Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Bibit Cinta


__ADS_3

"Kau Benar-benar tidak selera melihatku, Banci! apa aku kurang cantik di matamu?"


Burhan terbelalak. Baru saja tapak kakinya mendarat di depan pintu. Ia Mendapati Arini dengan lingerie super seksi. Make up tebal dengan alis diukir sembarangan.


Hati Burhan nelangsa. Sungguh ia ingin membunuh Ilham saat itu juga.


Wanita di depannya benar-benar tak karuan. Seolah melampiaskan sakit hati mendalam karena di khianati kekasih.


Begitu dalam cinta Arini untuk Ilham. Sampai tak lagi bisa mengendalikan kewarasannya.


"Nyonya, apa Nyonya sudah makan? saya akan siapkan segera," ucap Burhan bergidik. Naluri kelelakiannya sekuat tenaga berusaha ia tahan. Wanita di hadapan tidak seperti perempuan kebanyakan. Ia hormat pada wanita itu. Burhan ingin ketulusan dalam bercinta bukan kesempatan karena pelampiasan semata.


"Kau suamiku, Bukan? mengapa kau tidak ingin menyentuhku. Apa kau jijik?" tanya Arini dengan mata berkaca-kaca.


Ia menarik Burhan, menempel erat ke tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan, Nyonya?" tanya Burhan Iba.


"Apa tubuhku penuh dengan korengan? Katakan hei pria impot---t--ten, kau bahkan tidak ingin sekedar menggandeng tanganku. Di mana-mana istri menyambut suami dengan cium tangan dan memeluknya, apalagi Amrik bisa langsung ******* bibirnya."


Wanita itu melebarkan mata. Tersenyum menggoda. Memaksa tubuh Burhan menempel erat di tubuhnya.


"Nyonya!" Burhan masih menguasai dirinya. Walau semua ornamen di tubuh lelaki itu meronta-ronta tak terima.


"Mengapa? Mengapa kau harus takut? aku ini istrimu, apa kau sama dengan Ilham, sama-sama tidak punya otak. Mengabaikan istri hanya karena seorang wanita bahenol."


Wanita itu melebarkan matanya lagi. Memaksa tubuh Burhan yang sempat terlepas terkungkung lagi.


"Nyonya, di dapur ada bubur kesukaan Nyonya. Ayo kita makan. Aku masak spesial untukmu." Burhan mengalihkan perhatian Arini.


"Jangan banyak alasan, darimana kau tau bubur kesukaanku. Apa kau sedang ingin meracunku? biar kau bebas meniduri wanita lain? seperti ILHAM."

__ADS_1


Burhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tentu saja ia tahu apapun tentang wanita yang kini tanpa jarak dengannya. Belum saatnya wanita itu tau siapa dia. Menghela napas berat, Burhan mengusap wajahnya. Berpikir keras cara mengembalikan Arini.


"Aku tau Nyonya sangat menyukai bubur jagung, aku sering melihat nyonya memesan bubur yang sama di seberang kantor Pak Ilham. Tunggu di sini! Saya ambilkan bubur jagung manis buat Nyonya. Aku akan lakukan apapun asal itu nyonya suka," ucap Burhan melepaskan pelan cengkraman tangan Arini.


"Tidak perlu. Aku hanya menyukai bubur jagung buatan Kak Asti. Aku acap membeli bubur di depan kantor bos-mu itu karena aku merindukan kakak sepupuku Asti."


"Nyonya bisa menghubungi Asti."


"Kau mengenal kak Asti?"


Burhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menyugar tipis ke arah samping.


"Saya tidak mengenal Asti tapi saya ingin Nyonya melepas rindu pada kakak sepupu Nyonya. Siapa tau Nyonya bahagia mendengar suaranya." Burhan terpaksa berbohong lagi.


Tiba-tiba mata Arini memerah. Melotot ke arah Burhan. Tubuhnya mendekat. Sedetik kemudian ia mencekal kerah baju Burhan.


"Mempermainkan kesakralan pernikahan. Kau dan Ilham, kalian berdua sama busuknya. Apa kau ingin aku lebih hancur dari ini? jangan memutar balik cerita. Aku tidak suka kau sok perhatian padaku, padahal otakmu hanya duit dan duit. dasar pria pengecut tak punya harga diri. Cih!" Burhan terkesiap mendapat perlakuan mendadak. Semprotan saliva mendarat di wajah mulusnya. Mengambil tisu, burhan hening sambil mengusap sisa lelehan saliva milik Arini.


