Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Cerai


__ADS_3

Cerai adalah bom yang mengguncang Arasy.


Kata yang paling Allah laknat adalah cerai. Jika ada solusi lain, mengapa harus bercerai? Emosi, bujukan setan, rayuan hormon egoisme telah menang melawan gumpalan kecil bernama hati.


Petaka pertama di rumahtangga Arini-Ilham.


(Ada yang cerai. Apa aku harus potong tumpeng?)


Status baru memenuhi beranda Mira. Arini melotot tak percaya. Belum lima menit dari ia keluar rumah, Mira sudah mengetahui.


Bertabungan talak seharusnya membuat Ilham berhati-hati. Sebab setan, iblis ada di mana-mana.


Akhirnya kabar talak itu pun sampai ke telinga Mira.


Wanita itu bahagia bukan main, selama ini sangat penasaran karena tidak pernah berhasil menggoda Ilham. Kesempatan baginya telah datang, dengan berani, ia datang ke rumah Ilham.


Kebahagiaan menyelimuti hati Mira, demi mendengar tabungan talak rasanya ia sanggup memindahkan Monas ke Kalimantan saja. Setelah sebelumnya Mira tahu betul rumahtangga incarannya itu sedang tidak baik-baik saja sejak kedatangan bayi adopsi bernama Satya.


Sesosok mungil yang ditinggal orangtuanya di depan rumah Bidan Rinjani sahabat Meli.


"Untuk saat ini, jangan dulu datang ke rumahku, Mir," tolak Ilham. Ketika Mira sampai di pintu rumahnya. Penolakan itu membuat Mira mencebik kesal. Ilham kembali mendinginkannya hanya karena Arini.


'Apa dia terlalu mencintai istrinya yang tak seberapa itu?" umpat Mira mendentum kakinya di depan pintu rumah Ilham.


"Aku dan Arini sedang bermasalah, plis, aku mohon kamu ngerti, istriku sangat cemburu padamu, aku hanya memberinya pelajaran kecil. Kau tau, kan Mira. Aku sangat mencintai istriku."


"Kau salah paham Ilham, aku datang justru ingin mengembalikan mood kamu, Pak Pram yang menyuruhku kemari." Mira akhirnya menjual nama Prambudi. Pemilik perusahaan.


"Aku sudah meminta izin pada Pak Pram untuk tidak masuk kantor beberapa hari."


"Oh aku tidak tau, maaf. Aku pikir kamu butuh istirahat biasa. Aku salah mengambil kesimpulan berita, baiklah Ilham. Selamat meliburkan diri, jangan bucin akut. Kamu itu bertalenta di dunia bisnis. Proyek kita masih panjang, bahkan Pak Pram mau ngasih hadiah mengelola perusahaan di Qatar."


"Aku sudah tau semua itu, Mira. Bisakah kau pulang dulu. Aku belum tidur barang semenit pun. Aku lelah."


"Baiklah, Aku pulang!" Mira meninggalkan kediaman Ilham.


"Tunggu Ilham, kau pasti kudapatkan!" Mira melempar seringainya dalam hati.*


**


"Arini!" Meli memeluk menantunya yang mendadak datang. Menantu yang paham akan agama, jika bertengkar maka akan mendatangi rumah mertua bukan rumah keluarganya. Itulah hal yang sangat Meli sukai dari Arini.


Gadis yang pandai menempatkan posisi saat marah, bertengkar bisa membedakan. "Ada apa ini, Nak?"


"Arini diceraikan," jawabnya pilu. Menceritakan kronologis pertengkaran antara dirinya dan Ilham.


"Arini tidak akan pernah meninggalkan Satya, Ma. Apapun yang terjadi dalam hidup Arini." "Mama paham sayang, urusan Ilham mama dan papi akan turun langsung.


Biar bagaimanapun Papi itu masih punya kuasa di sana. Mama akan cek seperti apa Mira itu. Kamu tenang, ya. Mama akan selalu berdiri di pihak kamu." Arini bernapas lega. Perlakuan Meli salah satu obat paling manjur untuk hatinya yang kerap sakit akibat kata-kata Ilham.


