham mendekati Arini, Lelaki itu tidak tahu sama sekali apa yang baru saja terjadi. Ia berpapasan dengan Burhan sebelum masuk ke dalam.


"Kau datang?" tanyanya tanpa curiga.


"Hanya mengantar Nyonya," jawab Burhan singkat, langsung berlalu. Walaupun berteman sejak kecil, tapi, Ilham tidak pernah akrab berdekatan apalagi selalu bersama Burhan. Kerap dibantu, menerima sumbangan amal dari keluarga Ilham. Membuat Ilham merasa Burhan bukan circle bagian hidupnya.


Keluarga Burhan memang berdiri pada garis bawah keluarga Ilham. Sedari dulu.


"Ada apa ini, Om?" tanya Ilham menatap Rian yang menyeka sudut bibir. Melirik Meli. Ibunya hanya mengedikkan bahu.


"Cuma insiden kecil, tidak ada masalah." Ronald menepuk pundak Ilham. Tersenyum semringah.


"Tidak ada masalah, Nak. Hanya salah paham sedikit. Silakan bersama Arini." Ronald Menarik tangan Meli berlalu.


"Sebentar, mengapa bibir Om Rian berdarah?" tanya Ilham pada Arini, heran.


"Sudah papi bilang, Om Rian cuma kena insiden kecil, udah, gak usah diurus." Ronald mengambil alih menjawab.


"Arini kamu gak kenapa-napa, kan, sayang?" Ilham memindai tubuh Arini takut terjadi sesuatu. Arini menggeleng. Sorot bahagia menguar dari bola mata Ilham. Saat menyadari Arini datang lebih awal di pesta kakeknya itu, ia merasa wanita itu masih mencintainya.


Menatap Arini yang begitu mempesona malam ini, di hati kecilnya menyesal sekali menganggurkan diri untuk datang sendiri.

__ADS_1


Ilham berpikir kalau Arini datang karena masih mencintainya. Padahal karena permintaan Meli dan juga kesumat yang mengakar di hati Arini Wanita itu kini tidak lagi bisa membedakan antara cinta dan dendam.


Tanpa sadar Ilham memangkas jarak antara dirinya dan Arini, menyentuh lembut lengan sang mantan istri.


Arini hendak menepis, tapi, ia takut mengacaukan acara. Akhirnya ia memilih diam saja, padahal sangat ingin menepis, rasa itu telah menguap, hatinya telanjur hambar.


Saat tangan Ilham membimbingnya ke kursi panjang dengan bahan jati berukir naga meliuk.


Arini tetap diam. Kadang reaksinya jutek, jika ia tidak mampu mengontrol emosi.


Kadang Arini sengaja lembut dan mendayu, memancing naluri. Hal itu sengaja ia lakukan untuk mengejek Ilham, bukan karena keinginan.


Ia sendiri sudah tidak mengenali dirinya lagi. "Terimakasih sudah hadir di acara ini," ucap Ilham hati-hati. Wanita itu balas menatapnya, malas. Tanpa respon, pun tanpa ekspresi.


Wajah sendu Arini membuat hati Ilham menyesal telah menyakiti. Arini lagi-lagi diam. Hening--sehening hatinya.


Rian mencelos kesal setelah melihat kedua pasang manusia duduk bersama. Berarti kabar yang Mira berikan hoax. Artinya Ilham dan Arini tidak bercerai. Fix. Hati Rian panas bukan main, ingin segera mendamprat Mira, si mata-mata yang tiada guna.


Padahal ia sangat paham karakter Arini yang legowo namun posesif. Sedangkan Ilham si santai pemilik ego tinggi, dan emosi yang sukar dikendalikan. Kecuali dengan diam dan kesabaran. Tapi, perempuan seperti Arini tidak mungkin hanya akan diam dan sabar saat si emosian smart itu masuk dalam perangkap Mira. Rian harus membayar mahal untuk sebuah kata yang terlontar.


"Mira, awas kau! kau harus kubuat berhitung tentang jumlah malu ini," umpat Rian kesal.


"Lihat, Pi anak, kita. Semoga awal yang baik. Aku takut Arini jatuh cinta pada Burhan," bisik Meli pelan di telinga Ronald.


"Siapa Burhan?" tanya Ronald bingung, dan Meli telanjur ceplos mengatakan. Awalnya Ronald hanya tahu Ilham dan Arini berkonflik.


Ia pikir itu hal biasa dalam berumah tangga.


Akhirnya Meli terpaksa bercerita. Ronald tampak merenung setelah mendengar cerita istrinya. Ronald sama sekali tidak mengetahui perihal nikah muhallil yang dilakukan putranya. Meli sengaja menyembunyikan. Toh, mereka akan kembali menjadi suami istri setelah drama ini. Begitu pikir Meli. Ia takut, putra tercinta dan suaminya terlibat perang mulut.


"Jadi pemuda yang meninju Rian tadi namanya Burhan? Dan dia seorang Muhallil."


“Ya Benar.”