"Hah. Kau bicara Cinta? Apa semua lelaki di atas dunia ini sama. Cinta. cuih. Kalau cinta tidak akan ada wanita hamil selain istrinya."


"Saya akan segera buatkan makan malam untuk Nyonya. Pasti Nyonya suka. Istirahatlah! Nyonya pasti lelah."


Burhan melepaskan pelan tangan Arini yang mengait kuat pada pinggangnya. Ya, Arini berceloteh dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Burhan. Entah apa maksud Arini. Sengaja membuat Burhan kelimpungan menahan jiwa lelakinya.


"Tidak. Kau harus menemaniku," ucap Arini tepat di telinga Burhan. Dengan intonasi sengaja mendesah manja. Tangannya membelai tengkuk Burhan.


Laki-laki itu menarik berat napasnya.


"Saya akan selalu menemani Nyonya di manapun dan kapan pun itu. Sekarang, perut Nyonya harus diisi lebih dulu."


"Kau menolakku, Burhan? apa aku tidak semenarik Mira. Katakan, apa aku perlu membeli obat pembesar."

__ADS_1


"Nyonya!" Burhan tercekat. Sedetik itu tangannya mengepal, murka pada lelaki yang telah begitu jahat melukai hati Arini.


Wanita lembut penuh karisma itu menangis di depannya.


"Kau jahat, aku ini istrimu. Apa aku begitu menjijikkan, sampai kau tak sudi berdekatan denganku," isaknya berkali-kali mengusap lelehan mukus.


Wajah Burhan memerah. Tangan hendak mendekat. Namun Arini lebih dulu sadar seketika melotot.


"Kau mau apa? tadi kau menolakku. Sekarang kau mau menyentuhku. Kau pikir aku suka dikasihani? aku tau kau pasti merasa kasihan, iya kan. iya kan!" teriak wanita itu tampak lelah frustasi.


"Istighfar, Nyonya. Tenangkan diri Nyonya."


"Hei, kau dan Ilham sama saja, sok agamis padahal tukang selingkuh. Jangan ajarin aku istighfar, istighfar itu meminta maaf pada Tuhan, kau kira aku punya dosa. Kalian yang banyak dosa. Dasar tak tahu malu," bentak Arini mendorong tubuh Burhan.


Semenit kemudian dia tertawa terbahak.


"Laki-laki miskin, Malang sekali nasibmu. Mau saja diperbudak Ilham. Mending mau dekati tu si Mira. Kau bisa diberikan pekerjaan layak. Kau bisa banyak uang. Kau bisa hidup mewah tanpa harus takut kekurangan," celotehnya sambil ketawa diiringi air mata yang meluncur tanpa mampu dibendungnya lagi.


Burhan diam. Diam memang pilihan terbaik menghadapi Arini.


"Hei, Budek. Jangan cuma diam. Kalau kau menginginkan duit untuk pernikahan ini. Kau bodoh. Karena kau harus menceraikan aku barulah dapat duitnya." Arini tertawa keras.


"Coba saja kau minta sama Mira. Kau bawa dia ke Motel Jaya, kurasa seluruh hartanya bisa kau renggut untuk bersenang-senang." Arini masih mengoceh tak karuan. Burhan setia mendengarkan tanpa bicara sepatah katapun.


Ia menunggu Arini jeda.


"Kau diam saja? sudah berubah jadi bisu ya?" Arini menyenggol tangan Burhan.


"Bibirmu kemarin manis," ucapnya lagi sambil ketawa keras.


"Nyonya, kau sangat cantik," ucap Burhan tiba-tiba. Arini langsung melotot. Burhan pikir dengan memuji, naluri wanita bisa sedikit mengolah rasa percaya dirinya. Ternyata Arini justru melotot. Menuding jarinya ke atas lalu menunjuk Burhan.

__ADS_1


"Kau mau tidur denganku sekarang? mau secepatnya menceraikan aku. Begitukah, makanya kau memujiku!"


__ADS_2