
Didalam ruangan Raka
"Ayok lah cepetan aku sudah lapar"rengek Raka.
"Sabar ini masih panas!"ucap Dinda.
"Sini aaa..."ucap Dinda sambil mengarahkan sendok ke mulut Raka.
"UPS!"ucap Raka sambil menutup mulutnya berlari kearah kamar mandi.
"Hueeekkkk.....huekkk"Raka memuntahkan semua isi makanan yang ada di mulut. Dinda yang melihat hal itu langsung berlari melihat Raka dan membantu memijit tenguk nya.
"Ada apa?kenapa kau memuntahkan semua nya?"tanya Dinda khawatir.
"Makanannya,,,hueekk....huekkk"sangat tidak enak,,, huekkk....huekkkk"ucap Raka masih memuntahkan makanan yang ada di mulutnya.
"Sudah..."rengek Raka. Lalu Dinda membantu nya berdiri dan membawa nya kembali keranjang tempat tidur.
"Kau harus makan agar cepat sembuh. Bagaimana kau akan menjagaku dan anak kita nanti kalau kau lemah seperti ini"ucap Dinda menyindir.
"Anak? Anak siapa?"ucap Raka kebingungan.
"Anak mu lah. Anak siapa lagi!"ucap Dinda sedikit emosi.
"Mana mana mana? Aku mau lihat"ucap Raka antusias.
"Dasar bodoh. Aku belum melahirkan jadi mana mungkin anak mu muncul sekarang"ucap Dinda menoyor kepala Raka.
Auh Raka mengaduh kesakitan. "Kenapa dia suka sekali memukul kepalaku!"gumam Raka kesal.
"Apa!!!"tanya Dinda.
"Ehhh tidak kok tidak apa-apa. Kau cantik sekali"ucap Raka tersenyum.
__ADS_1
"Kamu kira aku tuli hm!"geram Dinda. Ia langsung mencubit pipi Raka dengan gemas.
"Akh....apa yang kau lakukan?!"tanya Raka sedikit membentak, ia sangat kesal dari tadi terus'an di pukul dan dicubit seperti itu memangnya dirinya itu apa? Pikir Raka.
"Maaf apakah ini sakit"tanya Dinda lembut mengusap pipi Raka yang tadi ia cubit.
"Sudahlah tidak apa-apa"ucap Raka memalingkan wajahnya.
"Hei kau marah?"tanya Dinda.
"Tidak, aku tidak marah aku hanya kesal"ucap Raka.
"Eummm....Raka aku boleh nanya?"ucap dinda hati-hati.
"Tanya saja"ucap Raka cuek.
"A...apa kamu masih punya hubungan Sama na...nai....naina?"tanya Dinda terbata-bata.
Deg...
Apa harus aku yang mundur disini?? Hati Dinda seakan teriris mendengar ucapan Raka dengan polos seperti itu. Ia tak menyangka bahwa Raka selain memacari naina juga ingin menikahinya. Apakah disini ia terlihat seperti perusak hubungan orang? Pikir Dinda.
"Wah kamu ingin menikahinya yah? Kapan? Memangnya orangtua naina sudah setuju? Selamat yah nanti aku bantu deh bilang sama mam...Tante dan om biar kamu dikasih restu buat nikah, kan sayang banget pacaran udh lama tapi belum dapat restu"ucap Dinda pura-pura antusias mendengar ucapan Raka.
"Benarkah?"mata Raka langsung berbinar mendengar ucapan Dinda.
"Iyah.... Drrrttttt.....drrrrttt" eh sebentar ada telfon aku ingin mengangkat nya dulu. Kau lanjutkan makanmu jangan dibuang lagi"ucap dinda sambil pergi ke kamar mandi dan menerima telfon.
Percakapan di telfon:
Dinda: halo...
Rvin: Din kamu dimana? Kenapa ruangan mu kosong?..
__ADS_1
Dinda: eh....eumm...itu anu.....eh...
Rvin: anu apa?
Dinda:itu... anu....ehh...aku lagi di ruangan Raka tadi dia sempat pingsan....ehhh...Vin boleh minta tolong gak? Tolong kamu urus perceraian ku dengan Raka nanti berikan padaku Minggu depan....aku sudah berpikir mantap untuk cerai dengan dia dan jangn lupa untuk menyembunyikan kehamilan ku agar proses perceraian bisa dipercepat.
Rvin: kau yakin? Bukannya kamu sangat mencintai nya? Kamu sudah nunggu dia dari lama dan sekarang kamu ingin melepaskan nya?
Dinda: Iyah dia bilang dia ingin menikahi naina dan aku setuju akan keputusannya. Aku ingin dia bahagia walaupun bukan aku yang membuatnya bahagia, dan aku tak bisa terus mengekang dia untuk tetap bersama ku ia juga butuh kebahagiaan. Dan kalau soal cinta aku masih sangat mencintainya, dan karena sangat mencintainya pula aku akan melepaskan nya....
Rvin: baiklah jika itu mau mu aku akan meminta teman ku untuk memproses surat perceraian mu dan dia.
Dinda: yah. Terimakasih yah Vin loh berguna juga ternyata hahaha...
Rvin: kau pikir aku tak berguna sama sekali huh!
Dinda: aku hanya bercanda hahahaha makasih yah..See you"
Rvin: hmmm(langsung mematikan telfon)
Tuhan apakah yang aku lakukan ini sudah benar? Maafkan keegoisan ku tuhan aku hanya ingin dia bahagia bersama pilihan nya, aku tak bisa terus membuatnya berada disisi ku terus menerus. Aku tak bisa membuat berada disisi ku karena keegoisan ku tuhan, aku ingin melihatnya bahagia walaupun bukan aku yang membuatnya bahagia, batin Dinda.
Tangis Dinda pecah setelah rvin menutup telfon nya, ia berusaha menahan tangis nya agar tidak didengar Raka. Ia buru-buru menghapus air matanya dan mencuci mukanya agar tak kelihatan seperti orang yang habis menangis.
Hai teman\-teman aku kembali maaf mungkin ini membuat teman\-teman kesal karena kelabilan ku. Aku yakin banyak teman\-teman yang kesal smaa aku hahaha maaf yah aku labil banget waktu itu memang niat buat gak lanjutin cerita nya karena udh gak ada ide lagi mw buat kyk gimana. Nah disitu aku buat cerita baru. Jujur sebenarnya waktu itu udah niat buat pindahin novel nya ke novel yang baru' ini aku buat tapi entah kenapa alur nya malah berbelok dan jadi gak nyambung smaa cerita ini jadi aku buat keputusan untuk tetap ngelanjuttin cerita ini di novel yang ini jga. Maaf yah buat teman\-teman yang keganggu akan kelabilan ku. Maaf sebesar\-besarnya mungkin kalian juga sempat kesal smaa aku hahaha. Maaf yah semoga kalian tetap menjadi reader setia ku☺️🙏🙏🙏
salam hangat
~•dinda•~
__ADS_1