
Ditempat yang lain, keluarga Maheswara sedang berada diruang keluarga, Bryan ingin memberitahukan kepada anaknya tentang apa yang orang tuanya bicarakan dengan sahabat baiknya.
"Rena ayah ini cuman akan memberitahukan saja, bukan memaksa kamu untuk menyetujuinya." Ujar Bryan sambil menekankan ucapannya.
"Iya ayah, emang apa yang ingin ayah bicarakan." Ujar Rena yang menunggu apa yang ingin ayahnya bicarakan.
Bryan menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi masalah yang mereka bicarakan dengan sahabatnya, Rena kaget mendengar apa yang dibicarakan kedua orang tuanya.
"Ayah bunda aku masih berumur 18 tahun, aku masih ingin belajar dan meneruskan perusahaan ayah, bagaimana aku bisa menikah !" Ujar rena yang menekankan ucapannya sambil berdiri.
"Duduk Rena ! ayah hanya ingin kamu tau bahwa anak sahabat ayah mencintai kamu pada pandangan pertama, niatnya ayah ingin kamu dengan dia segera bertunangan, tetapi ibumu dan sahabat ayah tidak menyetujuinya, karena takut kamu tidak akan mau, karena itu kami akan mengikuti arus bagaimana perkembangan kamu dengan Varo, jika memang kalian berjodoh itu akan menjadi hal paling bahagia bagi kami, jika memang tidak berjodoh itu berarti Allah tidak menghendaki." Ujar Bryan yang menekankan ucapannya.
"Sudah-sudah, kamu jalani aja sayang seperti biasa, dia juga anak yang baik, cerdas, dan taat, kemungkinan kamu nanti akan suka bila sering ngobrol atau ketemuan." Ujar Aqilla yang mendekat ke Rena sambil menenangkannya.
"Baiklah kalau begitu, tapi Rena tegaskan sekali lagi ayah bunda, Rena gak akan ngejalin hubungan dengan siapapun dalam jangka waktu tertentu, ingat itu, Rena langsung berangkat kekampus karena ada kelas siang ayah bunda." Ujar Rena menegaskan kembali apa yang dia ingin lakukan, dia juga berpamitan karena ada kelas, Rena mencium kedua tangan orang tuanya.
"Yaudah kalau begitu, hati-hati dijalan sayang." Ujar Aqilla sambil mencium kening anaknya.
"Iya yang penting ayah sudah mengingatkan." Ujar Bryan.
"Assalamu Alaikum." Ujar Rena sambil berjalan pergi.
"Wa'alaikum Salam." Ujar kedua orang tua Rena.
***
Ditempat yang lain, Varo dan Rangga sudah sampai dikampus, mereka segera berlari kekelas karena hampir menuju jam kelas dimulai.
"Ayo Ngga, lelet amat lo, kelas mau dimulai ini." Ujar Varo yang melihat jam sambil berlari.
"Iya ini juga lari bukan ngesot Varo anjing !" Ujar Rangga yang kesel sambil lari mengikuti Varo.
"Dih emang dasarannya lemot lo Ngga." Varo meledek Rangga dan menambah kecepatan larinya.
__ADS_1
"Awas lo Var !" Rangga bertambah kesal dan mengejar Varo.
Sesampai diruang kelas, disana sudah ada Bintang dan Fajar, tidak begitu lama kelas pun dimulai.
Setelah beberapa saat kelas sudah selesai, Varo beserta sahabat-sahabatnya pergi ketempat berkumpul seperti biasa, sesampai disana mereka tidak melihat Mentari dan Bulan.
"Buset kemana dah mereka berdua." Ujar Fajar sambil duduk.
"Ya mungkin masih belum kelar kelasnya Jar, sabar napa." Ujar Bintang.
"Udah-udah ini aku hubungi mereka jan ngedumel Jar." Ujar Varo yang kesal terhadap dumelan Fajar.
Disamping itu Rangga yang fokus maen game, diganggu oleh Fajar.
"Ngga maen apa.an, sini gua coba maen jan pelit-pelit." Ujar Fajar yang mendekati Rangga yang asik maen game.
"Dih kerja.an lo kalau gak ngedumel ya ganggu orang aja Jar, sana-sana dah." Ujar Rangga yang mencibir kelakuan sahabatnya.
"Aish napa sih kalian hari ini, pada sensitif banget anjing." Ujar Fajar yang kesal terhadap sikap sahabat-sahabatnya hari ini.
