Mencintai Perempuan Depresi

Mencintai Perempuan Depresi
Mana Mertuaku?


__ADS_3

"Aku tidak mau tau, bawa aku ke rumah orangtuamu, kalau tidak. Aku akan bilang ke Ilham kalau kamu memaksaku berbuat inih." Arini menyatukan satu jari ke jari yang lain. Sambil tertawa terbahak.


Entah apa maksud perempuan itu, ia ingin membuat Burhan sibuk dengannya. Melihat muka frustasi Burhan menghadapi tingkahnya, kemewahan tersendiri bagi Arini. "Baiklah, Nyonya ...."


"Sebentar! kau mulai sekarang tak boleh memanggilku Nyonya, panggil aku dengan Dinda, bagaimana? kita kan sudah suami istri, sah-sah saja donk kalau kita punya panggilan sayang," ungkapnya membelai tipis pipi Burhan. Pria itu hanya memindainya lama.


"Bukannya kemarin kau yang bilang akan selalu berada di samping aku, apapun yang terjadi, kau juga yang bilang akan membuat Ilham menyesal seumur hidup. Aku suka aku suka aku suka." Arini tertawa lagi. Namun mata itu ...


Tak bisa menyembunyikan luka di dadanya.


"Iya, Dinda. Hari ini kita akan ke rumahku," ucap Burhan tersenyum sendu. Hati Burhan sungguh sakit melihat keadaan Arini.


"Ya sudah, ayo kita pergi." Arini menarik tangan Burhan. Lelaki itu tak bergeming.


"Kau mau kupanggil Dinda, Sayang? kalau gitu Nyonya eh maksudku Dinda harus tukar pakaian." Burhan mengerling nakal. Memainkan matanya memindai baju terbuka dengan belahan sepanjang paha, juga bagian dada.


"Kau sok alim, padahal demi uang tega menikahiku. Pecundang!" umpatnya pada Burhan namun tetap mengikuti mau Burhan. Berganti pakaian.


Setelah berganti fashion, mereka pergi ke rumah orangtua Burhan.


"Ini namanya Berlian, yang ini Intan dan yang kecil Menik." Burhan memperkenalkan satu persatu adik-adiknya.


Kemudian ia pergi ke belakang menyiapkan teh hangat untuk Arini. Sengaja meninggalkan Arini di ruang sempit rumah mereka.


"Assalamualaikum Kakak," salim Berlian meraih tangan Arini. Disusul adik-adik Burhan yang lain.


"Panggilnya Nyonya, bukan Kakak."


Burhan yang melangkah ke belakang berhenti sejenak, melotot pada Berlian. Arini malah tersenyum. Burhan memberi kode agar Berlian tetap memanggil dengan sebutan Nyonya.


"Biarkan mereka memanggil dengan apapun, tidak salah, panggil nama juga bagiku sah-sah saja. Kenapa kamu yang sewot," cibir Arini pada Burhan.


"Ini teh--nya, Nyonya. Silakan diminum!" ucap Burhan pelan. Menunduk, masih melirik adiknya tanda tak suka, Burhan takut Arini merasa tidak dihargai di rumahnya. Ia kembali memanggil Nyonya.


Berlian yang tidak tahu menahu urusan abangnya dan Arini, mencelos, mencibir mengejek Burhan, merasa menang--sudah dibela Arini.


Berlian ke dapur menyiapkan keripik pisang ke dalam pinggan. Menaruhnya di depan Arini.


"Kak Arini masih muda gini, masa dipanggil nyonya, jelek, ah." Berlian protes pada Burhan.

__ADS_1


Berlian, intan dan Menik berdiri sejajar, bersandar pada dinding. Seperti penyanyi seriosa hendak konser.


"Kenapa kalian tidak duduk?" tanya Arini sungkan. Melihat ketiga adik Burhan, serentak memindai wajahnya, seakan menatap barang langka, geleng-geleng kepala.


Berlian berpakaian SMA, sedangkan intan kelas tiga SMP, hari ini seragam Pramuka, Menik kelas enam SD memakai baju bebas, karena Jumat ada kelas Qur'an menjelang pulang.


"Ayah kamu kerja di mana?" tanya Arini pada Burhan yang baru saja mengeluarkan lembar lusuh untuk adik-adiknya.


"Ayah sudah meninggal dunia empat tahun lalu, Kak. Ayah riwayat diabetes juga," jawab Intan sendu. Tidak menunggu Burhan bicara.


Arini jadi tidak enak hati. Menyesal telah mencipta luka di mata-mata polos mereka.


Sedangkan ibunya, sejak Ayah Burhan meninggal, Bu Dena sakit-sakitan. Kalau itu Arini tahu. Ilham yang memberitahu tentang Bu Dena pada Arini sebelum menikahkan mereka berdua.


