Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Pembawa Sial


__ADS_3

Kau tau, Ronal. Anak adopsi cucuku itu pasti telah membawa sial untuknya. Aku tidak suka keturunanku dari anak adopsi. Pulangkan anak itu jika kalian ingin aku menerima Ilham sebagai cucu, dan mendapatkan bagian perusahaan. Jika masih bayi itu ada di sana, kujamin hidup anakmu terlantar karena tidak ada lagi kemewahan," ucap Jansen pada Papi Ilham, Ronald. Ilham yang mengetahui itu. Membenarkan sikap Kakeknya. Ia merasa Satya memang pembawa tulah.


Ia juga yakin, jika Satya dipulangkan maka Kakeknya akan kembali memintanya bekerja, dan sesuai perjanjian. Jika Arini hamil, maka saham bagian Ilham akan diterima dua puluh persen dari perusahaan.


"Pulangkan anak itu, Arini! Kembalikan kepada Bidan Rinjani. Kita akan melakukan baby program, Mas ingin anak dari rahim kamu," jelas Ilham gusar. Entah mengapa hari demi hari ia merasa perkataan kakeknya menelusup ke dalam otaknya.


Ronald telah diberi bagi hasil perusahaan karena ia memiliki seorang anak. Begitu juga Rian. Jika Rian memiliki seorang anak laki-laki maka saham perusahaan akan jatuh padanya. Sementara Ilham belum memiliki anak laki-laki. Garis keturunan dari dirinya masih mentok.


"Tidak, Mas. Aku tidak akan mengembalikan Satya. Aku ibunya, jangan katakan seperti itu lagi. Lihatlah! Betapa polos bayi ini." Arini menggendong Satya memberikan pada Ilham. Hatinya tercabik-cabik. Berharap Ilham tersentuh dengan melihat kepolosan balita mungil itu. Laki-laki yang sebenarnya amat mencintai istrinya itu benar-benar dibuat kesal. Arini yang biasanya patuh dan nurut, mengapa lebih mementingkan bayi tak jelas nasab yang dipungut di rumah Bidan.


Melihat kaca-kaca yang menaungi pelupuk mata Arini. Ilham takut membuat istrinya kecewa. Tidak berani mengatakan kalau ia sudah dipecat dan bertengkar dengan Rian--pamannya. Ilham takut Arini akan bertanya banyak alasan pemecatan dirinya. Ia pun memendam sendirian. Membiarkan Satya tetap berada di rumah mereka. Walau hati kecilnya entah mengapa tidak menerima bayi mungil itu.


*


Seluruh perusahaan yang buka lowongan sudah Ilham datangi, kawan lama yang mengetahui hidupnya dulu mewah sangat prihatin dengan kondisi Ilham. Kondisi Ilham makin hari makin mengerikan.


Badannya kurus, ia hanya makan dan tidur. Malu bersua teman-teman, kawan yang hanya tahu dia banyak harta. Tetap meminta hadir undangan para kolega, Ilham pusing tujuh keliling. Ia yang biasa hidup mewah mendadak segala aksesnya diblokir sang Kakek.


"Butiknya aja kita kembangkan, Mas. In sya Allah rezeki kita terpenuhi. Mungkin ini cara Allah membuat kita berdua selalu sama-sama di rumah. Tidak sering lembur. Pekerjaan juga kita yang ngatur." Suatu hari Arini mengutarakan maksud. Sebab sudah mengetahui perihal suaminya dipecat dari chat Mira. Tapi, ia tak bertanya alasannya apa wanita itu mengirim pesan dan mengatakan suaminya dipecat.


(Ilham dipecat. Kami ketahuan bermesraan) Pesan yang dikirim Mira sama sekali tidak merubah sikap Arini pada Ilham. Ia sama sekali tidak terbakar cemburu. Karena Arini tahu Mira sampah yang harus tidak dipedulikan.


Biarlah Ilham sendiri yang akan cerita. Meskipun Ilham amat mencintai Istrinya, tapi, Ilham bukan lelaki yang ingin tinggal di bawah ketiak istri. Dia tidak mau jika ikut campur urusan ekonomi berbisnis bersama istri. Ego yang terlalu tinggi. Membuatnya tidak suka mendengar pendapat istri.

__ADS_1


"Tidak Arini. Kamu tetap menjadi ibu rumahtangga, Mas tidak ingin kamu bekerja. Mas mau kamu di rumah saja," Begitu jawaban egois Ilham.


Akhirnya hari naas itu datang.


Mira melayangkan sebuah kerjasama pada Ilham.