Apalagi itu tentang tangisan seorang bayi yang belum hadir, meskipun sudah dipancing dengan kedatangan Satya. Talak satu telah jatuh. Sebelum masa Iddah selesai, Ilham sendiri justru memanggil Paman Arini--Lian dan Meli--Ibunya.


Agar Arini kembali ke rumah. Ia masih mencintai Arini. Petuah nasehat mereka dapatkan. Meli sangat takut keduanya rujuk kemudian bertengkar lagi. Jika merek bertengkar lagi. Dengan begitu mudah Ilham jatuhkan talak. Maka Arini tak lagi bisa kembali. Kalaupun kembali goresan di hati tidaklah semudah menyiram tahi kucing di halaman rumah.


Meli menunduk, takut. Ia menyayangi Arini. Sebab gadis itu kini hanya sebatang kara. Sedari dulu sudah mengenal Arini. Meli merasa tidak akan ada yang bisa menyeimbangkan sifat anak lelakinya selain Arini.


"Ilham, saat kalian bertengkar, istigfar dan ambil wudhu. Papimu tidak pernah menjatuhkan talak pada Mama, sehebat apapun pertengkaran kami. Mama takut, Nak!"


"Ya, Ma. Kadang Ilham tidak mengerti isi pikiran Arini. Mengapa hal kecil selalu dibesar-besarkan. Sudah berapa kali Ilham bilang, Mira itu bukan tipe Ilham. Tapi, Arini selalu menyikapi cemburunya dengan berlebihan."

__ADS_1


"Itulah wanita sayang ... Harusnya kamu bersyukur punya istri seperti Arini. Dia menyelesaikan masalah pada keluarga, tidak membombardir Mira ke kantornya. Ingat tidak dengan calon istri bos kamu itu--Maira. Mama tidak suka Rian. Meskipun paman kamu, biarkan mama memanggilnya dengan sebutan 'bos kamu' saja. Ingat, si Pram direktur Franve, istrinya Kayla bahkan sampai menarik rambut Mira ke tengah jalan dan mempermalukan, sedangkan Arini tidak pernah seperti itu." Meli mengingat tragedi ulang tahun perusahaan Penang.


Meli ikut diundang karena acara penyerahan penghargaan direktur terbaik. Manajemen di seluruh anak cabang perusahaan, direktur terbaik diraih oleh Ilham Arya Penang. Perusahaan mengundang secara hormat Meli hadir sebagai bentuk penghormatan jasa telah membesarkan buah hati. Selesai acara itu tragedi jambak-jambakan pun terjadi.


"Bu Kayla wajar marah, Ma. Apalagi Mayra, Mira memang punya affair dengan Om Rian. Tapi, Ilham kan tidak punya hubungan apa-apa dengan Mira."


"Itu kata kamu sebagai lelaki. Hati wanita itu ibarat kaca, Nak. Talak itu kata yang sangat kejam, ibarat silet, talak bagai silet bedah tubuh, mama sangat paham bagaimana perasaan Arini saat kamu talak. Mengapa tidak kamu turuti permintaannya. Berhenti dan buat usaha lain."


"Ilham ngak ngerti dengan butik, Ma?"


"Masalah usaha kalian bisa bicara? Tidak harus butik, kan?"


"Kalau--usaha itu jalan, Ma. Kalau rugi! Ilham nyaman dengan pekerjaan ini. Bos Pram sangat baik dengan Ilham. Om Rian juga sudah tidak suuzon kayak dulu lagi."


"Terserah kamu, bisa jadi semua skenario Mira. Mama hanya mengingatkan. Hati wanita itu bisa sekuat baja. Kadang bisa tiba-tiba rapuh, jika retak kamu tidak bisa merekatkan lagi seperti semula." Nasehat sang ibunda. Begitu dalam.


Sebelum jatuh masa iddah tiga kali suci, pertemuan Arini dan Ilham digelar.


"Bagaimana, Nak. Apa kamu bisa maafin Ilham?"