"Bukan kita yang se..." Ujar Bintang yang disela oleh Varo yang sedang menghubungi Mentari dan Bulan.
[Halo, Assalamu Alaikum Tar, lagi dimana ?] Ujar Varo yang sambil menyuruh sahabat-sahabatnya diam.
[Wa'alaikum Salam, ini otw kesana sama Bulan, cuman ada 1 lagi nebeng kesana juga, katanya ada perlu sama lo Var] Ujar Mentari yang agak kesal karena seseorang.
[Siapa dah Tar ?] Ujar Varo yang penasaran.
[Udah-udah lo nanti juga bakalan tau, yaudah gua mati.in lagi jalan ini] Ujar Mentari yang mematikan telfonnya sambil berjalan menuju tempat berkumpul bersama Bulan dan seorang yang misterius.
[Wa'alaikum Salam Mentari] Ujar Varo yang kesel karena asal mati.in telfon.
Beberapa saat kemudian Mentari, Bulan dan seorang misterius tersebut keluar dari pintu kampus dan menghampiri mereka, Varo yang melihat dari jarak jauh melihat seseorang yang dimaksut oleh Mentari tadi terlihat seperti orang yang familiar, dan setelah agak dekat ternyata benar dia adalah Rena Maheswara, Varo bingung ada keperluan apa dia dengannya, padahal dia cuman bertemu sekali itu saja cuman sebentar, dan akhirnya mereka bertiga tiba.
__ADS_1
"Hai guys, udah lama kah datengnya, maaf ada kendala dikit ini orang ngikut katanya ada perlu sama Varo." Ujar Bulan yang mencibir Rena disampingnya.
"Lah Rena tuh ? gak salah liat gua Ngga." Ujar Fajar yang kaget melihat Rena sambil menggoyang-goyangkan badan Rangga yang asik maen game.
"Apa.an sih lo Jar, daritadi ganggu aja." Ujar Rangga yang kesal terhadap Fajar yang selalu mengganggu dia bermain game.
"Santai napa Jar...Jar, anak ini grusak grusuk bisanya hadeh." Ujar Bintang yang risih melihat kelakuan sahabatnya ini sambil menggelengkan kepalanya.
"Hadeh, ya gini ini Ren kita, ada perlu apa sama aku ?" Ujar Varo yang menghela nafas melihat kelakuan sahabatnya yang absurd, sambil sedikit malu karena Rena sedang ada dihadapannya.
"Mau ngobrol berdua bentar." Ujar Rena sambil menarik tangan Varo ketempat yang agak jauh dari mereka.
Dalam hati Bulan dan Mentari "Ini ****** mo ngapain dah, udah narik maksa asal megang pula." dengan ekspresi kesal melihat Rena yang menarik Varo pergi.
"Udah ini cukup jauh dari mereka Ren, ada apa ?" Ujar Varo yang berusaha tenang tetapi aslinya sedikit gugup dan malu.
"Kata ayah sama bundaku kamu suka aku, apa betul Var ?" Ujar Rena yang berekspresi biasa saja.
"Ah...siapa yang ngasih tau kamu Ren ?" Ujar Varo yang semakin tidak bisa menutupi kegugupannya.
"Kan aku udah ngomong, ayah sama bundaku yang ngomong ke aku, tapi ini aku cuman ngingetin kamu aja Var, aku gak bakalan jalin hubungan apapun sama siapapun karena aku ingin fokus kekuliah dan karirku." Ujar Rena yang menekankan kata-katanya.
"Tapi aku beneran suka kamu Ren." Ujar Varo yang udah gak peduli ekspresinya diketauhi oleh Rena atau tidak.
"Itu urusanmu Var, oke aku cuman mau ngomong gitu aja kekamu, aku pergi dulu." Ujar Rena yang beranjak pergi meninggalkan Varo.
"Liat aja Ren, aku bakalan ngeluluhin kamu pasti itu !" Ujar Varo yang berteriak kepada Rena yang mulai pergi.
Dalam hati Rena yang mendengar itu "Bodoh amat !"
"Aku pasti bisa ngedapetin kamu Rena, Pasti." Ujar Varo dengan nada pelan sambil mengepalkan tangannya.
***
__ADS_1
THANKS YANG UDAH NGIKUTIN NOVEL GUA INI, MASIH BANYAK KEKURANGANNYA MOHON KOREKSINYA, UNTUK TYPO UDAH DIUSAHAKAN YANG TERBAIK DIBACA ULANG YANG DIREVISI.
SEKIAN DAN TERIMAKASIH, SALAM AUTHOR.