
Setelah menghabiskan minuman yang dibawakan oleh tantenya, Amelia kembali mengambil teropong milik Dani lalu perempuan itu berada di balkon mengawasi kediaman dokter Irfan.
Dani yang melihat itu tidak mengatakan apapun, dan dia hanya duduk saja sambil memperhatikan perempuan itu, ia menilai dari ujung rambut sampai ujung kaki seluruh penampilan perempuan itu.
Perempuan itu memang perempuan, tetapi potongan rambut yang pendek dan pakaian yang dikenakan perempuan itu membuatnya merasa tidak yakin kalau orang yang ada di depannya ialah perempuan.
'Hah,, Kenapa dia sangat suka memakai celana seperti itu dan menggunakan baju kaos?' usah pedani dalam hati yang sebenarnya merasa bingung bagaimana cara perempuan itu melihat pakaian sehingga dia memilih pakaian seperti itu.
"Ahh,, Kenapa tidak ada apapun yang ku temukan?" Gerutu Amelia sambil melepaskan teropongnya dan perempuan itu kemudian berbalik menatap Dani.
"Apakah kau pernah melihat gerak-gerik aneh di rumah itu?" Tanya Amelia pada Dani yang merasa bahwa mungkin saja pria itu mengetahui sesuatu tentang tetangganya.
Bagaimanapun, pria itu terus berada di rumah, jadi Amelia berpikir bahwa Dani mungkin memperhatikan lingkungan sekitar rumahnya dengan seksama hingga Dia mungkin bisa mendapatkan informasi yang berguna tentang dokter Irfan.
Tetapi Dani langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Kau pikir aku memperhatikan sesuatu yang tidak penting?" Kata pria itu dengan kesal sambil membalikkan tubuhnya meneguk minumannya.
Ia merasa begitu kesal dengan pertanyaan Amelia karena tentunya dia bukan orang aneh yang akan membuang-buang waktu berharganya memperhatikan orang asing.
Amelia yang mendengar itu hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar karena dia benar-benar tidak pernah akur dengan pria itu, jadi dia berpikir bahwa pria itu hanya tidak ingin saja berbagi informasi dengannya.
Namun begitu, Dia tidak memiliki niat untuk memaksa pria itu berbicara karena dia tahu kalau pria itu hanya akan mempermainkannya Jika dia terus meneladaninya.
__ADS_1
Jadi dia kembali menggunakan teropongnya mengawasi rumah dokter Irfan.
"Apakah kau senang melihat kedua orang yang sedang bercinta di rumah mereka?" Tanya Dani setelah beberapa saat melihat Amelia yang terus saja serius melihat ke arah rumah itu.
"Aku tidak semesum itu!!" Jawab Amelia tanpa mengalihkan perhatiannya dari rumah dokter Irfan.
"Kalau kau tidak mesum, lalu apa namanya? Kau menguntit seorang pria tua? Jangan-jangan kau menyukai pria tua itu?!!" Tanya Dani akhirnya membuat Amelia tak bisa lagi menahan kekesalannya hingga dia melepaskan teropongnya dan menatap Dani dengan tatapan tajamnya.
"Kalau kau tidak tahu apapun, kau diam saja dan Jangan menggangguku!!!" Teriak Amelia pada Dani lalu dia kembali melihat ke arah rumah dokter Irfan tanpa menggunakan teropong.
Hatinya benar-benar kesal karena masalah tentang dia yang hanya anak adopsi, dan sekarang ditambah lagi menjadi semakin kesal gara-gara pria yang ada di sampingnya.
Padahal, pria itu tidak akan merugi sedikitpun dia Jika dia hanya tetap diam di tempatnya dan tidak mengatakan apapun, tapi sekarang malah membuang-buang waktu dengan mengajaknya bertengkar!!!
Mendengar ucapan Dani, akhirnya Amelia tersenyum pada pria itu karena menyadari kesalahannya.
Oleh sebab itu, Amelia berkata, "Kalau begitu Kau bisa menganggap bahwa aku tidak ada di sini dan kau bisa melakukan apapun yang ingin kau lakukan."
Ucapan Amelia benar-benar membuat Dani kesal, jadi pria itu hanya pergi saja ke dalam kamar dan menutup pintu balkon dan juga semua tirai yang ada di sana.
"Dasar perempuan aneh!!" Ucap pria itu sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan wajah yang kesal, tetapi sesaat kemudian dia tersenyum melihat ke arah jendela di mana bayang-bayang Amelia masih ada di sana sibuk melihat kediaman dokter Irfan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat terdiam, ponsel Amelia yang diletakkan perempuan itu di atas ranjang tiba-tiba saja bergetar, jadi Dani segera mengambil ponsel itu dan melihat bahwa yang menelpon Ternyata Ibu Amelia.
Dani hendak mengatakannya pada Amelia, tetapi melihat Amelia yang terlalu serius, maka pria itu mengurungkan niatnya dan dia hanya mengangkat panggilan telepon dari Rosiana.
"Halo tante," ucap pria itu.
"Ahh,, Dani? Apa kau bersama dengan Amelia?" Tanya Rosiana dari seberang telepon yang jelas mengenai suara Dani karena Dani adalah satu-satunya ponakannya yang berada satu kota dengannya hingga mereka juga cukup sering bertemu saat ada acara keluarga.
"Ahh iya, Dia sedang ada di kamarku, dia sepertinya sedang mencari sesuatu dan dari tadi terus berada di balkon sambil mengawasi sebuah rumah yang dekat dengan rumahku." Jawab Dani sembari melihat ke arah Amelia yang ada di balkon di mana perempuan itu masih fokus menggunakan teropongnya.
"Ahh,, kalau begitu, jaga dia dengan baik." Ucap Rosiana lalu panggilan telepon itu diakhiri membuat Dani mengerutkan keningnya.
"Kenapa Tante sama sekali tidak penasaran Apa yang dilakukan oleh Amelia hingga dia mengawasi rumah orang lain?" Ucap Dani yang merasa aneh bahwa tantenya tidak menanyakan apapun tentang sikap aneh Amelia.
Padahal, biasanya jika tantenya menelpon dan dia bersama dengan Amelia, maka tantenya akan menanyakan banyak hal tentang Amelia sebab tantenya selalu cemas jika terjadi sesuatu yang buruk pada Amelia sebagai perempuan yang terkenal suka membuat onar dan kekacauan.
Tetapi sekarang??
Dani mengerutkan keningnya lalu dia melihat ke arah balkon di mana bayang-bayang Amelia yang masih berdiri di sana sambil menggunakan teropong langsung menyambut pandangannya.
'Jangan-jangan perempuan ini benar-benar mencari sesuatu di rumah itu hingga ibunya benar-benar tidak merasa cemas?' ucap Dani dalam hati.
__ADS_1
@info
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️