"In sya Allah Arini akan coba maafin Ilham, Ma. Arini akan coba untuk tidak cemburu berlebihan." Di ujung kursi Ilham tersenyum lebar. Ia sudah yakin Arini amat mencintainya. "Maafin mama, ya, Nak. Mama jarang dampingi kalian." Meli memeluk Arini. Memberi kode pada Paman Lian untuk pulang, membiarkan Arini dan Ilham menyelesaikan masalah mereka. Selesai. Keduanya rujuk kembali.


**


Mengucapkan talak tidaklah bisa sembarangan. Ibarat pecandu narkoba, akan terus ketagihan, ditambah godaan Mira lebih bohay dan lihai, sejak tahu Ilham meminta rujuk pada Arini.


"Kau tau Arini, demi kalian aku telah berbohong pada bos dan karyawan lainnya. Aku mengatakan kami tidak punya hubungan apa-apa. Padahal, setiap jam istirahat, aku selalu membelikan makanan kesukaan Ilham. Di tempat kerja Ilham tidak konsentrasi gara-gara kalian selalu bertengkar. Aku kasihan! Mengapa bisa wanita emosian sepertimu bisa dinikahi Ilham. Jika tak sanggup lepaskan saja!" Mira berlalu setelah datang dengan mengaku hendak mengantar laporan bulanan pada Ilham. Gigi Arini menggeram. Kalimat Mira itu terus melekat, menyatu di kepalanya.


Jika ia mengadu pada Ilham, lagi-lagi Arini yang akan salah. Ilham akan terus menyalahkannya, mengatakan cemburunya berlebihan, tidak tertarik pada Mira, tapi tertawa bersama saat makan siang. Entahlah!


"Oh, ya. Kalau begitu suruh saja Ilham menceraikan aku."


"Wanita sombong," umpat Mira.


"Kau memfitnah, tuan Pram menyuruhku untuk memberikan file kepada Ilham." Mira membela diri.


"Apakah tugas Nina sekretaris tuan Pram sudah kau gantikan? Mengapa tidak jadi istrinya saja. Kau takut Pram brangkut, karena pemegang saham adalah istri sah--nya. Jadi main aman, pilih jadi selingkuhan." Mira mengepal tangan disindir habis-habisan.


Penuh kesumat berjanji dalam hati segera menyingkirkan Arini. Karena Mira paham Ilham dan Pram dua yang berbeda. Ilham lebih mudah ditaklukkan belum memiliki anak kandung sendiri. Pram sudah memiliki tiga orang anak. Istri galak, segala aset suami atas nama istrinya. Berbeda dengan Arini yang sama sekali tidak pernah mau tau urusan harta gono-gini.


Tidak sabar menunggu Ilham pulang. Begitu mudahnya lelaki itu mengucapkan talak dan merujuknya. Kini Arini ingin Ilham menjauh dari Mira. Ia jenuh selalu berurusan dengan wanita genit itu. Jenuh, sebab Ilham tak pernah mengerti dan selalu membantah ucapan Arini tentang Mira. Bagi Ilham cukup Arini tidak menggubris apapun omongan Mira. Percaya padanya. Sudah begitu saja.


"Benarkah Mas setiap hari dibelikan makan siang oleh Mira?" Pertanyaan Arini terlontar saat kaki Ilham baru selangkah di depan pintu, pulang kerja. Ilham berhenti sejenak.


"Apa dia mengatakannnya?"


"Ya."


"Benar, emang kenapa Arini? Tidak ada masalah jika Mira membelikan, apa menurutmu itu masalah?"


"Mengapa Mas menerima? Mas tahu Mira itu suka sama, Mas. Kenapa tidak menolak pemberian Mira."


"Sudahlah Arini. Jangan bahas ini. Kita baru saja rujuk. Mas tidak punya hubungan apapun dengan Mira. Kamu bisa tanya seluruh karyawan. Perihal mas menerima pemberiannya, hanya karena takut dia tersinggung, ditambah lagi dia itu dekat dengan bos. Harus berapa kali ini kita bahas?"