"Ya, aku takut bukan hanya Burhan yang tidak ingin bercerai dari Arini. Tapi, lebih dari itu. Mereka satu rumah. Bayangkan! Jika Arini yang jatuh cinta, apa jadinya Ilham nanti. Aku tidak bisa membayangkan," ucap Ronald, membuat Meli mendesah pelan, resah.

__ADS_1


Sesak memikirkaan nasib putra semata wayangnya yang salah langkah.


"Aku juga tidak tahu apa jadinya jika Ilham tidak lagi bisa rujuk pada Arini. Keegoisannya sebagai lelaki dengan memasukkan Mira dalam kehidupan, kini, harus ia sesali."


"Harusnya anak kita seperti Papi. Semarah apapun mama. Seribu kali dalam sehari meminta cerai, Papi selalu tersenyum menanggapi, karena papi tau sejatinya wanita memang sangat mudah mengucapkan kata talak. Untuk itu Allah memberi hak veto pada diri tiap lelaki, bukan wanita." Ronald ikut mendesah panjang. Memijit pelipisnya kecewa.


"Kalau wanita yang punya hak veto talak, dijamin seluruh pernikahan di dunia ini isinya janda dan duda. Menikah hanya untuk bercerai," tambah Ronald kemudian.


"Ma sya Allah sekali hukum Tuhan ya, Pi." Meli menggenggam tangan Ronald. Keduanya hening.


Menatap anak dan mantan menantu dari kejauhan.


Di kursi yang terpisah. Arini yang sebelum berangkat masih berbicara sayang pada Ilham. Kini tampak diam. Pikirannya melayang.


'Di mana si bodoh itu? Apa dia memata-mataiku sampai begitu berani datang ke sini?'


"Kok diam, sayang, apa kamu diganggu seseorang?" tanya Ilham memangkas jarak pada mantan istri.


"Siapa yang berani mengganggu istri seorang Ilham Arya Penang? bukankah semua orang di sini mengetahui kalau aku masih menjadi istrimh." Arini menyunggingkan senyum mengejek. Jawaban Arini benar. Siapa yang akan mengganggunya di luaran? tentu saja tidak ada yang berani.


Tentu hanya keluarga Penang sendiri yang berani mengganggunya, seperti Rian. Itu yang dimaksud Arini. Tapi Ilham tidak membaca signal yang diberikan.


"Bicaralah dengan biasa, Sayang! Mas mohon, jangan rentangkan jarak antara kita, kamu kerap berubah-ubah. Mas seolah tidak mengenal kamu," ucap Ilham menggenggam lembut tangan Arini.


"Aku harus bicara apa, Mas?" Akhirnya Arini membalas kalimat Ilham--jutek. Ia begitu jijik melihat mantan suaminya itu. Entah menguap ke mana semua cinta sempurna yang pernah mereka miliki. Memanggil Ilham dengan sebutan Mas- membuat mual dirinya.


"Setidaknya katakan kamu mencintaiku, seperti yang sering kamu lakukan dulu," ulas Ilham lagi. Menunduk menahan retinanya agar tidak berkaca, entah mengapa. Malam ini ia terlihat begitu menyesal. Takut kehilangan.


"Oh ... itu. Aku tidak ingin menjadi munafik. Mengaku mencintai ternyata mengkhianati," ucap Arini datar tanpa ekspresi. Menyindir telak.


"Arini, aku menyesal atas semua yang terjadi, aku menyesal melepaskan kalimat talak di awal, dan andai kamu tidak mengucapkan sarat pra nikah," ucap Ilham merangkul Arini lebih dekat. Menyesali pernah ingin memberi pelajaran pada Arini, justru itu bagian dari yang ia sesali sampai kini.


"Mas, sudahlah! Tidak perlu menyesal. Mungkin memang sudah sampai di sini takdir jodoh kita. Aku yakin suatu hari Mas akan menemukan cinta yang lain selama aku masih belum bercerai dari Burhan, yang mungkin bisa mengerti sifat Mas yang begitu gaul serta bebas kepada teman wanita," Arini melepas genggaman tangan Ilham.


"Apa yang kamu katakan? Aku tidak pernah mencintai wanita lain. Burhan segera menceraikan kamu. Aku sampai tidak kuat membayangkan kalian tidur berdua sebelum ia benar-benar menjatuhkan talak. Mengapa hukum agama rumit sekali."

__ADS_1


"Ingat, Mas! Rujuk setelah talak tiga itu tidak seenak makan nasi cepat saji. Tersedia secepatnya. Padahal banyak prosedur yang harus dilalui. Hukum agama tidak rumit, justru menjagaku dari bajingan-bajingan syahwat seperti kalian." Ilham tersedak. Mata Arini berubah nyalang lagi. Wajah yang dulu begitu cantik kini terlihat guratan-guratan lelah bergaris kerut. Sepertinya Arini tidak peduli akan make up lagi. Pelajaran hidup telah membuatnya melempar cinta sejauh mungkin.


"Arini, maafkan aku!" Ilham meraih tangan mungil itu. Ada yang menganak di pipinya. Arini memejam mata lelahnya. Ingin menepis segera tangan Ilham, namun urung ia lakukan. Ia lelah dengan semua drama ini.


__ADS_2