
Listrik menyala, beberapa pasang mata menyaksikan drama gratis di tengah lapangan acara. Sosok dengan sudut bibir pecah, dan pemilik wajah ndeso tapi tegas. Keduanya saling menyorot penuh amarah.
Arini melepaskan diri.
"Burhan!" Arini tersentak saat mengetahui siapa di depannya.
"Arini, dari tadi mama nyariin kamu gak kelihatan?" Tiba-tiba Meli sudah ada di antara Rian, Burhan dan Arini. Senyum Arini mengembang. Ia pun mendapat ide.
"Iya, Ma, tadi juga Arini mau nyariin mama tapi di stop melulu sama Pak Rian. Malah dirayu lagi. Masa Arini diajak nikah." Santai sekali Arini mengucapkannya. Rian melotot gusar.
Tentu saja. Dia sama sekali hanya ingin menggoda, dan mempermalukan Abang kandungnya yang super keras kepala. Ronald Arya Penang. Merasa bahwa adiknya itu ingin menggoda menantunya, walau kini jadi mantan menantu.
Mereka tahu--Meli dan Ronal, pasti Rian akan sangat senang mempermalukan abang kandungnya. Dendam kesumat.
Sebenarnya Ronald malu untuk meminta bantuan Arini agar hadir malam ini. Karena ia tahu, setahu Ronald, Arini dalam masa Iddah, dan tidak akan bisa kembali pada Ilham kecuali Arini menikah lagi. Padahal, Arini sudah menikah. Bahkan masa iddahnya sudah selesai jauh hari. ya, hanya Meli yang mengetahui itu. Jika Arini tidak hadir malam ini, kacaulah semua rencana yang Ronald susun tanpa sepengetahuan Ilham. Rencana menumbangkan Rian.
"Siapa dia?" tanya Ronald heran menatap Rian dan Burhan saling bergelora meluap emosi. "Aku yang seharusnya bertanya, siapa cowok sampah ini? Apa kalian mengenalnya? Oh ... Ya. Bukankah tadi kau menyebut namanya dengan begitu pasih Arini?" Rian menyunggingkan senyum melecehkan Burhan.
"Apa dia bodyguard suruhan Ilham? Jangan sampai kau jatuh cinta pada bodyguardmu, Arini?" Rian tertawa kecil. Arini melotot gusar. Meli menarik Arini menjauh.
"Ya, dia office Boy di perusahaan Franve. Juga kepala keamanan yang dipilih langsung oleh Ilham, lelaki dengan seribu medali sebagai pemenang sabuk tertinggi antar negara," jelas Arini memainkan alisnya pada Rian. Sebelum mengikuti langkah Meli ke kursi yang ia tinggalkan.
Lebih tepatnya, Arini menakut-nakuti. Hampir saja Meli terbahak melihat cara Arini menakut-nakuti Rian. Beda dengan Burhan, setelah meninju bibir Rian, ia berpaling cepat keluar dari keramaian, entah ke mana.
"Siapa dia? Aku tidak akan melepaskannya." Rian mengetik ponsel, Arini yang melihat tatapan membunuh Rian ke arah Burhan, secepat kilat Arini berjalan kembali ke tempat Rian berdiri, tangannya menangkap ponsel milik Rian yang masih bertengger di telinga. Membisikkan ancaman pelan tanpa terdengar siapapun kecuali mereka berdua.
"Kau tinggal pilih, bangkrut dengan malu sepanjang zaman, atau bangkrut sebab mengganggu istri orang, sebelum menelpon seseorang, mengganggu orang-orangku, sebaiknya kau melihat pesan video yang masuk pada ponsel kerenmu ini." Arini mengembalikan elektronik berharga itu kembali ke tangan Rian. Ia tersenyum licik.
Mata Rian terbelalak kaget. Melihat video yang dikirim Arini. Video saat dirinya merayu Arini, bahkan ditambah dengan tinju yang menyasar di bibirnya. Benar-benar memalukan. Bukankah tadi listrik padam? Siapa lelaki itu?
"Hei ... jangan kau pikir aku dibantu Burhan. Ponsel pintarku lebih keren dari barang branded pemilik perusahaan Penang." Arini memamerkan ponselnya. Rian meneguk Saliva.
Ia memang gadis cerdas. Pujinya dalam hati.
__ADS_1
"Kau berani sekali padaku, Arini? Apa kau tidak mengenal siapa aku?"