"Baiklah, Mas. Maafkan aku," ucap Arini. Ia berlalu membawa tas Ilham ke dalam kamar. Hatinya masih sakit tentang Satya, tapi, Ilham tidak lagi pernah membahas soal tulah. Ingin rasanya Arini melontarkan kalimat, Mira adalah tulah bagi rumahtangganya. Namun gagal, lidah Arini bagai terpaku kelu. Haruskah Arini percaya pada Ilham?


*


Keesokan harinya, Arini sengaja membawa bekal makan siang ke kantor Ilham. Ia tidak ingin suaminya terus menerus makan bersama wanita itu. Dulu, Ilham yang mengatakan tidak perlu repot membawakannya bekal. Karena Ia ingin setiap jam istirahat pulang ke rumah untuk makan siang bersama. Tapi, ucapan tinggal ucapan, sejak perutnya selalu disodorkan kenyamanan dan lidahnya dinyamankan dengan selera makanan. Ilham tak pernah makan siang di rumah. Arini protes. Lagi-lagi jawaban Ilham sangat santai sekali.

__ADS_1


"Sudahlah Arini. Jatah uang kita jadi hemat, kalau si Mira beliin terus. Ngapain dipikirkan yang penting Mas tidak mau sama dia. Biarkan saja dia belikan Mas apapun. Kan bukan mas yang minta." Alasan Ilham selalu begitu.


Siang itu, Kaki Arini bagai diberi perekat, di sudut ruang makan. Tampak Mira tertawa bahagia bersama Ilham. Menyantap makanan bersama. Ilham tidak merasa itu salah. Bagi Ilham kadar cinta untuk Arini tidak akan terganti. Tapi, Ilham lupa bagaimana memupuknya agar tidak layu.


"Mas!"


"Arini." Ilham terkejut membalik badan. Arini berbalik lari ke luar ruangan. Senyum Mira mengembang. Tipe seorang Ilham meskipun begitu mencintai Arini tapi Ilham bukan seorang suami yang bisa mengendalikan emosi. Tujuh tahun bersama, Arini sosok wanita hebat bisa bertahan. Pertengkaran hebat pun terjadi lagi.


"Ada apa dengan kamu Arini? Kami hanya makan, bukan berciuman, tekan rasa cemburumu yang berlebihan itu. Sudah tidak pada tempatnya."


"Mas tertawa bahagia banget dengan dia, apa Mas tidak sadar? Begitu juga Mira. Kalian berdua di sana. Tidak ada karyawan lain. Bahkan Mira beberapa kali menyuapkan nasi ke mulut kamu, Mas."


"Ya ampun Arini! Aku capek bertengkar denganmu hanya karena Mira-mira-mira." Ilham membentak Arini. Di kantornya. Wajah wanita itu pias terkejut. Bentakan ke berapa setelah Mira masuk di kehidupan mereka.


"Kamu bahkan tidak tahu Mira itu sudah berbuat banyak pada keluarga kita. Ia bahkan meminjamkan modal yang kuberikan padamu untuk butik itu. Kamu gak jadi jual warisan itu berkah Mira. Harusnya berterimakasih padanya."


Tess.


Serasa silet menyayat jantung Arini.


"Kita cerai, Mas." Tanpa basa-basi Arini mengucapkan kalimat bahaya lagi.


"Kamu ya, Arini, jangan suka mancing-mancing!" Geram sudah Ilham dibuatnya. Ia akan memberi pelajaran pada istrinya itu--lagi.


Emosi Ilham yang baru saja istirahat dari pekerjaan, makan siang dengan cengkrama Mira, bertambah frekuensinya sebab alasan cemburu Arini yang menurut Ilham tidak pada tempatnya.


"Pulanglah! Aku akan ke rumah. Kita selesaikan di rumah." Mira tertawa lebar. Usahanya berhasil. Sepasang mata mengintai dari kejauhan. Sepasang mata sendu yang kerap memperhatikan gerak-gerik kedua pasangan itu.


Habibie Burhanuddin. Ia tahu. Ilham tidak merasa bersalah. Padahal, acap kepergok saling sikut dan saling sentuh walau hanya tangan dan gerakan bahasa tubuh pada Mira. Sungguh hal itu cikal bakal perbuatan lainnya. *


Ilham mengambil seluruh pakaian dan koper, ia keluar dari rumah. 'Akan kuberi kau pelajaran, Arini. Aku tidak akan kembali dalam beberapa hari. Agar kau tau, rasanya butuh suamimu ini. Ilham pun pergi. Arini hanya diam mematung menyaksikan. Sampai di mana keegoan suaminya berlangsung.


