
Cukup lama terus berusaha mendengarkan pembicaraan dari sebelah, akhirnya Amelia menyerah ketika dia mendengar orang di sebelah kini tidak membicarakan masalah yang penting lagi, tetapi kini malah menggosipkan teman mereka sendiri hingga membuat Amelia dengan lemas menatap makanan yang ada di hadapannya.
Meski makanan di depannya terlihat sangat enak, tetapi dia sudah tidak memiliki nafsu makan lagi hingga perempuan itu memilih untuk diam saja menatap semuanya.
Dan yang melihat sikap Amelia kemudian menggelengkan kepalanya dengan pelan lalu dia menggunakan garpu Amelia mengambil makanan dari piring perempuan itu dan mengarahkannya ke mulut Amelia untuk menyuapi perempuan itu.
"Makanlah sedikit, Setelah itu kita ikuti rencanaku," yang tentunya tidak mau perempuan itu sakit sehingga mengganggu penyelidikan mereka terhadap dokter yang duduk di samping ruangan.
Amelia melihat Dhani selama beberapa saat, lalu dia akhirnya membuka mulutnya dan menyuap makanan yang disodorkan oleh Dani, "memangnya, rencana Apa yang kau punya?" Tanya Amelia yang merasa bahwa pria itu tidak akan memberikan rencana yang berguna untuk mereka.
Bagaimanapun, pria itu tidak dapat diandalkan terlalu banyak sebab pria itu adalah pria dengan tipe introvert yang selalu saja berada dalam rumah seperti hantu rumah.
Dani tersenyum penuh arti, "Aku akan memberitahumu saat kita sudah selesai makan, jadi cepat habiskan makananmu karena kita harus lebih dulu selesai makan daripada kedua orang yang ada di sebelah," ucap Dani sembari cepat-cepat menghabiskan makanannya membuat Amelia mengharapkan keningnya menatap cara pria itu makan terburu-buru.
'Dia bukan pria yang suka makan terburu-buru, bahkan terakhir kali ketika kami buru-buru pergi menghadiri sebuah acara, dia tidak mau makan terburu-buru,' ucap Amelia dalam hati lalu dia akhirnya merasa bahwa pria itu mungkin benar-benar serius hingga Amelia kemudian merasa bahwa kali ini dia akan mempercayai pria itu.
Maka, keduanya makan terburu-buru sampai setelah selesai makan, Dani kemudian cepat-cepat membawa Amelia keluar dari restoran menuju lahan parkir di mana mobil dokter Irfan berada.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Amelia.
__ADS_1
Dani kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas miliknya lalu memperlihatkannya pada Amelia.
"Ini adalah alat perekam suara, sementara ini adalah alat pelacak," ucap Dani sembari memasang salah satu alat tersebut ke bagian bawah mobil dokter Irfan agar melekat dengan sempurna di sana, sementara alat perekam suara dia letakkan di bagian depan mobil agar bisa merekam Apa yang dibicarakan oleh orang yang ada di dalam mobil.
Amelia yang melihat itu merasa bahwa cara itu sangat praktis dan dia merasa bahwa pria itu memang bisa diandalkan.
Tetapi dia baru akan berbicara untuk memuji pria itu ketika Dani segera memegang tangannya dan menariknya menuju mobil mereka.
"Mereka sudah datang," ucap Dani langsung membuat Amelia bergegas masuk ke dalam mobil lalu mereka kemudian memperhatikan dokter Irfan yang berbicara dengan seorang pria yang menggunakan setelan jas hitam.
Setelah dokter Irfan kemudian pergi ke mobilnya, maka Dani cepat-cepat membuka laptopnya, lalu dia kemudian menyambungkan alat perekam dan pelacak yang ada pada mobil itu.
"Woaahh,, aku tak pernah kepikiran hal seperti ini, bagaimana cara memikirkannya dan bahkan memiliki alat seperti itu?" Tanya Amelia yang merasa bahwa sepupunya benar-benar memikirkan cara yang sangat cerdik.
"Hm,, aku melihat semua ini dari film yang ku nonton, di rumahku bahkan masih ada peralatan-peralatan lainnya yang kubuat sendiri," ucap Dani dengan bangga langsung membuat Amelia menganggukkan kepalanya.
"Aku baru ingat kalau kau mengambil jurusan teknik," ucap Amelia yang baru tahu kalau jurusan pria itu ialah merakit robot dan peralatan peralatan elektronik lainnya.
Dani yang mendengar kan itu tidak mengatakan apapun, tetapi dari wajahnya terlihat jelas aura bangga yang dimiliki oleh pria itu.
__ADS_1
Sementara Amelia yang melihat wajah pria itu, Dia merasa ingin menarik kata-katanya, tetapi apa yang barusan ia katakan memang adalah kebenaran.
Jadi dia hanya bisa mengabaikan wajah pria itu dan fokus mendengarkan apapun yang terekam oleh alat perekam yang telah diletakkan oleh Dani di mobil dokter Irfan.
Sampai mereka melihat mobil itu kembali ke kediaman dokter Irfan, tidak ada satupun suara yang terekam hingga membuat Amelia kemudian menatap Dani.
"Apakah kau yakin alat perekam itu berfungsi dengan baik? Masakan sepanjang perjalanan dari sana dia tidak mengatakan apapun?" Tanya Amelia ketika mobil mereka sudah masuk ke lahan parkir rumah Dani.
Dani yang mendengarkan pertanyaan Amelia merasa agak kesal pada perempuan yang tidak mempercayainya itu, tetapi dia tetap mengambil laptopnya dan melihat bahwa alat pelacaknya berfungsi dengan benar dan lokasi yang ditunjukkan juga benar.
Lalu beberapa saat kemudian terdengar suara, "sayang!!! Kau kembali juga, Bagaimana pembicaraannya dengan mister Robert?"
Amelia yang mendengarkan itu langsung mendekatkan telinganya ke arah speaker karena dia benar-benar penasaran dengan percakapan kedua orang itu, apalagi jawaban dokter Irfan pada perempuan yang berbicara dengannya.
"Semuanya berjalan dengan lancar, pertemuan selanjutnya adalah hari persalinan Oktavia," suara dokter Irfan langsung membuat Amelia dan Dani berpandangan satu sama lain.
@info
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow otor agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. jangan lupa juga melihat novel otor yang lain, apa lagi novel tamatnya ya... silakan buka profil otor untuk melihatnya...❤️❤️❤️
__ADS_1