
Keesokan harinya, Amelia dan Dani datang lagi ke lapas dan mereka bertemu dengan sang pria yang tampak menatap mereka dengan perasaan bingungnya.
"Apakah Putraku tidak mau datang kemari?" Tanya sang pria yang berharap bahwa setelah mendapat kabar dari Amelia dan Dani maka pria itu mungkin akan datang bersama Amelia dan Dani untuk menjenguknya.
Tetapi kemudian Dani dengan raut wajah yang tidak tega mengatakan faktanya kemudian berkata, "itu,,, putra anda sudah tidak melanjutkan sekolah lagi, karena istri anda sudah meninggal 2 tahun yang lalu dan putra anda tidak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan."
Ucapan Dani sangat mengejutkan pria yang bersama dengan Ketiga orang itu hingga dia tampak tertegun selama beberapa saat sampai akhirnya dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu terisak di depan Amelia dan Dani.
__ADS_1
Sampai akhirnya dia merasa tenang dan mengusap air matanya lalu dia kemudian berkata, "Aku ingin kalian membantu Putraku, setidaknya dia mendapat kehidupan yang lebih layak."
Dani mengganggukan kepalanya, "anda tenang saja, kemarin kami sudah berbicara dengannya dan dia sudah mau bekerja di salah satu toko milik ayahku. Jadi mulai sekarang dia tidak perlu lagi menjadi gelandangan di luar sana. Tetapi, dia tidak berani datang kemari untuk menemui Anda karena terlalu malu, sebab Dia merasa bahwa dia tidak bisa menjaga ibunya dengan baik," ucap Dani sangat membuat sang pria yang ada di dalam lapas kini merasa gunda di dalam hatinya.
Tetapi karena berpikir bahwa dia harus cepat-cepat keluar dari sana, maka pria itu kemudian menatap kedua orang di depannya sambil berkata, "Sebenarnya apa yang dituduhkan padaku Itu adalah sebuah kesalahan, aku bekerja dengan dokter Irfan di sebuah klinik lalu dia menjebakku sebagai orang yang melakukan perdagangan terhadap bayi-bayi yang lahir.
"Tapi sebenarnya aku sama sekali tidak mengetahui informasi tentang hal itu, namun ketika aku ditangkap oleh polisi, aku baru mengetahui darinya bahwa ternyata semua itu adalah jebakannya, namun dia sudah menutupi semua bukti sehingga tidak ada bukti lagi yang tersisa. Bahkan jika ada bukti, pihak jaksa dan pengadilan tidak akan membenarkannya."
__ADS_1
Sang pria menggelengkan kepalanya, "semua saksi yang seharusnya ada sudah tidak bisa lagi dijadikan saksi karena mereka semua juga berkomplot dengan dokter Irfan dan diberikan uang dalam jumlah yang banyak, sehingga mereka semua harus menutup mulut atau jika tidak maka keterlibatan mereka juga akan membuat mereka masuk ke penjara," ucap dokter Irfan langsung membuat Amelia dan Dani merasakan bahwa mereka telah kehilangan harapan.
Tetapi kemudian mereka Langsung fokus lagi ketika pria yang ada di hadapan mereka lanjut lagi berbicara, katanya: "Sebenarnya aku punya bukti, tetapi ini hanyalah bukti yang kecil saja dan tidak mungkin kuat untuk digunakan melawan dokter Irfan. Kemarin ketika aku tertangkap aku tidak bisa menggunakannya karena jaksa pun telah disogok oleh dokter Irfan sehingga tidak ada jalan bagiku untuk memberikan bukti itu pada mereka.
"Bukti itu ada di rumah lamaku, tepatnya ditanam di dalam dinding yang ada di kamar lamaku. Kalau kalian pergi ke sana, kalian bisa mengetahui dinding itu ketika mengetuk dindingnya dan akan ada ketukan yang lain daripada dinding yang padat." Ucap sang pria benar-benar membuat Amelia dan Dani kini kembali lagi bersemangat untuk menyelidiki masalah itu.
Maka, setelah mendapatkan informasi yang jelas tentang keberadaan rumah pria itu, Amelia dan Dani kemudian meninggalkan lapas dan mereka berkendara langsung ke rumah lama pria tersebut.
__ADS_1
@info
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️