
"Maafkan saya, Pak. Maaf jika saya kurang sopan. Tapi saya rasa penawaran Bapak terlalu ekstrim untuk saya. Saya seorang wanita. Saya juga seorang ibu. Saya paham dengan apa yang bapaku maksud. Tetapi jika penawaran Bapak mengandung arti bahwa saya harus menjadi ibu sambung anak Bapak, saya tidak bisa, Pak. saya menyerah. Saya tidak mau menjadi istri siapapun saat ini. Saya ingin memfokuskan diri untuk menjadi ibu dan ayah untuk anak saya sendiri. Maafkan jika saya egois!" jawab Widya tegas.
"Kamu jangan menolakya dulu. Alangkah baiknya jika kamu memikirkan apa yang aku tawarkan. Soal fasilitas kehidupan mewah kamu nggak perlu meragukannya. Di samping itu aku juga akan membiayai anakmu. Sehingga dia juga bisa sekolah setinggi yang kamu inginkan, bagaimana?" tawar Satya lagi.
Sungguh penawaran yang menggetarkan siapa saja yang mendengarnya. Namun tidak dengan Widya, wanita ini malah tersenyum mendengar penuturan yang menurutnya konyol ini.
"Maafkan saya, Bapak. Saya sungguh tidak bisa melakukan itu. Saya pernah gagal berumah tangga, Pak. Saya tidak ingin memaksakan sebuah hubungan yang nantinya akan menyakiti kito berdua. Sebaiknya bapak cari orang lain saja. Siapa tahu orang tersebut bisa menjadi ibu sambung sekaligus istri yang baik untuk Bapak," jawab Widya lagi.
"Aku tidak butuh istri. Soal kenikmatan ranjang aku bisa beli. Aku hanya butuh kasih sayang untuk putriku. Kasih sayang seorang ibu dan aku lihat kamu memiliki itu. Itu sebabnya aku memilihmu. Karena aku yakin kamu punya apa yang diinginkan putriku!" sesak Satya lagi.
Widya tersenyum. Ingin menjawab ucapan itu. Namun terdengar seseorang memangil namanya.
"Wid, ayo!" teriak seorang gadis dari kejauhan. Gadis tersebut berlari pelan ke arahnya.
"Iya, Lin. Sebentar!" jawab Widya sembari melambaikan tangan. Sedangkan Satya hanya melihat kedua wanita itu berinteraksi.
"Kok lama, ayo, keburu hujan," ajak Liana.
"Iya, sebentar. Maafkan saya, Pak, Saya harus pulang. Kasihan babu saya menunggu. Sekali lagi maafkan saya ya Pak!" ucap Widya sembari membungkukan badan. Liana pun ikut melakukan itu, bukan apa, dia hanya ingin menghormati pria yang tak di kenalnya itu.
__ADS_1
Satya tak mungkin mencegah dua wanita itu. Sebab cuaca mulai tak bersahabat. Tak ingin melihat kedua wanita itu kesusahan, Satya pun memundurkan langkahnya. Agar kedua wanita itu leluasa pergi. Meskipun bohong jika dia tak kecewa dengan keputusan sepihak Widya. Satya sangat membutuhkan jawaban iya dari wanita tersebut.
***
Di lain pihak...
Alvaro tak peduli dengan bisnisnya. Yang ia pikirkan saat ini adalah menemukan Widya. Alvaro ingin kembali pada wanita itu sebagai sepasang suami istri yang utuh. Alvaro ingin membesarkan baby Arseno dengan wanita yang pernah menjadi istrinya itu.
Untuk membuktikan kesungguhannya, Alvaro pun memutuskan pertunangannya dengan Mozza.
"Aku minta maaf, Za. Aku nggak bisa melanjutkan pertunangan kita," ucap Alvaro pelan, namun ia sungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Kamu tidak punya salah apapun, Za. Kamu gadis yang baik. Kamu gadis sempurna. Hanya saja aku tak bisa melanjutkan pertunangan ini. Aku ingin kembali pada mantan istriku. Karena kami punya anak yang harus kami pejuangkan bersama!" jawab Alvaro serius.
"Kalo demikian, kenapa nggak dari awal aja kamu menolak perjodohan kita, Mas? Kenapa setelah aku jatuh cinta padamu, baru kamu mengatakan ini. Ini sangat tidak adil untukku, Mas!" jawab Mozza dengan nada yang cukup tinggi.
"Maafkan aku, Za. Aku dalam tekanan papi. Tapi sekarang aku nggak mau peduli lagi. Aku harus memikirkan anakku. Aku nggak mau dia tumbuh tanpa seorang bapak. Aku ingin bertanggung-jawab untuknya, Za. Aku ingin menjadi ayah yang baik untuknya, Za. Aku minta maaf," jawab Alvaro tegas.
Tak menunggu Mozza menjawab dan menyetujui apa yang ia akukan, Alvaro menatap kan hatinya untuk meninggalkan gadis itu.
__ADS_1
Alvaro juga terluka. Namun ia tak mau peduli lagi. Baginya yang terpenting saat ini adalah mencari Widya. Mencari anak mereka. Alvaro tak ingin menjadi ayah durhaka. Cukup sudah baginya tidak bisa menjaga Arseno saat di dalam kandungan ibunya. Alvaro tak ingin melewatkan tanggung jawabnya sebagai ayah saat Arseno sudah ada di dunia.
Kesungguhan Alvaro kini ia buktikan dengan menyewa detektif untuk membantunya mencari keberanian anak dan juga mantan istrinya. Ia tak ingin terlalu lama menunggu hingga anaknya keburu besar dan tidak mau lagi dengannya karena ia telah melewatkan masa emasnya. Sungguh Alvaro tidak mau itu terjadi.
***
Di sini yang resah bukan hanya Alvaro. Tetapi juga kedua orang tua Widya. Mereka sama sama tak bisa tidur memikirkan anak semata wayang mereka.
Seharusnya mereka memang tidak gegabah dengan mengudir Widya. Lihatlah sekarang, anak itu pergi entah ke mana dan membawa serta cucu mereka.
"Bagaimana Widya menghadapi hidupnya tanpa kita ya, Yah? Bagaimana dia menjaga bayinya sendiri tanpa ibu," ucap Ibu Emma khawatir.
"Ayah paham perasaan ibu. Ayah minta maaf soal kecerobohan ayah ya, Bu. Besok ayah akan coba tanyakan sama orang tua temen-temen anak kita. Siapa tahu mereka ada yang dihubungi Widya. Jadi kita bisa nyari anak kita, Bu," ucap Pak Rahman sedih.
"Baiklah, Han. Ibu setuju. Semoga salah satu dari mereka ada yang dihubungi Putri kita. Ibu cuma mau tahu kabarnya dia saja Yah. Terus dia kerepotan nggak jaga bayi sama kerja. Ya Allah, Yah!" Ucap Ibu Emma tak kalah sedih.
Mau seburuk apapun Widya, ia tetap gadis kecil yang lahir dari perutnya. Wajar jika Ibu Emma khawatir. Dalam doanya, wanita paruh baya ini pun tak lupa menyabut nama sang Putri agar selalu sehat dan dilindungi di setiap langkahnya.
Bersambung...
__ADS_1