Mengapa Harus Aku Yang Tersakiti

Mengapa Harus Aku Yang Tersakiti
#23


__ADS_3

"Kau memang mencintai nya Raka, tapi dia tidak mencintai mu sama sekali! Sadar nak...kau lihat Dinda...apakah dia pernah berkata seperti itu kepadamu? Meskipun kamu tidak mencintainya tapi dia mencintai mu dia menghargai mu...bahkan dia rela memohon agar mama dan papa tidak memarahi mu karena kamu dan dia bercerai..." Ucap Tina lihir.


"Cukup mah! Ini hidup Raka! Raka yang menentukan ingin seperti apa hidup Raka! Dan ini pilihan Raka! Raka ingin terus bersama Naina mah... Cuma Naina yang Raka cintai mah," tegas Raka.


"Terserah kamu! Pokoknya mama gak akan pernah kasih restu untuk hubungan kamu sama dia! Kamu boleh cerai sama Dinda tapi kamu harus mendapatkan istri yang sama baiknya atau bahkan lebih baik dari Dinda! Bukannya malah memilih istri yang kelakuan nya seperti ****** macam dia!" Ucap Tina.


"Whatever." Raka langsung memunggungi mama nya dan tertidur lelap, ia sangat lelah hari ini(padahal kan dia tiduran doank yak kok bisa lelah sih:().


~•flashback off•~


Mendengar cerita Tina (mama Raka) Dinda sontak merasa sedih. Apakah ini pilihan yang terbaik pikirnya. Dia hanya ingin Raka bahagia dengan pilihan Raka sendiri, tapi ia tidak ingin Raka di hina seperti itu apa lagi dengan wanita yang Raka cintai.


Dinda mengusap lembut pipi dan rambut Raka. Ia mengecup kening Raka dengan sayang.


"Ekhem..."


"Ganggu aja," Dinda melirik sinis Rvin.


"Maaf nyonya apa saya tidak dipersilahkan untuk duduk? Sumpah pegel," ucap Rvin.


"Eh Iyah ayok kalian silahkan duduk....mama sampai lupa."


"Akhirnya," ucap Rvin merebahkan diri di sofa sambil memeluk Caroline yang ada diatasnya.

__ADS_1


"Duduk Vin bukan tidur, awas sana bangun," usir Dinda.


"Ih...jahat banget, apalah daya ku yang hanya seorang supir," drama Rvin.


"Gak usah drama loh."


"Mah...mama sudah makan?" Tanya Dinda yang dijawab gelengan oleh Tina.


"Mama makan ya, kebetulan Dinda bawa makanan lebih. Lebih baik mama makan kalau tidak makan nanti mama sakit," ucap Dinda.


"Yasudah terserah kamu saja."


"Dinda suapi oke."


andai yang Dinda suapi mamaku pasti aku akan sangat senang, pikir Rvin.


"Vin...nanti ada urusan tidak?" Tanya Dinda.


"Eum...gak ada deh kayaknya, emang kenapa?" Jawab Rvin.


"Besok tolong antar aku kerumah kak vines yah aku mau pamit, soalnya dia kan belum tahu kalau aku akan pindah lagi," ucap Dinda.


"Memangnya kamu mau pergi kemana sayang? Sampai pamit segala," sahut Raka yang baru bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Bukan urusan mu," ucap Dinda berubah dingin, hanya itu yang bisa ia lakukan agar perasaannya tidak semakin tumbuh untuk Raka.


"Dad...Daddy..." Ucap Caroline mengangkat tangan ingin digendong Raka.


"Olin sama uncle aja...dia lagi sakit gak boleh diganggu," ucap Rvin membujuk Caroline.


"No...olin mau sama Daddy," rengek Caroline.


"Huh....." Gemas Rvin menggigit pelan jari Caroline lalu memberikan nya pada Raka.


"Jangan melakukan hal itu, nanti kakakku bisa marah bodoh!" Dinda pun menarik kencang telinga Rvin.


"Sssss....ampun sakit adauw...sakit oi..." Rvin pun meringis meminta ampun.


Tina yang melihat kelakuan dua orang dewasa itu pun tersenyum kecut. Andai yang kulihat itu Dinda dan Raka bukan Dinda dan Rvin betapa senangnya hati ku jika itu terjadi. Mereka sangat akrab, batin Tina.


🌹🌹🌹


halo aku kembali😙 jangan lupa di like dan vote yah kakak adik cantik dan ganteng😚


salam hangat


~•dinda•~

__ADS_1


__ADS_2