
Pesawat yang membawa Alvaro mendarat selamat di bandara Ngurah Rai. Senyum mengembang di bibir Alvaro mana kala Satya datang sendiri menjemputnya.
"Bro, thank you. Astaga, ngapain jemput sendiri. Aku bisa naik taksi atau yang lain," ucap Alvaro.
"Ish, tak masalah lah. Amoora sedang dirawat, Bro. Rumah sakitnya deket dari sini. Aku keluar sekalian cari makan.Yuk jalan," jawab Satya sembari mengarahkan Alvaro menuju mobilnya.
"Moora sakit apa, Bro?" tanya Alvaro saat mereka masuk ke dalam mobil.
"Ah biasa dia, panas. Tapi sekarang udah mendingan sih. Udah bisa makan. Udah mau minum obat." Bibir Satya mengulas senyum. Entah apa arti senyuman itu.
"Wahh, sudah besar ya Amoora. Udah nggak rewel minum obatnya," ucap Alvaro antusias.
"Adoh, nggak juga, Bro. Ini aku dibantuin sama seseorang. Dia pandai sekali bujuk Moora," jawab Satya, kembali mengulas senyum.
"Wah, senyum terus. Roman-romannya ni orang istimewa ini," ledek Alvaro.
"Ah tidak, dia temen karyawan Kak Tasya. Sebenarnya yang ku incar karyawan Kak Tasya, eh yang mau bantu dia. Ya udah lah, yang mana aja, yang penting baik sama Moora," jawan Satya, jujur.
Sayangnya kejujuran Satya malah melahirkan spekulasi lain dalam pikiran Alvaro.
"Astaga, sepertinya salah pancing ini atau bagaimana!"
__ADS_1
"Salah pancing apa? Nggak ada begitulah. Aku sama ni cewek ga ada apa-apa loh. Kamu jangan rese. Dia murni bantu aku jaga Amoora. Udan itu aja," jawab Satya jujur.
"Astaga, tolong, jangan bohong padaku. Aku tahu otak mesum seperti mu," serang Alvaro.
"Ah nggak, Bro. Mana mungkin aku bisa menggantikan Sandra dengan wanita lain. Gila aja lu," ucap Satya.
"Jangan gitu, Bro. Yakin Sandra ga akan suka ama keputusan elu. Dia ga akan rela lu sendiri di sisa umur lu. Lu butuh wanita untuk lu pulang. Ayolah jangan kolot begini!" ucap Alvaro mengingatkan.
"Entahlah, aku belum berpikir sampai sana." Satya terlihat murung. Nasehat yang diberikan Alvaro sama seperti yang selalu di ucapkan oleh Tasya, kakaknya.
"Jangan kelamaan berpikir! Mau sampai kapan lu beli terus. Nggak sehat, Bro. Mending lu ambil satu, yang sayang ama lu. Yang bisa terima lu apa adanya. Yang bisa sayang sama Moora. Udah kelar urusan. Mau sampai kapan lu nabung dosa, astaga!" ucap Alvaro kembali berusaha mengingatkan sahabatnya.
"Bukan gitu, Bro. Salah kalo lu bilang begitu. Aku masih sama kok, masih Al yang lu kenal. Bahkan sekarang lebih buruk. Lu tahu kan pernikahan ku ga bertahan lama. Bahkan aku belum sempat kenalin dia ke elu. Tapi kami udan pisah." Alvaro menatap kosong ke arah mata memandang.
"Kok bisa, seriusan ini, aku ga tahu apa-apa!" ucap Satya bingung.
"Iya, aku emang ga ada cerita sama siapa pun. Lagian ngapain, kan. Tapi masalahnya sekarang, Bro, ternyata dia mengandung benih dari pernikahan kami, Bro. Dia ga kasih tahu, gila nggak tu!" ucap Alvaro sedih.
"Astaga! bisa begitu? Terus, kok lu bisa tahu kalo dia hamil dan itu anak lu?" tanya Satya penasaran.
Alvaro sudah terlanjur terbuka. Maka tak ada alasan baginya untuk menutupi masalah yang kini sedang menjeratnya.
__ADS_1
Satya mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh sang sahabat. Tanpa menyela bahkan menghakimi. Satya tak ingin melakukan itu. Sebab ia tahu masalah ini juga sangat berat untuk Alvaro.
"Coba, kalo lu jadi aku. Stress nggak?" tanya Alvaro, sedih.
"Stress lah, Bro. Kok bisa om setega itu sama kalian. Ini bukan hanya masalah bisnis sih, tapi juga banyak hal. Termasuk perampasan hak. Hak anak lu buat kenal elu. Hak mantan istri lu dapat perlindungan. Hak mantan istri lu buat dapat keadilan. Aku sih dukung elu kalo seandainya mau cari dia, buat memperbaiki diri. Itu sih wajib menurut aku ya," jawab Satya sesuai dengan yang ia pikirkan.
"Itu sebabnya, Bro, aku milih ngembaliin semua yang bokap investasi kan ke perusahaan. Aku ke sini mau merengek ke elu, supaya lu mau jadi investor di perusahaan. Dah lah, sakit kalo terlalu di pikir," ucap Alvaro sesuai apa yang ia rasakan.
Satya paham dengan apa yang di risaukan sahabatnya. "Sudah aku pikirin semalam. Lu santai aja lah. Pasti ku bantu. Ayo, Bro, turun. Kita makan di rumah sakit ga apa kan?" ucap Satya.
"No problem, lah. Di mana aja. Tapi ga bawa apa-apa ni buat Moora. Habis ga tahu kalo dia di sini. Lagi sakit pula!" ucap Alvaro.
"Ish, ga usah. Lu jenguk aja, dia pasti udah senang," jawab Satya. Alvaro tersenyum lalu mereka ber sama-sama melangkah menuju kamar di mana Amoora di rawat.
Awalnya mereka masih bercengkrama saat melangkah menuju kamar Amoora. Namun saat masuk ke dalam kamar bocah cilik itu, ada sedikit ketegangan di sana.
Gadis yang menjaga Amoora menatap tajam ke arah Alvaro. Seakan ia mengenal pria itu. Beruntung apa yang ia lakukan tidak tertangkap oleh Satya maupun Alvaro. Sehingga ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
(Semoga dia tidak ingat padaku) batin Liana, rikuh.
Bersambung..
__ADS_1