
"Kamu terlambat mengatakan maaf. Sakit itu sungguh sadis mengoyak dan mengobrak abrik jantung ini." Retina perempuan itu mengambang.
Nanar menahan air mata. Ingatannya melayang setiap slide kejadian demi kejadian sebelum akhirnya talak tiga sah secara agama antara ia dan Ilham. Slideshow perjalanan sebuah guncangan arasy berawal, dari sebuah kesalahan yang tak diniatkan.
Semua peristiwa demi peristiwa bermain-main di kepala Arini.
Jangan coba-coba menyalah dengan hukum Allah, karena Allah SWT sebaik-baik pembuat makar. Mata Arini memejam lagi.
Gambaran masa-masa jatuhnya talak menyerbu ingatannya.
"Kau ingat, Arini. Aku Ilham Arya Penang, walau mama dan papiku tidak cocok dengan keluarga Jansen, tapi, aku adalah cucu laki-laki satu-satunya."
"Terus, tujuanmu apa mengatakan itu padaku?"
"Baiklah, bukankah kau meminta talak dariku?"
"Ya, mana? Katakan sekarang juga, talak aku! ayo talak!"
"Dasar keras kepala! apa sama sekali tujuh tahun tidak berbekas dari ingatanmu tentang kita?" "Tujuh tahun bahkan belasan tahun jika dijumlahkan dengan waktu mengenalmu seharusnya kau mengenalku dengan sangat baik. Tapi, apa, kau tetap membela wanita yang baru kau kenal? untuk apa bertahan jika zolim untuk diriku sendiri."
"Yatim piatu sepertimu akan kembali lagi padaku, kau bisa apa di luaran sana?"
"Jadi kau menyepelekan aku?"
"Kau hanya punya Kak Lela, itupun jauh di ujung Sumatera. Kau mau ke mana jika kita bercerai, pikir baik-baik, Arini!"
"Lebih dari baik-baik aku sudah pikirkan. Cepat jatuhkan talak padaku! sebelum aku menukar celanamu dengan rok."
Perkataan Arini menyulut emosi Ilham. Hatinya kecewa, wanita itu tidak percaya padanya. Bahkan menghina kelelakiannya.
"Kau benar-benar keras kepala."
"Ceraikan aku jika kau mau melihat apakah aku bisa hidup tanpamu atau akan mati dijalanan?" Ilham terkejut. Arini kalap, berbalut emosi Ilham memangkas jarak. Menunjuk satu jarinya ke wajah Arini.
"Baiklah, Arini. Ini adalah mau-mu. Aku Ilham Arya Penang, dengan ini mentalak kamu, Arini Ayunda. Mulai detik ini kamu tidak istriku lagi. Sekarang silakan pergi dari rumahku!" Kuat. Arini mengepal tangannya. Air mata tak luruh setetes pun. Aku tidak boleh menangis, tidak. Jangan menangis Arini! Jangan. Kau perempuan yang kuat. Tunjukkan padanya, kalian bisa hidup tanpa dia. Demi bocah usia tiga tahun yang kini mengerjap sambil tersenyum. Bayi mungil itu tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Satya ikut aku!" Permintaan serupa perintah. Langsung diiyakan oleh Ilham. Tanpa mencoba membantah. Tentu saja. Untuk apa bocah tiga tahun itu bagi Ilham. Bukan darah dagingnya. Meskipun selama tiga tahun bersama.
Rasa sayang itu jelas ada. Tapi, Ilham menginginkan anak yang terlahir dari rahim Arini. Bukan anak orang lain.
Meskipun bocah baru pandai bicara itu mampu membuatnya tertawa dengan kelucuan kanak-kanaknya selama kurun tiga tahun terakhir, namun Ilham sama sekali tidak menaruh empati.
Sejak Satya ada di rumah mereka. Lelah Ilham sirna setelah seharian berkutat di antara klien dan tugas kerja, dulu hanya dengan melihat senyum mengembang di bibir Satya. Ia merasa dunia kembali ceria.
Namun, pertengkaran terakhir mereka di antara pertengkaran lainnya mampu melenyapkan cinta yang telah dibangun sejak masa putih abu-abu menjadi kisah berlalu.
*
Flashback On.
Ilham Arya Penang, Menikahi Arini tujuh tahun lalu. Tiga tahun silam di jelang lima tahun akad ia ucapkan. Meli-mama Ilham, mama yang begitu perhatian, mertua idaman semua menantu, begitu menyayangi Arini. Suatu hari mengutarakan permintaan kerisauan hatinya.
Meli merindukan suara tangisan bayi, mengapa suara tangisan itu tak kunjung hadir di rumah anak menantunya, Meli menyuruh mereka untuk mengadopsi seorang anak.
Dengan berbagai Alasan. Dari untuk pancingan, sampai menjadi pengikat agar keduanya bisa tersenyum, Meli ingin rumahtangga anaknya lenggeng, ia sangat menyayangi sang menantu.
ia tidak ingin Arini kesepian di rumah. Setelah Meli mengetahui perihal anak yang ditinggalkan ibunya di sebuah klinik bersalin, ia membicarakan niatnya mengadopsi pada Arini.
"Mana tahu, setelah ada bayi ganteng ini, kalian Allah beri amanah. Teman-teman mama banyak yang begitu, sekarang anak-anak mereka juga banyak yang begitu. Istilah orangtua dulu--pancingan," tambahnya lagi. Meli mengusap bahu Arini. Ia sedikit takut wanita itu tersinggung.
