
Ah, Naluri laki-lakinya meronta-ronta.
Ini halal, batinnya tak terima dihina istri sendiri. Namun, bayang retina mengambang di mata Arini membuat niatnya urung kembali ke dalam rumah.
Sedangkan di dalam rumah, Arini menjatuhkan air mata. Hatinya sakit.
"Terlalu burukkah diri ini? sampai tak ada lelaki yang Sudi menyentuhku," batin Arini menjerit menangis.
Arini kembali ke dapur, senyum mengejek masih menempel di bibir. Tertawa puas setelah berhasil membuat suruhan mantan suami itu kelimpungan tak karuan.
Aroma khas nasi goreng menggugah penciuman. Masakan buatan Burhan. Arini tidak habis pikir, lelaki itu diam selayaknya orang bisu, tapi begitu perhatian.
Setiap bangun pagi, Arini sudah disuguhi sarapan dengan rasa masakan sangat enak. Arini selalu memakannya tanpa sisa. Selain lapar. Ia sudah tidak peduli malu. Apalagi urusan sungkan. Hatinya tidak lagi bisa dikenali.
Patah telah mencipta jiwanya mengerdilkan rasa, tak bisa terprediksi sakit itu seperti apa.
Perih, bagai belati menghunjam di segala sisi.
Burhan. Ya, dia kini telah resmi menjadi suami Arini, sah secara agama tapi tidak pada negara. Disaksikan para saksi, begitu juga mantan suami Arini--Ilham yang mengenalkan Burhan, sekaligus mengatur semua skenario pernikahan itu. Bahkan Ilham pula yang mengatur semua rencana peristiwa yang terjadi esok hari untuk Arini.
Burhan menikahi Arini sebagai muhallil. Kelak masa aktif kontraknya habis, mereka akan bercerai dan Arini kembali menikah dengan Ilham, suami yang telah mentalak tiga dirinya, setelah tujuh tahun bersama.
Air muka wanita itu tenang bagai telaga, tapi tidak pada hatinya. Pecah berkeping, retak diberbagai sisi, hatinya telah tiada rasa. Ia benci laki-laki.
Niatnya tadi menggoda Burhan bukan karena ingin menggoda sebenar-benar menggoda selayaknya ****** pada mangsa, seperti Mira yang berhasil menggoda suaminya.
Mana mungkin sekelas Arini ingin tidur bersama si culun Burhan, si irit kata, tak pernah bicara sekalipun hal penting.
Hanya kesumat kepada tiap lelaki. Menjadikan dirinya tak lagi bisa dikenali. Burhan seolah menjadi komedian, kelinci percobaan untuk keahlian menggoda ala Arini.
Jika saja tadi Burhan tidak menolak. Dengan senang hati Arini akan membuat video adegan mereka berdua kemudian mengirimnya pada Ilham.
Gila.
Ya, dia telah gila, separuh kewarasannya terenggut cinta buta. Hingga air mata tak lagi merembes melewati pipi mulusnya, melainkan menyusur ke dalam jiwa, begitu menyakitkan.
__ADS_1
Belum sembuh kata talak pertama dari mulut Ilham, ia harus dihadapkan dengan begitu banyak konflik hingga membawanya ke tahap ini. Talak tiga telah lolos dari lidah seorang Ilham.
Arini dipaksa menikah dengan laki-laki lain demi bisa kembali kepada mantan suaminya--Ilham.
'Apa bagi mereka pernikahan serupa permainan, hanya karena Arini tidak bisa melawan, tidak lagi memiliki orang tua, Arini benar-benar bertumpu pada Ilham. Lalu, seenaknya mempermainkan ikatan sakral.
Yatim piatu yang hanya memiliki satu saudara, Lela. Lela yang kini jauh di negeri Sumatra Utara, tidak mengetahui kabar Arini, telah mengantongi tabungan talak sebanyak tiga kali.
Orangtua mereka telah tiada. Nasib rumahtangga telah pula mempermainkan rasa.
Sudah satu minggu Arini menikah dengan Burhan. Wanita yang dulu anggun itu kini bagai singa kecil menemukan lawan. Ia sengaja menggoda Burhan. Sebab sakit hati yang begitu mendalam pada Ilham.
Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar mengarungi biduk rumah tangga. Ucapan talak bukan permainan catur, apalagi monopoli kerjasama. Bagi Arini, nikah itu sakral.
Menatap nasi goreng yang masih mengepul asap, dengan wangi seledri menguar, Arini menarik garis bibirnya. Ia benci Ilham, sorot tajam bola mata lentik tanpa eyelash curler, melambangkan permusuhan namun begitu manis ia tahan.
Kesumat mengakar, cinta itu pudar tanpa peduli kesakralan.
Arini tidak peduli siapa Burhan. Bahkan jijik untuk sekadar berdekatan, tapi, wajah angkuh lelaki itu membuat Arini akhirnya merancang perhitungan, agar Burhan paham pernikahan bukan untuk monopoli pekerjaan.
Kalian pikir siapa kalian di mataku? umpat Arini.
Seminggu yang lalu,
"Sah," kor suara para saksi di dalam aula yang dipesan oleh Ilham sendiri. Lelaki di samping Arini menunduk dalam.
"Ini tempat kamu sementara, Arini."
Ilham membawa mereka ke sebuah perumahan sederhana tipe 36, sepanjang jalan Burhan hanya diam, Ilham berceloteh apa yang boleh dan tidak boleh.
Arini tertawa dalam hati. Sejak talak tiga yang tercipta tanpa ucapan, bahkan jika Arini ridho, talak fasakh juga sah untuk pernikahan mereka.
Fasakh merupakan jatuh talak tanpa ucapan.
Walau selanjutnya Ilham bersujud meminta maaf, hati Arini telah beku di saat itu.
__ADS_1
"Sampai kapan aku akan tinggal di sini bersama kawanmu yang bego itu?" tanya Arini sinis. Menatap Burhan yang mengekor mereka.
Ilham tersenyum penuh arti. Ia tidak sia-sia menjadikan Burhan sebagai muhallil. Arini tidak akan tertarik dengannya.
Kamar mereka bahkan terpisah. Pernikahan macam apa ini?
Tanpa Ilham sadari senyum dengan tatapan kosong tersurat jelas dari cetakan wajah Arini.
Burhan, siap-siaplah patah hati karenaku.
Dan kau ... Ilham, bersiaplah masuk rumah sakit jiwa karena telah mempermainkan hal paling sakral di atas dunia.
Ia melipat tangannya ke dalam kantong. Sekilas Burhan menangkap sorot kesumat itu. Lekas berpaling, degub jantungnya bermasalah kala bersirobok dengan netra sendu milik Arini, sejak kalimat sah serentak disorakkan para saksi dan beberapa kolega Ilham di aula itu.
Burhan seolah merasa harus melindungi wanita itu. Tapi sayang, Arini bagai merpati cantik yang tak dapat ia miliki.
'Ini hanya rasa kasihan' bhatin Burhan menolak setitik rasa iba yang muncul. Tatapan tajam dari Arini menarik lega napas Ilham.
Lebih baik begitu. Lebih baik dia tidak menanggapi pernikahan ini. Lebih baik rasa benci di hatinya semakin mengakar.
Hati Burhan tenang, saat ia tahu, Arini begitu sinis menanggapi kehadirannya.
Namun setelah seminggu pernikahan mereka, Arini seolah sengaja menggodanya berkali-kali. Nyaris membuat Burhan sesak napas menahan naluri kelelakiannya sebagai suami sah.
"Nyonya, kalau keluar jangan pakai handuk begitu, takutnya nyonya masuk angin," ucap Burhan masih menundukkan wajah.
Tiga hari lalu, Burhan menasehati Arini yang memang sengaja keluar kamar hanya dengan lilitan handuk. Tawa Arini serupa ejekan menjawab nasehat Burhan. Ia malah pergi ke dapur mengambil sesuatu di atas meja--seperti sebuah pil.
Entahlah. Burhan tidak berani bertanya.
Semakin hari, Arini semakin agresif, Burhan tidak mengerti kenapa kesinisan Arini bisa berubah kalem. Bahkan liar.
Walau masih menyebutnya banci, dan hinaan lain, Arini masih terus menggoda Burhan berkali-kali. Tentu punya niat terselubung yang tidak diketahui Burhan.
Sampai kapan Burhan bertahan?
__ADS_1