
Setelah mereka makan, mereka melanjutkan bermain wahana yang lain.
"Alhamdulillah kenyang, kamu udah kenyang dek ?" Ujar Varo sambil bertanya Ke Sisil.
"Udah kok kak." Ujar Sisil cengengesan.
"Yaudah kita lanjut mainnya, Sisil gendong kakak atau kak Rena ?" Ujar Varo yang bertanya kepada Sisil sambil membuka kedua tangannya kearah adiknya.
"Sama kak Lena aja." Jawab Sisil yang membuka kedua tangan kearah Rena.
"Sini sama kak Rena." Ujar Rena menghampiri Sisil sambil tersenyum, dia mengambil Sisil dan menggendongnya.
"Owh...gitu sekarang, gak mau sama kakak." Ujar Varo yang ngambek sambil memalingkan wajahnya.
"Ih udah besar masih ngambek sama anak kecil kamu Var." Ujar Rena yang meledek Varo.
"Bodoh amat, yaudah kita cari wahana yang mau dimainin." Ujar Varo sambil berjalan.
Rena mengikuti Varo yang berjalan didepan, setelah diluar Varo bertanya mengenai wahana yang ingin dimainkan.
"Mau maen wahana apa sekarang dek ?" Tanya Varo sambil memberikan brosur map taman bermain.
"Hmm..." Gumam Sisil sambil melihat brosur map.
Tidak jauh dari mereka ada 3 orang cewek yang melihat Varo, mereka terpesona oleh ketampanan Varo, memang betul kalau wanita yang melihat Varo pasti akan terpesona karena memang dia menuruni gen opanya yang berasal dari italy, jadi dia terlihat blasteran mungkin juga bisa dibilang bener-bener bule kalau memang orang lain tidak bertanya.
Salah satu wanita tersebut ingin meminta nomor kepada Varo tapi sedikit ragu, dengan disemangati oleh kedua temannya, akhirnya dia memberanikan diri menghampiri Varo untuk meminta nomor.
"Permisi kak." Ujar seorang wanita yang menghampiri Varo malu.
"Owh iya, ada apa ya mbak ?" Tanya Varo yang menoleh kearah wanita tersebut sambil tersenyum.
Wanita tersebut ketika melihat Varo tersenyum membuat jantungnya ingin lompat, dia bertambah malu untuk meminta nomor Varo.
"Anu kak...mau minta nomor kakak kalau boleh." Jawab wanita tersebut sambil menyodorkan hpnya dengan malu.
Varo kaget dengan perkataan wanita tersebut, sebelum menjawab Varo melihat Rena yang bertingkah sedikit aneh ketika mendengar bahwa wanita tersebut ingin meminta nomor Varo, Varo berpikir ingin melihat reaksi Rena ketika dia menyetujui memberikan nomornya kepada wanita tersebut.
"Owh... boleh kok mbak." Ujar Varo yang tersenyum sambil mengambil hp wanita tersebut, sambil melirik Rena.
Wanita tersebut tersenyum lebar ketika mendengar bahwa Varo mau memberikan nomornya, disaat itu pula Rena tanpa sadar langsung menyetop tangan Varo yang sedang mengambil hp wanita tersebut, Varo tersenyum melihat reaksi Rena tersebut tetapi dia berpura-pura kaget.
"Maaf mbak dia pacar saya, mbak cari yang lain aja." Ujar Rena tanpa sadar sambil maju kehadapan wanita tersebut sambil tersenyum.
"Hah ? kenapa baru ngomong mbak." Ujar wanita tersebut kesal karena Rena.
__ADS_1
"Ya terserah saya mbak, mau ngomong sekarang ataupun nanti itu terserah saya." Ujar Rena dengan jutek.
"Cih...kok bisa kakaknya suka sama wanita jutek gini." Ujar wanita tersebut sambil mengambil hpnya di Varo dan beranjak berjalan pergi.
"Ya terserah dia, bukan urusanmu." Ujar Rena yang kesal dibilang jutek.
"Udah-udah Ren, gak baik marah-marah." Ujar Varo yang menenangkan Rena yang marah.
"Cih..." Gumam Rena yang masih kesal.
"Tapi sebelum itu, aku kok baru tau Ren kalau kita pacaran ?" Tanya Varo yang merujuk untuk menyindir Rena sambil tersenyum.
"Ah itu cuman alasan agar wanita tadi gak ganggu kamu Var." Jawab Rena yang glagapan mencari jawaban sambil malu memikiran apa yang dia katakan tadi.
"Tapi aku gak terganggu kok Ren, juga kalau kita memang bener pacaran juga gak masalah akunya." Ujar Varo yang meledek Rena sambil tersenyum.
Rena kaget mendengar perkataan Varo.
"Hah...ngomong apa sih Var, udah-udah ayo main lagi." Ujar Rena yang malu sambil mengalihkan pembicaraan.
"Dek mau main apa sekarang ?" Tanya Rena ke Sisil.
"Hmm..." Gumam Sisil sambil melihat perilaku kedua kakaknya.
"Kak Len, gak suka sama kak Valo ?" Tanya Sisil dengan wajah polos.
Varo yang mendengar pembicaraan Rena dan Sisil langsung angkat bicara juga.
"Palingan itu cuman alasan kak Rena dek, biar gak ditanya-tanya kamu lagi." Ujar Varo yang meledek Rena sambil mengambil Sisil yang berada digendongan Rena.
