
Alvaro dan Liana segera tancap gas meninggalkan bandara. Tentu saja untuk menghindari orang orang yang berniat jahat pada mereka.
"Kenapa kita berlari seperti pencuri, Pak?" tanya Liana bingung.
"Ya, karena kita harus menghindari orang-orang suruhan papiku. Kamu lihat orang-orang berpakaian serba hitam itu. Itulah mereka," jawab Alvaro sembari meninggalkan arena bandara ini.
"Ya Tuhan, apakah itu artinya Widya dan Seno dalam bahaya?" ceplos Liana tanpa berpikir panjang. Tanpa berpikir bahwa pria yang saat ini ada di sampingnya jauh lebih bahaya si banding orang-orang yang saat ini mengejar mereka.
"Ya kamu benar, mereka dalam bahaya. Nyawa mereka sedang di incar, Mbak. Itu sebabnya aku datang untuk menyelamatkan mereka. Papiku sangat jahat. Dia akan melakukan apapun untuk memisahkan kami. Jadi sekarang tolong, Mbak. Kasih tahu saya di mana mereka berada!" pinta Alvaro kali ini serius.
"Baiklah, ayo. Tapi sebaiknya kita jemput baby Seno dulu. Baru nanti kita jemput ibunya. Ayo, perempatan itu lurus nanti belok kanan," ucap Liana, gugup.
Wajar jika ia gugup. Sebab keselamatan nyawa ibu dan anak itu sedang dipertaruhkan. Mereka berdua sedang dalam bahaya. Bohong jika saat ini mereka berdua tidak gugup.
__ADS_1
Alvaro langsung mengikuti arahan Liana. Melajukan kendaraannya ke tempat di mana biasanya Widya menitipkan Arseno.
Kini mereka berdua sudah berada di tempat penitipan baby. Liana segera bertindak. Mengambil Arseno sebelum anak buah Pak Tyo menculik bayi tampan itu.
Alvaro tercengang saat pertama kali menatap mata baby tampan itu. Ia terpesona dengan senyum dan kerlingan mata bayinya yang sangat mirip dengannya.
"Ya Tuhan, Mbak, dia bayiku?" tanya Alvaro, sesaat setelah Liana membawa masuk baby Arseno ke dalam mobil.
"Ya kamu benar, dia bayimu. Tampan kan? Sudah ayo kita jalan. Kita jemput Widya. Sebelum keduluan orang-orang itu," jawab Liana tegang.
Alvaro terkejut saat sampai di tempat Widya bekerja. Sebab ia tahu jika tempat ini adalah milik Tasya, kakak sahabatnya.
"Yakin Widya tinggal di sini?" tanya Alvaro.
__ADS_1
"Ya, itu dia!" jawab Liana sembari menunjuk Widya yang saat itu sedang mengelap meja.
Sumpah, detik itu juga Alvaro merasa tertampar oleh keadaan. Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan ibu dari bayinya bekerja sekeras itu untuk memenuhi biaya hidup bayi mereka. Sungguh hati Alvaro terasa teremas. Sakit sekali rasanya.
"Kamu tunggu di sini ya, aku jemput Widya," ucap Alvaro.
"Baik, aku akan tunggu," jawab Liana sembari menimang Arseno.
"Hemm, sebentar ya!" Alvaro melepaskan ikatan Seatbelt nya. Lalu membuka pintu mobil dan melangkah mendekati mantan istrinya.
Sungguh di detik ini, Alvaro ingin sekali langsung memeluk Widya dan tak ingin berucap apapun karena ia tak ingin berucap apapun. Alvaro hanya ingin memeluk. Menumpahkan segala rindu yang membelunggunya selama ini.
Namun, ia tak bisa melakukan itu. Widya tak akan terima jika dia berani melakukan hal gila itu. Bahkan nyalinya saja ciut saat berdiri tepat di belakang mantan istrinya ini. Bibirnya kelu, meski hanya sekedar ingin mengucapkan kata sapaan untuk mantan istrinya ini.
__ADS_1
Nyatanya, Alvaro tak kuasa melakukan itu. Alvaro takut jika suara dan kedatangannya menyakiti Widya lagi. Sungguh Alvaro tak kuasa menyakiti mantan istrinya. Hingga ia pun memutuskan balik badan agar Widya tidak melihatnya.
Bersambung...