"Maaf, saya tidak bermaksud .... "


"Gak papa, lo, Kak, maut itu urusan Allah," sela Berlian tersenyum tulus.


"Maaf ya, Kak. Intan jadi melow."


Arini mengatup bibirnya. Rasa nyaman, sejuk memandang ketulusan hadir di hatinya, hanya dengan menatap wajah-wajah polos adik-adik Burhan.


Ilham berjanji pada Burhan, akan memberikan rumah sederhana tipe 36 itu untuk keluarga mereka, jika ia menikah dengan Arini kemudian mentalaknya lagi. Begitulah hidup.


Tanpa sadar mereka telah melakukan dosa pernikahan, karena menikah dapat menjadi terlarang, bahkan berdosa besar.


Satu-satunya jalan dengan nikah secara muhallil. Muhallil adalah sebutan bagi orang yang menikahi seorang perempuan yang telah ditalak tiga oleh suami sebelumnya dengan niat bukan untuk membina rumah tangga.


Niatnya hanya untuk menceraikan si perempuan itu setelah menggaulinya agar si suami yang pertama bisa menikahinya kembali.


Dalam Islam nikah muhallil bisa menjadi haram karena melanggar tujuan daripada pernikahan itu sendiri.


Rasulullah menyatakan dengan jelas, menikah bertujuan menciptakan kebahagiaan. Diharamkan oleh beberapa kalangan ulama menikah dengan niat bercerai kembali.


فإن طلقها ثلاثا لم تحل له إلا بعد وجود خمس شرائط انقضاء عدتها منه وتزويجها بغيره ودخوله بها وإصابتها وبينونتها منه وانقضاء عدتها منه


Artinya: Jika sang suami telah menalaknya dengan talak tiga, maka tidak boleh baginya (rujuk/nikah) kecuali setelah ada lima syarat: yang pertama, sang istri sudah habis masa iddahnya darinya


Kedua, sang istri harus dinikah lebih dulu oleh laki-laki lain (muhallil).

__ADS_1


Ketiga, si istri pernah bersenggama/tidur bersama dan muhallil benar-benar penetrasi kepadanya.


Keempat, si istri sudah berstatus talak ba’in dari muhallil.


Kelima, masa iddah si istri dari muhallil telah habis.


Burhan bekerja salah satu office boy di kantor sahabat Ilham, Prambudi Alexander, tapi--pemilik sahamnya adalah Keluarga Ilham juga. Masih satu induk perusahaan. Untuk itu, Ilham bisa sesuka hati memperlakukan Burhan bak pembokat tanpa daya, meskipun harga diri sebagai taruhannya.


Hari ini, agar Arini tidak lagi mengganggu Burhan, dengan berbagai tekanannya, kadang wanita itu sedikit mengancam, Burhan akhirnya membuka komunikasi, sengaja mengajak Arini untuk ikut serta melihat keadaan keluarganya.


Ia ingin Arini tidak lagi mengatakan banci, menggodanya atau melakukan hal absurd memancing intuisi nalurinya sebagai lelaki.


Harga diri Burhan rasanya terkoyak dengan segala adegan yang Arini lakukan. Padahal ia rela melakukan nikah muhallil ini hanya demi keluarga.


"Berlian ke sekolah dulu, ya, Kak." Gadis remaja itu kembali membawa nampan ke dapur, menyandang tas selempang dengan beberapa jahitan. Mengulur tangan pada Arini. Mencium punggung tangan itu takzim. Arini membalas dengan senyuman hangat.


"Kakak punya tas rajut, apa Berlian suka. Besok bisa jemput ke rumah."


Berlian tersenyum tipis.


"Ini jajan buat Berlian dan adik." Arini memberikan selembar merah ke tangan Berlian.


Meskipun ia tidak menyukai Burhan dan Ilham, meskipun kebencian pada cinta telah menjalar, sakit pada harga dirinya, namun, sisi hati terdalam masih tersentuh melihat keadaan manusia di rumah sempit itu.


"Kebanyakan, Kak," tolak Berlian sungkan.


"Terimalah. Bagi sama-sama."


Gadis itu akhirnya menerima. Intan dan Menik giliran menyalami Arini. Menunduk melirik malu pada lembar merah di tangan Berlian.


"Kami pamit ya, Bang. Assalamualaikum." Berlian mewakili dua adiknya. Memakai sepatu dalam diam. Mereka bertiga sudah di depan pintu.


Berlalu sekitar dua menit.


"Kak Arini, makasih ya, kakak cantik deh," ungkap Menik yang tiba-tiba kembali muncul sambil tertawa kecil memamerkan deretan gigi rapinya. Melongok kepala ke pintu lalu menghilang sambil cekikikan bernada malu.


"Kenapa kakinya Menik?" tanya Arini penasaran melihat ada yang berbeda dengan kaki adik bungsu Burhan.


"Kecelakaan," jawab Burhan singkat.

__ADS_1


__ADS_2