Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Bertengkar


__ADS_3

Ilham dipecat, padahal ia salah satu pewaris perusahaan.


Tentu saja hal yang tidak masuk akal. Faktanya lelaki itu memang dipecat.


Semua permainan dari Rian si ambisius.


Paman kandung Ilham itu dibantu Mira untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Tidak ada satupun yang mengetahui Mira dan Rian sedang merencanakan sesuatu.


*


Kehadiran Mira yang direncanakan Rian, telah berhasil mengacaukan rumahtangga Arini dan Ilham.


Wanita tak tahu diri itu acap kali mengganggu kenyamanan Arini di rumahnya sendiri, sejak Ilham mengiyakan tentang kesepakatan kerjasama di Franve.


Mira sengaja melontarkan kalimat-kalimat bagai penggosok perkakas keluar dari bibirnya untuk Arini setiap mengantar tugas dari Pram untuk Ilham.


"Tanya saja sama suamimu. Kami berdua sering ketahuan bersama, Pak Rian cemburu padanya, kau tau, Arini? Putra bungsu keluarga Penang itu sangat mencintaiku. Ia lebih memilih aku daripada keponakannya. Makanya Ilham dipecat dari Perusahaan Plastik Penang. Aku kasian padanya, tak tega hidupnya yang biasa bergelimang harta harus dicemooh para kolega sendiri. Kuputuskan meminta jatah kursi manager di perusahaan Franve. Pram menyetujui. Karena Franve satu-satunya perusahaan yang tidak punya sangkut paut dengan Plastik Penang. Harusnya kau berterimakasih padaku bukan bermuka masam."


Ucapan Mira yang disengaja, akhirnya membuat Arini engetahui semua tentang pemecatan Ilham dan alasan di balik pemecatan itu, ternyata karena ketahuan bersama Mira.


Tentu saja ia marah besar pada suaminya. Sudah dipecat karena Mira. Sekarang masuk perusahaan lain via Mira. Bodoh atau apa suaminya? Arini mengutuk kesal.

__ADS_1


"Banyak perusahaan, Mas. Kenapa harus di sana lagi, kamu tahu Mira pernah menjebakmu, kenapa masuk ke dalam lubang yang sama." Arini mencoba bicara dari hati ke hati pada Ilham. Ia tidak ingin menyinggung harga diri suaminya. Dari sorot mata Mira, Arini paham, wanita itu menginginkan suaminya.


"Tenanglah, Arini! Jangan membuat runcing masalah. Mas-mu ini tidak mungkin bermain api pada sekretaris genit itu. Justru Mas-lah yang memanfaatkannya. Apa yang keluar dari mulut si Mira, Si Bos percaya. Untuk itu dia Mas manfaatkan. Lagian Mira itu tidak kerja di perusahaan yang sama dengan Mas. Hanya saja dia punya affair dengan Pram Alexander. Dia orang kepercayaan Pram."


"Terus, ngapa dia datang kemari selalu alasan mengantar laporan? kalau dia tidak satu pekerjaan dengan Mas," rutuk Arini kesal.


" Arini Sayang, kamu tidak tau siapa Mira. Dia itu selingkuhan Rian, sekaligus selingkuhan Pram. Pram itu teman papa dulu, sekarang perusahaan mereka saingan bisnis Kakek Jensen. Mas sengaja bekerja di sana. Saham Franve incaran Mas paling utama. Mas harap kamu tidak terpancing dengan Mira. Karena itu yang ia inginkan. Tanpa kamu sebut, Mas tau kok, Sayang. Wanita itu menyukai Mas. Kamu pasti tau juga 'kan, Sayang. Tapi wanita yang ada di hati Mas itu cuma kamu. Ini semua demi saham Franve. Percayalah sama Mas. Mas berusaha melewati pertengkaran kita dengan melakukan hal positif. Mas berusaha menerima Satya demi kamu."


"Yakin kamu bisa, masa mereka gak curiga, Arini yakin, pasti Pram tau kamu cucu Kamandanu."


"Hmm, tentu dia tau. Tapi, bukan Ilham jika tidak bisa memutar resiko. Itulah gunanya Mira, Sayang. Mira justru Mas manfaatin, Mas juga masih kesal sama dia, makanya Mas cari celah buat naik ke atas dengan dalangnya dia, jadi kamu gak usah ragu." Ilham mengusap pundak istrinya. Ia paham sang istri dalam mode cemburu.