(Ilham, kamu di mana? Tadi aku meminta gofood untuk mengantar makan malammu, aku yakin kamu belum makan. Pasti kalian bertengkar ya. Yang sabar ya, Ilham. Maafkan aku, kalau kalian bertengkar karena aku, aku akan ke rumahmu dan minta maaf pada Arini.)- Pesan dari Mira.


Ilham berdecak. Bahkan Mira rela meminta maaf pada Arini, padahal dia tidak salah. Sedangkan Arini bebal, keras kepala, cemburu berlebihan. Rutuk Ilham di tengah jalan. Ia sedang membuka aplikasi penginapan.


Tiba-tiba sorot lampu memainkan iris legamnya--silau.


"Ayo, Naik! Mau ke mana bawa koper segala? Kamu diusir Arini?" Mira keluar mobil, dan menarik koper Ilham tanpa persetujuan. Entah mengapa Ilham mengikuti Mira. Masuk ke dalam mobil. Meluncur membelah jalanan.


*


"Nyonya memanggil saya?" tanya Burhan menatap punggung Arini yang terekspos secara langsung. Lembaran-lembaran kejadian lampau berangsur padam sejenak di pikiran Arini. Menyadari Burhan berdiri di belakangnya.


"Berapa kali aku katakan, jangan panggil aku nyonya. Aku ini istri kamu. Aku ingin bertemu Bu Dena." "Mama saja sudah dibawa pulang, tinggal rawat jalan."


"Ya, aku tau, bawa saya bertemu Bu Dena." Burhan geleng kepala, sebentar memanggil dirinya aku, sebentar jadi saya. Sangat tidak konsisten, ciri-ciri orang sakit jiwa. Apa Arini sakit jiwa? 'Lumpuh sekalipun, aku akan selalu menjagamu.' Burhan bermonolog. Tersenyum miring.


"Tapi, Bu. Nanti malam Pak Ilham mau ke ke rumah, bagaimana kalau dia tidak menemukan kita di sana."


"Dasar lelaki banci, Ilham itu bukan siapa-siapa bagiku sekarang. Kamu itu suami aku. Ngerti! Apa aku harus membelah kepalamu agar kau mengerti makna pernikahan?" Burhan terdiam. Dua manik matanya memindai wajah di hadapan. Cantik. Betapa Ilham beruntung mendapatkan. Kejudesannya hanya bagian dari rasa marah yang tak terlepas.


"Jangan memandangku seperti itu, Burhan. Aku takut kau jatuh cinta, dan tidak ingin menceraikan aku." Arini begitu percaya diri mendekat. Memainkan dua jarinya di wajah Burhan.


"Nyonya, masalah Ilham dan Mira, saya akan bantu nyonya untuk selesaikan." "Hei, aku bicara A mengapa kau bicara Z?"


"Baiklah, Arini. Aku akan membawamu ke rumah mertua." Hah. Bola mata Arini membulat demi mendengar Burhan menyebut namanya. Dan menyebut ibunya dengan sebutan mertua-- Kerasukan apa dia? Apa kesal.


"Kau bisa menyetir? Kita bawa mobil saja, jangan sampai kakiku bengkak berjalan kaki seperti tempo hari." Burhan meraih kunci, tentu saja dia bisa menyetir walau tak punya mobil. "Bisakah kau ceritakan padaku bagaimana Ilham mentalak istri cantik sepertimu?" Kali ini Arini benar-benar melotot.

__ADS_1


"Kau kerasukan apa?" bentaknya kasar. Slide show kejadian demi kejadian sebelum masa Ilham melontarkan kalimat talak kembali bermain di kepala Arini. Ia pun bercerita pada Burhan tentang perjalanan talak tiga tanpa ucapan antara dirinya dan Ilham.


"Aku ....


__ADS_2