"Kamu ini ngomong apa sih Var." Ujar Rena yang kesal dengan perkataan Varo dan mencubit pinggangnya bertubi-tubi.
"Akh akh akh...sakit Ren." Ujar Varo sambil bergeliat dan tertawa melihat perilaku Rena.
"Rasa.in ini." Ujar Rena yang masih mencubit terus Varo.
"Udah-udah Ren, aku lagi gendong Sisil nanti jatuh dia." Ujar Varo.
"Awas lain kali, kalau kamu ngomong aneh-aneh lagi." Ujar Rena yang ngambek sambil memalingkan wajahnya.
"Yaudah-yaudah kita lanjut main lagi." Ujar Varo.
Mereka akhirnya memutuskan untuk bermain wahana rumah kaca, dan setalah itu mereka memainkan seluruh wahana, tetapi mereka juga tidak lupa menunaikan sholat ashar dan maghrib, dan ketika Varo melihat jam tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 19 : 30 mereka memutuskan untuk pulang, karena mereka sudah dari siang hari takut tante Aqilla mencari Rena dan mommy mencari Sisil.
"Ren udah jam segini balik yuk." Ujar Vaeo yang mengajak pulang.
__ADS_1
"Iya Var, kasian Sisilnya udah capek keliatannya." Ujar Rena yang menggendong Sisil.
"Dek kita pulang ya, kapan-kapan adik kakak ajak ke pantai." Ujar Varo sambil tersenyum.
"Iya kak, Cicil juga udah capek." Ujar Sisil sambil menguap.
"Yaudah yuk." Ujar Varo.
Mereka berjalan menuju parkiran mobil, mereka masuk kedalam mobil dan melaju pulang, dipertengahan jalan Varo bertanya.
"Ren kita anter Sisil dulu ya, baru aku anter kamu, kasian Sisil ngantuk itu keknya, juga lagi pula kalau dari sini deket kearah rumahku dulu, jadi gapapa kan ?" Ujar Varo yang melihat kearah Sisil yang sedang bersandar ke Rena, dia memelankan laju mobil dan sedikit menepi.
"Iya gapapa gitu aja Var, lagipula kalau kamu nganter aku dulu, takutnya nanti Sisil tidur pas kamu sendiri, jadi susah kan kamu meganginya." Ujar Rena yang setuju usulan Varo sambil mengusuk Sisil.
"Yaudah kalau gitu." Ujar Varo sambil menambah laju kecepatan mobil.
Setelah beberapa saat mereka akhirnya sampai dirumah Varo untuk mengantar Sisil pulang terlebih dahulu, setelah itu Varo mengantar Rena kerumahnya.
"Assalamu Alaikum mom." Ujar Varo yang berjalan masuk kerumah dan mendapati mommynya sedang menunggu dengan wajah khawatir karena memiliki firasat jelek.
"Assalamu Alaikum tante." Ujar Rena yang mengikuti Varo dari belakang sambil menggendong Sisil yang sudah tertidur.
"Wa'alaikum Salam, gak ada apa-apa kan sayang ?" Ujar mommy yang langsung menghampiri mereka dan langsung bertanya, karena dia tadi sempat memiliki firasat jelek, dia juga mengambil Sisil yang sedang tertidur digendongan Rena.
Varo dan Rena berdiam sesaat dengan pertanyaan tersebut.
"Itu nanti aja ya mom kalau enggak besok pagi Varo bicara.in sama mommy daddy, soalnya Varo mau langsung anter Rena pulang dulu mom." Jawab Varo yang sedikit tidak enak, karena pada saat Sisil hilang Varo tidak langsung memberitahukan kejadian tersebut kepada orang tuanya, takut orang tuanya panik.
"Yaudah kalau gitu kamu anter dulu Rena, hati-hati dijalan Var jangan ngebut." Ujar mommy.
"Ren makasih ya udah temenin Varo sama Sisil." Ujar mommy sambil tersenyum.
"Iya tan sama-sama, yaudah tan Rena pulang dulu ya." Ujar Rena yang menciun tangan mommy.
"Assalamu Alaikum." Ujar Varo dan Rena bersamaan.
"Wa'alaikum Salam, salam ya ke bunda sama ayahmu Ren." Ujar mommy.
"Iya tante." Ujar Rena yang berjalan menuju mobil.
Varo dan Rena pergi menuju kediaman Maheswara untuk mengantarkan Rena.
***
THANKS YANG MASIH NGIKUTIN UPDATE.AN NOVEL GUA MESKIPUN MASIH BELUM KOSISTEN BUAT UPDATENYA, KARENA SAYA BUAT DIWAKTU SENGGANG SAYA, MOHON MAAF JIKA ADA KATA YANG KURANG ENAK DIHATI PARA PEMBACA KARENA SAYA INGIN MEMBUAT SENATURAL MUNGKIN, DAN MOHON MAAF JUGA BILA ADA TYPO TETAPI SAYA SUDAH BERUSAHA MEMBACA ULANG DAN MEREVISI KATA YANG TYPO, JIKA MASIH ADA YANG SALAH NAMANYA JUGA MANUSIA TEMPAT BERKUMPULNYA SALAH 😁
__ADS_1
SEKIAN DAN TERIMAKASIH, SALAM AUTHOR.