Meli membawa Arini ke rumah Bidan tersebut.
Pandangan pertama Arini yang berhati lembut, ia tersentuh melihat bayi dengan senyum berlesung itu dalam box saat mertua memaksa untuk melihat.
Arini jatuh cinta pada pandangan pertama, Ia ingin segera membawa bayi merah tak berdosa itu ke rumahnya. Meli sangat bahagia melihat binar indah di mata Arini saat menimang baby Satya dengan penuh cinta, Ilham yang awalnya tidak setuju. Demi melihat pendar-pendar bintang di netra teduh sang istri, akhirnya ikut mengiyakan.
"Namanya Satya ya, Mas, Ma! Satya Arya Ananda." Binar cinta berloncatan dari netra wanita itu, kala menggendong bayi Satya di bibirnya hanya ada senyum semata.
Bahagia sekali wanita cantik nan anggun itu. Ilham mengurus segala administrasi, Satya dibawa ke rumah mereka.
Hampir tiga tahun telah berlalu dari kejadian adopsi itu.
__ADS_1
Tidak ada tanda-tanda Arini akan hamil. Meli sama sekali tidak keberatan. Ia hanya ingin kedua anak menantunya bahagia. Cukup Satya menjadi penghibur.
Ilham begitu mencintai Arini sejak masa SMA. Tentu legowo saja dengan permintaan sang Ibu. Kelas satu pakaian putih abu-abu mereka berdua sudah menjalin kasih. Hal itu membuat Ilham amat mencintai Arini yang lembut, fotokopian Nafa Urbach versi muda.
Karekater keduanya bertolak belakang. Ilham sedikit keras, emosian, dulu di sekolahan acap bermasalah karena meninju orang. Selama berpacaran Ego Ilham yang begitu tinggi mampu diimbangi sosok Arini yang pengertian, juga lemah lembut.
Kuliah di Universitas yang sama, cinta keduanya semakin rekat tak terlepas. Ikatan itupun berlabuh sakral, berucap ijab dari Reno--Ayah Arini disambut jawaban Kabul oleh Ilham. Legal sudah cinta mereka di hadapan Tuhan, maupun manusia. Semua bahagia.
Siapa yang tak kenal mereka dulunya. Sejoin yang acap digelar couple the best forever.
Bahkan dijuluki Ainun Habibi, cinta yang abadi tanpa ada yang mengusik dan tidak terusik. Karena semua teman, sanak dan kerabat mengetahui kadar dalamnya cinta Arini-Ilham bukan hanya sekadar cinta biasa.
Namun itu semua kini berantakan bentuknya.
Sejak Satya hadir di kehidupan mereka, entah mengapa Ilham merasa anak itu seolah pembawa sial saja.
Jangankan pemancing bagi anak yang akan Arini kandung, memancing rezekipun, umpannya tenggelam. Tahun pertama Satya berada di rumah Arini-Ilham, Ilham mendadak turun jabatan menjadi karyawan biasa sedang dahulunya direktur terbaik perusahaan. Entah apa penyebabnya? Arini tidak ingin menyelidiki. Bukankah perusahaan itu milik keluarga mereka sendiri. Pendapatan perusahaan menurun, banyak uang keluar yang tak terkendali. Semua salah Ilham menurut keluarga besar, Penang.
Kelicikan yang lain tidak tampak. Mereka pandai menyembunyikan.
Jabatan Ilham taruhan. Ia diturunkan menjadi pegawai, tidak lagi seorang Bos.
Gaji Ilham seperti di sabotase. Lagi-lagi Arini tidak terlalu menanggapi.
Awalnya Arini berinisiatif membuka butik untuk menopang gaji Ilham yang pas-pasan. Walau sejatinya angka pas-pasan itu bisa beli perumahan setiap bulan. Biasanya ia sering menjadi penghubung teman sekadar jual beli properti. Untungnya lumayan. Atau bisnis perumahan, dan pekerjaan sampingan lainnya.
Ilham keturunan kakek Jansen Kamandanu. Seorang pebisnis kaya raya.
Tapi, Meli menikah dengan Ronald--Ayah Ilham tanpa persetujuan keluarga. Hidup mereka bahagia ada atau tiada manusia berjenis saudara. Ilham anak satu-satunya Meli dan Ronald. Untuk itulah Meli begitu menyayangi Arini.
Sejak kehadiran Satya, rezeki Ilham semua seolah mampet.
Tidak ada pemasukan lain, selain makan gaji. Menjalani bisnis perumahan elite, menjadi pemasok tekstil, seakan tidak dipercaya teman, tertipu lawan dan banyak hal lain hinggap di kehidupannya, sedangkan dulu tidak pernah mengalami. Entah apa yang salah. Dahulunya Ia digelar raja lobi.
Tahun kedua Satya di rumah, Ilham bertengkar dengan Sang Kakek, didepak dari perusahaan. Mira sekretaris bos alias presdir Rian Prakarsa. Direktur pengganti Ilham--adik kandung Ronald, lebih tepatnya Mira itu simpanan Rian untuk membungkus kejombloannya.
__ADS_1
Karena desas-desus yang terdengar Rian penganut sesama jenis.
Asisten Rian tersebut selalu merayu Ilham di manapun berada. Mira amat menyukai Ilham. Wanita itu menyatakan, bagi seorang Mira, Ilham adalah nyawa.