(Aku akan menolongmu, bukankah kunci kesalahan itu ada padaku? mari bertemu! Aku ingin menebus kesalahan lalu)


Mira mengirim pesan. Dia tidak akan mengganggu Ilham, berjanji akan mengatakan pada direktur mereka, bahwa yang terlihat tidak seperti yang dipikirkan orang. Mereka hanya teman. Mira juga berjanji akan duduk bersama Kakek Jansen dan mengakui bahwa dirinyalah yang menggoda Ilham. Ia mengakui semua kesalahannya.


Ilham yang sudah merasa hidup diujung tanduk, tidak ingin meminta bantuan dari Meli atau siapapun. Ia sangat kesal, karena ibunya justru mendukung Arini dan ide mengembangkan butik.


"Arini tidak salah, Sayang. Sudah saatnya kalian berdua terjun di dunia usaha. Kalian saing bersinergi, tida perlu menadah tangan pada perusahaan keluarga papi kamu." Meli memotivasi Ilham untuk menerima ide Arini.


Ilham sang lelaki ber-ego tinggi tidak suka membuka usaha berbarengan dengan istri. Ia ingin berdikari.


Perusahaan Franve milik pesaing Jansen. Walau tetap satu joinan, dan satu aliran.


Bos Pranve merupakan teman malam bagi Mira. Bertemulah keduanya pada salah satu sudut kafe.


"Aku akan membuat si tua bangka Pram Alexander untuk percaya dan menjadikanmu menajer. Bagaimana? Perusahaan Franve sedang butuh orang sepertimu, Rian tidak ada di sana, Mister Jansen memintanya mengelola perusahaan Plastik Penang. Jika kau menyanggupi ada saratnya," ucap Mira memainkan alisnya.


"Apa saratnya?"

__ADS_1


"Anggap aku sahabat kamu, maafin aku yang dulu sempat membuat kamu terlunta, maklum bos cemburu. Aku panik pada saat itu, Aku janji tidak akan menggangu Arini atau kamu. Aku sadar siapalah diri ini. Sebagai bukti permintaan maafku, maukah kau kembali menjadi sosok yang telaten, manager di Franve? Urusan sama bos, itu bagianku. Aku salah. Aku akan minta maaf juga pada Arini."


"Tidak perlu. Arini bukan perempuan mudah cemburu." Ilham lelah didera pemasukan yang nihil. Baginya kalimat Mira bagai oase yang ia rindukan.


Anehnya lagi, perusahaan apapun tidak ada yang menerima Ilham. Bahkan perusahaan kecil dengan gaji minim, jadi OB misalnya, mana mungkin sekelas mantan direktur berubah jadi OB dan selevel dengan Burhan, bahkan Ilham pernah memegang tampuk kekuasaan menjadi pemegang lima puluh persen saham perusahaan. Bagi hasil karena ayahnya memiliki anak laki-laki yaitu dirinya. Namun hidup bermewah-mewah itu bangkrut seketika. Berpikir sejenak akhirnya ia pun menerima tawaran Mira. Mira yang cinta mati pada Ilham tertawa puas, rencananya berhasil.


Ilham dipanggil bos perusahaan, bahkan diangkat menjadi manager. Kantongnya pun bisa bernapas lega. Mira tidak lagi menunjukkan dirinya jatuh cinta, ia benar-benar lihai.


Menganggap Ilham seorang sahabat. Agar mereka semakin dekat. Padahal rencana terselubung telah menanti.


*


Hari demi hari mereka lalui bersam kembali. Ilham mengira, Pram Alexander memiliki hubungan spesial dengan Mira. Hingga ia sama sekali tidak curiga ketika Mira selalu ada di kantornya.


Pertengkaran-pertengkaran kecil mulai memercik di rumahtangga Arini-Ilham. Mira kerap berpura-pura datang untuk memberi laporan pada Ilham, padahal mereka tidak satu perusahaan.


Mira masih bekerja di perusahaan Rian. Plastik Penang.


Entah mengapa ia selalu merasa jadi asisten bos Pram Alexander.


Dari sini awal malapetaka demi mala petaka di hidup Arini. Lembaran-lembaran merah bernilai, Mira terima dari dua tempat hanya untuk menghancurkan Ilham.


Dari Rian dan dari seseorang untuk menjatuhkan keluarga Ronald Arya Penang.

__ADS_1


Siapa mereka? Mira adalah kunci kehancuran Ilham.


Awal perjalanan talak dimulai dari kisah ini.


__ADS_2