Mengapa Harus Aku Yang Tersakiti

Mengapa Harus Aku Yang Tersakiti
Indonesia


__ADS_3

~•dinda•~


Hari ini Aku akan pergi ke Indonesia bahkan aku sudah di bandara hehehe (garing sekali author nya), tujuan utama ku di Indonesia adalah pulang ke rumah ya itu sudah pasti dan setelah istirahat aku langsung ke rumah sahabatku. lha kenapa nggak ke rumah saudara dulu? karena saudara terdekat ku semuanya menetap di Inggris dan di sini hanya ada saudara-saudara yang tidak terlalu dekat dengan ku dan keluarga ku.


Setelah sampai di Indonesia


Aku dan Raka langsung menuju ke rumah dengan dijemput mang ujang, setelah sampai di rumah aku langsung memeluk bi Sumi karena kangen bi Sumi dan aku sudah sangat dekat bi sumi sudah lama bekerja di keluargaku. setelah acara peluk-pelukan nya selesai aku meminta tolong agar bi Sumi membereskan barang-barang ku dan Raka ke kamar.


Sementara itu Aku dan Raka menunggu dikamar tamu ya lumayan luas disana juga ad tambah sofa dan TV, aku menduduki sofa sambil menonton TV sedangkan Raka malah tidur dipangkuanku sambil mengelus dan bergumam ke perutku entah apa yang digumaminya, Aku hanya fokus menonton TV sambil mengelus rambut Raka sesekali aku mencubit hidung mancungnya itu. Tok...tok...tok Raka langsung bangkit dari tidur nya(?) dan membuka pintu


"Iyah kenapa, Bi? "tanya Raka.


"Eh itu Den, kamarnya udh saya rapihkan, "jawab bi Sumi.


"Oh ya sudah Bi, makasih ya, "kata Raka sopan.


"Iya sama-sama atuh, Den, "jawab Bi Sumi dan langsung menutup pintu.


"Yank, "panggil Raka.


"Hmm, "jawab Dinda tanpa melihat Raka dan tetap fokus pada layar TV.


"Isshhh... kalo dipanggil tuh nengok napa, "rengek Raka sedikit kesal.


"Hehehe iyah apa sayank? "jawab Dinda dengan tawa palsunya. arghh dia sudah malas kalau Raka seperti ini, sangat menjengkelkan.


"Ayo, kamarnya udah dibereskan, "kata Raka sambil menarik tangan Dinda .


"Sabar kenapa mati-in dulu TV nya, "kata Dinda sambil menekan remot tv.


"Ya sudah gece(gerak cepat)aku ngantuk, "kata Raka.


"Bawel banget sih, gak tau apa Gue lagi nonton juga, "gerutu Dinda hampir tidak terdengar.


"Oi, Aku dengar ya, "kata Raka dengan kesal sambil menggendong Dinda bridal style.


"Eh...mau ngapain? "tanya Dinda


"Kamu lama jalannya yaudah Aku gendong," ucap Raka polos tak berdosa.


"Issshhh.... katanya mau ke rumah kak Vinezz?" kata Dinda.

__ADS_1


"Udah itu mah besok aja Aku ngantuk badan Aku pegal pingin tidur. Lagian juga yang pingin kesana kamu bukan aku, "ucap Raka.


setelah sampai kamar Dinda yang letaknya di lantai paling atas.


"Turunin Aku, "kata Dinda sedikit teriak .


"Sabar kenapa, "balas Raka yang langsung menurunkan Dinda di kasur dan langsung merebahkan dirinya.


"Yank bangun ih, mandi dulu sana, "kata Dinda sambil menusuk² pipi Raka.


"Eumm... bentar aku ngantuk, "ucap Raka yang menirukan seperti orang yang terbangun dari tidurnya.


"Ishh... jangan pura-pura deh aku tau kamu belum tidur, "ucap Dinda mencubit lengan Raka.


"Hehehe iya, aduh ampun sakit... yaudah aku mandi dulu, "ucap Raka yang mengadu kesakitan langsung turun dari tempat tidur setelah mendengar ucapan dinda, karena dia tidak mau habis ini mendengar ocehan dinda yang sangat cerewet itu. dia masih ingin menggunakan telinga nya dan mendengarkan apa yang dibicarakan dunia.


Beberapa menit kemudian.