"Lebih berani mana kalian dengan keluargaku?" bisik Arini sarkas. "Oh ya. Kau tidak perlu tau, lupakan ucapanku itu. Tapi kalian akan mendapatkan akibat dari semuanya." Arini tertawa kecil.
"Apa maksud kata-katamu? aku tidak pernah punya urusan dengan keluargamu. Siapa lelaki tadi."
"Kalau aku bilang itu selingkuhanku, kau mau apa? Apa kau mau kucarikan selingkuhan agar Erick meradang?" Ucapan Arini menguarkan warna merah marun di pipi Rian.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak punya maksud apa-apa."
"Erik dan aku tidak punya hubungan apapun. Aku tau ada seseorang yang membuat ulah menyebar gosip skandal. Agar namaku jelek di dunia bisnis. Terbukti Papi tidak mengizinkanku mengelola beberapa perusahaannya.
"Itu urusan keluargamu, bukan urusanku." Arini mengejek puas.
"Om, bawa hadiah apa untuk anniversary kakek Kamandanu?" tanya Karina tiba-tiba ada di antara mereka. Jomblowati tulen, masih remaja, memindai Arini.
"Maaf Onty!" ucapnya lembut. Ngacir ke belakang.
"Bibir Om kenapa?" tanya Karina mundur, tak sengaja menatap bibir Rian yang berdarah di sudut ya, ia baru menyadari ujung bibir Rian ada merah mengental. Hasil perbuatan Burhan.
"Jatuh pas mati lampu, Karin. Tidak usah dipikirkan. Oh ya kamu bawa apa?" tanya Rian, berharap Karina tidak melihat adegan baku hantamnya dengan Burhan.
"Ini liontin termahal dari Inggris. Aku liburan kemarin ke sana. Sengaja beli liontin antik ini untuk hari spesial Kakek. Pasti Nenek Jeni senang."
"Om kasih hadiah bambu kuning dari China. Ini bukan bambu sembarangan. Uniki, klasik dan antik sesuai kesukaan nenek Jeni. Mama juga punya turunan darah Cina."
"Iya Karina tau, Kok. Makanya wajah turunannya tampak oriental."
"Keluarga kita memang harus cantik dan ganteng, jangan sampai ada yang bulukan masuk, seperti lelaki tadi," ucap Rian menatap Arini mengejek.
"Om Ilham ngasih kado apa-an ya, Om?" tanya Karina tanpa melihat Arini.
__ADS_1
"Datang aja dia dah syukur, palingan ayahnya nanti minta bagian paling banyak. Protes lagi pada Om." Ucapan Rian sambil melirik nakal ke arah Arini. Membuat Karina penasaran. Ada apa dengan paman kandungnya itu.
Apa Paman dan Arini punya hubunga? Ia berdecak aneh.
"Om, tadi aku melihat ada laki-laki cakep keluar dari sini, persis Fedi Nuril. Ganteng amat. Dia siapa? Kok bisa ikut acara ini. Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya, Om kenal?" Rian mengerti yang disebut Karina adalah Burhan, si manusia yang meninjunya tadi.
"Mungkin dia seorang OB. Liat aja tampangnya--cocok jadi OB, kan?"
"Issh, Ngada ngada deh, Om Rian. Cowok cakep begitu dikatain OB." Arini meninggalkan dua orang di hadapan. Ke mana si culun itu? Matanya menjurus ke segala arah.
"Tunggu Onty!" Karina mengejar Arini.
"Kenapa, Karin?"
"Karin minta nomor ponsel cowo tadi donk!"
"Onty gak punya."
"Dia kerja di mana, Onty?"
"Di perusahaan Om Rian."
"Duh sayang banget ya, besok Karin udah balik ke Amrik. Tapi Karin janji balik ke Indo lagi bakal ke kantor Om Rian buat dekatin cowo itu. Tipe Karin banget tu. So .. Cool."
Burhan tidak terlihat di mana-mana. Ke mana si naif itu? umpat Arini. Mengepal tangannya mendengar kicauan Karin tentang Burhan.
"Entar kalo Onty punya nomornya kasih ke Karin, ya."
"Hmm," jawab Arini berdehem saja.
"Dia keren tau, Onty!" Karina masih mengoceh.
Gadis itu aneh. Memanggil Rian dengan sebutan Om. Sedangkan memanggil Arini dengan sebutan Onty. Padahal Arini istri Ilham yang tak lain adalah keponakan dari Rian.
__ADS_1