Arini memilih percaya, ia tahu sang suami amat mencintainya.


Alasan demi alasan digulir Mira agar bisa selalu membuat Arini tidak nyaman. Ia acap datang ke rumah Arini membuat rumahtangga mereka lagi-lagi goyang.


"Ilham, Pak Pram menyuruhku ikut denganmu bertemu klien dari Singapura," suatu sore Mira datang membawa dua tiket dan memo keberangkatan mereka berdua.


"Mas, bukankah Mira dan kamu tidak satu perusahaan? mengapa dia yang menemani kamu ke luar negeri."


"Mira sudah resign dari perusahaan Plastik Penang. Pak Pram membayar gajinya dua kali lipat. Jadi dia pindah ke Franve sekarang. Menjadi asisten pribadi Pak Pram. Segala sesuatu tugas Pram. Mira yang handle."


Ilham menjelaskan agar Arini tidak salah paham lagi. Mira tersenyum mencibir dari jauh.

__ADS_1


"Maaf Arini, Aku dan Ilham akan berangkat ke luar kota, ini perintah dari direktur. Aku benar-benar minta maaf jika kepergian kami dalam hal tugas membuat kamu tidak nyaman. Andai bisa ditukar aku memilih tidak pergi. Aku juga segan pergi dengan suami orang. Meskipun aku sudah menganggap Ilham itu saudaraku," Jelas Mira mendekati Arini. Berpura-pura mengusap bahu wanita itu. Hati Arini jengkel luar biasa. Satu sisi ia ingin memilih percaya saja. Namun di sisi lain mengingat kepergian mereka berdua saja. Sungguh membuat hatinya miris terluka. Tambah lagi kode kedipan Mata Mira sangat kurang ajar padanya.


"Kita harus menyiapkan berkasnya malam ini, Ilham! besok investor akan melihat presentasi dari tim. Kemudian kita akan berangkat." Mira sejajar berdiri dengan Ilham. Sengaja menyondongkan badannya berdekatan. Arini terbatuk kecil. Ilham seolah tidak mengetahui apa yang barusan Mira lakukan padanya. Ia menerima map dan agenda yang Mira berikan. Setelah itu Mira pamit pulang. Arini langsung masuk ke kamar tidak peduli pada Ilham yang masih berkutat mempelajari apa yang harus dikerjakan esok hari.


*


Hari demi hari, Mira begitu gencar selalu hadir seolah ia asisten Ilham. Anehnya Ilham selalu mengatakan Mira suruhan Pram.


"Jika Mira sudah resign dari perusahaan Penang milik Kakek Jansen. Mengapa wanita itu acap terlihat sering keluar masuk di kantor perusahaan Penang." Arini bertanya pada dirinya sendiri.


Arini juga sering keluar masuk perusahaan itu, jadi dia tahu sepak terjang Mira di sana.


"Jika ia menjadi selingkuhan direktur Franve sendiri. Ini sungguh aneh," bhatin Arini menolak alasan-alasan absurd yang diutarakan Mira di depan Ilham. Ia bingung bagaimana cara memberitahu Ilham bahwa Mira itu sungguh sangat licik. Bahkan Arini beberapa kali memergokinya bermesraan dengan Rian.


Setelah Mira dan Ilham pergi ke Singapura.


Pertengkaran kecil mulai menghiasi Rumahtangga Arini.


Pertemuan intens yang selalu antara Mira dan Ilham di rumah Arini sendiri menjadi alasan utama selisih suami istri itu.


Pertengkaran yang semula hanya masalah kecil lama kelamaan menjadi masalah besar.


"Arini, senyumlah sedikit padaku! Meskipun tidak mengucap terimakasih. Setidaknya kau tau, bahwa tanpa aku, suamimu tidak bisa bekerja lagi." Kalimat itu datang dari mulut Mira, saat berkunjung ke rumah Arini memperlihatkan keakrabannya dengan Ilham. Tentu saja perkataannya tidak didengar oleh Ilham sendiri.

__ADS_1


__ADS_2