~•Raka•~


Selesai mandi dan pakai baju aku membuka pintu kamar mandi dan mendapati Dinda sedang baca novel dengan sangat serius.


"sayank," panggilku.


"Ayok, Yang, "ajak ku sambil mengambil dompet, handphone, dan kunci mobil.


"Kemana? "tanya Dinda kebingungan aku langsung menggigit bibirnya nya dan menarik tangannya.


"Sakit, peak! "umpat Dinda keceplosan.


"Dih ngomong nya kasar, "ucapku sok dramatis.


"Ayok ikut aja, kita jalan. bosen aku di sini, nggak usah dandan, bibir kamu udah merah kok. udah cantik, "lanjut ku sambil menarik tangan Dinda. oh God... untung saja aku langsung menarik tangan dia, coba kalau tidak dia pasti akan alasan dan memakai benda warna warni dengan waktu yang lama.


Aku mengajak Dinda pergi ke perusahaan papaku yang ada di Indonesia. Karena sebenarnya tujuan kami menetap di Indonesia lagi itu agar aku tidak bolak balik ke Indonesia-Inggris. Dan aku juga tidak mungkin meninggalkan Dinda, saat jalan bersamaku saja banyak makhluk sejenis ku yang menggoda nya, apa lagi jika tak ada aku? oh God aku tak bisa membayangkan nya.


"Kak? kok ke perusahaan? "tanya Dinda heran.


"Itu.. anu...eummm...aku ada urusan mendadak ah iya urusan mendadak hehehe, "ucapku gugup dicampuri cengengesan nggak jelas.


"Yakin? "tanya Dinda menatap ku dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


"Tadinya aku mau ngajak kamu jalan, sebelum aku lupa kalau di sini mantan kamu masih berkeliaran. pas aku ingat aku ajak kamu ke perusahaan aja, "ucap ku keceplosan.


Aduh ini mulut, nggak bisa diajak kerja sama banget, batinku sembari memukul pelan bibirku.


"Kenapa mulutnya dipukul gitu? keceplosan ya? "tanya Dinda yang sebenarnya meledek.


"Dih enggak! mana ada?! orang cuma salah ngomong, "kilah ku.


"Kok ngegas? bohong ya? "ledek Dinda lagi. uhh dia sangat menyebalkan.


"Bodo! "ucapku cuek yang sebenarnya ngambek berusaha fokus pada jalan.


"Hadeh... "helaan nafas lelah terdengar dari mulut Dinda.


*****


setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, Dinda dan Raka pun akhirnya sampai di perusahaan papa Raka. Raka dengan sikap dinginnya, keluar duluan dari mobil dan membukakan pintu untuk Dinda.


Dia menggandeng tangan Dinda tanpa sungkan dan mengabaikan para karyawan nya yang mulai bergosip.


"*Eh, itu bukannya gadis cantik yang terkenal karena sukses di usia muda dan kesuksesan ayah nya yang menjadi pengusaha terkaya di dunia, ya? "


"anj*r gila cantik banget cewek nya, pakaiannya juga sopan tak seperti cewek yang pernah di bawa pak Raka, "


"mereka serasi banget ya*, "


Dan masih banyak lagi kata-kata yang dilontarkannya para karyawan Raka. ah ralat papa Raka. Raka tak memperdulikan semua itu, tapi lain dengan Dinda. ia sangat mengkhawatirkan hubungan nya dengan Raka setelah mendengar pernah ada wanita lain yang di bawa Raka. perasaan nya tiba-tiba menjadi tak karuan. ia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk pernikahan mereka.


sesampainya di ruangan Raka, Raka langsung berkutat di mejanya yang banyak sekali dokumen-dokumen penting yang harus dia tanda tangani dan koreksi, setelah sebelumnya menyuruh Dinda beristirahat di ruangan pribadinya.


setelah hampir empat jam Raka duduk di kursi kebanggaan nya. dia menghampiri Dinda yang tertidur lelap dan langsung membangunkannya. dia mengajak pulang Dinda setelah sebelumnya mereka makan malam di luar.


🌹🌹🌹


kenapa itu ya? apakah firasat nya benar?😶


Oke guys sampai sini dulu maap author jarang up karena aku mager hehehe.


Salam hangat dari


~•strawberry mangga apple•~

__ADS_1


See you next time (apaan sih author sok Inggris wkwk)


Bye...bye...bye..


__ADS_2